• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Agung Terhadap

BAB III ANALISIS TERHADAP PUTUSAN MA NOMOR

C. Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Agung Terhadap

PKPU dan dinyatakan Pailit

1. Pertimbangan Putusan Mahkamah Agung Tingkat Peninjauan Kembali Setelah Mahkamah Agung meneliti secara seksama alasan peninjuan kembali yang diajukan oleh Firma Litha & Co tertanggal 11 September 2012, jika dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti dalam hal ini pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar melakukan kekhilafan/kekeliruan yang nyata

122Pasal 40 UUKPKPU

dalam memutus perkara a quo, dengan pertimbangan bahwa putusan Judex Facti tidak tepat dan tidak benar karena FIRMA LITHA & CO sebagai Termohon PKPU tidak mempunyai legal standing karena FIRMA LITHA & CO tidak berstatus badan hukum, sehingga tidak dapat dijadikan subjek hukum. Yang seharusnya yang dapat dijadikan Termohon PKPU adalah pengurus aktif dari FIRMA LITHA & CO tersebut. Sehingga dengan demikian Permohonan Peninjauan Kembali dapat dikabulkan dan Putusan Judex Facti harus dibatalkan.123

Yang menjadi alasan Peninjauan Kembali adalah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar salah menerapkan hukum terhadap Firma Litha &

Co berkenaan Firma bukanlah badan hukum. Bahwa Pengadilan Niaga Pada Pengadilan Negeri Makassar sama sekali telah keliru dalam menerapkan hukum khususnya terhadap perusahaan yang non Badan Hukum (perusahaan perorangan/Firma ic. Firma Litha). Bahwa fakta hukum dalam permohonan Pemohon telah mengajukan Perseroan Firma Litha & Co Selaku Pihak dalam Permohonan PKPU padahal nyata nyata Perseroan Firma adalah non Badan Hukum. Menurut Hukum pengajuan permohonan PKPU atau Permohonan Pailit harus ditujukan kepada Pesero bukan kepada perusahaannya. Karena itu sepanjang permohonan a quo ditujukan kepada Perusahaan Firma Litha & Co secara langsung oleh Permohonan PKPU Heriyanto Wijaya maka sepanjang itupula permohonan PKPU cacat hukum.

123Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

Putusan Pengadilan Niaga Pada Pengadilan Negeri Makassar juga salah menerapkan hukum, kurang pertimbangan hukumnya bahkan salah menerapkan peraturan peraturan karena permohonan ditujukan kepada pihak yang sudah meninggal, Ribka Ruru. Bahwa hukum acara perdata maupun hukum acara Pengadilan Niaga tidak memungkinkan pihak yang sudah meninggal diajukan selaku Pihak dalam Perkara.

Adapun putusan Pengadilan Niaga Makassar dalam putusannnya tanggal 3 September 2012, sama sekali tidak mempertimbangkan fakta- fakta dalam persidangan yang dilakukan hakim pengawas dengan pengurus bersama dengan Termohon PKPU dan Pemohon PKPU, sehingga dengan demikian Putusan Pengadilan Niaga tersebut nyata-nyata melanggar asas Keseimbangan, asas Kelangsungan Usaha, maupun asas keadilan, sebagaimana yang dianut dalam Undang Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.124

Ada juga fakta yang tidak dipertimbangkan adalah tentang kesiapan Termohon PKPU untuk melakukan penyelesaian disertai dengan jadwal pembayaran yang jelas, dengan jumlah utang sebesar Rp18.000.000.000,00 (delapan belas miliar Rupiah). Permohonan Peninjauan Kembali ini dilakukan oleh Termohon PKPU hanyalah semata mata untuk menjalankan kelangsungan usaha sehingga para karyawan masih dapat hidup layak dari perusahaan Firma Litha & Co tersebut. Dalam Firma Litha & Co terdapat ± 2000 (dua ribu)

124Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

karyawan yang akan mengalami pemutusan hubungan kerja dengan adanya putusan Pemailitan yang dilakukan oleh Pengadilan Niaga Makassar tersebut.

2. Amar Putusan Mahkamah Agung Tingkat Peninjauan Kembali

Adapun yang menjadi Putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung, yaitu mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali dalam hal ini yaitu FIRMA LITHA & CO tersebut, serta membatalkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar Nomor 01/PKPU/2012/PN. NIAGA.MKS. tanggal 03 September 2012.

