• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknis Panen

Panen merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Pelaksanaan panen perlu dilakukan secara baik dengan memperhatikan beberapa kriteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas minyak yang baik (Fauzi, 2008). Oleh karena itu, aspek pemanenan merupakan salah satu aspek penting dalam budidaya kelapa sawit.

Persiapan Panen

Persiapan panen merupakan kegiatan penyiapan areal yang akan dipanen sejak TBM hingga menjadi TM, penyediaan tenaga kerja dan alat-alat panen yang diperlukan (Sunarko, 2009). Persiapan panen merupakan kegiatan yang perlu dipersiapkan dengan baik dan terencana sampai kegiatan panen berlangsung. Kegiatan persiapan panen antara lain perbaikan dan pengerasan jalan, perawatan TPH, pembuatan dan perawatan pasar rintis (pasar panen), pembersihan pokok jaringan, pemasangan jembatan dan titi panen dan lain-lain (Miranda, 2009). Alat Perlengkapan Panen

Alat perlengkapan panen harus disiapkan dengan baik agar dapat berjalan dengan lancar. Alat-alat kerja untuk potong buah yang akan digunakan berbeda bedasarkan tinggi tanaman (Pahan, 2010). Penggolongan alat kerja tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alat untuk memotong TBS, alat untuk bongkar muat TBS dan alat untuk membawa TBS ke TPH. Pisau egrek, dodos, kapak dan batu asah merupakan alat yang digunakan untuk memotong TBS. Angkong, gancu dan karung goni merupakan alat yang digunakan untuk membawa TBS ke TPH serta tojok besi merupakan alat untuk bongkar muat TBS dari TPH ke PMKS.

Selain memperhatikan kelengkapan alat-alat panen, alat pelindung diri (APD) untuk pemanen harus diperhatikan untuk menjaga keselamatan pemanen.

Kriteria Matang Panen

Kriteria matang panen merupakan indikasi yang tepat untuk membantu pemanen agar memotong buah kelapa sawit yang telah layak panen. Menurut Sunarko (2009) tingkat kematangan buah kelapa sawit juga dapat dilihat dari perubahan warna dimana pada saat masih muda, buah kelapa sawit berwarna hijau karena mengandung pigmen klorofil kemudian buah akan berubah menjadi warna merah atau oranye akibat pengaruh pigmen beta karoten yang menandakan bahwa minyak sawit yang terkandung di dalamnya telah tinggi dan buah akan lepas dari tandannya (membrondol) .

Umumnya, kriteria lain yang dapat digunakan tergantung pada bobot tandan yaitu bobot tandan > 10 kg sebanyak 2 brondolan/kg tandan dan untuk berat tandan < 10 kg sebanyak 1 brondolan/kg tandan (Setyamidjaja, 2006). Umumnya panen dilaksanakan antara 1-2 brondolan per kg tandan yang telah jatuh ke tanah (Hakim, 2007).

Manajemen Panen

Sistem Panen

Secara umum sistem panen pada perkebunan kelapa sawit menggunakan sistem hanca giring murni, sistem hanca tetap dan hanca giring tetap per mandoran (Pahan, 2010). Terdapat kelebihan dan kekurangan pada sistem-sistem panen tersebut. Kelebihan sistem hanca giring murni adalah pekerjaan lebih cepat selesai karena selalu diawasi oleh mandor, memudahkan transport TBS dan kemungkinan hanca tertinggal kecil sedangkan kekurangannya yakni, tanggung jawab karyawan terhadap hancanya rendah, susah untuk menyelusuri kesalahan yang dilakukan karyawan dan output karyawan rendah. Adapun kelebihan dari sistem hanca tetap adalah tanggung jawab karyawan terhadap hancanya tinggi, kondisi areal relatif bagus dan penguasaan terhadap areal tinggi sedangkan kekurangannya yakni, ada kesan bahwa mandor malas, distribusi buah menyebar, transport kurang efektif dan turnover karyawan tinggi. Pada sistem hanca giring tetap per mandoran, kelebihannya adalah jumlah tenaga kerja dapat diatur (harus ditambah/dikurangi) sesuai kebutuhan dan kondisi kematangan buah, antara

mandor dapat bersaing dengan sehat, menghindari kecemburuan di antara karyawan karena hanca dapat ditukar/digilir dari pusingan yang satu ke selanjutnya sedangkan kekurangannya yakni, tanggung jawab karyawan relatif kecil dan jika ada pelanggaran sulit untuk dideteksi.

