• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konsep

Dalam dokumen TESIS MAGISTER OLEH IKA MARIANA GULTOM (Halaman 65-0)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Kerangka Konsep

Variabel independen Variabel dependen

Gambar 2.5 Kerangka Konsep Status Nutrisi pada lansia

MNA

Fungsi Kognitif MoCA-INA

VCAT

BAB 3

METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah kerja Kecamatan Helvetia Medan pada bulan Februari 2020 sampai dengan April 2020. Penelitian dilaksanakan setelah disetujui oleh Komite Etik Penelitian Bidang Kesehatan FK USU.

3.2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian diambil dari populasi lansia di wilayah kerja Puskesmas Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia. Penentuan subjek penelitian dilakukan menurut metode sampling non random secara konsekutif.

3.2.1. Populasi Sasaran

Semua populasi lansia di Kecamatan Medan Helvetia.

3.2.2. Populasi Terjangkau

Semua populasi lansia yang datang berkunjung ke puskesmas Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia.

3.2.3. Besar Sampel

Besar sampel dihitung menurut rumus : (Lameshow dkk, 1990)

 

P0 = proporsi penderita manutrisi pada lansia, sebesar = 0,14 (14,0 %) Zoghbi, 2013

Pa = perkiraan penderita malnutrisi pada lansia yang diteliti, sebesar = 0,29 (29,0%)

Pa

P0  = beda proporsi yang bermakna ditetapkan sebesar 0,15 Maka sampel minimal untuk penelitian ini sebanyak 71 orang.

3.2.4. Kriteria Inklusi

1. Semua pasien lansia

2. Bersedia memberikan persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian ini.

3. Bisa berbahasa Indonesia 4. Subjek sadar dan kooperatif

5. Subjek dapat membaca dan menulis

3.2.5. Kriteria Eksklusi

1. Subjek dengan afasia

2. Subjek dengan stroke sebelumnya 3. Subjek dengan demensia sebelumnya.

3.3. Batasan Operasional

1. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 43 tahun 2004 tentang kesejahteraan usia lanjut (RI, 2004). Pada penelitian ini diukur dengan cara anamnesa dan menggunakan alat ukur kuesioner data pribadi.

2. Fungsi kognitif adalah berbagai proses mental seperti persepsi, perhatian, memori, pengambilan keputusan, dan pemahaman bahasa (Nouschi dan Kawashima, 2014). Gangguan pada fungsi kognitif dapat menyebabkan penurunan fungsi otak yang berhubungan dengan kemampuan atensi, konsentrasi, kalkulasi, mengambil keputusan, reasoning, berpikir abstrak. Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner MoCA-INA dan VCAT untuk menilai fungsi kognitif. Nilai normal MoCA-INA adalah ≥ 26. Nilai normal VCAT adalah 23-30 dan nilai 18-22 diklasifikasikan dalam Mild Cognitive Impairement.

 Cara Ukur : Anamnesa

 Alat Ukur : kuesioner MoCA-Ina dan VCAT.

 Hasil Ukur : MoCA-Ina : 1 = kognitif terganggu ; 2 = normal

VCAT : 1 = demensia ; 2 = mild cognitive impairment;

3 = normal.

 Skala Ukur : VCAT = ordinal ; MoCA = nominal

3. Status Nutrisi yaitu keadaan fisiologis seseorang, yang dihasilkan dari hubungan antara asupan nutrisi dan kebutuhan serta kemampuan tubuh untuk mencerna, menyerap dan menggunakan nutrisi tersebut (FAO, 2007). Penelitian ini menggunakan kuesioner MNA dengan skor normal

≥ 12 untuk penapisan atau screening dan ≥ 24 pada skor total (penapisan dan pengkajian).