Menyatakan permohonan PKPU dari Pemohon PKPU: Heryanto Wijaya tidak dapat diterima; serta menyatakan Termohon PKPU: FIRMA LITHA & CO tidak berada dalam keadaan pailit.125

3. Analisis Putusan No. 156 PK/Pdt.Sus/2012

Pengajuan permohonan PKPU yang diajukan oleh HERYANTO WIJAYA terhadap FIRMA LITHA & CO di Pengadilan Niaga Makassar pada Pengadilan Negeri Makassar adalah sebagai salah satu tindak lanjut sebab FIRMA LITHA &

CO mempunyai utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Bahkan FIRMA LITHA & CO juga telah mendapat teguran Aanmaning dari Pengadilan Negeri Makassar No. 20 EKS/2011/PN.Mks jo No. 37/Pdt. G/208/PN. Mks tanggal 01 Agustus 2011, bahkan sampai diajukannya permohonan PKPU, pihak FIRMA LITHA & CO juga belum melakukan pembayaran secara tunai dan penuh kepada Pemohon PKPU.

125Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang disebutkan bahwa debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri, maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya. Dengan demikian dapat penulis ketahui bahwa syarat yang harus dipenuhi jika debitor ingin mengajukan permohonan pailit mempunyai adalah terdapatnya utang, dimana utang tersebut sudah jatuh tempo, dan dapat ditagih, dan juga harus memiliki dua atau lebih Kreditor.

Adapun yang menjadi Debitor dalam kasus ini adalah FIRMA LITHA &

CO, sedangkan yang menjadi Kreditor adalah HERYANTO WIJAYA (Pemohon PKPU) dan PT. BANK NEGARA INDONESIA, Tbk., dan PT. SUMBER INDO CELLULER.

Dalam kasus ini, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar, telah mengabulkan permohonan dan menetapkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara Termohon untuk paling lama 45 (empat puluh lima) hari terhitung sejak putusan a quo diucapkan sebagaimana isi dalam Putusan No. 01/PKPU/2012/PN.Niaga.MKS.126

Adapun yang menjadi alasan HERYANTO WIJAYA mengajukan permohonan PKPU adalah bahwa karena FIRMA LITHA & CO mempunyai utang kepada HERYANTO WIJAYA dan yang telah jatuh waktu dan dapat

126Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

ditagih. Dimana Pemohon PKPU juga telah memperkirakan bahwa FIRMA LITHA & CO tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih. Salah satu yang menjadi tujuan diajukannya PKPU adalah untuk memberikan kesempatan kepada Termohon PKPU untuk mengajukan sebuah rencana perdamaian yang pada pokoknya berisi penawaran-penawaran pembayaran atau skema restrukturisasi utang yang berkepastian hukum kepada para kreditornya.

PKPU dapat diakhiri baik atas permintaan Hakim Pengawas, satu atau lebih kreditor atau atas prakarsa Pengadilan sendiri, dalam hal:127

a. Debitor, selama waktu PKPU, bertindak dengan itikad buruk dalam melakukan pengurusan terhadap hartanya;

b. Debitor telah merugikan atau telah mencoba merugikan kreditornya;

c. Debitor telah melakukan pelanggaran ketentuan Pasal 240 ayat (1);

d. Debitor lalai melaksanakan tindakan-tindakan yang diwajibkan kepadanya oleh Pengadilan pada saat atau setelah PKPU diberikan, atau lalai melaksanakan tindakan-tindakan yang diisyaratkan oleh Pengurus demi kepentingan harta debitornya;

e. Selama waktu PKPU, keadaan harta debitor ternyata tidak lagi memungkinkan dilanjutkannya PKPU, atau;

f. Keadaan harta debitor tidak dapat diharapkan untuk memenuhi kewajibannya terhadap para kreditor pada waktunya

Dengan diakhirinya PKPU karena Debitor lalai dalam melaksanakan kewajibannya, maka Pengadilan telah menyatakan Debitor FIRMA LITHA & CO dalam keadaan pailit, dan terhadap putusan pailitnya tersebut berlaku ketentuan tentang kepailitan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Dengan melihat Pasal 292 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dengan dinyatakan

127Sunarmi, Op.Cit.,hal. 196-197

pailitnya perseroan FIRMA LITHA & CO, maka mengakibatkan debitor dalam keadaan insolvensi.