Rotasi Panen

Rotasi panen adalah waktu yang dibutuhkan antar panen yang terakhir dan panen berikutnya di tempat yang sama. Rotasi panen tergantung dari kecepatan buah matang. Menurut Pahan (2010), rotasi panen merupakan faktor yang paling mempengaruhi pekerjaan panen. Rotasi panen juga dapat mempengaruhi transport, pengolahan, biaya potong buah, persentase buah mentah, kesempurnaan pengutipan brondolan dan kadar asam lemak bebas (FFA) (Hutagaol, 2009). Rotasi panen biasanya menggunakan simbol 6/7 yang artinya enam hari kerja dengan interval 7 hari, sehingga dalam satu bulan setiap seksi dipanen sebanyak 4 kali (Miranda, 2009). Umumnya rotasi dengan menggunakan sistem tersebut masih sesuai dan buah tidak lewat matang.

Taksasi Produksi

Taksasi produksi adalah kegiatan menghitung jumlah tandan buah segar (TBS) yang akan dipanen bedasarkan jumlah dan keadaan tandan bunga betina yang akan menjadi tandan buah (Sunarko, 2009). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memudahkan pengaturan dan pelaksanaan kegiatan panen, sehingga mencapai produksi yang maksimal. Adapun tujuan lain dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui perkiraan produksi harian, bulanan ataupun semesteran.

Taksasi harian digunakan untuk meramal besarnya produksi harian yang tercemin pada angka kerapatan panen (AKP). Angka kerapatan panen menujukkan persentase jumlah buah yang matang pada suatu seksi yang akan dipanen. Perhitungan AKP dilakukan oleh mandor untuk mengetahui dan meramalkan jumlah produksi TBS yang akan dipanen keesokan harinya dan menentukan kebutuhan jumlah pemanen per hari. Selain itu, tujuan lainnya untuk memudahkan dalam penyediaan dan pengaturan transportasi.

Cara mencarinya dapat dihitung dengan rumus:

Jumlah Tandan Matang Angka Kerapatan Panen (AKP) =

Jumlah Pokok Contoh

Basis dan Premi Panen

Basis dan premi panen mempunyai hubungan yang sangat erat. Pemanen harus mendapatkan basis terlebih dahulu jika ingin mendapatkan premi. Menurut Pahan (2010), penetapan jumlah basis borong untuk setiap pemanen umumnya didasarkan pada pertimbangan, yakni rata-rata kemampuan seorang karyawan memanen TBS, keadaan tanaman dalam blok-blok yang bersangkutan, dan kondisi spesifik setempat. Pembuatan dan penetapan premi panen harus didasarkan pada biaya potong buah per kg TBS sesuai anggaran tahun berjalan dan sistem premi sebelumnya (Pahan, 2010). Premi yang ditetapkan perusahaan dapat berdasarkan jumlah janjang yang didapat atau jumlah bobot janjangan yang didapat (Agricultural Policy Manual Asian Agri Group, 2011).

Premi dibagi menjadi 2 jenis, yakni premi siap borong dan premi lebih borong. Premi siap borong adalah premi yang diberikan kepada pemanen pada saat jumlah janjang panen sama dengan atau lebih dari basis borong yang telah ditentukan sedangkan premi lebih borong adalah premi yang diberikan kepada pemanen pada saat pemanen mendapat janjang panen yang lebih dari jumlah janjang basis borong yang ditentukan.