 Cara Ukur : Anamnesa dan pemeriksaan fisik

 Alat Ukur : Kuesioner MNA , timbangan badan, stature meter merek GEA dan meteran merek onemed

 Hasil Ukur : MNA : 1 = malnutrisi dan beresiko malnutrisi

2 = normal

 Skala Ukur : nominal

4. Afasia merupakan suatu gangguan bahasa yang dapat diakibatkan oleh

beragam cedera otak, termasuk cedera serebrovaskuler, neoplasma intrakranial, trauma otak, dan proses degeneratif. Gangguan bahasa dapat meliputi verbal yang sulit dikeluarkan, disartrik, disprosodik, dan agramatikal, atau gangguan pemahaman bahasa dalam berbagai derajat (Modul Neurobehavior PERDOSSI, 2008). Afasia dapat dinilai dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik.

5. Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat

gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular (Sjahrir, 2003). Stroke dapat diukur dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik.

6. Demensia adalah suatu sindrom penurunan fungsi intelektual dibanding sebelumnya yang cukup berat sehingga mengganggu aktivitas sosial dan profesional yang tercermin dalam aktivitas hidup keseharian, biasanya ditemukan juga perubahan perilaku dan tidak disebabkan oleh delirium maupun gangguan psikiatri mayor (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2015). Demensia dapat diukur dengan anmnesa.

3.4. Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode pengambilan data potong lintang (cross sectional) tanpa perlakuan pada sumber data primer yang diambil secara konsekutif dari lansia di wilayah kerja puskesmas Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak ada kriteria eksklusi, menandatangani surat persetujuan ikut penelitian kemudian dilakukan pemeriksaan status nutrisi dengan MNA dan pemeriksaan fungsi kognitif dengan MoCA INA dan VCAT .

3.5. Pelaksanaan Penelitian 3.5.1. Instrumen

3.5.1.1. Alat pemeriksaan Status Nutrisi menggunakan kuesioner MNA.

3.5.1.2. Alat pemeriksaan status nutrisi dengan pemeriksaan berat badan menggunakan timbangan berat badan merek GEA.

3.5.1.3. Alat pemeriksaan status nutrisi dengan pemeriksaan tinggi badan menggunakan stature meter merek GEA.

3.5.1.4. Alat pemeriksaan status nutrisi dengan pemeriksaan lingkar lengan atas menggunakan pita LiLa dan lingkar betis menggunakan meteran merek onemed.

3.5.1.5. Alat pemeriksaan fungsi kognitif

 Montreal Cognitive Assessment (MoCA) yang telah dikonversi ke dalam bahasa Indonesia

 Visual Cognitive Assessment Test (VCAT) yang telah

dikonversi ke dalam bahasa Indonesia.

3.5.2. Pengambilan Sampel

Semua lansia di wilayah kerja puskesmas Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria ekslusi. Pada pasien tersebut dilakukan anamnesis, pemeriksaan status nutrisi dengan kuesioner MNA, pemeriksaan MoCA INA dan VCAT.

3.5.3. Kerangka Operasional

3.5.4. Variabel yang Diamati

Variabel bebas : Status Nutrisi Variabel terikat : Fungsi Kognitif.

3.5.5. Analisis Statistik

Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan bantuan program komputer Windows SPSS (Statistical Product and Science Service) versi 22.0. Analisis dan penyajian data dilakukan sebagai berikut : 1. Untuk menggambarkan variabel penelitian disajikan dalam bentuk

tabulasi dan dideskripsikan.

2. Untuk mengetahui hubungan antara status nutrisi dengan Montreal Cognitive Assessment (MoCA) pada lansia digunakan uji Fisher Exact dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

Populasi lanjut usia

Kriteria Inklusi Kriteria Ekslusi

 Pemeriksaan Status Nutrisi (MNA)

 MoCA-INA

 VCAT

Analisa Data

Gambar 6. Kerangka Operasional

3. Untuk mengetahui hubungan antara status nutrisi dengan Visual Cognitive Assessment Test (VCAT) pada lansia digunakan uji Chi Square dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

4. Untuk mengetahui perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi digunakan uji T-Test Independent dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

3.5.6. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2020 sampai dengan bulan April 2020.

Persiapan : 14 Januari 2020 s/d 19 Februari 2020.

Pengumpulan data : 20 Februari 2020 s/d 3 April 2020.

