BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN BAB VII. PENUTUP
KOTA PEMATANGSIANTAR TAHUN 2005-2025 I. SASARAN POKOK DAN ARAH KEBIJAKAN
F. Infrastruktur Kota
3. Perumahan dan Permukiman
Pembangunan perumahan dan permukiman diarahkan bagi terpenuhinya kebutuhan perumahan dan lingkungan yang sehat, serta terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana permukiman, yang dikembangkan dengan cara:
(1) pengembangan partisipasi publik dalam peningkatan kualitas perumahan dan sarana-prasarana permukiman,
(2) pengembangan perumahan yang berkelanjutan, layak huni, harga yang terjangkau, dan didukung oleh sarana prasarana permukiman yang layak dan berkualitas serta dikelola secara profesional, mandiri dan efisien, dan
(3) pengembangan perumahan dan sarana-prasarana permukiman yang memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup.
Bagkumdang Page 147
(2) Transportasi
Pembangunan sistem jaringan transportasi diarahkan bagi terwujudnya sistem jaringan jalan yang efektif dan efisien sesuai dengan hirarki dan fungsi jalan, dengan penjelasan sebagai berikut:
I.Meningkatkan...
No Kecamatan Luas
/Tipe Rumah (m2) Unit Luas (m2) Unit Luas (m2) Unit Luas (m2) Unit Luas (m2) 1Siantar Marihat 1.020.150 1.072.800 1.239.150 1.303.350 Rumah Renggang 600 425 255.000 447 268.200 516 309.600 543 325.800 Rumah Menengah 300 1.275 382.500 1.341 402.300 1.549 464.700 1.629 488.700 Rumah Padat 150 2.551 382.650 2.682 402.300 3.099 464.850 3.259 488.850 2Siantar Marimbun 653.550 687.150 924.000 970.950 Rumah Renggang 600 272 163.200 286 171.600 385 231.000 404 242.400 Rumah Menengah 300 817 245.100 859 257.700 1.155 346.500 1.214 364.200 Rumah Padat 150 1.635 245.250 1.719 257.850 2.310 346.500 2.429 364.350 3Siantar Selatan 1.154.550 1.213.350 1.342.950 1.412.400 Rumah Renggang 600 481 288.600 505 303.000 559 335.400 588 352.800 Rumah Menengah 300 1.443 432.900 1.517 455.100 1.679 503.700 1.766 529.800 Rumah Padat 150 2.887 433.050 3.035 455.250 3.359 503.850 3.532 529.800 4Siantar Barat 2.689.200 2.827.950 2.706.000 2.845.350 Rumah Renggang 600 1.120 672.000 1.178 706.800 1.127 676.200 1.185 711.000 Rumah Menengah 300 3.362 1.008.600 3.535 1.060.500 3.383 1.014.900 3.557 1.067.100 Rumah Padat 150 6.724 1.008.600 7.071 1.060.650 6.766 1.014.900 7.115 1.067.250 5Siantar Utara 2.865.600 3.013.200 2.834.400 2.979.750 Rumah Renggang 600 1.194 716.400 1.255 753.000 1.181 708.600 1.241 744.600 Rumah Menengah 300 3.582 1.074.600 3.767 1.130.100 3.543 1.062.900 3.725 1.117.500 Rumah Padat 150 7.164 1.074.600 7.534 1.130.100 7.086 1.062.900 7.451 1.117.650 6Siantar Timur 2.436.600 2.562.000 2.470.950 2.598.150 Rumah Renggang 600 1.015 609.000 1.067 640.200 1.029 617.400 1.082 649.200 Rumah Menengah 300 3.046 913.800 3.203 960.900 3.089 926.700 3.248 974.400 Rumah Padat 150 6.092 913.800 6.406 960.900 6.179 926.850 6.497 974.550 7Siantar Martoba 1.443.600 1.518.000 1.819.350 1.912.950 Rumah Renggang 600 601 360.600 632 379.200 758 454.800 797 478.200 Rumah Menengah 300 1.805 541.500 1.898 569.400 2.274 682.200 2.391 717.300 Rumah Padat 150 3.610 