V. HASIL DAN PEMBAHASAN 43 5.1 Deskripsi Implementasi Teknik Penangkaran Buaya Muara
1.2. Perumusan Masalah dan Kerangka Pemikiran Penelitian
Penangkaran buaya muara sebagai satwa liar merupakan bagian tidak terpisahkan dari strategi konservasi keanekaragaman hayati didalam menunjang pelestarian populasi melalui pengembangbiakan atau perbanyakan populasi buaya muara di luar habitat alaminya dan pemanfaatannya secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat. Ini berarti dituntut adanya keberhasilan pengelolaan penangkaran penangkaran buaya muara sebab yang memberikan dampak positif terhadap pengurangan pemanfaatan buaya muara secara langsung dari habitat alaminya sehingga populasinya di alam diharapkan dapat tetap lestari. Sebaliknya ketidakberhasilan penangkaran buaya muara dapat mendorong terus meningkatnya eksploitasi buaya muara dari alam yang berdampak negatif terhadap ancaman kelestarian populasi tersebut di alam.
Keberhasilan suatu unit usaha penangkaran berdasarkan aspek teknis biologis, sangat ditentukan oleh ketepatan penguasaan pengetahuan dan penerapan teknologi penangkaran oleh pengusaha penangkar pada pengelolaan individu buaya untuk keperluan penangkaran. Pengelolaan perkandangan, pemberian pakan, perawatan kesehatan dan pengendalian penyakit sebagai kegiatan teknis. Kegiatan teknis ini merupakan pengelolaan penangkaran mulai dari tahapan memperoleh sumber bibit untuk keperluan penangkaran yang berasal sebagai hasil tangkapan dari alam atau hasil pengembangbiakan dari dalam penangkaran, selanjutnya tindakan pemeliharaan dan pembesaran dan pengem- bangbiakannya. Masy’ud (2001) menyebutkan, keberhasilan suatu unit manajemen penangkaran buaya pada dasarnya merupakan resultante dari banyak faktor yang terkait dengan penguasaan dan penerapan aspek teknis pengelolaan penangkaran yang baik dan handal. Terkait dengan prinsip ini, timbul pertanyaan tentang sejauh mana penguasaan pengetahuan dan bagaimana praktek teknologi penangkaran buaya muara yang dilakukan oleh unit-unit usaha penangkaran buaya di Papua ? Untuk menjawab pertanyaan inilah perlu dilakukan penelitian praktek pengelolaaan penangkaran secara deskriptif kualitatif.
Kebijakan pengembangan penangkaran buaya muara di Indonesia dilakukan melalui dua pola yakni pola pembesaran (ranching) dan pola pembiakan (captive breeding). Untuk Propinsi Papua, berdasarkan pertimbangan bahwa populasi buaya di alamnya masih melimpah dan secara kultural masyarakat Papua memiliki kekhasan pola interaksi dengan buaya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maka kebijakan penangkaran buaya yang berlaku adalah penangkaran dengan pola pembesaran. Artinya unit manajemen penangkaran diberikan ijin untuk memungut anakan buaya dari alam dengan ukuran tertentu untuk dipelihara/ dibesarkan hingga mencapai usia dan/atau ukuran potong ekonomi yang diukur dari panjang badan dan lingkar dada/perut. Dengan demikian ukuran keberhasilan penangkaran buaya pola pembesaran ditunjukkan oleh keberhasilan unit manajemen penangkaran di dalam memelihara dan membesarkan anakan buaya yang dipungut dari alam hingga mencapai ukuran dan/atau umur potong ekonomis sesuai ketentuan pemerintah dan/atau standar perdagangan buaya. Selain itu, dalam penangkaran pola pembesaran ini, setiap unit manajemen penangkaran juga
dikenakan kewajiban menyisihkan sebagian (10%) dari buaya siap panen (potong) untuk dilepaskan kembali ke habitat alamnya (restocking) dalam rangka mempertahankan kondisi populasi lestari di alam. Pertanyaannya, sejauh mana tingkat keberhasilan unit-unit manajemen penangkaran buaya dengan pola pembesaran ? Keberhasilan dimaksud meliputi pengelolaan penangkaran buaya muara sekaligus pelaksanaan kewajiban konservasi seperti restocking, studbook dan taggingsebagaimana diatur didalam ketentuan ijin penangkarannya.
