• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan, Pesan, dan Harapan Masyarakat

INDONESIA MODERN

6.4.8 Tanggapan, Pesan, dan Harapan Masyarakat

Tanggapan, pesan, dan harapan masyarakat atas puisi-puisi bertema lingkungan hidup sebagai sarana sosialisasi atau kampanye “sadar lingkungan” adalah sebagian besar responden 90% dari 30 responden menyatakan dapat, cocok, sesuai untuk kampanye sadar lingkungan. Bahasa puisi lebih dapat “menyen-tuh rasa” bilamana dibandingkan dengan perintah-perintah dan larangan-larangan yang bersifat baku. Hanya karena bahasa puisi merupakan bahasa sastra sebagai tataran kedua yang am-bigu, diperlukan bimbingan untuk memahami karya-karya terse-but sehingga pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima dengan tepat. Beberapa responden dari Mataram, Lom-bok, menyatakan “Sangat cocok sebagai sarana kampanye atau sosialisasi sebab dengan adanya puisi tersebut mudah-mudahan masyarakat terketuk hatinya untuk tidak membuang sampah sembarangan dan peduli kepada lingkungan. Jadi, puisi-puisi

bertema lingkungan hidup cocok sebagai sarana kampanye atau sosialisasi sadar lingkungan kepada masyarakat.”

Berdasarkan kenyataan data atas lima pertanyaan dan ja-waban 30 responden yang berhasil diwawancarai membukti-kan bahwa masyarakat membutuhmembukti-kan informasi yang benar ter-hadap persoalan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Sejumlah sarana dan prasarana serta tenaga penyu-luhan lingkungan sudah ada, kegiatan penyupenyu-luhan juga sudah dilakukan, sekarang tinggal masyarakatnyalah yang harus be-nar-benar sadar akan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Manusia dan kesadaran lingkungan hidup perlu dibangkitkan dan digerakkan dengan tindakan nyata agar terwujud secara benar lingkungan hidup yang bersih dan sehat sehingga nyaman dijadikan sebagai tempat tinggal.

6.5 Simpulan

Makna dan pesan utama 18 puisi Indonesia modern yang bertema lingkungan hidup yang ditulis delapan penyair sastra Indonesia modern adalah manusia diharapkan untuk senantiasa dapat: (1) mengelola sampah dan limbah agar tidak menimbulkan berbagai penyakit, terekspresikan dalam puisi “Sampah”, “Potret Tukang Sampah”, dan “Air Selokan”; (2) mengusahakan pence-gahan polusi udara agar dapat diperkecil ambang batas keko-torannya sehingga udara menjadi bersih dan sehat, terekspresi-kan dalam puisi “Polusi Udara”, “Pohon di Tepi Jalan”, “Mene-ngadah ke Atas, Merenungi Ozon yang Tak Tampak”, “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, dan “Lingkungan Mati”; (3) menjaga dan memelihara aliran sungai dan drainase secara baik agar air tetap jernih dan dapat mengalir lancar, terekspresikan dalam puisi “Perjalanan Sungai”, “Sungai Ciliwung yang Miskin”,

“Sungai yang Mengalirkan Air Mata dan Hujan yang Meneteskan Pasir-Pasir”, “Banjir” Suryatati, dan “Banjir” Ataswarin; dan (4) berusaha melestarikan hutan dan tanaman untuk keseimbangan ekosistem, terekspresikan dalam puisi “Ada Belantara, Pohon

di Mana”, “Gergaji”, “Hutan”, “Pokok Kayu”, dan “Cerita dari Hutan Bakau”.

Pesan utama 18 puisi tentang lingkungan hidup adalah: (1) masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar tentang penanganan sampah dan limbah sebab selama ini mereka tidak diberi solusi tentang penanganan sampah dan limbah secara benar. Oleh karena itu, perangilah sampah dan limbah walau dengan alat sederhana dan jangan biarkan sampah dan limbah berserakan di mana-mana sehingga menimbulkan berbagai penyakit; (2) udara di sebagian besar wilayah kita telah tercemar oleh sisa pembakaran kendaraan bermesin, sisa pembakaran pabrik-pabrik industri, dan asap pembakaran lahan dan hutan secara besar-besaran sehingga udara kotor dan tidak sehat. Usa-hakanlah pencegahan semakin berlarut-larutnya polusi udara dengan mengurangi pembakaran dan berusahalah menanam dan memelihara pohon sebanyak-banyaknya agar udara kembali menjadi bersih dan nyaman pada saat kita hirup atau bernapas;

