• Tidak ada hasil yang ditemukan

Variabel yang Diamati

Dalam dokumen TESIS MAGISTER OLEH IKA MARIANA GULTOM (Halaman 72-0)

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.5. Pelaksanaan Penelitian

3.5.4. Variabel yang Diamati

Variabel bebas : Status Nutrisi Variabel terikat : Fungsi Kognitif.

3.5.5. Analisis Statistik

Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan bantuan program komputer Windows SPSS (Statistical Product and Science Service) versi 22.0. Analisis dan penyajian data dilakukan sebagai berikut : 1. Untuk menggambarkan variabel penelitian disajikan dalam bentuk

tabulasi dan dideskripsikan.

2. Untuk mengetahui hubungan antara status nutrisi dengan Montreal Cognitive Assessment (MoCA) pada lansia digunakan uji Fisher Exact dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

Populasi lanjut usia

Kriteria Inklusi Kriteria Ekslusi

 Pemeriksaan Status Nutrisi (MNA)

 MoCA-INA

 VCAT

Analisa Data

Gambar 6. Kerangka Operasional

3. Untuk mengetahui hubungan antara status nutrisi dengan Visual Cognitive Assessment Test (VCAT) pada lansia digunakan uji Chi Square dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

4. Untuk mengetahui perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi digunakan uji T-Test Independent dengan nilai yang signifikan p < 0,05.

3.5.6. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2020 sampai dengan bulan April 2020.

Persiapan : 14 Januari 2020 s/d 19 Februari 2020.

Pengumpulan data : 20 Februari 2020 s/d 3 April 2020.

Analisis data : 6 April 2020 s/d 10 April 2020 Penyusunan laporan : 13 April 2020 s/d 17 April 2020 Penyajian laporan : 16 Juni 2020

3.5.7. Biaya Penelitian

Biaya cetak lembaran pengumpulan data : Rp 225.000,00

Souvenier (71x5000) : Rp 355.000,00

Biaya penulisan laporan penelitian : Rp 500.000,00

Jumlah : Rp 1.080.000,00

3.5.8. Personalia Penelitian

 Peneliti Utama : dr. Ika Mariana Gultom

 Pembimbing :Prof. Dr.dr. Aldy S. Rambe, Sp.S(K)

dr. Fasihah Irfani Fitri, Mked(Neu), Sp.S (K)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan februari sampai april 2020.

Responden penelitian merupakan lansia yang terdapat di Kecamatan Medan Helvetia baik yang datang ke Puskesmas Helvetia ataupun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Helvetia dimana terdapat 71 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diikutkan dalam penelitian ini.

Terdapat 42 orang perempuan (59,2%) dan 29 orang laki-laki (40,8%) dari 71 orang subjek penelitian. Rerata usia dari keseluruhan subjek penelitian yaitu 68,68±6,35 tahun dengan kelompok usia yang terbanyak adalah usia 60-64 tahun yaitu sebanyak 23 orang (32,4%) dan yang kelompok usia yang paling sedikit adalah >75 tahun sebanyak 14 orang (19,7%).

Tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah 29 orang (40,8%) dan yang paling sedikit adalah Sarjana dengan jumlah 11 orang (15,5%). Pekerjaan subjek yang terbanyak adalah wiraswata sebanyak 28 orang (39,4%) dan yang paling sedikit adalah tidak bekerja sebanyak 5 orang (7%).

Hasil dari pemeriksaan berat badan responden didapatkan rata-rata 61,12±11,17 kg. Kelompok berat badan terbanyak adalah 60-64 kg yaitu sebanyak 16 orang (22,5%) dan kelompok berat badan yang paling sedikit adalah 55-59 kg yaitu sebanyak 7 orang (9,9%). Pemeriksaan Tinggi badan responden didapatkan hasil rata-rata tinggi badan 157, 65± 6,73 cm dengan kelompok tinggi badan terbanyak adalah 155-159 cm sebanyak 19 orang (26,8%).