Analisis data : 6 April 2020 s/d 10 April 2020 Penyusunan laporan : 13 April 2020 s/d 17 April 2020 Penyajian laporan : 16 Juni 2020

3.5.7. Biaya Penelitian

Biaya cetak lembaran pengumpulan data : Rp 225.000,00

Souvenier (71x5000) : Rp 355.000,00

Biaya penulisan laporan penelitian : Rp 500.000,00

Jumlah : Rp 1.080.000,00

3.5.8. Personalia Penelitian

 Peneliti Utama : dr. Ika Mariana Gultom

 Pembimbing :Prof. Dr.dr. Aldy S. Rambe, Sp.S(K)

dr. Fasihah Irfani Fitri, Mked(Neu), Sp.S (K)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan februari sampai april 2020.

Responden penelitian merupakan lansia yang terdapat di Kecamatan Medan Helvetia baik yang datang ke Puskesmas Helvetia ataupun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Helvetia dimana terdapat 71 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diikutkan dalam penelitian ini.

Terdapat 42 orang perempuan (59,2%) dan 29 orang laki-laki (40,8%) dari 71 orang subjek penelitian. Rerata usia dari keseluruhan subjek penelitian yaitu 68,68±6,35 tahun dengan kelompok usia yang terbanyak adalah usia 60-64 tahun yaitu sebanyak 23 orang (32,4%) dan yang kelompok usia yang paling sedikit adalah >75 tahun sebanyak 14 orang (19,7%).

Tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah 29 orang (40,8%) dan yang paling sedikit adalah Sarjana dengan jumlah 11 orang (15,5%). Pekerjaan subjek yang terbanyak adalah wiraswata sebanyak 28 orang (39,4%) dan yang paling sedikit adalah tidak bekerja sebanyak 5 orang (7%).

Hasil dari pemeriksaan berat badan responden didapatkan rata-rata 61,12±11,17 kg. Kelompok berat badan terbanyak adalah 60-64 kg yaitu sebanyak 16 orang (22,5%) dan kelompok berat badan yang paling sedikit adalah 55-59 kg yaitu sebanyak 7 orang (9,9%). Pemeriksaan Tinggi badan responden didapatkan hasil rata-rata tinggi badan 157, 65± 6,73 cm dengan kelompok tinggi badan terbanyak adalah 155-159 cm sebanyak 19 orang (26,8%).

Hasil rata-rata nilai IMT responden adalah 24,64±3,90, dengan kelompok nilai IMT terbanyak adalah responden dengan nilai IMT ≥23 sebanyak 46 responden (64,8%) dan yang paling sedikit adalah <19 dan 19 -<21 dengan masing-masing 4 subjek (5,6%). Keseluruhan gambaran karakteristik dari subjek penelitian ini ditampilakan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Gambaran Karakteristik Demografik Subjek Penelitian

Karakteristik Demografi n=71 %

Usia (tahun), rerata±SD

4.1.2. Gambaran Status Nutrisi Pada Lansia

Hasil pemeriksaan gizi responden dengan menggunakan MNA didapatkan hasil yakni 39 responden (54,9%) responden mempunyai nilai normal. Terdapat 32 responden (45,1%) mengalami malnutrisi dan yang berisiko mengalami malnutrisi. Hasil pemeriksaan MNA ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Karakteristik Status Nutrisi

Status Nutrisi N %

Normal Malnutrisi &

Berisiko Malnutrisi

39 32

54,9 45,1

4.1.3. Gambaran Fungsi Kognitif

Dari keseluruhan responden lansia yang telah diperiksa fungsi kognitifnya, pada pemeriksaan MoCA INA dijumpai 61 orang (85,9%) yang mendapatkan hasil abnormal sedangkan 10 orang (14,1%) medapatkan hasil normal. Rerata skor MoCA INA yang dijumpai pada responden adalah 19,80±4,18. Hasil pemeriksaan VCAT pada responden dijumpai 38 responden (53,5%) mengalami demensia, 20 orang (28,2%) responden mengalami mild cognitive impairment, dan 13 responden (18,3%) mendapatkan hasil yang normal. Rerata skor dari VCAT adalah 17,24±5,17.

