PROPOSAL PENELITIAN SASTRA
3.3 Peta Masalah Penelitian Sastra
Apabila kita mau mencermati secara sungguh-sungguh, studi kesusastraan itu cukup luas sekali, bahkan sangat luas sekali yang meliputi seluruh kehidupan manusia. Studi kesusastraan itu dapat meliputi seluruh aspek kehidupan yang terekspeisikan melalui media bahasa, baik secara lisan maupun tertulis, baik sastra tra-disional, manuskrip, maupun sastra cetak modern dengan aksara Latin. Akan tetapi, apabila kita petakan masalah studi wilayah kesusastraan itu meliputi lima wilayah kajian sastra, dipandang dari sudut pengarang, karya, pembaca, masyarakat pendukung-nya, dan keilmuanpendukung-nya, penjabarannya sebagai berikut.
(1) Wilayah Studi Penciptaan (2) Wilayah Studi Kekaryaan (3) Wilayah Studi Penikmatan (4) Wilayah Studi Pendukung (5) Wilayah Studi Keilmuan
Agar lebih jelasnya bagi peneliti yang akan merencanakan penelitian, baiklah kelima wilayah studi kesusastraan itu dapat diterangkan sebagai berikut.
Wilayah Studi Penciptaan adalah wilayah studi yang men-cakupi dunia seniman, dunia sastrawan, dunia penyair, dunia kepenulisan, dunia pencerita, pendongeng, tukang kaba, dalang, atau dunia kepengarangan. Wilayah studi penciptaan ini adalah dunia pengucapan sastrawan dalam menciptakan karya sastra.
Dalam diagram M.H. Abrams, wilayah studi penciptaan itu
di-anggap sebagai komponen penyampai dalam sebuah komunikasi, yakni seorang pengarang berusaha menyampaikan gagasan atau idenya kepada pembaca lewat karya sastra yang ditulis atau diucapkannya.
Penelitian wilayah penciptaan ini dalam perkembangan selanjutnya dapat menimbulkan penelitian dengan menggunakan pendekatan eksternal atau ekstrinsik, yang dapat meliputi, antara lain:
(1) penelitian biografi dan latar kehidupan pengarang,
(2) penelitian proses kreatif dan latar penciptaan karya sastra, (3) penelitian aktivitas budaya pengarang,
(4) penelitian respon budaya pengarang,
(5) penelitian sejarah pemikiran pengarang melalui karya-karyanya,
(6) penelitian psikologi pengarang, (7) penelitian sosiologi pengarang, dan (8) penelitian kesadaran budaya pengarang.
Penelitian akan kritik sastra tradisional pada umumnya mengarah pada pengarangnya, bukan pada teks karya sastranya, seperti yang dilakukan Xenophanes dan Heraclitus terhadap Homerus dan Hesiodes di Yunani + 500 SM. Dalam perkem-bangan lebih lanjut penelitian kritik sastra terhadap pengarang ini berubah menjadi penelitian kritik ekspresivisme, penelitian kritik romantisisme, penelitian kritik emotif, dan penelitian seja-rah kepengarangan. Penelitian kritik sastra ekspresif (The expressive critics research of literature) adalah penelitian kritik sastra yang memandang karya sastra sebagai ungkapan atau ekspresi dunia batin dan pemikiran (curahan perasaan, pikiran, gagasan, angan-angan) pengarangnya.
Wilayah Studi Kekaryaan adalah dunia karya sastra atau teks sastra, yaitu buah karya atau hasil ciptaan pengarang. Wila-yah kekaryaan ini sering disebut dengan istilah genre sastra (lite-rary genre), yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tipe,
jenis, ragam, atau bentuk karya sastra. Kajian wilayah kekaryaan berkaitan dengan teks, analisis teks dari segi bentuk, intrinsik teks, intertekstual, perbandingan teks, gaya bahasa, semiotika, stilistika, tematik, mitologi, dan juga analisis konten atau isi teks sastra.
Sejak zaman Plato dan Aristoteles di Yunani, (+ 400 SM), telah ada tendensi untuk mengatur keseluruhan bidang sastra ke dalam ragam-ragam atau kelas-kelas tertentu. Kriteria utama untuk mengatur keseluruhan karya sastra itu, menurut Aristo-teles, ada tiga hal; yang dapat dijadikan ukuran memilahkan ragam-ragam karya sastra, yaitu:
(1) Sarana Perwujudan (media of representation):
a. prosa, cerita rekaan, fiksi (bahasa Jepang: monogatari) b. puisi (sajak, bahasa Jepang: haiku, tanka)
(a) karya yang hanya memanfaatkan satu metrum atau bersajak rata, misalnya syair (bersajak a a a a), gurindam (bersajak a a), dan tamsil (bersajak a a).
