Riwayat Pendidikan Responden
PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN Perubahan yang Terjadi
Banyak perubahan yang terjadi dan dialami warga transmigran di Desa Bagelen, mulai dari perubahan keadaan wilayah hingga perubahan mata pencaharian transmigran dari generasi ke generasi. Pada awal perpindahan ke Desa Bagelen, warga transmigran di bekali dengan sarana dan prasarana pertanian yang digunakan sebagai usaha mengolah lahan di Bagelen, yaitu alat-alat pertanian yang dipinjamkan, benih dan pupuk, hingga pelatihan-pelatihan pertanian yang diselenggarakan bersama pihak ketransmigrasian. Pada saat itu, seluruh warga transmigran di Desa Bagelen bermata pencaharian sebagai petani, selain karena sudah bekerja sebagai petani sebelum dipindahkan tetapi juga karena bekal yang diberikan hanya dapat digunakan untuk mengusahakan sektor pertanian. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan awal dilakukannya program kolonisasi atau transmigrasi ini yaitu untuk meratakan pengusahaan lahan pertanian dan hasilnya di Indonesia.
Berdasarkan data serikat petani Indonesia3, jumlah petani di Indonesia saat ini mencapai sekitar 25 juta keluarga. Dari jumlah tersebut, 13 juta keluarga merupakan petani gurem atau petani kecil. Menurut data terbaru BPS4, di Indonesia setidaknya terdapat rumahtangga petani sejumlah 17.830.832, sedangkan di Desa Bagelen terdapat 743.542 rumahtangga usaha petani.
Namun saat ini, daya dukung (carrying capacity) alam menurun karena luas lahan berkurang dan kondisi lahan sudah tidak subur untuk kegiatan pertanian yang memberi hasil baik. Sarana dan prasarana pertanian yang juga tidak diperbaharui mengakibatkan gerak petani terbatas dan tidak maju. Jika dipaksakan untuk bertani, maka keturunan transmigran akan mengalami kerugian karena hasil panen yang akan didapat tidak sebanding dengan modal usaha yang keluarkan. Di sisi lain, warga keturunan transmigran tersebut juga perlu memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya yang setiap tahunnya bertambah. Hal ini yang kemudian menggerakkan keturunan transmigran tersebut mulai meninggalkan sektor pertanian dan beralih ke sektor non pertanian. Di setiap generasinya, jumlah petani di Desa Bagelen terus menurun. Perubahan mata pencaharian dari sektor pertanian menuju sektor non-pertanian dari satu generasi menuju generasi selanjutnya dapat dilihat dari Gambar 6.
3
Data diperoleh melalui spi.or.id
4
Gambar 6 Jumlah transmigran dan keturunannya dari generasi 1 hingga generasi 4 yang bermata pencaharian di sektor pertanian dan non pertanian (Desa Bagelen tahun 2016)
Dari grafik pada gambar 6, dapat kita lihat bahwa jumlah petani di Desa Bagelen menurun dari generasi pertama, yaitu para transmigran yang pindah pada tahun 1905, hingga generasi ke-4, yaitu keturunannya. Generasi ke-2 merupakan anak dari transmigran pertama, generasi ke-3 merupakan cucu dan generasi ke-4 merupakan cicit dari transmigran pertama.
Berdasarkan data pada gambar 6, pada generasi ke-1 seluruh transmigran yang merupakan kakek/nenek ataupun kakek buyut/nenek buyut dari responden bermata pencaharian di sektor pertanian dan bekerja sebagai petani, sedangkan di generasi kedua sudah terlihat penurunan sebanyak 15 persen sehingga jumlahnya menjadi 30 orang yang bermata pencaharian di sektor pertanian dan 5 orang bermata pencaharian di sektor non pertanian. Penurunan terus terjadi, dapat dilihat dari jumlah pekerja di sektor pertanian pada generasi ke-3 hanya berjumlah 19 orang dan 16 orang lainnya tidak lagi di sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan pekerja sektor pertanian sebanyak 46 persen pada generasi ke-3. Generasi termuda pada penelitian ini yaitu generasi ke-4. Pada generasi ini jumlah pekerja di sektor pertanian hanya sebanyak 5 orang dan 30 orang sisanya bekerja di sektor non pertanian. Dengan kata lain hanya ada 14 persen generasi ke-4 yang bermata pencaharian di sektor pertanian.
Berdasarkan data tersebut, maka diperoleh pernyataan bahwa terjadi penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian dari generasi ke generasi. Data tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dari generasi sebelumnnya tidak lagi banyak yang memilih sektor pertanian sebagai sumber pencarian nafkahnya.