Hasil pemeriksaan MNA ini dapat dilihat pada table 4.3.

Tabel 4.3. Karakteristik Fungsi Kognitif

4.1.4. Hubungan Antara Status Nutrisi Dan Fungsi Kognitif 4.1.4.1. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor MoCA

Dari 61 responden yang mempunyai nilai MoCA yang abnormal terdapat 32 orang yang malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 29 orang yang status nutrisinya normal. Sementara 10 responden yang memiliki MoCA normal juga memiliki status gizi normal.

Hasil uji fisher exact menunjukkan nilai p = 0,002 (α < 0,05), artinya ada hubungan status nutrisi dengan skor MoCA. Hubungan antara status nutrisi dengan skor MoCA dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor MoCA MoCA

4.1.4.2. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor VCAT

Pemeriksaan fungsi kognitif dengan VCAT dari 38 responden yang demensia, 23 orang mengalami malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 15 orang mempunyai status nutrisi normal. Dari 20 responden dengan MCI, 8 orang malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 12 orang normal. Dari 13 responden yang fungsi kognitifnya normal, 1 orang mengalami malnutrisi dan berisiko malnutrisi sedangkan 12 orang normal.

Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p = 0,004 (α<0,05), artinya ada hubungan status nutrisi dengan skor VCAT. Hubungan antara status nutrisi dengan skor VCAT dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4.5. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor VCAT VCAT

4.1.4.3. Perbedaan Fungsi Kognitif Berdasarkan Status Nutrisi

Berdasarkan uji T Test Independent tidak berpasangan untuk menilai adanya perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi didapatkan nilai p <0,001. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan skor MoCA dan VCAT pada responden yang berstatus nutrisi normal dan responden dengan malnutrisi dan berisiko malnutrisi. Perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi dapat dilhat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6.Perbedaan Fungsi Kognitif Berdasarkan Status Nutrisi Normal

Malnutrisi dan

berisiko malnutrisi P Rerata MoCA 21,85±3,79 17,50±3,33

< 0,001 Rerata VCAT 19,38±4,67 14,63±4,57

Uji T Test Independent 4.2 Pembahasan

Penelitian ini bersifat analitik komparatif dengan metode pengambilan data potong lintang (cross sectional) tanpa perlakuan pada sumber data primer yang diperoleh dari lansia dengan tujuan untuk mengetahui hubungan status nutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia yang berkunjung ke puskesmas Helvetia Medan ataupun yang berada di wilayah kerja puskesmas Helvetia Medan. Responden yang mengikuti penelitian sebanyak 71 orang lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Subjek yang memenuhi kriteria dilakukan pemeriksaan status nutrisi dengan menggunakan MNA dan pemeriksaan fungsi kognitif dengan menggunakan MoCA INA dan VCAT.

4.2.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini mempunyai jumlah responden sebanyak 71 orang lansia, dimana dari keseluruhan lansia yang terbanyak adalah perempuan yakni 42 orang. Hal ini sejalan dengan data yang dipublikasikan BPS pada tahun 2016 yang menunjukkan lansia perempuan lebih banyak daripada lansia pria dengan persentase 9,2% lansia berjenis kelamin perempuan dan 8,19% lansia berjenis kelamin pria. Penelitian yang dilakukan Hai, dkk

(2016) mengenai hubungan nutrisi dengan cognitive impairement pada lansia di Cina dijumpai jumlah subjek perempuan lebih banyak daripada pria. Penelitian yang dilakukan Kandiah, dkk tahun 2015 juga menunjukkan lansia perempuan lebih banyak dibandingkan dengan pria.

Lansia perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki dikarenakan perempuan mempunyai harapan hidup yang lebih besar dibandingkan pria. Salah satu penyebab wanita mempunyai harapan hidup lebih besar dari pria adalah karena hormon esterogen. Hormon estrogen mempunyai beberapa sifat yang menyebabkan perempuan lebih terlindung dari penyakit seperti kardiovaskular, yaitu esterogen memberi perlindungan pada sel endotel dan meningkatkan hemostasis pada pembuluh darah. Hal ini menyebabkan wanita lebih rendah resiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Kemudian esterogen juga dapat meningkatkan antioksidan yang merupaka pelindung bagi pembuluh darah (Eskes dan Haanen, 2007).