(b) karya yang memanfaatkan lebih dari satu metrum, misalnya pantun, talibun, puisi bebas, dan balada.
c. drama, lakon, sandiwara, tonil (dalam bahasa Jepang ada: kabuki).
(2) Objek Perwujudan (objects of representation). Yang menjadi objek dalam karya sastra biasanya selalu manusia, jika ada di luar manusia, seperti binatang, tumbuhan, dan benda mati itu biasanya menunjukkan sebuah personifikasi dari sifat-sifat manusia, yaitu:
a. manusia rekaan lebih agung dari manusia nyata, misal-nya dalam kisah-kisah tragedi, seperti tokoh Oedipus, Hang Tuah, Hercules, Prometheus, Alibaba, dan Sinbad.
b. manusia rekaan lebih hina dan rendah daripada manusia nyata, misalnya dalam cerita-cerita pelipur lara, humor, komedi atau cerita lucu: Abunawas, Pak Kadok, Lebai Malang, Pak Pandir.
c. manusia rekaan sama dengan manusia nyata, misalnya dalam kisah-kisah trage-komedi seperti tokoh novel-novel serius: Siti Nurbaya, Syamsul Bachri (Siti Nurbaya karya Marah Rusli), Tuti, Maria, Yusuf (Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana), atau Hasan, Rusli, dan Kartini (Atheis karya Achdiat Kartamihardja).
(3) Ragam Perwujudan Puitik (manner of poetic representation):
a. teks sebagian terdiri atas cerita atau kisah dan sebagian lagi disampaikan melalui ujaran tokoh, kombinasi narasi dan dialog, disebut epik atau naratif, misalnya Rumah Perawan (Yasunari Kawabata), Kuil Kencana (Junichiro Tanizaki), dan Negeri Salju (Yasunari Kawabata).
b. teks yang berbicara si aku lirik (penyair) disebut lirik, syair, atau puitik, misalnya sajak “Mainan Duka” karya Ishikawa Takuboku.
c. teks yang berbicara si tokoh saja, disebut lakon, drama, tonil, kabuki, misalnya Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), Aduh (Putu Wijaya, dan Domba-domba Revolusi (B.
Soelarto).
Dalam studi sastra wilayah kekaryaan ini pada akhirnya menimbulkan penelitian dengan menggunakan pendekatan tekstual, objektif, instrinsik, analisis konten, kualitatif, dan ber-bagai pendekatan lain yang berorientasi pada teks karya sastra secara otonom dengan koherensi interen. Orientasi pada teks karya sastra mulai gencar dilakukan oleh para peneliti di Barat pada awal abad XX. Perkembangan selanjutnya, tentang peneli-tian dengan menggunakan pendekatan objektif akan dibicarakan dalam penelitian kritik objektif atau metode struktural, se-miotika, stilistika, dekonstruksi, dan sistem formal teks.
Wilayah Studi Penikmat adalah wilayah studi karya sastra yang berhubungan dengan pembaca karya sastra. Peran pembaca ini dapat sebagai peneliti, pengamat, kritikus, siswa, pelajar, gu-ru, mahasiswa, dan dosen yang mengapresiasi karya sastra.
Dalam studi sastra wilayah penikmatan ini dapat menimbulkan pendekatan pragmatik atau kegunaan, fanfaat, dan nilai bagi pembaca, serta resepsi sastra atau estetika resepsi yang berorien-tasi pada penerimaan pembaca. Karya sastra itu tidak akan ber-arti apa-apa jika tanpa sambutan dan keterlibatan pembaca. Kar-ya sastra Kar-yang hanKar-ya disimpan di dalam almari, rak buku, atau dalam laci meja tanpa dibaca, dipahami akan menjadi benda sam-pah, tidak berarti apa-apa. Selanjutnya, tentang penelitian studi kepenikmatan ini akan dijelaskan dalam metode penelitian kritik pragmatik dan metode estetika resepsi.
Wilayah Studi Pendukung adalah wilayah studi karya sastra yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial karya sastra, seperti masyarakat pembaca, komunitas sastra, media massa cetak (koran, majalah), media massa elektronik (radio, televisi, CD, internet), penerbit, editor, toko buku, perpustakaan, pusat-pusat dokumentasi, lembaga-lembaga terkait seperti De-wan Kesenian, Taman Budaya, Pusat-Pusat Penelitian Kesenian dan Kebudayaan, ‘The Japan Foundation’, Pusat Kebudayaan Je-pang, Pusat Studi JeJe-pang, Pusat Studi Betawi, dan Lembaga Pen-didikan Formal, seperti Sekolahan dan Universitas. Dalam pene-litian studi sastra wilayah pendukung karya sastra ini dapat me-nimbulkan penelitian dengan menggunakan pendekatan sosio-logi sastra, Marxisme, dan mimesis. Selanjutnya, tentang peneli-tian studi wilayah pendukung ini akan dijelaskan dalam peneliti-an kritik sosiologis, penelitipeneliti-an kritik Marxis, penelitipeneliti-an kritik memetik, dan kajian budaya dalam rangka pengembangan stra-tegi kebudayaan nasional. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa alam semesta sebagai model atau imitasi, tiruan, dan cer-minan suatu karya sastra.
