• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2. Perubahan Patologi Anatomi (PA)

Tahapan perubahan PA secara deskriptif pada ikan yang diberi perlakuan infeksi S. iniae adalah berupa lesi pada area injeksi, warna tubuh menjadi gelap, hemoragi pada bagian bawah operkulum, perut bengkak, sisik rontok, gelembung renang relatif lebih besar, hati bengkak dan pucat, limpa bengkak dan empedu bengkak. Gambaran deskriptif tersebut dituangkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Patologi anatomi ikan Kerapu Macan (E. fuscogutattus) yang diinfeksi S. iniae

Perlakuan Tubuh/ Organ hari ke

1 2 3 4 5 6 K Tubuh (Bagian luar) Warna normal Warna normal Warna normal Warna normal Warna normal Normal

Sirip Normal Normal Normal Normal Normal Normal Hati Normal Normal Normal Normal Normal Normal Jantung Normal Normal Normal Normal Normal Normal Limpa Normal Normal Normal Normal Normal Normal Ginjal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Usus Normal Normal Normal Normal Normal Normal Otak TD TD TD TD TD TD Mata Normal Normal Normal Normal Normal Normal Insang Normal Normal Normal Normal Normal Normal Gelembung

Renang

Normal Normal Normal Normal Normal Normal

106 sel/ml Tubuh (Bagian luar) Normal -Warna gelap - Hemoragi -Warna gelap - Hemoragi -Warna gelap -Hemoragi -Normal -Hemoragi Normal

Sirip Normal Normal Normal Normal Normal Normal Hati Normal Normal Pucat Pucat Bengkak Normal Jantung Normal Normal Normal Normal Normal Normal Limpa Normal Normal Bengkak Normal Normal Normal Ginjal Normal Normal Hemoragi Normal Normal Normal Usus Normal Normal Normal Normal Normal Normal Otak TD TD TD TD TD TD Mata Normal Normal Normal Normal Normal Normal Insang Normal Pucat Pucat Normal Normal Normal Gelembung

Renang

Bengkak Normal Normal Normal Normal Normal

109 sel/ml Tubuh (Bagian luar) -Warna gelap -Hemoragi -Sisik normal -Warna gelap -Hemoragi - Sisik rontok - Warna gelap - Hemoragi - Sisik rontok - Warna gelap -Hemoragi -Sisik rontok -Warna gelap -Hemoragi -Sisik rontok -Normal -Hemoragi -Normal Sirip Normal Normal Normal Normal Normal Geripis Hati Pucat Pucat Pucat

Bengkak Pucat Bengkak Pucat Bengkak Pucat Bengkak Jantung Normal Normal Normal Normal Normal Normal Limpa Normal Normal Normal Bengkak bengkak bengkak Ginjal Normal Normal Normal Hemoragi Hemoragi Hemoragi Usus Normal Normal Normal Normal Normal Normal Otak TD TD TD TD TD TD Mata Normal Normal Normal Normal Normal Normal Insang Pucat Pucat

Lesi (erosi)

Lesi (erosi) Pucat Pucat Pucat Gelembung

Renang

Penilaian lesio organ yang memperlihatkan perubahan PA dilakukan dengan membandingkan organ kontrol (normal) dan organ ikan uji berdasarkan warna dan lesio patologi.

Hasil pengamatan pada penelitian ini menunjukan bahwa infeksi S. iniae tidak menyebabkan perubahan makroskopis PA pada organ sirip, mata, jantung dan usus. Insang, hati, limpa, ginjal dan gelembung renang memperlihatkan lesio dengan derajat kerusakan bervariasi berupa pucat, bengkak, erosi, hemoragi dan sisik rontok.