(3) jaga dan peliharalah aliran sungai dan drainase agar air tetap jernih dan mengalir lancar serta tidak menimbulkan bencana banjir ketika musim penghujan datang. Jangan membuang sam-pah dan limbah ke sungai atau selokan, jangan tinggal di bantaran sungai, dan berusahalah membersihkan aliran sungai dan drainase agar tidak menimbulkan berbagai bencana dan penya-kit; dan (4) lestarikan hutan dan lahan sebagai paru-paru dunia, jagalah hutan dan lahan agar tidak dibalak dan dibakar orang yang tidak bertanggung jawab, bangkitkan kembali gerakan penghijauan, dan fungsikan lahan dan hutan secara benar se-hingga terdapat keseimbangan ekosistem.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, sebagai pemangku kepentingan lingkungan hidup yang bersih dan sehat hendaklah tidak bosan-bosannya, secara terus-menerus, memberi penyu-luhan atau informasi yang benar tentang penanganan masalah lingkungan hidup yang bersih dan sehat kepada masyarakat.

Kesadaran manusia akan lingkungan hidup yang bersih dan

sehat senantiasa bangkit bilamana terus-menerus diberi per-ingatan dan penegakan hukum secara tegas. Sanksi hukum secara tegas bagi pelanggar hendaklah benar-benar diterapkan agar oknum pelanggar lingkungan menjadi jera, dan akhirnya sadar bahwa dirinya telah menafaatkan alam secara tidak benar sehing-ga merugikan khalayak.

Masyarakat dan pihak swasta tentunya diharapkan bersedia menaati peraturan dan imbauan pemerintah untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melestarikan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Kebersihan lingkungan akan menjadi bagian dari iman kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sekaligus hidup sehat, sejahtera, tenteram, dan bahagia. Kesadaran masyarakat akan lingkungan yang bersih dan sehat hendaknya tidak hanya sebatas pada “kesadaran semata”, hanya ada pada pengertian, tetapi juga diterapkan dalam tindakan atau perbuatan sehari-hari. Hal ini dapat dimulai dari diri kita sendiri dan dari ling-kungan sendiri yang terdekat dengan tempat tinggal kita.

*) Ucapan Terima Kasih

Artikel ini merupakan ringkasan penelitian yang bertajuk “Per-soalan Pemeliharaan Lingkungan Hidup yang Bersih dan Sehat dalam Puisi Indonesia Modern” yang mendapat dana penelitian dari Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP), Kementerian Negara Risek dan Teknologi, Tahun 2011, yang dikelola oleh Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena itu kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Kementeriat Negara Riset dan Teknologi, rekan-rekan Pengelola di Balitbang Kemdikbud, juga Badan Ba-hasa, atas penyaluran dana penelitian tersebut sehingga menjadi hasil penelitian ini.

7.1 Pengantar

Sastra lisan Kafoa adalah salah satu genre sastra yang meng-gunakan bahasa non-Austronesia (Trans-New Gunea), terdapat di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Wurm dan Hattori (1981 dalam SIL 2006:27) bahasa Kafoa berpenutur sekitar 1.000 orang, dan sekarang (November 2009) tinggal 710 orang. Wilayah penggunanya terpumpun di Desa Prabur Utara, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, di sebelah utara Aluben, antara bahasa Abui dan Kelong.

Apabila dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Kafoa termasuk salah satu bahasa yang terancam punah language death (Crystal 2000:1)

Sehubungan dengan kondisi seperti itu, penelitian ini me-rupakan suatu usaha untuk mengetahui eksistensi sastra lisan Kafoa dengan tujuan mendeskripsikan dan mendokumentasikan

6 Artikel ini merupakan ringkasan bagian penelitian yang bertajuk “Bahasa dan Sastra Kafoa di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur”. Penelitian tersebut dikerjakan oleh Tim (Fairul Zabadi, Puji Santosa, dan Martin) pada tahun 2009 dengan mendapat dana penelitian dari Program Insentif Riset bagi Peneliti dan/atau Perekayasa, Direktorat Jendral Perguruan Tinggi yang disalurkan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional. Laporan penelitian bidang bahasa Kafoa dikerjakan oleh Fairul Zabadi dan Martin. Semen-tara itu, bidang sastra lisan Kafoa dikerjakan oleh Puji Santosa yang hasil ring-kasannya disajikan dalam artikel ini. Seyogyanya kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Dikti dan Balitbang, juga Pusat Bahasa, atas penyaluran dana penelitian tersebut, yang sekarang dikelola langsung oleh Ristek.

BAB VII