Penilaian dan penetapan kategori tingkatan keberhasilan penangkaran pada dasarnya bermanfaat sebagai acuan didalam upaya pembinaan, pengendalian sekaligus motivasi bagi setiap unit manajemen penangkaran buaya untuk meningkatkan dan memperbaiki manajemen penangkarannya sehingga dapat mencapai tujuan penangkaran. Acuan yang dapat digunakan sebagai dasar di dalam melakukan penilaian tentang praktek pengelolaan penangkaran dan menentukan tingkat keberhasilan penangkaran buaya adalah Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor: P.19/Menhut-II/2005 dan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA) Nomor: P.5/IV-SET/2011, juga peraturan perundangan terkait penangkaran buaya. Mengingat ketentuan ini lebih dimaksudkan untuk penilaian keberhasilan suatu unit manajemen penangkaran buaya pola pembiakan (captive breeding), maka dalam penggunaannya untuk melakukan penilaian terhadap penangkaran buaya pola pembesaran perlu dilakukan penyesuaian pada kriteria dan indikatornya. Secara umum penilaian keberhasilan dilakukan paling tidak ada pada dua prinsip yakni prinsip keberhasilan kegiatan pembesaran buaya dalam penangkaran dan keberhasilan pengembangan pengelolaan penangkaran buaya muara. Prinsip- prinsip ini dibangun atas kriteria biologis, kriteria teknis (teknik pengelolaan dan sarana prasarana) dan kriteria sosial, dimana masing-masing memiliki beberapa indikatornya penilaian keberhasilan.
Keberlanjutan pengembangan penangkaran buaya muara di Provinsi Papua dan keberhasilannya ke depan perlu dijamin sehingga diperlukan upaya yang lebih intensif dan komprehensif, baik melalui perbaikan dan peningkatan penguasaan teknologi penangkaran, kebijakan maupun dukungan parapihak (stakeholders). Oleh karena itu penting juga dikaji tentang pandangan (persepsi)
dan dukungan parapihak terhadap kebijakan pengembangan penangkaran buaya di Propinsi Papua.
Berdasarkan laporan pemanfaatan dan perlindungan potensi sumber daya alam di wilayah kerja BBKSDA Papua diketahui hanya ada tiga jumlah unit penangkaran buaya pola pembesaran di Provisni Papua yang masih aktif hingga akhir tahun 2011 (BBKSDA 2012). Ketiga unit usaha penangkara tersebut adalah CV Bintang Mas di Jayapura, CV Sedaro (sebelumnya bernama CV Mitra Lestari Abadi) di Nabire dan PT Lucas Croco (sebagai perubahan dari PT Sikoway Jaya Pratama) di Waropen. Di antara ketiga unit usaha penangkaran ini, manajemen penangkaran buaya muara CV Bintang Mas dipandang representatif untuk dijadikan sebagai contoh kasus didalam mengkaji praktek manajemen penangkaran buaya yang dilakukan di Papua.
Secara keseluruhan, keberhasilan penangkaran buaya pola pembesaran tersebut bermuara pada pencapaian tujuan dan fungsi penangkaran sebagai bagian dari strategi konservasi keanekaragaman hayati, yakni kelestarian buaya muara di Provinsi Papua dan pemanfaatannya secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, maka secara skematis dapat dirumuskan kerangka pemikiran penelitian seperti disajikan pada Gambar 1.
1.3. Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan kerangka pemikiran maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsi penguasaan pengetahuan dan implementasi teknologi penangkaran buaya di unit penangkaran buaya di Provinsi Papua.
2. Mengukur tingkat keberhasilan pengelolaan penangkaran buaya muara dengan pola pembesaran yang dikembangkan di Papua.
3. Mengidentifikasi dukungan para pihak bagi keberhasilan dan keberlanjutan penangkaran buaya pola pembesaran di Provinsi Papua.
1.4. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya perbaikan dan peningkatan pengelolaan penangkaran buaya muara (C.porosus Schneider,
1801) di Provinsi Papua baik oleh setiap unit usaha itu sendiri maupun pemerintah. Selain itu juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penangkaran satwa pada umumnya dan penangkaran buaya pada khususnya.