BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Perubahan Menua Pada Lansia Dengan Gangguan
Berdasarkan teori biologis penuaan, perubahan struktur sel dan jaringan akan menimbulkan perubahan degeneratif. Proses degeneratif mempengaruhi efesiensi fungsional tulang dimulai pada dekade ketiga sebelum kerangka tubuh mencapai maturitas, dan mempengaruhi tendon, ligamen serta cairan sinovial (Miller, 2004). Pada proses menua biasanya terjadi penurunan produksi cairan sinovial pada persendian, berkurangnya massa otot, osteoporosis, perubahan pada sistem saraf pusat tonus otot menurun, perubahan kemunduran bentuk jaringan penghubung, kartilago sendi menjadi lebih tipis dan ligamentum menjadi lebih kaku serta terjadi penurunan kelenturan (fleksibilitas), sehingga mengurangi gerakan persendian. Adanya keterbatasan pergerakan dan berkurangnya pemakaian sendi dapat memperparah kondisi tersebut (Miller, 2004). Penurunan kemampuan muskuloskeletal dapat menurunkan aktivitas fisik dan latihan, sehingga akan mempengaruhi lansia dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
(activity daily living atau ADL) (Westerterp & Meijer, 2001 dalam Miller, 2004).
2.2.2 Rematik
Rematik adalah penyakit infeksi pada sendi yang terjadi secara degeneratif dimana terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban (Dalimarta, 2008). Secara klinis rematik ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan hambatan gerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali berhubungan dengan trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya (Gunadi dalam Garnadi, 2008). Davis (1988, dalam Luckenotte, 2006), penyebab utama peradangan pada sendi adalah keausan sendi akibat antara lain robek, cedera atau infeksi. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya penipisan bantalan sendi sehingga menimbulkan gesekan yang berakibat nyeri di dalam sendi. Sebanyak 80% penderita rematik mengeluh nyeri.
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Menurut Dalimarta (2008), terdapat beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
(a) Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya rematik, faktor penuaan adalah yang terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa rematik bukan akibat penuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan perubahan pada rematik.
(b) Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena rematik pada lutut dan sendi. Sedangkan laki-laki lebih sering terkena rematik pada paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah 45 tahun, frekuensi rematik kurang lebih sama antara pada laki-laki dan wanita, tetapi diatas usia 50 tahun (setelah menopause) frekuensi rematik lebih banyak pada wanita
daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis rematik.
(c) Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi rematik pada masing-masing suku bangsa berbeda. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.
(d) Genetik
Rematik termasuk dalam kategori multifactorial disorders. Penyakit reumatik adalah salah satu autoimmune diseases, yaitu suatu kategori penyakit dimana tubuh, secara abnormal, membentuk respons imun berlebihan terhadap sel dan jaringan yang memang secara normal ada dalam tubuh sendiri (Sasongko, 2010). Tubuh membangun sistem pertahan yang menyerang dirinya sendiri. Sejalan dengan hal ini, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor genetik yang memberi kontribusi pada timbulnya penyakit-penyakit autoimun adalah faktor-faktor genetik yang berperan pada sistem imunitas.
(e) Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya rematik, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan rematik pada sendi yang menanggung beban berlebihan, tapi juga dengan rematik sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Oleh karena itu disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain (metabolit) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut.
(f) Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan dengan peningkatan resiko rematik tertentu.
Olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan resiko rematik yang lebih tinggi.
(g) Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya rematik pada usia muda.
(h) Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya rematik. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.
Menurut Gunadi (2008 dalam Garnadi, 2008), gejala utama dari rematik adalah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. Mula-mula terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi dan perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak menonjol dan timbul belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara lain : 1) Keluhan nyeri sendi merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain. Untuk mengukur nyeri dapat digunakan skala 0 – 5 dari Wong/Baker Faces Rating Scale (Loretz, 2005). Nilai 0 = tidak ada nyeri yang dirasakan; nilai 1 = nyeri ringan; nilai 2 = nyeri yang membuayt tidak nyaman; nilai 3 = nyeri bertambah dan mengganggu ; nilai 4 = nyeri yang menimbulkan sakit; nilai 5 = nyeri sekali sampai meneteskan air
mata. Skala Nyeri dapat dilihat pada lampiran ke 9.; 2) Gangguan gerakan sendi biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri; 3) Kaku pagi dapat menimbulkan immobilisasi; 4) Krepitasi atau rasa gemeretak pada sendi yang sakit; 5) Pembesaran sendi (deformitas); 6) Perubahan gaya berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).