Dalam Pasal 235 ayat (1) 292 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap putusan PKPU tidak dapat diajukan upaya hukum apapun. Tujuan utama upaya hukum dalam suatu proses dimuka Pengadilan adalah untuk memperoleh putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Akan tetapi, setiap putusan yang dijatuhkan oleh Hakim belum tentu dapat menjamin kebenaran secara yuridis, karena putusan itu tidak lepas dari kekeliruan dan kekhilafan, bahkan bisa bersifat memihak.

Supaya kekeliruan dan kekhilafan itu dapat diperbaiki, agar dapat ditegakkannya kebenaran dan keadilan, maka terhadap putusan Hakim yang terdahulu dapat diperiksa ulang.128

Dengan dikabulkannya Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung yang dimohon oleh Pemohon Peninjauan Kembali FIRMA LITHA & CO terhadap putusan permohonan PKPU telah melanggar ketentuan yang ada dalam Pasal 235 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tersebut.129

Sebagaimana yang tertuang dalam Putusan No.156 PK/Pdt.Sus/2012, dimana Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali permohonan PKPU dengan pertimbangan hukum bahwa Judex Factie dalam hal ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar telah melakukan kekhilafan dalam memutus perkara permohonan PKPU.

128Berdasarkan hasil wawancara dengan Djamaluddin, Hakim Niaga Pada Pengadilan Niaga Medan, Selasa 8 Januari 2019.

129Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

Dengan melihat Pasal 295 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, bahwa Peninjauan Kembali bukan hanya dapat diajukan terhadap putusan kasasi, akan tetapi juga dapat dimintakan terhadap putusan pengadilan tingkat pertama. Dalam hal ini, tepatlah Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali putusan PKPU oleh Pengadilan tingkat pertama yaitu Pengadilan Niaga. Dengan ditambah bukti-bukti baru yang menyatakan bahwa Pengadilan Niaga Makassar telah melakukan kekeliruan dan kekhilafan terhadap pemeriksaan Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Bahwa Termohon PKPU FIRMA LITHA & CO mengajukan Permohonan Peninjauan Kembali terhadap Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar No. 01/PKPU/2012/PN.Niaga.MKS. Dimana dalam Putusan Peninjauan Kembali No. 156 PK/Pdt.Sus/2012 tersebut bahwa, FIRMA LITHA & CO sebagai Termohon PKPU tidak mempunyai legal standing, dikarenakan FIRMA LITHA & CO bukanlah berstatus badan hukum, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai termohon PKPU.130

Dalam hal permohonan PKPU, adapun yang menjadi termohon PKPU adalah orang perorangan, badan hukum, persekutuan yang tidak berbadan hukum, harta peninggalan. Dalam hal ini Firma sebagai Termohon PKPU, adalah sebuah perusahaan yang tidak berbadan hukum.

Firma adalah persekutuan perdata yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan dengan memakai nama bersama (Pasal 16 KUHD). Pada Firma,

130Putusan Mahkamah Agung Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012

kepribadian para sekutu yang bersifat kekeluargaan sangat diutamakan. Hal ini dapat dimaklumi karena sekutu dalam persekutuan firma adalah anggota keluarga ataupun teman sejawat, yang bekerja sama secara aktif menjalankan perusahaan mencari keuntungan bersama dengan tanggung jawab bersama secara pribadi.131

Adapun yang termasuk perserikatan-perserikatan atau perkumpulan-perkumpulan yang bukan berbadan hukum adalah seperti maatschap, firma, dan perkumpulan komanditer (CV). Ada yang menjadi alasan dikatakan sebagai perusahaan non badan hukum adalah:

1. Subjek Hukum Dikatakan sebagai perusahaan non badan hukum, bahwa yang menjadi subjek hukumnya adalah orang-orang yang menjadi pengurusnya, bukan perkumpulannya, karena perkumpulan tersebut bukanlah badan hukum sehingga tidak dapat menjadi subjek hukum. Dalam hal bertindak keluar, yang bertindak sebagai subjek hukum adalah orang-orangnya dan bukan perkumpulannya sehingga yang dapat dituntut oleh pihak ketiga adalah orang-orang perkumpulannya yang menjadi pengurus.