Hasil rata-rata nilai IMT responden adalah 24,64±3,90, dengan kelompok nilai IMT terbanyak adalah responden dengan nilai IMT ≥23 sebanyak 46 responden (64,8%) dan yang paling sedikit adalah <19 dan 19 -<21 dengan masing-masing 4 subjek (5,6%). Keseluruhan gambaran karakteristik dari subjek penelitian ini ditampilakan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Gambaran Karakteristik Demografik Subjek Penelitian

Karakteristik Demografi n=71 %

Usia (tahun), rerata±SD

4.1.2. Gambaran Status Nutrisi Pada Lansia

Hasil pemeriksaan gizi responden dengan menggunakan MNA didapatkan hasil yakni 39 responden (54,9%) responden mempunyai nilai normal. Terdapat 32 responden (45,1%) mengalami malnutrisi dan yang berisiko mengalami malnutrisi. Hasil pemeriksaan MNA ini dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Karakteristik Status Nutrisi

Status Nutrisi N %

Normal Malnutrisi &

Berisiko Malnutrisi

39 32

54,9 45,1

4.1.3. Gambaran Fungsi Kognitif

Dari keseluruhan responden lansia yang telah diperiksa fungsi kognitifnya, pada pemeriksaan MoCA INA dijumpai 61 orang (85,9%) yang mendapatkan hasil abnormal sedangkan 10 orang (14,1%) medapatkan hasil normal. Rerata skor MoCA INA yang dijumpai pada responden adalah 19,80±4,18. Hasil pemeriksaan VCAT pada responden dijumpai 38 responden (53,5%) mengalami demensia, 20 orang (28,2%) responden mengalami mild cognitive impairment, dan 13 responden (18,3%) mendapatkan hasil yang normal. Rerata skor dari VCAT adalah 17,24±5,17.

Hasil pemeriksaan MNA ini dapat dilihat pada table 4.3.

Tabel 4.3. Karakteristik Fungsi Kognitif

4.1.4. Hubungan Antara Status Nutrisi Dan Fungsi Kognitif 4.1.4.1. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor MoCA

Dari 61 responden yang mempunyai nilai MoCA yang abnormal terdapat 32 orang yang malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 29 orang yang status nutrisinya normal. Sementara 10 responden yang memiliki MoCA normal juga memiliki status gizi normal.

Hasil uji fisher exact menunjukkan nilai p = 0,002 (α < 0,05), artinya ada hubungan status nutrisi dengan skor MoCA. Hubungan antara status nutrisi dengan skor MoCA dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor MoCA MoCA

4.1.4.2. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor VCAT

Pemeriksaan fungsi kognitif dengan VCAT dari 38 responden yang demensia, 23 orang mengalami malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 15 orang mempunyai status nutrisi normal. Dari 20 responden dengan MCI, 8 orang malnutrisi dan berisiko malnutrisi dan 12 orang normal. Dari 13 responden yang fungsi kognitifnya normal, 1 orang mengalami malnutrisi dan berisiko malnutrisi sedangkan 12 orang normal.

Hasil uji Chi Square menunjukkan nilai p = 0,004 (α<0,05), artinya ada hubungan status nutrisi dengan skor VCAT. Hubungan antara status nutrisi dengan skor VCAT dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4.5. Hubungan Antara Status Nutrisi Dengan Skor VCAT VCAT

4.1.4.3. Perbedaan Fungsi Kognitif Berdasarkan Status Nutrisi

Berdasarkan uji T Test Independent tidak berpasangan untuk menilai adanya perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi didapatkan nilai p <0,001. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan skor MoCA dan VCAT pada responden yang berstatus nutrisi normal dan responden dengan malnutrisi dan berisiko malnutrisi. Perbedaan fungsi kognitif berdasarkan status nutrisi dapat dilhat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6.Perbedaan Fungsi Kognitif Berdasarkan Status Nutrisi Normal

Malnutrisi dan

berisiko malnutrisi P Rerata MoCA 21,85±3,79 17,50±3,33

< 0,001 Rerata VCAT 19,38±4,67 14,63±4,57

Uji T Test Independent 4.2 Pembahasan

Penelitian ini bersifat analitik komparatif dengan metode pengambilan data potong lintang (cross sectional) tanpa perlakuan pada sumber data primer yang diperoleh dari lansia dengan tujuan untuk mengetahui hubungan status nutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia yang berkunjung ke puskesmas Helvetia Medan ataupun yang berada di wilayah kerja puskesmas Helvetia Medan. Responden yang mengikuti penelitian sebanyak 71 orang lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Subjek yang memenuhi kriteria dilakukan pemeriksaan status nutrisi dengan menggunakan MNA dan pemeriksaan fungsi kognitif dengan menggunakan MoCA INA dan VCAT.