2.2.3 Gangguan Mobilisasi akibat Rematik a) Pengertian
Menurut North American Nursing Diagnosis Assosiation, pengertian mobilisasi adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih (Wilkinsons, 2007). Pengertian ini dapat menggambarkan bahwa individu dengan keterbatasan kemampuan melakukan pergerakan fisik secara mandiri, seperti kemampuan untuk menggerakkan lengan, tungkai, dan kelemahan otot secara umum.
b) Penyebab
Peningkatan usia pada lansia mengakibatkan perubahan pada semua sistem tubuh termasuk sistem muskuloskeletal. Pada proses menua biasanya terjadi penurunan produksi cairan sinovial pada persendian, berkurangnya massa otot, osteoporosis, perubahan pada sistem saraf pusat tonus otot menurun, perubahan kemunduran bentuk jaringan penghubung, kartilago sendi menjadi lebih tipis dan ligamentum menjadi lebih kaku serta terjadi penurunan kelenturan (fleksibilitas), sehingga mengurangi gerakan persendian. Adanya keterbatasan pergerakan dan berkurangnya pemakaian sendi dapat memperparah kondisi tersebut (Miller, 2004).
Berdasarkan teori konsekuensi fungsional perubahan secara fisiologis terjadi pada lansia bervariasi berkaitan dengan kemunduran, progresif,
intrinsik dan bersifat universal dengan kecepatan yang berbeda dan dipengaruhi oleh faktor resiko, antara lain penyakit, lingkungan, gaya hidup, support systems, psikososial, pengobatan yang tidak cocok dan sikap yang didasari oleh kurang pengetahuan (Miller, 2004). Konsekuensi fungsional akan bernilai positif jika lansia mudah mencapai tingkat kemandirian dengan sedikit jumlah ketergantungan, sebaliknya akan bernilai negatif ketika lansia mengalami gangguan dan tingkat kemandirian menurun. Konsekuensi fungsional negatif digambarkan dengan berkurangnya kekuatan otot, daya tahan dan koordinasi serta mengalami keterbatasan ROM (range of motion) sebagai akibat dari penurunan fungsi muskuloskeletal (Miller, 2004).
c) Tanda dan Gejala
Penurunan fungsi muskuloskeletal menyebabkan terjadinya perubahan otot dengan keluhan yang dirasakan seperti nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan dan tanda-tanda inflamasi mengakibatkan terjadinya immobilisasi. Nyeri yang dirasakan antara lain nyeri leher dan punggung, nyeri bahu, nyeri bokong dan nyeri pada kaki (Miller, 2004).
d) Dampak Yang Ditimbulkan Akibat Gangguan Mobilisasi
Gangguan mobilisasi dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan pada akhirnya dapat mengganggu peran yang seharusnya dilakukan oleh klien. Masalah lain yang muncul adalah adanya resiko jatuh (falls) dan tidak aman (unsafe) (Mayer et al, 2002). Resiko jatuh dan tidak aman selalu dikaitkan dengan konsekuensi fungsional lansia karena meningkatnya usia serta adanya penurunan kemampuan tubuh. Terdapat penyebab gangguan mobilisasi yang dapat mengakibatkan resiko jatuh yaitu pengobatan (medications), faktor lingkungan (environmental factors), Aktifitas fisik (physical restraints) (Morley, 2002, dalam Miller, 2004). Gangguan mobilisasi juga berdampak pada aktivitas sehari-hari (Activity Daily Living/ADL). ADL yang terganggu akan mengakibatkan defisit perawatan diri. Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi seseorang mengalami
gangguan kemampuan dalam perawatan diri yang meliputi mandi, berganti pakaian, makan dan toileting (Wilkinson, 2007). Untuk mengukur tingkat kemampuan aktivitas lansia dapat menggunakan Barthel Index (Loretz, 2005)
Barthel Index (BI) merupakan alat evaluasi yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan lansia dalam melakukan ADL. Pengkajian dengan menggunakan BI sangat akurat untuk menilai kemampuan dan keterbatasan yang dialami klien lansia. BI terdiri dari 10 item aktivitas yaitu : personal hygiene, mandi, makan, penggunaan toilet, menggunakan tangga, berpakaian, eliminasi buang air besar, buang air kecil, ambulasi atau berpindah. Skala yang digunakan adalah 0 – 100 (Loretz, 2005). Skala pengukuran BI dapat dilihat pada lampiran ke 7.
Ganggunan mobilisasi memerlukan penatalaksanaan yang komprehensif. Menurut Dalimartha (2008), penatalaksanaan pada gangguan mobilisasi akibat rematik adalah sebagai berikut :
(a) Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis
(b) Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit.