Dari Tabel 4 terlihat bahwa ikan yang diberi perlakuan infeksi S. iniae dengan dosis 10 6 sel/ml warna tubuhnya menjadi gelap dan setelah hari ke 2 timbul hemoragi pada bagian bawah operkulum sedangkan pada ikan uji yang diberi perlakuan 109 sel/ml selain tubuh berwarna gelap dan hemoragi pada bagian operkulum dan bagian bawah tubuh juga mengalami rontok sisik disekitar garis lateral pada hari petama (Gambar 9). Gambaran patologi anatomi tersebut menunjukan bahwa S. iniae dapat menyebabkan perubahan warna tubuh, hemoragi dan sisik rontok. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Russo et al. (2006) pada beberapa jenis ikan hias kelompok cyprinid bahwa infeksi S. iniae dapat menyebabkan perubahan warna tubuh menjadi lebih gelap (darkness), hemoragi pada bagian sisi tubuh sekitar kepala serta sirip pelvis dan kaudal. Bromege & Owens (2002) menyatakan bahwa perubahan PA akibat infeksi S. iniae pada ikan Barramundi Lates calcarifer gejala klinisnya dikelompokan dalam sub akut dan akut. Salah satu bentuk gejala klinis sub akut yaitu perubahan warna tubuh menjadi lebih gelap, sedangkan gejala klinis akut salah satunya berupa eksoptalmia dengan perubahan patologi kekeruhan pada mata (cornea opacity).

Perubahan warna tubuh dapat dipicu oleh infeksi yang diakibatkan bakteri, menyebabkan terjadinya infiltrasi sel radang meluas pada lapisan epidermis, selanjutnya nekrosis epidermis diawali oleh kematian sel inti pada mukosa maupun sel klub (Robert 2001). Pada penelitian ini ikan uji mengalami perubahan warna tubuh menjadi gelap dan hemoragi menunjukan bahwa S. iniae adalah bakteri septisemia. Kemampuan bakteri menginfeksi inangnya secara sistemik menyebabkan terjadinya peningkatan eritrosit di buluh darah arteri

(hiperemia) pada daerah inflamasi, keadaan ini yang menyebabkan terjadi perubahan warna tubuh menjadi gelap.

Organ hati pada perlakuan 106 sel/ml terlihat pucat pada hari ke 3 sampai hari ke 5, sedangkan pada perlakuan 109 sel/ml selain pucat juga memperlihatkan pembengkakan sejak hari pertama. Pembengkakan dan pucat menunjukan terjadinya degenerasi. Semakin besar dosis yang diberikan menyebabkan reaksi persembuhan lambat. Ikan yang diinfeksi 106 sel/ml dapat sembuh pada hari ke 6 sedangkan ikan yang diberi perlakuan 109 sel/ml tidak mengalami persembuhan.

Limpa pada perlakuan 106 sel/ml pada hari ke 1 dan ke 2 terlihat normal, selanjutnya bengkak pada hari ke 3 namun pada hari ke 4 sampai akhir penelitian terlihat normal. Pada perlakuan 109 sel/ml organ limpa terlihat normal hari ke 1 dan ke 2 selanjutnya terlihat membengkak pada hari ke 3 sampai akhir penelitian. Pembengkakan pada organ limpa merupakan salah satu ciri terjadinya infeksi. Ikan yang diinfeksi 106 sel/ml dapat sembuh pada hari ke 4 sedangkan pada ikan yang diberi perlakuan 109 sel/ml tidak memperlihatkan persembuhan sampai akhir penelitian.

Gelembung renang pada ikan yang diberi perlakuan 109 sel/ml terlihat relatif lebih besar / membengkak pada hari ke 1 sampai hari ke 5 dan normal pada hari ke 6. Hal ini diduga berkaitan dengan gangguan sirkulasi oksigen di insang yang meradang.

Terjadinya pembengkakan pada organ hati dan limpa sesuai dengan hasil penelitian Yuasa et al. (199) yang menyatakan bahwa ikan Rabbit fish Siganus canaliculatus yang terinfeksi S. Iniae mengalami pembesaran pada organ hati dan limpa.

Organ otak sebagaimana tertuang pada Tabel 3 diberi keterangan TD dimaksudkan bahwa pada penelitian ini tidak dilakukan pengamatan mengingat bahwa ukurannya kecil dan rapuh sehingga sulit untuk dilihat dengan menggunakan alat dan teknik pengamatan biasa.

Eksoptalmia dan kekeruhan kornea adalah salah satu lesio spesifik yang banyak ditemukan pada kasus infeksi alami S. iniae (Bromage et al. 1999). Pada penelitian ini organ mata tidak memperlihatkan perubahan PA diduga waktu

perlakuan selama 6 hari belum dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada organ mata.

Gambar 9. Ikan Kerapu macan (E. Fuscogutattus) yang diinfeksi S. iniae memperlihatkan hemoragi pada rahang dan operkulum bagian bawah (A) serta sisik rontok (B).

Dokumen terkait