4.2.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini mempunyai jumlah responden sebanyak 71 orang lansia, dimana dari keseluruhan lansia yang terbanyak adalah perempuan yakni 42 orang. Hal ini sejalan dengan data yang dipublikasikan BPS pada tahun 2016 yang menunjukkan lansia perempuan lebih banyak daripada lansia pria dengan persentase 9,2% lansia berjenis kelamin perempuan dan 8,19% lansia berjenis kelamin pria. Penelitian yang dilakukan Hai, dkk

(2016) mengenai hubungan nutrisi dengan cognitive impairement pada lansia di Cina dijumpai jumlah subjek perempuan lebih banyak daripada pria. Penelitian yang dilakukan Kandiah, dkk tahun 2015 juga menunjukkan lansia perempuan lebih banyak dibandingkan dengan pria.

Lansia perempuan yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki dikarenakan perempuan mempunyai harapan hidup yang lebih besar dibandingkan pria. Salah satu penyebab wanita mempunyai harapan hidup lebih besar dari pria adalah karena hormon esterogen. Hormon estrogen mempunyai beberapa sifat yang menyebabkan perempuan lebih terlindung dari penyakit seperti kardiovaskular, yaitu esterogen memberi perlindungan pada sel endotel dan meningkatkan hemostasis pada pembuluh darah. Hal ini menyebabkan wanita lebih rendah resiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Kemudian esterogen juga dapat meningkatkan antioksidan yang merupaka pelindung bagi pembuluh darah (Eskes dan Haanen, 2007).

Rerata usia pada paneilitian ini adalah 68,68±6,35 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Christiandari tahun 2018 mengenai hubungan status nutrisi dan fungsi kognitif, dimana rerata usia adalah 68,81 tahun, tetapi Christiandari tidak membagi kelompok usia pada penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan Alzahrani dan Alamri tahun 2017 menyebutkan rerata usia lansia yang mengalami malnutrisi adalah 69,5 tahun. Penelitian yang dilakukan Rambe dan Fitri tahun 2017 menyatakan kelompok usia 65-69 tahun merupakan kelompok terbanyak pada lansia yang diteliti. Penelitian relevan lainnya menyebutkan kelompok

usia 60-74 tahun merupakan kelompok usia lansia terbanyak yang diteliti status nutrisinya (Boy,2019).

Tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah SMA (Sekolah Menengah Atas) yakni 40, 8%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lestari, dkk tahun 2016 yang menyebutkan subjek yang berpendidikan menengah merupakan tingkat pendidikan paling banyak pada lansia yang diteliti dan sekaligus menjadi kelompok pendidikan paling besar dalam terjadinya gangguan kognitif. Hasil sebaliknya didapat dari penelitian Costa dkk tahun 2013. Penelitian Costa, dkk menyebutkan bahwa hanya 35,9% populasi lansia di Brazil yang menjalani pendidikan lebih dari 4 tahun. Menurut Lievre dkk, pendidikan mempengaruhi fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan pasien yang menerima pendidikan lebih baik mempunyai cognitive reserve yang lebih baik dibandingkan mereka dengan pendidikan rendah (Lievre dkk, 2010).

Jenis pekerjaan terbanyak dari responden adalah wiraswasta yakni sebanyak 28 orang (39,4%). Penelitian yang dilakukan Rambe dan Fitiri tahun 2017, menyebutkan pekerjaan paling banyak pada lansia dalam penelitian tersebut adalah tidak bekerja sebanyak 36,1%. Nurizky, dkk tahun 2017 menyebutkan pekerjaan lansia yang terbanyak adalah pensiun pegawai.