Wilayah Studi Keilmuan adalah wilayah kajian yang ber-hubungan dengan ilmu-ilmu sastra, yaitu berbagai pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami, menelaah, mengulas, merebut makna, dan mengevaluasi karya sastra. Dalam peneli-tian studi sastra wilayah keilmuan ini banyak berbicara tentang
konsep, kaidah-kaidah atau asas-asas umum berdasarkan telaah atau kajian sastra. Studi wilayah keilmuan ditandai dengan sifat-nya yang khas, berupa kegiatan-kegiatan interpretasi atau penaf-siran, karakterisasi atau pencarian sifat yang khas, cara pandang dalam pemilahan-pemilahan, dan mengevaluasi karya sastra dengan berbagai kriteria yang telah ada.
Rene Wellek dan Austin Warren (1989:37–46) membagi ba-tas-batas wilayah keilmuan menjadi tiga bidang studi sastra, meliputi:
(1) teori sastra, (2) kritik sastra, dan (3) sejarah sastra.
Walaupun ketiga bidang studi wilayah keilmuan ini dapat dibedakan secara teoritis, tetapi dalam praktik atau cara kerjanya ketiga bidang studi wilayah keilmuan itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketiganya memiliki jalinan yang erat antara sesamanya.
Artinya, teori sastra tidak dapat dipisahkan tanpa adanya hasil-hasil kritik dan sejarah sastra. Demikian pula, kritik sastra tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya teori dan sejarah sastra. Begitu juga dengan sejarah sastra tidak dapat disusun tanpa adanya sumbangan dari teori sastra dan kritik sastra.
Teori Sastra adalah bidang studi sastra yang memusatkan perhatian pada hubungan dengan konsep, prinsip-prinsip, kate-gori, kriteria atau asas-asas sastra, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis-lapis norma-nya (baik secara intrinsik maupun ekstrinsik), bagaimana kaidah-kaidah teks, norma-norma puisi, prosa, drama, dan sebagainya.
Jadi, hakikatnya teori sastra adalah seperangkat pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu karya sastra (baik secara formal maupun moral) atau asas-asas, norma-norma, kaidah-kaidah yang menjadi dasar pengetahuan hal ihwal sastra.
Kritik Sastra adalah bidang studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung, mendeskripsikan, menganalisis, menginterpretasi, memberi komentar, dan mem-beri penilaian kepadanya. Selanjutnya, penelitian tentang kritik sastra ini akan mengarah pada sistem kritikus dan hasil kritiknya.
Sejarah Sastra adalah studi sastra yang membicarakan per-kembangan karya sastra sejak kelahirannya sampai pada perkem-bangan terakhir, dari satu periode ke periode, dari suatu ang-katan ke angang-katan, dan dari satu aliran atau mazhab ke aliran atau mazhab lainnya. Pokoknya, wilayah studi sastra yang ber-kaitan dengan sejarah sastra ini adalah semua pembicaraan yang berhubungan dengan kesejarahan sastra, baik pembicaraan jenis, bentuk, pikiran-pikiran, gaya-gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra dari satu periode ke periode, dan sebagainya. Con-toh buku sejarah sastra adalah Sejarah Kesuasastraan Jepang (Nihon Bungakushi) ditulis oleh Asoji Asoo dan kawan-kawan (UI-Press, 1983), Ikhtisar Sejarah Kesusastraan Indonesia (Ajip Rosidi, Bandung:
Binacipta, 1969), dan Ikhtisar Sejarah Perkembangan Sastra Jawa (Sri Widati dkk, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001) Demikian secara ringkas peta masalah penelitian sastra yang mencakupi wilayah studi kesusastraan yang kita jelajahi setiap saat berhubungan dengan pilihan untuk dapat menemukan ma-salah-masalah penelitian sastra. Dengan peta ringkas wilayah-wilayah kesusastraan di atas dapat kita peroleh gambaran apa, mengapa, dan bagaimana masalah-masalah penelitian sastra itu harus dipecahkan secara ilmiah. Secara teoritis memang kita da-pat memilah-milahkan menjadi lima wilayah kajian, tetapi dalam praktik kerjanya wilayah keilmuan (teori, kritik, dan sejarah sastra) yang akan mendominasi dan merasuki ke berbagai wila-yah studi sastra tersebut.