541.500 3.796 569.400 4.549 682.350 4.783 717.450 8Siantar Sitalasari 1.173.600 1.233.750 1.519.950 1.598.550 Rumah Renggang 600 489 293.400 514 308.400 633 379.800 666 399.600 Rumah Menengah 300 1.467 440.100 1.542 462.600 1.900 570.000 1.998 599.400 Rumah Padat 150 2.934 440.100 3.085 462.750 3.801 570.150 3.997 599.550 KOTA 13.436.850 14.128.200 14.856.750 15.621.450 Rumah Renggang 600 5.597 3.358.200 5.884 3.530.400 6.188 3.712.800 6.506 3.903.600 Rumah Menengah 300 16.797 5.039.100 17.662 5.298.600 18.572 5.571.600 19.528 5.858.400 Rumah Padat 150 33.597 5.039.550 35.328 5.299.200 37.149 5.572.350 39.063 5.859.450 Tabel 4.3
KEBUTUAN PERUMAHAN KOTA PEMATANGSIANTAR
Bagkumdang Page 148
I. Meningkatkan produktivitas ekonomi melalui
penyediaan jasa transportasi yang menunjang dan menggerakkan interaksi ekonomi masyarakat, secara terpadu, tertib, lancar, dan efisien.
1) Meningkatkan keandalan dan kemampuan angkutan umum dengan:
a) Melaksanakan peningkatan manajeman
(perencanaan, dan operasi),
b) Mendukung pengembangan transportasi
yang berkelanjutan, terutama penggunaan transportasi umum massal (rapid mass
transport) di perkotaan yang padat,
terjangkau dan efisien, berbasis masyarakat dan terpadu dengan pengembangan wilayah. 2) Pengaturan Angkutan Barang melalui :
a) Penetapan jaringan lintas,
b) Perumusan manajemen lalu lintas dan bongkar muat angkutan barang.
3) Peningkatan kelancaran lalu lintas melalui upaya optimalisasi penggunaan ruang jalan dan kapasitas ruas-ruas jalan yang ada melalui : a) Peningkatan kapasitas persimpangan, b) Peningkatan kapasitas ruas jalan, c) Peningkatan kapasitas jaringan jalan,
d) Pengadaan jalur dan jalan khusus bus kota, e) Perbaikan/pemeliharaan jalan secara rutin
dan berkala.
Bagkumdang Page 149
4) Melakukan pengendalian lalu lintas kendaraan melalui :
a) Pengendalian dan pengawasan lalu lintas, b) Pajak/distribusi penggunaan jalan,
c) Kebijakan parkir (aturan tentang garasi penyimpanan kendaraan, standar fasilitas parkir dan peraturan perparkiran),
d) Pengaturan jam kerja yang berbeda.
5) Meningkatkan keterpaduan antar pembangunan kawasan dan gedung dengan transportasi melalui :
a) Penyusunan rencana induk transportasi dan jaringan trayek angkutan umum yang terpadu serta menunjang perwujudan rencana tata ruang urban dan sub urban,
b) Melakukan analisis dampak lalu lintas untuk pembangunan kawasan dan gedung baru, c) Pembangunan jaringan jalan baru,
d) Pembangunan jalan lingkar luar (outer ring
road),
II. Menunjang mobilitas masyarakat melalui
peningkatan dan pemerataan penyediaan akses untuk segenap lapisan masyarakat dalam mencapai pusat-pusat kegiatan dan pelayanan perkotaan (sentral business district) melalui :
1) Pengaturan dan pengadaan fasilitas pejalan kaki,
2) Pengaturan dan pengadaan fasilitas pengguna kendaraan tidak bermotor,
Bagkumdang Page 150
3) Pengaturan dan pengadaan fasilitas untuk orang tua dan orang cacat,
4) Penetapan jaringan jalan (arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, dan kolektor sekunder) yang diselesaikan dengan konfigurasi jaringan jalan yang ditentukan.