Indeks Masa Tubuh subjek memiliki rerata 24,64 dengan kelompok IMT terbanyak pada penelitian ini yaitu ≥ 23 dengan 46 subjek (64,8%).

Penelitian lain yang relevan menyebutkan rerata IMT pada lansia adalah

25,1. Penelitian lain yang dilakukan untuk menilai hubungan nutrisi dan gangguan congnitif menyebutkan rerata IMT pada lansia yang diteliti adalah 25,1 (Liu dkk, 2018). Penelitian yang dilakukan Jura dan Kozak tahun 2016 menyimpulkan lansia cenderung mengalami peningkatan berat badan dikarenakan berkurangnya aktifitas fisik pada lansia. Hal ini menyebabkan berkurangnya pengeluaran energi dan menyebabkan bertambahnya penyimpanan energi dalam tubuh. Penyebab kedua mengapa lansia cenderung mengalami peningkatan berat badan adalah peningkatan adipose tissue seiring dengan bertambahnya usia.

4.2.2. Gambaran Status Nutrisi

Hasil pemeriksaan status gizi didapatkan hasil 32 responden (45,1%) mengalami malnutrisi dan beresiko mengalami malnutrisi. Penelitian lain mengenai status gizi lansia di Medan menyebutkan bahwa sebagian besar lansia beresiko malnutrisi yakni 59,2% dari semua subjek (Boy, 2019).

Alzahrani dkk tahun 2017 dalam penelitiannya juga menyebutkan 76,6%

lansia mempunyai resiko malnutrisi.

Lansia merupakan populasi yang rentan dengan gangguan nutrisi.

Hal ini dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya perubahan pada komposisi tubuh lansia yang mempengaruhi status nutrisinya. Jaringan lemak dan otot merupakan jaringan yang seringkali berkurang pada lansia.

Penyebab berkurangannya jaringan tersebut biasanya karena faktor adanya komorbid atau penyakit lain, kurangnya intake makanan, dan

terjadinya sarcopenia atau berkurangnya massa otot akibat proses penuaan (Hickson, 2015) .

Penelitan Evans tahun 2005 menyebutkan beberapa alasan mengapa lansia memiliki kecenderungan mengalami gangguan nutrisi.

Diantaranya gangguan fisiologis seperti adanya gangguan penciuman, perasa, keterlambatan pengosongan lambung, dan penurunan asam lambung. Adanya gangguan patologis tubuh seperti gangguan menelan, sakit gigi, dan obat-obatan yang dikonsumsi lansia. Faktor lain seperti faktor kehidupan sosial dan psikologis dari lansia tersebut juga dapat menyebabkan tingginya gangguan nutrisi pada lansia.

Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan antara IMT responden dan status nutirisi. Rerata IMT responden pada penelitian adalah 24,64±3,9 sedangkan 45,1 % responden memiliki resiko malnutrisi dan bahkan malnutrisi. Penelitian McGee dan Jensen tahun 2000 menyatakan bahwa MNA merupakan penilaian nutrisi pada lansia dimana dalam penerapannya bukan hanya pemeriksaan antropometri saja yang dinilai tetapi juga mencakup jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, penilaian gaya hidup, mobilitas, obat–obatan yang dikonsumsi dan penilaian lansia tersebut pada status nutrisinya. Status nutrisi responden pada penelitian ini menunjukan tidak nilai IMT saja yang mempengaruhi status nutrisi dari lansia tersebut.

4.2.3. Gambaran Fungsi Kognitif

Pemeriksaan MoCA INA pada penelitian ini dijumpai 61 responden (85,9%) yang mendapatkan hasil abnormal dengan nilai rerata MoCA sebesar 19,89±4,18. Penelitan relevan menyebutkan terdapat 85,5% lansia memiliki nilai MoCA INA yang abnormal (Rambe dan Fitri, 2017). Penelitian lain oleh Wahid dan Sudharma tahun 2018 di salah satu panti sosial di Jakarta menyebutkan 69,5% lansia mengalami penurunan fungsi kognitif.

Penelitian yang dilakukan Lee, dkk tahun 2019 juga mengatakan lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dengan nilai rerata MoCA sebesar 18,8.