(c) Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri (d) Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera (e) Dukungan psikososial dari keluarga dan masyarakat sekitar (f) Pemakaian kompres panas dan dingin
Kompres panas dan dingin merupakan stimulasi kutaneus. Stimulus kutaneus adalah stimulasi kulit yang dilakukan untuk menghilangkan nyeri. Pilihan terapi panas dan dingin bervariasi menurut kondisi lansia. Misalnya panas lembab menghilangkan kekakuan pada pagi hari akibat
artritis, tetapi kompres dingin mengurangi nyeri akut dan sendi yang mengalami peradangan akibat penyakit tersebut (Ceccio, 1990 dalam Perry & Potter, 2002, dalam Hamdiana, 2010). Massase dengan menggunakan kantong es dan kompres menggunakan kantung es merupakan dua jenis terapi dingin yang sangat efektif untuk menghilangkan nyeri. Massase dengan menggunakan sebuah blok es yang diletakkan di kulit dengan memberikan tekanan yang kuat, tetap dan dipertahankan. Kompres dingin dapat dilakukan di dekat lokasi nyeri, di sisi tubuh yang berlawanan tetapi berhubungan dengan lokasi nyeri dan memakan waktu 5 sampai 10 menit.
(g) Latihan ROM
Latihan fisik merupakan salah satu bentuk terapi modalitas yang sesuai diberikan pada lansia yang mengalami risiko atau keterbatasan mobilisasi. Lansia yang berusia lebih dari 60 tahun perlu mempertahankan kebugaran jasmani untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan sangat bermanfaat bagi semua golongan umur termasuk lansia. Latihan yang teratur akan meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan kepadatan tulang, memperbaiki keseimbangan, koordinasi neuromuskular, meningkatkan daya tahan, mengurangi tekanan darah, memperbaiki mood dan mencegah risiko jatuh (Beers & Berkow, 2000 dalam Nies & McEwen, 2007 dalam Hamdiana, 2010).
Latihan Range of Motion merupakan salah satu jenis latihan fisik, komponen kebugaran jasmani yang dapat dilatih adalah kelenturan (flexibility) yang merupakan kemampuan untuk menggerakkan otot dan sendi pada seluruh pergerakan. Latihan fisik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan memperbaiki kelenturan. Manfaat latihan ROM ini anatara lain; mengoptimalkan gerak otot dan sendi; meningkatkan kebugaran jasmani; mengurangi risiko cedera otot dan sendi; mengurangi ketegangan dan nyeri otot (Perry & Potter, 2002).
Selain ROM, klien dengan gangguan mobilisasi akibat rematik dapat melakukan senam rematik. Menurut Tulaar dan Nuhonni (2008), senam rematik dapat menurunkan rasa nyeri, menguatkan otot, melancarkan peredaran darah. Pada penderita rematik, latihan senam harus di bawah pengawasan dokter, terapis, instruktur atau pasien itu sendiri. Perhatikan tiap sendi dan waspadai bila ada tanda-tanda radang. Waktu dan jenis latihan juga dibedakan tergantung stadium penyakit dan ada tidaknya radang. Secara umum gerakan-gerakan senam rematik dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan gerak, fungsi, kekuatan dan daya tahan otot, kapasitas aerobik, keseimbangan, biomekanik sendi dan rasa posisi sendi. Senam rematik ini merupakan latihan gerak atau program olahraga yang sedang, berlangsung sekitar 20 hingga 30 menit dan terdiri dari empat tahapan yakni pemanasan, latihan inti I, latihan inti II dan pendinginan.
(h)
AkupresurePelayanan kesehatan tradisional merupakan suatu upaya kesehatan yang banyak diminati masyarakat (Kemenkes RI, 2011). Akupresur merupakan bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh. Berguna untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan, kelelahan dan penyakit. Akupresur menyembuhkan sakit dan nyeri yang sukar disembuhkan, nyeri punggung, spondilitis, kram perut, gangguan neurologis, artritis. Titik-titik akupresur terletak pada kedua telapak tangan begitu juga pada kedua telapak kaki.
(i) Penggunaan obat tradisional dan herbal yang sudah teruji
Obat tradisional berkhasiat untuk pengobatan, karena terdapat zat ekstrak yang khasiatnya dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan (Adi, 2006). Terdapat lebih dari 100 macam obat/tanaman tradisional yang dapat mengurangi rasa nyeri pada sendi akibat rematik.
(j) Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam batas normal (Dalimartha, 2008). Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada penderita rematik dapat dilihat pada lampiran ke 17.
2.3 Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Gangguan Mobilisasi