III. Memelihara dan mempertahankan kualitas
lingkungan hidup melalui penyediaan sarana dan prasaran transportasi yang berwawasan lingkungan dan mendukung kebijakan energi nasional.
1) Meningkatkan keselamatan berlalu lintas melalui :
a) Penyediaan marka dan rambu-rambu jalan yang mudah dimengerti,
b) Melaksanakan kampanye dan pendidikan berlalu lintas,
c) Peningkatan ketertiban pengemudi dan pejalan kaki,
d) Peraturan tentang sekolah mengemudi,
e) Pengaturan tentang batas kendaraan bermotor.
2) Pengaturan kelaikan kendaraan melalui :
a) Standar kendaraan (termasuk emisi gas buang)
b) Sistem registrasi kendaraan,
c) Sistem pengujian kendaraan bermotor. 3) Memelihara estetika kota.
Bagkumdang Page 151
4) Konservasi dan diversifikasi energi.
IV. Memantapkan ketersediaan dan sumber
pembiayaan kebutuhan penyedia jasa dan pembangunan prasarana transportasi, terutama melalui penggalangan potensi masyarakat dan menciptakan iklim yang mendorong dan merangsang peran serta sektor swasta melalui :
1) Pembinaan sumber penerimaan dari masyarakat berupa tarif parkir, retribusi penggunaan jalan, dan retribusi penggunaan terminal.
2) Kerjasama dengan pihak swasta (public private
partnership)
V. Memantapkan kerangka kelembagaan serta
meningkatkan koordinasi antar instansi dan kualitas aparat pemerintah, dalam rangka memantapkan manajemen pembangunan transportasi dan mewujudkan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada daerah secara nyata, dinamis, dan bertanggung jawab.
1) Memantapkan kerangka kelembagaan dan meningkatkan koordinasi antar instansi melalui :
a) Tanggung jawab dan wewenang pemerintah daerah,
b) Lebaga keuangan khusus di bawah pemerintah daerah yang bertanggung jawab mengelolan sumber-sumber penerimaan dari masyarakat untuk pembiayaan sarana dan prasaran transportasi,
Bagkumdang Page 152
c) Keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan jaringan kereta api.
2) Meningkatkan profesionalisme SDM (petugas, operator dan pengguna jalan), meningkatkan kemampuan manajemen dan rekayasa lalu lintas, serta pembinaan teknis tentang pelayanan operasional transportasi
VI. Meningkatkan kinerja peraturan dan kelembagaan
melalui: (a) penataan sistem transportasi jalan sejalan dengan sistem transportasi kota, diantaranya melalui penyusunan Rancangan Umum Jaringan Transportasi Jalan Kota (RUJTJK) meliputi penataan simpul, ruang kegiatan, ruang lalu lintas serta penataan pola distribusi lokal (kota) dan antar daerah sesuai dengan rencana kelas jalan; dan (b) peningkatan pembinaan teknis transportasi di daerah dengan mangadaptasikan sistem standar pelayanan minimal dan standar teknis di bidang LLAJ serta skema untuk peningkatan pelaksanaan pengendalian dan pengawasan LLAJ kota.
VII. Meningkatkan kelancaran pelayanan angkutan
jalan secara terpadu: (a) penataan sistem jaringan dan terminal; (b) manajemen lalu lintas; (c) pemasangan fasilitas dan rambu jalan; (d) penegakan hukum dan disiplin di jalan; (e) mendorong efisiensi transportasi barang dan penumpang di jalan melalui deregulasi pungutan dan retribusi di jalan, penataan jaringan dan ijin trayek; (f) kerjasama antarlembaga pemerintah baik dengan instansi yang terkait dengan lalu lintas maupun dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya.