2. Harta kekayaan Bahwa dalam perusahaan yang tidak berbadan hukum adalah harta kekayaannya dicampur, artinya bila terjadi kerugian/penuntutan yang berujung pembayaran ganti rugi/pelunasan utang maka harta kekayaan pribadi dapat menjadi jaminannya. Dengan kata lain, pertanggung jawabannya pribadi untuk keseluruhan. Bahwa harta perusahan bersatu dengan harta pribadi para pengurus/anggotanya. Akibatnya jika perusahaannya pailit, maka harta pengurus/anggotanya ikut tersita juga.

131Abdulkadir Muhammad, Hukum Perrusahaan Indonesia (Cetakan Keempat Revisi), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, h. 89.

3. Tanggung Jawab Para Sekutu dalam Firma Bahwa terhadap setiap tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama firma, maka yang bertanggung jawab secara hukum adalah para sekutu/persero itu secara renteng untuk seluruh hutang dari firma tersebut, tanpa melihat siapakah di antara persero tersebut yang secara riil melakukan tindakan tersebut. Hal ini adalah wajar mengingat suatu firma bukanlah suatu badan hukum.132

HMN. Purwosutjipto mendefinisikan CV sebagai persekutuan Firma yang mempunyai sekutu komanditer, sedangkan persekutuan Firma sebagai suatu persekutuan perdata, sehingga ketentuan diatas berlaku pula untuk bentuk persekutuan perdata khusus yaitu Firma dan CV dan tetap dianggap sebagai bukan badan hukum. Dengan demikian, jelaslah bahwa CV adalah juga Firma, dan Firma adalah juga persekutuan perdata.133

Dalam penulisan ini, terdapat perbedaan putusan antara putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar dengan putusan Mahkamah Agung. Hal yang menjadi permasalahannya ialah terletak pada status FIRMA LITHA & CO dikatakan sebagai subjek hukum dalam hal dimohonkan PKPU.

Yang seharusnya menjadi subjek hukumnya adalah orang-orang yang menjadi pengurusnya, bukan badan usaha itu sendiri karena ia bukanlah badan hukum sehingga tidak dapat menjadi subjek hukum. Dalam hal seorang pengurus melakukan hubungan hukum dengan pihak ketiga, maka merupakan satu kesatuan tanggung jawab antara para pengurus.

132Ibid., h. 90

133Yetty Komalasari Dewi, Pemikiran Baru Tentang Persekutuan Komanditer (CV): Studi Perbandingan KHUD dan Wvk Serta Putusan-Putusan Pengadilan Indonesia dan Belanda, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, h. 79

Asas kepastian hukum dalam perkara kepailitan terlihat dalam pertimbangan pengadilan (hakim) dalam memutus perkara kepailitan. Putusan pengadilan (hakim) harus dianggap benar. Dimana putusan pengadilan tersebut berlaku konkrit bagi para pihak. Berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Makassar dalam perkara HERYANTO WIJAYA,dkk melawan FIRMA LITHA & CO dan Putusan Mahkamah Agung dalam tingkat Peninjauan Kembali terdapat perbedaan berkaitan dengan asas kepastian hukum dalam pertimbangan keputusan. Dimana Majelis Hakim Pengadilan Niaga Makassar yang memutuskan perkara tersebut tidak menimbang dan memperhatikan keberadaan Firma sebagai Termohon PKPU.

Purwosutjipto menyatakan bahwa secara umum Indonesia belum mengakui Firma, termasuk CV, sebagai badan hukum, sebab persyaratan formal suatu badan hukum belum dimiliki, yaitu pengesahan dari pemerintah sebagai suatu badan hukum.134

Hal ini dipertegas lagi dengan Pasal 2 RUU RI tentang Persekutuan Perdata, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Komanditer yang mana bunyinya:135

Persekutuan Perdata, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Komanditer merupakan persekutuan bukan badan hukum.

Yang mana maksud dalam pasal ini adalah Firma bukan badan hukum karena persekutuan bukan badan hukum adalah persekutuan yang pertanggungjawabannya tidak hanya dibebankan pada persekutuan melainkan

134Ibid., h.83

135Pasal 2 RUU RI tentang Persekutuan Perdata, Persekutuan Firma, dan Persekutuan Komanditer

juga pada sekutunya yakni sekutu firma dalam persekutuan firma dan sekutu komplamenter dalam persekutuan komanditer.