Rerata usia pada paneilitian ini adalah 68,68±6,35 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Christiandari tahun 2018 mengenai hubungan status nutrisi dan fungsi kognitif, dimana rerata usia adalah 68,81 tahun, tetapi Christiandari tidak membagi kelompok usia pada penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan Alzahrani dan Alamri tahun 2017 menyebutkan rerata usia lansia yang mengalami malnutrisi adalah 69,5 tahun. Penelitian yang dilakukan Rambe dan Fitri tahun 2017 menyatakan kelompok usia 65-69 tahun merupakan kelompok terbanyak pada lansia yang diteliti. Penelitian relevan lainnya menyebutkan kelompok

usia 60-74 tahun merupakan kelompok usia lansia terbanyak yang diteliti status nutrisinya (Boy,2019).

Tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah SMA (Sekolah Menengah Atas) yakni 40, 8%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lestari, dkk tahun 2016 yang menyebutkan subjek yang berpendidikan menengah merupakan tingkat pendidikan paling banyak pada lansia yang diteliti dan sekaligus menjadi kelompok pendidikan paling besar dalam terjadinya gangguan kognitif. Hasil sebaliknya didapat dari penelitian Costa dkk tahun 2013. Penelitian Costa, dkk menyebutkan bahwa hanya 35,9% populasi lansia di Brazil yang menjalani pendidikan lebih dari 4 tahun. Menurut Lievre dkk, pendidikan mempengaruhi fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan pasien yang menerima pendidikan lebih baik mempunyai cognitive reserve yang lebih baik dibandingkan mereka dengan pendidikan rendah (Lievre dkk, 2010).

Jenis pekerjaan terbanyak dari responden adalah wiraswasta yakni sebanyak 28 orang (39,4%). Penelitian yang dilakukan Rambe dan Fitiri tahun 2017, menyebutkan pekerjaan paling banyak pada lansia dalam penelitian tersebut adalah tidak bekerja sebanyak 36,1%. Nurizky, dkk tahun 2017 menyebutkan pekerjaan lansia yang terbanyak adalah pensiun pegawai.

Indeks Masa Tubuh subjek memiliki rerata 24,64 dengan kelompok IMT terbanyak pada penelitian ini yaitu ≥ 23 dengan 46 subjek (64,8%).

Penelitian lain yang relevan menyebutkan rerata IMT pada lansia adalah

25,1. Penelitian lain yang dilakukan untuk menilai hubungan nutrisi dan gangguan congnitif menyebutkan rerata IMT pada lansia yang diteliti adalah 25,1 (Liu dkk, 2018). Penelitian yang dilakukan Jura dan Kozak tahun 2016 menyimpulkan lansia cenderung mengalami peningkatan berat badan dikarenakan berkurangnya aktifitas fisik pada lansia. Hal ini menyebabkan berkurangnya pengeluaran energi dan menyebabkan bertambahnya penyimpanan energi dalam tubuh. Penyebab kedua mengapa lansia cenderung mengalami peningkatan berat badan adalah peningkatan adipose tissue seiring dengan bertambahnya usia.

4.2.2. Gambaran Status Nutrisi

Hasil pemeriksaan status gizi didapatkan hasil 32 responden (45,1%) mengalami malnutrisi dan beresiko mengalami malnutrisi. Penelitian lain mengenai status gizi lansia di Medan menyebutkan bahwa sebagian besar lansia beresiko malnutrisi yakni 59,2% dari semua subjek (Boy, 2019).

Alzahrani dkk tahun 2017 dalam penelitiannya juga menyebutkan 76,6%

lansia mempunyai resiko malnutrisi.

Lansia merupakan populasi yang rentan dengan gangguan nutrisi.