Pengawasan Panen

Pengawasan panen diperlukan untuk mendapatkan produksi dan kualitas yang baik. Pengawasan dilakukan dengan memeriksa hanca, mutu buah di TPH dengan tujuan agar mutu hanca dan buah dapat terjaga serta mengurangi terjadinya losses. Di perkebunan kelapa sawit, yang paling berperan dan bertanggung jawab terhadap besar kecilnya losses produksi yaitu asisten Afdeling (Pahan, 2010).

Pemanen yang melakukan kesalahan akan mempeloreh hukuman berupa denda atau sanksi dengan tujuan agar pemanen dapat melaksanakan ketentuan

panen secara benar dan diharapkan tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat.

Pengangkutan Tandan Buah Segar

Pengangkutan memiliki peranan penting dalam kegiatan pemanenan. TBS dan brondolan harus segera diangkut ke PMKS untuk diolah pada hari itu juga. Keterlambatan (restan) pengangkutan TBS ke PMKS akan mempengaruhi proses pengolahan, kapasitas olah dan mutu produk akhir

Ketersediaan alat angkut yang cukup dan sarana jalan yang baik sangat mendukung sistem pengangkutan TBS sehingga menjamin TBS tidak menginap di lapang (restan). Kebutuhan alat angkut tergantung pada jumlah produksi, kapasitas alat angkut dan waktu yang dibutuhkan alat angkut dari kebun ke pabrik dan sebaliknya. Oleh karena itu pengangkutan juga menempati urutan yang penting dalam sistem pemanenan kelapa sawit.

Dalam pemanenan, praktik manajemen sangat berpengaruh untuk meningkatkan efisiensi produktifitas yaitu dalam memanen seluruh buah yang masak dengan rotasi panen setiap minggu, pemberian pupuk yang efisien dan efektif, pertumbuhan tanaman dan produksi TBS yang optimal, serta ketersediaan air yang cukup sepanjang tahun. Menurut Pahan (2010), praktik manajemen terbaik secara strategis akan memberikan data produksi blok tanaman yang dirawat secara optimal.

METODE MAGANG

Tempat dan Waktu

Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Buatan, PT Inti Indosawit Subur yang berada di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau yang dilaksanakan mulai dari 1 Maret sampai 1 Juli 2011.

Metode Pelaksanaan

Secara garis besar, metode pelaksanaan magang di lapangan adalah dengan melakukan seluruh pekerjaan di lapangan produksi dengan berbagai tingkat jabatan. Penulis bekerja langsung sesuai dengan tingkat jabatan, yaitu sebagai karyawan harian lepas, pendamping mandor sampai menjadi pendamping Asisten Afdeling. Penulis pada saat melakukan kegiatan magang bertanggung jawab sebagai karyawan harian lepas (KHL) selama satu bulan pertama, pendamping mandor pada bulan berikutnya, dan pendamping asisten selama dua bulan terakhir. Secara khusus kegiatan magang akan lebih diarahkan pada aspek pemanenan kelapa sawit.

Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan diperoleh dengan menggunakan dua metode, yaitu metode langsung untuk data primer dan metode tidak langsung untuk data sekunder. Pengumpulan data dengan metode langsung dilakukan melalui kerja dan pengamatan langsung di lapangan serta wawancara langsung dengan staf dan karyawan kebun. Pengumpulan data dengan metode tidak langsung dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dari laporan manajemen (bulanan, triwulanan, semesteran, tahunan) yang merupakan arsip di kantor kebun. Metode tidak langsung juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi melalui studi pustaka.

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data sekunder yang diperoleh dari kebun meliputi lokasi dan letak geografis kebun, keadaan tanah dan iklim, luas areal dan tata

guna lahan, kondisi pertanaman dan produksi, basis dan premi panen, realisasi produksi di bulan Mei pada Afdeling III, absensi karyawan dari Januari-Mei 2011 pada Afdeling II , sistem pengawasan dan denda serta organisasi dan manajemen pemanenan.