“Lahan semakin lama semakin kekurangan unsur hara dan semakin tidak cocok di tanami. Apalagi kurangnya kegiatan penyuburan tanah. Lihat saja sekarang semua gersang seperti itu. Ya, sudah tidak cocok lagi dipakai buat bercocok -tanam. Kalau alat kurang, pupuk tidak ada, dan dana pemeliharaan gak cukup, tanamannya pasti bakalan mati. Sayang dong uang
Generasi 1 Generasi 2 Generasi 3 Generasi 4 Sektor Pertanian 35 30 19 5 Sektor Non Pertanian 0 5 16 30
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Jumlah Transmigran di Sektor Pertanian dan Non Pertanian
dan bibit yang sudah terpakai. Daripada merugi, ya lebih baik cari pekerjaan lain” (Bapak TP, 40 tahun)
Salah satu alasan keturunan transmigran tidak lagi berminat bekerja di sektor pertanian adalah kondisi lahan yang tidak lagi cocok digunakan sebagai lahan pertanian. Kekeringan lahan yang terjadi di Desa Bagelen adalah sebagai berikut5:
Kekeringan Pertanian, berhubungan dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air dalam tanah), sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala kekeringan meteorologi. Kekeringan Sosial Ekonomi, berkaitan dengan kekeringan yang memberi dampak terhadap kehidupan sosial ekonomi, seperti: rusaknya tanaman, peternakan, perikanan, berkurangnya tenaga listrik dari tenaga air, terganggunya kelancaran transportasi air, dan menurunnya pasokan air baku untuk industri domestik dan perkotaan.
Kekeringan akibat manusia terjadi karena kebutuhan air lebih besar daripada pasokan yang direncanakan akibat ketidak taatan penguna terhadap pola tanam atau pola penggunaan air.
Kondisi lahan yang kering kemudian berdampak pada keadaan lahan yang dianggap “sia-sia” karena tidak dapat digunakan lagi untuk bertani dan menghasilkan uang. Di sisi lain, para keturunan transmigran harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Keputusan yang diambil para transmigran dalam mengatasi masalah ini adalah menjual lahan yang dimiliki atau menjadikan lahan sebagai media pembangunan tempat tinggal dan bangunan lainnya. Hal ini kemudian berdampak pada jumlah lahan pertanian yang ada di Desa Bagelen yang setiap tahunnya berkurang, sehingga jumlah petani pemilik lahan juga berkurang.
Bagi para petani yang masih memiliki lahan juga terasa sangat sulit karena sarana dan prasarana pertanian kurang memadai. Para petani kekurangan alat dan bahan bertani karena tidak adanya dana yang mencukupi. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengakibatkan semua serba mahal saat ini, sedangkan petani perlu alat dan bahan yang baik agar dapat memperoleh hasil yang baik juga. Untuk petani kelas besar, keadaan tersebut masih bisa ditangani karena perekonomian mereka yang masih mencukupi. Namun, bagi petani kecil hal tersebut menjadi sulit. Sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya bantuan pemerintah sulit sekali didapatkan.
“Sekarang sulit sekali mendapat bantuan pemerintah untuk pertanian. Urusannya ribet dan panjang. Akhirnya kami dalam gapoktan ini berinisiatif sendiri cari dana.” (Bapak LA, 63 tahun)
5
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Legio Handoko, Ketu a Gapoktan Sidodadi Desa Bagelen pada 21 Maret 2016 pukul 17.45
Kesulitan warga dalam mendapat bantuan pemerintah malah membuat warga menjadi semakin kreatif. Bersama petani lainnya dalam Gapoktan yang ada di desa ini, warga bekerja sama membuat suatu karya ilmiah yaitu tenaga gas dari kotoran hewan. Warga mengumpulkan kotoran hewan dari warga lain yang juga bekerja sebagai peternak sapi, dan dengan bantuan lembaga pelatihan mereka dapat mengubah kotoran tersebut menjadi tenaga gas. Hal ini kemudian menarik perhatian pemerintah sehingga saat ini gapoktan di Desa Bagelen kembali mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Selain dana, petani yang masih ada di Desa Bagelen juga membutuhkan pelatihan pertanian untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka dalam dunia pertanian. Namun beberapa pelatihan pertanian yang dulu pernah dilakukan, kini sudah jarang dan hampir tidak pernah dilakukan lagi. Hal ini kemudian berdampak pada minimnya pengetahuan warga khususnya petani transmigran akan informasi dan pengetahuan seputar pertanian. Tak heran kalau kualitas pertanian petani transmigran ini standar dan tidak berkembang. Ketidaktahuan akan pertanian kemudian membuat petani transmigran takut akan kegagalan di sektor pertanian yang kemudian berujung pada ketidakinginan untuk mencari nafkah di sektor pertanian.