Hasil pemeriksaan fungsi kogntiif denganan menggunakan VCAT didapatkan nilai rerata 17,24±5,1. Dimana terdapat 38 responden (53,5%) mengalami demensia, 20 responden (28,2%) mengalami mild cognitive impairement dan hanya 13 (18,3%) subjek yang mempunyai fungsi kognitif yang normal. Penelitian lain dengan menggunakan VCAT yang dilakukan Kandiah, dkk tahun 2015 menunjukkan dari 132 responden dengan gangguan kognitif didapatkan rerata VCAT 17±9,0. Sementara pada subjek yang sama didapatkan nilai rerata MoCA 23±7,0. Hal ini menunjukkan bahwa nilai VCAT relevan dengan nilai MoCA pada penelitian tersebut.

Penelitian yang menggunakan VCAT lainnya yang dilakukan Lim, dkk tahun 2018 disebutkan nilai rerata VCAT dari 120 subjek dengan gangguan fungsi kognitif adalah 14,17±5,05 .

Penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan permasalahan yang semakin sering dijumpai saat ini. Penurunan fungsi kognitif pada lansia ini dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Beberapa penyebabnya antara lain adanya berkurangnya volume grey dan white matter, akumulasi beta amyloid pada cerebral, menurunnya volume hipokampus, berkurangnya volume neuron dan berkurangnya komunikasi antar neuron (Harada, 2013).

4.2.4. Hubungan status nutrisi dengan fungsi kognitif

Pada penelitian ini, berdasarkan analisis statistik uji Fisher's Exact terhadap 71 responden, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif, dimana tools untuk menilai fungsi kognitif menggunakan MoCA-INA dengan nilai p value sebesar 0,002 dan dengan menggunakan VCAT dengan nilai p value 0,004.

Penelitian yang dilakukan Zoghbi dkk tahun 2013 mengatakan terdapat hubungan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia dengan nilai kekuatan hubungan r=0,208 (p=0,028). Penelitian lain di Indonesia yang relevan dengan penelitian ini menyimpulkan terdapat korelasi antara malnutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia dengan derajat korelasi lemah (p<0,005). Penelitian tersebut mengunakan MMSE untuk pemeriksaan fungsi kognitif dan MNA (Christiandari dkk, 2018).

Penelitian yang lain dilakukan Costa dkk tahun 2013. Penelelitian tersebut menyebutkan terdapat hubungan signitifkan antara status nutrisi dan fungsi kognitif. Pada penelitian ini status nutrisi menggunakan profil

antropometri dan fungsi kogntif menggunakan MMSE pada lansia dalam suatu komunitas di Brazil. Profil antropometri yang dipergunakan di dalam penelitan ini hampir semua menujukkan hubungan signifikan dengan fungsi kognitif kecuali lingkar lengan atas dengan nilai p=0,21.

Malnutrisi merupakan kondisi yang saat ini meningkat jumlah kasusnya terutama pada lansia. Lansia memiliki beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan nutrisi. Beberapa faktor tersebut diantaranya faktor sosial ekonomi, penurunan fungsi perasa dan penghidu, penurunan mobilitas dan penurunan kesehatan gigi dan mulut.

Malnutrisi akan menyebabkan beberapa proses yang menyebakan penurunan fungsi kognitif. Berkurangnya mikronutrien, penurunan asam folat, penurunan glutathione dan peningkatan homosistein akan menyebakan terjadinya atropi serebri, peningkatan stress oxidative dan perusakan neuron di hipokampus. Proses – proses di atas yang akhirnya dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif pada lansia.

Terdapat beberapa penyebab responden yang mengalami gangguan status nutrisi pada penelitian ini. Penyebab terbanyak disebabkan oleh kurangnya asupan yang mengandung protein. Kaplan,dkk pada tahun 2001 menyebutkan bahwa asupan protein dapat meningkatkan fungsi kognitif terutama memori pada lansia. Hal ini disebakan protein yang akan meningkatkan asam amino ekstraseluler di hipotalamus dan secara tidak langsung dapat meningkatkan neurotransmitter di otak. Sementara itu terdapat hasil berbeda dari penelitian Kaplan dkk, dimana disebutkan tidak

cukup bukti asupan protein dapat meningkatkan fungsi kognitif (Koh dkk, 2015).