Data primer merupakan informasi yang diperoleh secara langsung melalui observasi lapangan maupun berupa hasil diskusi atau wawancara dengan Asisten Afdeling, mandor dan karyawan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan/kegiatan lapang terhadap kegiatan yang berlangsung di perkebunan. Data primer difokuskan pada kegiatan panen seperti diuraikan dibawah ini:

1. Kehilangan Produksi (Losses)

Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati dan menghitung buah mentah yang terpanen, buah masak tinggal di pokok dan di piringan (gawangan), brondolan tertinggal, brondolan di potongan tangkai dan kondisi pokok. Penulis mengamati kualitas kerja pemanen yang meliputi persentase TBS tinggal, pengutipan brondolan dan brondolan di potongan tangkai. Penulis juga melakukan pengamatan losses berdasarkan tahun tanam. Pengamatan berdasarkan persentase TBS tinggal dilakukan di kemandoran A dengan mengambil 3 pemanen sebagai sampel pada Afdeling II. Pengamatan pengutipan brondolan dan brondolan di potongan tangkai dilakukan dengan mengambil 5 pemanen di kemandoran B pada Afdeling II. Pengamatan TBS tinggal dan pengutipan brondolan dilakukan dengan mengikuti kegiatan panen selama 1 hari untuk 1 pemanen dan hanya dilakukan 1 kali pengamatan untuk setiap pemanen. Losses berdasarkan tahun tanam dilakukan dengan mengambil 5 pemanen di kemandoran C pada tahun tanam 1989, 1990, dan 1991 di Afdeling II. Setiap tahun tanam diamati 1 blok dan setiap pemanen diamati satu kali pengamatan.

2. Kondisi tanaman

Pengamatan yang dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanaman yang gondrong (under pruning) dan tanaman yang memiliki pelepah sengkleh sehingga memicu terjadinya losses. Pengamatan dilakukan dengan mengambil 2 pemanen di setiap kemandoran (A, B dan C) dengan mengambil sampel 60-70 pokok per pemanen. Pengamatan dilakukan dengan mengikuti kegiatan panen selama 1 hari untuk 2 pemanen dan setiap pemanen diamati satu kali pengamatan.

3. Pengangkutan Tandan Buah Segar.

Pengamatan dilakukan dengan mengamati kinerja pemuat yang berhubungan dengan faktor losses. Penulis mengambil 2 orang pemuat di kemandoran A dan B. Aspek yang diamati yakni brondolan tinggal di TPH dan keefektifan dalam pengiriman.

4. Kriteria Matang Panen

Pengamatan kriteria mutu buah dilaksanakan berdasarkan Lubis (2008) dengan mengambil 5 pemanen di setiap kemandoran (A, B dan C). 1 pemanen diambil 5 TPH dimana setiap mandoran diambil 3 ulangan (3 blok yang berbeda-beda).

5. Rotasi Panen

Pengamatan rotasi panen dilakukan dengan mengamati pengaruh rotasi panen terhadap losses dan mutu buah di Afdeling II serta mencari penyebab utama terjadinya rotasi panen yang bertambah (> 10 hari) dengan mengamati tingkat absensi karyawan panen selama lima bulan terakhir.

6. Peralatan Panen

Pengamatan dilaksanakan berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan dengan memperhatikan kelengkapan alat-alat panen dan alat pengaman diri (APD).

7. Taksasi Produksi

Pengamatan dilaksanakan dengan melakukan taksasi produksi harian secara langsung di Afdeling II pada seksi yang berbeda-beda (A, B, C, D, E dan F). Dengan menghitung taksasi produksi harian didapat pula persentase kematangan panen dan kebutuhan jumlah pemanen.

8. Pengawasan Panen

Pengamatan pengawasan panen dilakukan bersama dengan Asisten Afdeling, Mandor I dan Mandor panen. Pengamatan dilakukan berdasarkan dengan faktor

losses yang sering terjadi di lapangan. Selain itu, penulis bersama dengan QC (quality control) juga melakukan kontrol buah terhadap penilaian mutu buah dan kebersihan hanca.