Desa ini merupakan perbatasan antara kota dan kabupaten sehingga desa ini banyak dikelilingi oleh usaha-usaha industri, mulai dari kelas kecil hingga kelas atas, tetapi belum terdapatnya kegiatan industri di dalam desa ini sendiri. Kegiatan industri luar desa tersebut kemudian sedikit demi sedikit mendorong warga desa untuk meninggalkan sektor pertanian dan mencari nafkah di sektor lainnya. Lokasi tidak menjadi masalah bagi warga desa, terlebih lagi keadaan wilayah Desa Bagelen dan keadaan sektor pertaniannya tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup sehingga keturunan transmigran memilih untuk mencari sumber penghasilan lainnya. Keinginan warga untuk mendapat pekerjaan di sektor lain menyadarkan warga akan pentingnya pendidikan agar dapat bersaing di dunia pekerjaan sektor non pertanian, sehingga semakin banyak warga Desa Bagelen yang berminat membiayai pendidikan anak-anaknya hingga jenjang yang tinggi. Minat dan keinginan keturunan tersebut untuk mendapatkan pendidikan mengalami peningkatan, sehingga saat ini banyak anak-anak dari responden dan warga usia lanjut lainnya yang memiliki tingkat pendidikan menengah keatas. Keterdedahan akan pendidikan yang semakin tinggi mengakibatkan pengetahuan akan dunia yang dimiliki anak-anak dan keturunan transmigran menjadi luas, termasuk dalam pengetahuan akan mata pencaharian. Keturunan transmigran tersebut kemudian menyadari bahwa mereka memiliki banyak pilihan yang dapat dijadikan sebagai mata pencahariannya. Hal ini berdampak pada meningkatnya perubahan mata pencaharian yang terjadi pada keturunan selanjutnya dari para transmigran. Tabel 20 akan menjelaskan status keberadaan keturunan transmigran dan sektor mata pencahariannya
Tabel 20 Jumlah anak-anak responden berdasarkan tempat tinggal dan sektor mata pencahariannya (Desa Bagelen tahun 2016)
Sektor Mata Pencaharian Lokasi
Tempat Tinggal
Sektor Pertanian Sektor Non Pertanian Total Generasi 4 Generasi 5 Generasi 4 Generasi
5 Desa Bagelen 11 4 11 13 39 Luar Desa Bagelen 0 1 17 20 38 Total 11 5 61
Berdasarkan data pada tabel 20, jumlah anak-anak responden yang masih tinggal di desa tidak terlalu berbeda dengan jumlah anak-anak responden yang sudah merantau keluar desa. Tetapi hal yang membedakan adalah jumlah anak-anak yang bekerja di sektor non pertanian lebih banyak daripada jumlah anak-anak yang bekerja di sektor pertanian. Jumlah anak-anak yang bekerja di sektor non pertanian dan melakukannya di luar desa memiliki skor terbesar pada tabel 20. Dari tabel 20 dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata anak yang mengadu nasib bekerja di luar desa akan memiliki pekerjaan di sektor non pertanian, sedangkan anak-anak yang masih berada di desa akan memiliki pekerjaan di sektor pertanian yang notabene akan bekerja bersama dengan orang tuanya. Menurunnya keinginan keturunan transmigran untuk bekerja di sektor pertanian menjadi fenomena yang semakin wajar di Desa Bagelen. Peningkatan pendidikan keturunan dan generasi selanjutnya (anak-anak responden) menjadi alasan mereka untuk tidak kembali ke sektor pertanian karena minimnya pendidikan pertanian yang diperoleh oleh keturunan transmigran. Keturunan transmigran saat ini lebih tertarik pada sektor non pertanian yang terlihat lebih menjanjikan dalam pemenuhan kebutuhan. Dengan minat yang kecil, maka makin sedikit pula orang-orang yang berkeinginan untuk mengurus dan mengelola sektor pertanian. Sedikitnya sumberdaya manusia yang bekerja di sektor pertanian mengakibatkan pertanian di Desa Bagelen menjadi terbengkalai dan tidak di urus, sehingga menjadi sia-sia dan tidak bernilai lagi. Pada akhirnya hasil dari sektor pertanian pun menjadi menurun. Perubahan mata pencaharian tersebut juga akhirnya berdampak pada perubahan jumlah penduduk di Desa Bagelen. Banyak keturunan transmigran yang kemudian mulai mengadu nasib di luar desa dengan mencari pekerjaan di luar desa. Namun tak jarang ada warga pendatang yang kemudian menetap di desa tersebut dikarenakan pekerjaan. Mobilisasi penduduk yang semakin mudah menjadi faktor perubahan jumlah penduduk Desa Bagelen dan menjadi jembatan yang berdampak pada ditinggalkannya sektor pertanian.