Penyebab lain dari gangguan nutrisi pada penelitian ini adalah kurangnya asupan sayuran pada responden. Morris dkk pada tahun 2018 menyebutkan bahwa sayur-sayuran berwarna hijau bermanfaat pada penuruan fungsi kognitif pada lansia. Morris dkk menyimpulkan bahwa sayuran hijau yang banyak mengandung lutein, folate, β-carotene, and phylloquinone yang bermanfaat sebagai neuroprotektor pada otak dan menurunkan stress oksidatif neuron otak.

Berkurangnya lingkar lengan atas dan betis juga merupakan indikator gangguan status nutrisi lansia pada penelitian ini. Penelitian Taylor dkk tahun 2012 menyimpukan bahwa terdapat hubungan antara lingkar lengan atas dan lingkar pinggang dengan demensia. Taylor dkk menyebutkan menurunnya lingkar lengan dipengaruhi status nutrisi yang menurun pada lansia dikarenakan kurangnya asupan makanan sehingga menyebabkan berkurangnya berat badat pada lansia tersebut.

Berkurangnya status nutrisi tersebut akan menyebakan terjadinya atropi serebral yang biasanya dijumpai pada demensia.

4.2.5. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan yakni penelitian ini hanya menilai hubungan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif tanpa menilai faktor lainnya yang dapat mempengaruhi keduanya. Beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia seperti penyakit yang

diderita responden selain yang terdapat pada kriteria eksklusi, faktor sosial ekonomi, faktor stress dan lain sebagainya tidak dianalisa pada penelitian ini. Selain itu usia responden sendiri dapat menyebakan penurunan fungsi kognitif. Hal tersebut menyebabkan sulit menyimpulkan bahwa faktor nutrisi merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisa data yang diperoleh dari penelitian ini, diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat hubungan signifikan antara status nutrisi dengan fungsi kognitif pada lansia.

2. Terdapat hubungan antara status nutrisi dengan skor Montreal Cognitive Assessment - INA yang signifikan dengan nilai p sebesar 0,002.

3. Terdapat hubungan antara status nutrisi dengan skor Visual Cognitive Assessment Test yang signifikan dengan nilai p sebesar 0,004.

4. Status nutrisi pada keseluruhan subjek dijumpai 32 (45,1%) orang mengalami malnutrisi dan beresiko untuk malnutrisi dan sebanyak 39 subjek (54,9%) memiliki status nutrisi normal.

5. Pada penelitian ini didapatkan bahwa subjek yang berjenis kelamin kelamin perempuan 42 subjek (59,2%) lebih banyak dibandingkan laki-laki yaitu sebanyak 29 subjek (40,8%). Rerata usia subjek adalah 68,68 ± 6,35 tahun dengan rentang usia paling banyak adalah 60-64 tahun. Nilai rerata IMT subjek adalah 24,64±3,9 dengan kelompok IMT terbanyak adalah ≥ 23.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami mengajukan beberapa saran, yaitu:

1. Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut dengan menyingkirkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi fungsi kognitif dan nutrisi sehingga dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai hubungan status nutrisi dan fungsi kognitif.

2. Perlu dilakukan penyuluhan berkala di puskemas Helvetia untuk lansia agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan dalam kesehatan gizi terutama meningkatkan asupan protein dan sayur-sayuran untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, K., Wijayanti, D., Gunawan, E.A., Rumawas, M.E., and Sutrisna, B.

2013. Hipertensi dan risiko mild cognitive impairment pada pasien usia lanjut. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 8(3): 119-24.

Agustina, L., and Mulyati, T. 2007. Hubungan Skor Mini Nutritional Assessment (Mna) Dengan Albumin Serum Pasien Usia Lanjut Di Bangsal Geriatri Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang. Diponegoro University. http://eprints.undip.ac.id/26103. 12 Desember 2019 (13:28).