Hal ini dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya perubahan pada komposisi tubuh lansia yang mempengaruhi status nutrisinya. Jaringan lemak dan otot merupakan jaringan yang seringkali berkurang pada lansia.

Penyebab berkurangannya jaringan tersebut biasanya karena faktor adanya komorbid atau penyakit lain, kurangnya intake makanan, dan

terjadinya sarcopenia atau berkurangnya massa otot akibat proses penuaan (Hickson, 2015) .

Penelitan Evans tahun 2005 menyebutkan beberapa alasan mengapa lansia memiliki kecenderungan mengalami gangguan nutrisi.

Diantaranya gangguan fisiologis seperti adanya gangguan penciuman, perasa, keterlambatan pengosongan lambung, dan penurunan asam lambung. Adanya gangguan patologis tubuh seperti gangguan menelan, sakit gigi, dan obat-obatan yang dikonsumsi lansia. Faktor lain seperti faktor kehidupan sosial dan psikologis dari lansia tersebut juga dapat menyebabkan tingginya gangguan nutrisi pada lansia.

Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan antara IMT responden dan status nutirisi. Rerata IMT responden pada penelitian adalah 24,64±3,9 sedangkan 45,1 % responden memiliki resiko malnutrisi dan bahkan malnutrisi. Penelitian McGee dan Jensen tahun 2000 menyatakan bahwa MNA merupakan penilaian nutrisi pada lansia dimana dalam penerapannya bukan hanya pemeriksaan antropometri saja yang dinilai tetapi juga mencakup jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, penilaian gaya hidup, mobilitas, obat–obatan yang dikonsumsi dan penilaian lansia tersebut pada status nutrisinya. Status nutrisi responden pada penelitian ini menunjukan tidak nilai IMT saja yang mempengaruhi status nutrisi dari lansia tersebut.

4.2.3. Gambaran Fungsi Kognitif

Pemeriksaan MoCA INA pada penelitian ini dijumpai 61 responden (85,9%) yang mendapatkan hasil abnormal dengan nilai rerata MoCA sebesar 19,89±4,18. Penelitan relevan menyebutkan terdapat 85,5% lansia memiliki nilai MoCA INA yang abnormal (Rambe dan Fitri, 2017). Penelitian lain oleh Wahid dan Sudharma tahun 2018 di salah satu panti sosial di Jakarta menyebutkan 69,5% lansia mengalami penurunan fungsi kognitif.

Penelitian yang dilakukan Lee, dkk tahun 2019 juga mengatakan lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dengan nilai rerata MoCA sebesar 18,8.

Hasil pemeriksaan fungsi kogntiif denganan menggunakan VCAT didapatkan nilai rerata 17,24±5,1. Dimana terdapat 38 responden (53,5%) mengalami demensia, 20 responden (28,2%) mengalami mild cognitive impairement dan hanya 13 (18,3%) subjek yang mempunyai fungsi kognitif yang normal. Penelitian lain dengan menggunakan VCAT yang dilakukan Kandiah, dkk tahun 2015 menunjukkan dari 132 responden dengan gangguan kognitif didapatkan rerata VCAT 17±9,0. Sementara pada subjek yang sama didapatkan nilai rerata MoCA 23±7,0. Hal ini menunjukkan bahwa nilai VCAT relevan dengan nilai MoCA pada penelitian tersebut.

Penelitian yang menggunakan VCAT lainnya yang dilakukan Lim, dkk tahun 2018 disebutkan nilai rerata VCAT dari 120 subjek dengan gangguan fungsi kognitif adalah 14,17±5,05 .

Penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan permasalahan yang semakin sering dijumpai saat ini. Penurunan fungsi kognitif pada lansia ini dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Beberapa penyebabnya antara lain adanya berkurangnya volume grey dan white matter, akumulasi beta amyloid pada cerebral, menurunnya volume hipokampus, berkurangnya volume neuron dan berkurangnya komunikasi antar neuron (Harada, 2013).