Analisis Data dan Informasi

Data primer dan data sekunder yang dipeloreh, dianalisis secara deskriptif. Analisis deskriptif dengan mencari rata-rata dan persentase hasil pengamatan lalu diuraikan secara deskriptif dengan membandingkan terhadap norma baku yang berlaku pada perkebunan kelapa sawit dan standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Analisis ini digunakan pada pengamatan losses (kehilangan produksi), kondisi pokok, kriteria matang panen, rotasi panen, peralatan panen, taksasi produksi dan pengawasan panen.

KEADAAN UMUM

Letak Wilayah Administrasi

Wilayah perkebunan kelapa sawit Kebun Buatan, PT. Inti Indosawit Subur (IIS) berada di Desa Bukit Agung, Makmur, Delik dan Lalang Kabung, Kecamatan Pangkalan Kerinci dan Lubuk Durian, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Lokasi perkebunan terletak antara 01o 40’-102o 15’ BT dan 0o 05’-0o 43’ LS. Perkebunan kelapa sawit ini terletak di pusat kota dan dilewati oleh jalan raya yang menghubungkan Provinsi Riau dengan Provinsi Jambi.

Batas-batas lokasi kebun Buatan PT. Inti Indosawit Subur adalah sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kerinci Kanan, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pangkalan Kerinci.

Keadaan Iklim dan Tanah

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951), areal perkebunan di Kebun Buatan termasuk dalam tipe A. Puncak musim hujan terjadi pada bulan Mei dan Juni. Rata-rata curah hujan selama 4 tahun terakhir (2007-2010) adalah 2 251.5 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan adalah 102 hari/tahun. Rata-rata bulan kering 1.25 bulan/tahun dan rata-rata bulan basah 9.75 bulan/tahun. Maka dengan diketahuinya rata-rata bulan basah dan bulan kering di Kebun Buatan dipeloreh nisbah sebesar 12.82% sehingga termasuk dalam tipe A. Suhu rata-rata harian adalah 31 oC kisaran dengan kisaran 27oC-33oC. Data curah hujan dan hari hujan di Kebun Buatan PT Inti Indosawit Subur, Pelalawan, Riau, Periode 2007-2010 disajikan pada Lampiran 4.

Jenis tanah pada areal Kebun Buatan adalah Alluvial dan Podsolik Merah Kuning. Pada wilayah datar agak berombak, bergelombang dan berbukit adalah Podsolik Merah Kuning. Kedalaman tanah lebih dari 100 cm, tekstur tanah terdiri dari lempung liat berpasir, lempung berpasir dan lempung. Pada areal yang relatif datar, jenis tanahnya adalah alluvial. Kedalaman tanah lebih dari 100 cm, tekstur lempung berpasir sampai pasir. Adapun peta satuan peta tanah dan sebaran kelas kesesuaian lahan PT IIS dapat dilihat pada Lampiran 6.

Luas Areal dan Tata Guna Lahan

Areal perkebunan kelapa sawit PT Inti Indosawit Subur terdiri dari kebun inti dengan luas 5 549 ha, kebun inti tersebut terdiri dari 6 Afdeling yang terdiri dari Afdeling I dengan luas 881 ha, Afdeling II dengan luas 827 ha, Afdeling III dengan luas 904 ha, Afdeling IV dengan luas 1112 ha, Afdeling V dengan luas 883 ha, dan Afdeling VI dengan luas 942 ha. Selain itu terdapat juga lahan kemitraan pola PIR-Trans, dengan luas 10 946 ha serta lahan KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota) yang terdiri dari 2 Afdeling yaitu Afdeling VII dengan luas 851 ha dan Afdeling VIII dengan luas 649 ha. Peta PT Inti Indosawit Subur dapat dilihat pada Lampiran 5.