Adapun yang menjadi syarat suatu badan dapat dikatakan sebagai badan hukum harus memenuhi syarat baik formil dan materil. Syarat materil suatu badan dapat dikatakan sebagai badan hukum adalah dalam hal harta kekayaan, harta kekayaan badan tersebut harus terpisah dari harta para pengurusnya, terdapat beberapa orang pengurus dari badan tersebut, serta adanya yang menjadi kepentingan bersama para pengurus yaitu dalam hal mencari laba atau keuntungan.136

Dengan melihat syarat materiil tersebut, sebuah firma sebenarnya sudah dapat dikatakan sebagai badan hukum. Dimana Firma memiliki tujuan bersama yaitu mencari keuntungan, dan memiliki para pengurus, namun belum juga dapat dikatakan sebagai badan hukum. Dikarenakan belum memenuhi syarat formil.

Adapun yang menjadi syarat formilnya agar suatu badan dapat dikatakan sebagai badan hukum adalah Pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM, dan adanya Pendaftaran dalam Daftar Perusahaan, serta Pengumuman dalam Tambahan Berita Negara RI. Dalam sistem hukum di Indonesia, suatu badan dapat dikatakan sebagai badan hukum apabila badan tersebut sudah melakukan Pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM, adanya Pendaftaran dalam Daftar Perusahaan, serta Pengumuman dalam Tambahan Berita Negara RI. Namun Firma dalam hal pendiriannya, firma hanya didirikan dengan akta otentik saja dan belum disahkan dan didaftarkan pada Kementerian Hukum dan HAM. Pada akhirnya

136Ronny Roy Fernando, Kedudukan Firma Sebagai Debitur (Termohon) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dalam Hukum Kepailitan, Tesis, Universitas Sumatera Utara, 2018, h. 82

yang menentukan suatu badan/perkumpulan/ dikatakan sebagai badan hukum atau tidak adalah hukum positif yang berlaku pada suatu daerah/negara tertentu, pada waktu tertentu dan masyarakat tertentu pula.

Dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, terdapat pengaturan khusus terhadap firma. Dalam Pasal 5 UU No. 37 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma itu harus memuat nama dan tempat tinggal masing-masing pesero yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh utang firma”.137 Berarti dalam persekutuan firma tiap-tiap pesero secara tanggung-menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala perikatan dari perseroan. Dengan adanya pola tanggung renteng yang menjadi tanggung jawab para pengurus/sekutu menjadi alasan yang kuat bahwa seharusnya sebuah Firma tidak dapat dimohonkan PKPU. Karena adanya hak dan kewajiban para pengurus terhadap usaha yang dilakukannya.

Terhadap putusan Hakim MA Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012 adalah putusan yang sangat benar dan mencerminkan asas kepastian hukum itu sendiri karena Hakim Mahkamah Agung dalam memutuskan perkara ini mempertimbangkan kesejahteraan kelompok secara bersama-sama baik kreditor maupun debitor yang berperkara dalam perkara ini yang mana merupakan tujuan utama dari hukum kepailitan itu sendiri.

Hakim Mahkamah Agung mempertimbangkan fakta-fakta hukum dalam persidangan yang mana salah satunya adalah fakta mengenai tentang kesiapan

137Pasal 5 UUKPKPU

Termohon PKPU untuk melakukan penyelesaian disertai dengan jadwal pembayaran yang jelas, dengan jumlah utang sebesar Rp18.000.000.000,00 (delapan belas miliar Rupiah); dan Fakta bahwa adalah sungguh sangat tidak adil bahkan bertentangan dengan hukum saat pihak Termohon PKPU (Pemohon PK) mengajukan permohonan jadwal pembayaran lalu dengan serta merta dilakukan penolakan dengan alasan pembayaran harus dilakukan secara tunai seketika yang mana Pembayaran seketika justru mengarah pada suatu kesewenang-wenangan, yang mana hal tersebut sangat bertentangan dengan asas PKPU yang menganut asas Keadilan dan asas keseimbangan;

Dari fakta-fakta hukum diatas jelaslah Hakim pengadilan niaga pada pengadilan negeri makasar telah melakukan kekeliruan yang nyata dalam memutuskan perkara ini karena tidak melihat adanya itikad baik debitor yang mengajukan perjanjian perdamaian kepada kreditor namun ditolak oleh kreditor dengan alasan pembayaran harus dilkukan dengan tunai dan seketika.138