4.2.4. Hubungan status nutrisi dengan fungsi kognitif

Pada penelitian ini, berdasarkan analisis statistik uji Fisher's Exact terhadap 71 responden, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif, dimana tools untuk menilai fungsi kognitif menggunakan MoCA-INA dengan nilai p value sebesar 0,002 dan dengan menggunakan VCAT dengan nilai p value 0,004.

Penelitian yang dilakukan Zoghbi dkk tahun 2013 mengatakan terdapat hubungan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia dengan nilai kekuatan hubungan r=0,208 (p=0,028). Penelitian lain di Indonesia yang relevan dengan penelitian ini menyimpulkan terdapat korelasi antara malnutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia dengan derajat korelasi lemah (p<0,005). Penelitian tersebut mengunakan MMSE untuk pemeriksaan fungsi kognitif dan MNA (Christiandari dkk, 2018).

Penelitian yang lain dilakukan Costa dkk tahun 2013. Penelelitian tersebut menyebutkan terdapat hubungan signitifkan antara status nutrisi dan fungsi kognitif. Pada penelitian ini status nutrisi menggunakan profil

antropometri dan fungsi kogntif menggunakan MMSE pada lansia dalam suatu komunitas di Brazil. Profil antropometri yang dipergunakan di dalam penelitan ini hampir semua menujukkan hubungan signifikan dengan fungsi kognitif kecuali lingkar lengan atas dengan nilai p=0,21.

Malnutrisi merupakan kondisi yang saat ini meningkat jumlah kasusnya terutama pada lansia. Lansia memiliki beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan nutrisi. Beberapa faktor tersebut diantaranya faktor sosial ekonomi, penurunan fungsi perasa dan penghidu, penurunan mobilitas dan penurunan kesehatan gigi dan mulut.

Malnutrisi akan menyebabkan beberapa proses yang menyebakan penurunan fungsi kognitif. Berkurangnya mikronutrien, penurunan asam folat, penurunan glutathione dan peningkatan homosistein akan menyebakan terjadinya atropi serebri, peningkatan stress oxidative dan perusakan neuron di hipokampus. Proses – proses di atas yang akhirnya dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif pada lansia.

Terdapat beberapa penyebab responden yang mengalami gangguan status nutrisi pada penelitian ini. Penyebab terbanyak disebabkan oleh kurangnya asupan yang mengandung protein. Kaplan,dkk pada tahun 2001 menyebutkan bahwa asupan protein dapat meningkatkan fungsi kognitif terutama memori pada lansia. Hal ini disebakan protein yang akan meningkatkan asam amino ekstraseluler di hipotalamus dan secara tidak langsung dapat meningkatkan neurotransmitter di otak. Sementara itu terdapat hasil berbeda dari penelitian Kaplan dkk, dimana disebutkan tidak

cukup bukti asupan protein dapat meningkatkan fungsi kognitif (Koh dkk, 2015).

Penyebab lain dari gangguan nutrisi pada penelitian ini adalah kurangnya asupan sayuran pada responden. Morris dkk pada tahun 2018 menyebutkan bahwa sayur-sayuran berwarna hijau bermanfaat pada penuruan fungsi kognitif pada lansia. Morris dkk menyimpulkan bahwa sayuran hijau yang banyak mengandung lutein, folate, β-carotene, and phylloquinone yang bermanfaat sebagai neuroprotektor pada otak dan menurunkan stress oksidatif neuron otak.

Berkurangnya lingkar lengan atas dan betis juga merupakan indikator gangguan status nutrisi lansia pada penelitian ini. Penelitian Taylor dkk tahun 2012 menyimpukan bahwa terdapat hubungan antara lingkar lengan atas dan lingkar pinggang dengan demensia. Taylor dkk menyebutkan menurunnya lingkar lengan dipengaruhi status nutrisi yang menurun pada lansia dikarenakan kurangnya asupan makanan sehingga menyebabkan berkurangnya berat badat pada lansia tersebut.

Berkurangnya status nutrisi tersebut akan menyebakan terjadinya atropi

Berkurangnya status nutrisi tersebut akan menyebakan terjadinya atropi

Dalam dokumen TESIS MAGISTER OLEH IKA MARIANA GULTOM (Halaman 65-0)