Bagkumdang Page 153
VIII. Rencana Jalan Menurut Fungsi
Berdasarkan fungsi suatu jalan yang dilihat dari tingkat hubungan antar pusat pelayanan penduduk, prospek pengembangan dan tingkat kemudahannya terdapat tiga kategori jalan yang antara lain sebagai berikut:
a. Jalan Arteri, yaitu jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Dimensi jaringan jalan arteri direncanakan sbb: Rumaja = 18 M, Rumija = 23 M, Ruwasja = 30 M (Gambar 3.2).
b. Jalan Kolektor, yaitu jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Dimensi jaringan jalan kolektor direncanakan sbb: Rumaja = 9 M, Rumija = 14 M, Ruwasja = 18 M (Gambar 3.2).
c. Jalan Lokal, yaitu jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat. Dimensi jaringan jalan lokal direncanakan sbb: Rumaja = 5 M, Rumija = 10 M, Ruwasja = 14 M
Berdasarkan katagori fungsi jalan tersebut di atas, maka bagi wilayah perencanaan dapat ditentukan memiliki fungsi jalan sebagai berikut:
1.a. Jalan Arteri primer, meliputi:
Bagkumdang Page 154
• ruas jalan Medan-Batas Kabupaten Simalungun
• ruas jalan Parapat Simpang Dua-batas Kabupaten Simalungun
1.b.Jalan Kolektor primer, meliputi:
• ruas jalan Saribudolok Simpang Dua - batas Kabupaten Simalungun sebagai Kolektor 1
• ruas jalan Melanton Siregar-batas Kabupaten Simalungun sebagai Kolektor 2
• ruas jalan Bombongan-batas Kab. Simalungun sebagai Kolektor 2
• ruas jalan Sidamanik-batas Kabupaten Simalungun sebagai Kolektor 3
2.a. Jalan arteri sekunder, meliputi: • ruas jalan Sisingamangaraja; • ruas jalan Merdeka;
• ruas jalan Sutomo; • ruas jalan Sudirman; • ruas jalan Gereja; • ruas jalan DI Panjaitan
2.b. Jalan Kolektor sekunder, meliputi: • ruas jalan Seram
• ruas jalan Rajimin Purba
Bagkumdang Page 155
• ruas jalan Dahlia • ruas jalan Kartini • ruas jalan Sudirman
• ruas jalan Merdeka Lapangan Merdeka • ruas jalan DR. Sutomo Lapangan Merdeka • ruas jalan Ade Irma Suryani
• ruas jalan Pendidikan • ruas jalan Patuan Anggi
• ruas jalan HOS Cokroaminoto, • ruas jalan Sibolga
• ruas jalan Numuronda
• ruas jalan Pendeta J Sihombing • ruas jalan Rakuta Sembiring • ruas jalan AMD 1981
J. Sosial Budaya
Arah pembangunan sosial budaya diwujudkan melalui pembangunan karakter kota yang berbudaya, pembangunan jati diri warga kota, pembangunan nilai religi dan kesejarahan kota, peningkatan kualitas setting kebudayan.
1. Karakter kota yang berbudaya akan diarahkan pada
terwujudnya daya tarik dan keunikan kota melalui keberagaman dan tingginya kualitas pembangunan budaya lokal untuk mendukung pemasaran kota
Bagkumdang Page 156
sehingga mampu bersaing di tingkat global. Upaya pembangunan karakter kota ditempuh dengan cara (a) penggalian dan pengembangan karakter bentang
pandang budaya (cultural landscape) secara
berkelanjutan; (b) pengembangan mekanisme kelembagaan untuk menyerap apresiasi dan aksi (unjuk) budaya secara berkelanjutan; dan (c) revitalisasi, re-edukasi dan reaktualisasi tata nilai tradisi kota.