Alzahrani, S.H., and Alamri, S. H. 2017. Prevalence of malnutrition and associated factors among hospitalized elderly patients in King Abdulaziz University Hospital, Jeddah, Saudi Arabia. BMC Geriatrics Journal 17:136.

Amarya, S., Singh, K and Sabharwal, M. 2015. Changes during Aging and Their association with Malnutrition. Journal of Clinical Gerontology &

Geriatrics. 6(1):78-84.

Anderson, L.A., Goodman, R.A., Holtzman, D., Posner, S.F., and Northridge, M. E. 2012. Aging in the United States: Opportunities and Challenges for Public Health. American Journal of Public Health. 102(3) : 393-395.

Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2018. BPS.

Jakarta.

_____, 2016. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2016. BPS. Jakarta.

Boy, E. 2019. Prevalensi Malnutrisi Pada Lansia Dengan Pengukuran Mini Nutritional Assesment (Mna) Di Puskesmas. Herb-Medicine Journal.

2(1) : 5-9.

Choi, S.H., Kwon, S.C., Kim, M.S., and Kim, J.S. 2015. Poor nutrition and alcohol consumption are related to high serum homocysteine level at post-stroke. The Korean Nutrition Society and the Korean Society of Community Nutrition Journal. 9(5) : 503-510.

Christiandari, Y., Probosuseno., and Pramantara. I. D. P. 2018. Hubungan Antara Status Nutrisi (Mna-Sf) Dengan Gangguan Kognitif (Mmse) Pada Lanjut Usia Di Sidoarjo. Karya Nasional. Kongres Nasional Papdi.

11-15 Juli. Surakarta.

Costa, E.C., Peixoto,S. V., Firmo, J. A. O., Uchoa, J., Fernanda, M.,and Costa, L .2013. The association between nutritional status and cognitive impairment in Brazilian community-dwelling older adults assessed using a range of anthropometric measures – the Bambui Study.

Dementia Neuropsychology Journal. 7(4):403-409.

Davey, a., Elias, M.F., Robbins, M.A., Seliger, S.L., and Dore, G.A. 2013.

Decline in renal functioning is associated with longitudinal decline in global cognitive functioning, abstract reasoning and verbal memory.Nephrol Dial Transplant. 28:1810-1819.

Dehaghani, S.E., F. Yadegari., A. Asgari, A. and Bagheri, Z. 2018. The Mediator Effect Of Cognition On The Relationship Between Brain

Lesion Location And Dysphagia In Patients With Stroke: Applying A Structural Equation Model. Journal of Oral Rehabilitation. 46:3 3–39.

Eskes, T., and Haanen, C. 2007. Why do women live longer than men?.

European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology. 133: 126–133.

Evans, C.2005. Malnutrition in the Elderly: A Multifactorial Failure to Thrive.

The Permanente Journal. 9(3) :38-41.

Ferry, M., and Roussel, A. M. 2010. Micronutrient Status and Cognitive Decline in Ageing. European Geriatric Medicine Journal. 2(1): 15-21.

Food and Agriculture Organization. 2007. Nutritional Status Assessment and Analysis. FAO. Roma.

Gammack, J. 2007. Geriatric Assessment and Its Interaction with Nutrition : Geriatric Syndrome. In : Morely, J.E and Thomas, D. R. (Eds) Geriatric Nutrition 1st Edition. pp 218- 228. Taylor & Francis Group, LLC. Florida.

Gazotti, A., Albert, A., Pepinster, A and Petermans, J. 2000. Clinical Usefulness Of The Mini Nutritional Assessment (Mna) Scale In Geriatric Medicine. The Journal Of Nutrition, Health & Aging. 4(3) : 176-181.

Gillis, C., Mirzaei, F., Potashman, M., Ikram, M.A., Maserejian, N. 2019. The incidence of mild cognitive impairment: A systematic review and data synthesis. Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease

Gillis, C., Mirzaei, F., Potashman, M., Ikram, M.A., Maserejian, N. 2019. The incidence of mild cognitive impairment: A systematic review and data synthesis. Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease

Dalam dokumen TESIS MAGISTER OLEH IKA MARIANA GULTOM (Halaman 72-0)