Yang mana didalam putusan ini debitor mempunyai itikad baik untuk membayar utang-utangnya kepada kreditor apabila dilakukan penyelesaian pembayaran utang secara jelas namun permohonan perdamaian yang diajukan oleh debitor ditolak oleh kreditor dengan alasan pembayaran dilakukan secara tunai dan seketika yang mana tindakan kreditor tersebut mencerminkan adanya itikad buruk kreditor untuk menguasai harta debitor karena pembayaran seketika mengarah kepada kesewenang-wenangan kreditor yang mana hal ini melanggar asas keadilan dan asas keseimbangan dalam hukum kepailitan.

138 Berdasarkan hasil wawancara dengan Jun Cai, Kurator, Medan, 9 April 2019.

Asas keseimbangan dalam hukum kepailitan sebagai bentuk efektifitas lembaga kepailitan untuk memberikan perlindungan hukum yang sama baik kepada kreditor maupun debitor yang mana asas ini juga mempunyai peran untuk melindungi debitor dari kesewenang-wenangan kreditor.

Dan terhadap putusan Hakim MA Nomor 156PK/Pdt.Sus/2012 sudahlah benar karena hakim mempertimbangkan fakta hukum dalam persidangan yaitu Fakta bahwa Permohonan ini dilakukan oleh Termohon PKPU hanyalah semata mata untuk menjalankan kelangsungan usaha sehingga para karyawan masih dapat hidup layak dari perusahaan Firma Litha & Co tersebut. Perlu kami sampaikan bahwa ada ± 2000 (dua ribu) karyawan akan mengalami pemutusan hubungan kerja dengan adanya putusan Pemailitan yang dilakukan oleh Pengadilan Niaga Makassar tersebut. Itulah sebabnya pertimbangan hukum Majelis yang mengabulkan pemailitan yang dimohonkan oleh Pemohon PKPU (sekarang Termohon Peninjauan Kembali) nyata-nyata adalah pertimbangan yang bertentangan dengan asas Kelangsungan Usaha yang dianut oleh Undang Undang No. 37/2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran utang;

Karena UUK dan PKPU memungkinkan bagi debitor yang perusahaannya memiliki prospek dan potensi untuk tetap dilangsungkan setelah pernyataan pailit dijatuhkan oleh pengadilan terdapat norma-norma yang memungkinkan perusahaan debitor tetap melanjutkan kegiatan usaha (on going concern).139

Frasa “perusahaan dapat dilanjutkan” maupun “melanjutkan usaha”

terkandung maksud perusahaan debitor pailit masih mungkin melanjutkan

139 Berdasarkan hasil wawancara dengan Jun Cai, Kurator, Medan, 9 April 2019.

kegiatan usaha yang dijalankan oleh kurator dengan persetujuan hakim pengawas, sedangkan tujuan melanjutkan usaha tersebut adalah dalam rangka meningkatkan nilai harta sipailit. Secara nyata kelangsungan usaha berpotensi memberikan nilai tambah berupa labah yang pada gilirannya didistribusikan untuk membiayai perusahaan, dibagikan kepada tenaga kerja sebagai upah, sebagai penerimaan negara berupa pajak maupun membiayai kegiatan yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

Manfaat dari pelanjutan usaha perusahaan yang pailit sebagaimana dikemukakan oleh J.B. Huizink bahwa nilai suatu perusahaan sering lebih tinggi dari pada jumlah nilai dari masing-masing unitnya. Jika suatu perusahaan dibekukan, karyawannya diberhentikan serta aktiva-nya dilikuidasi, maka hasil yang diperoleh jelas akan lebih sedikit daripada jika perusahaan itu dijual sebagai

Manfaat dari pelanjutan usaha perusahaan yang pailit sebagaimana dikemukakan oleh J.B. Huizink bahwa nilai suatu perusahaan sering lebih tinggi dari pada jumlah nilai dari masing-masing unitnya. Jika suatu perusahaan dibekukan, karyawannya diberhentikan serta aktiva-nya dilikuidasi, maka hasil yang diperoleh jelas akan lebih sedikit daripada jika perusahaan itu dijual sebagai