Keadaan Tanaman dan Produksi

Jenis Tanaman kelapa sawit yang ditanam di Kebun Buatan, PT Inti Indosawit Subur adalah jenis Tenera yang dihasilkan oleh Lembaga Penelitian Perkebunan Marihat. Jarak tanam yang digunakan adalah 9.2 m x 9.2 m x 9.2 m dengan jarak antar barisan 7.96 m dan jarak dalam barisan 9.2 m sehingga populasi per hektarnya 136 pokok. Namun berdasarkan dari kondisi di lapangan, populasi tanaman rata-rata per hektar lebih rendah dari populasi yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya tanaman yang mati karena terserang hama dan penyakit, kemiringan tempat, dan jarak tanam yang tidak teratur. Produktivitas dan bobot janjang rata-rata (BJR) TBS di Kebun Buatan PT Inti Indosawit Subur tahun 2006-2010 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Produktivitas dan BJR TBS di Kebun Buatan PT IIS Tahun 2006 - 2010 Tahun Luas Areal (ha) Produksi Produktivitas (ton/ha/tahun) BJR (kg/tandan) Jumlah TBS (tandan) Bobot TBS (ton) 2006 5 549 6 583 304 129 094 480 22.73 19.61 2007 5 549 6 486 647 133 869 140 23.57 20.64 2008 5 549 6 348 920 140 089 790 24.67 22.07 2009 5 549 6 182 967 143 665 640 25.77 23.24 2010 5 549 5 376 461 126 851 010 22.84 23.59 Sumber : Kantor Besar Kebun Buatan PT Inti Indosawit Subur (2011).

Berdasarkan data produktifitas, lahan di Kebun Buatan termasuk kategori yang tinggi. Rata-rata produktifitas selama 5 tahun sebesar 23.91 ton/ha dan rata-rata curah hujan selama 4 tahun yaitu 2 251 mm/tahun. Hal ini sesuai dengan kriteria lahan kelas I yang menyatakan bahwa rata-rata produktifitas sebesar 22 ton/ha dengan curah hujan > 2 000mm/tahun (Sunarko, 2009).

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Kebun Buatan PT Inti Indosawit Subur merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Asian Agri. PT Inti Indosawit Subur dipimpin oleh seorang

General Manager yang bertanggung jawab kepada direksi atas pengelolaan unit usaha yang mencakup tanaman, pabrik, teknik dan administrasi. Seorang General Manager dibantu oleh Manajer Kebun (Estate Manager), Manajer Pabrik (Mill Manager), Humas dan Kepala Tata Usaha (KTU).

Estate Manager berperan untuk mengkordinasikan semua kegiatan di Afdeling serta menjaga produksi dan mutu tetap optimal. Selain itu, menjamin dalam kegiatan perawatan, menjamin operasional kebun agar berjalan efektif, efisien dan sesuai dengan prosedur sistem manajemen yang telah ditetapkan. Dalam menjalankan tugasnya, Estate Manager dibantu oleh Asisten kepala (Askep) yang bertugas membantu dalam pengawasan kegiatan di setiap Afdeling, Asisten kepala membawahi asisten Afdeling. Asisten Afdeling bertanggung jawab langsung kepada Asisten Kepala, Estate Manager dan General Manager atas pelaksanaan hasil kerja dari Afdeling yang dipimpinnya. Struktur organisasi PT Inti Indosawit Subur dapat dilihat pada Lampiran 7.

Dalam pelaksanaan kegiatan di tingkat Afdeling, Asisten Afdeling bertanggung jawab untuk mengelola Afdeling secara menyeluruh, baik dalam hal teknis di lapangan maupun dalam bidang administrasi Afdeling. Pengelolaan teknis meliputi pemberian pengarahan dan instruksi kerja untuk kerani Afdeling, mandor satu, mandor, dan PHL; melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap pekerjaan dan mengevaluasi hasil kerja di lapangan. Kegiatan pengelolaan administrasi di kantor yang dilakukan oleh Asisten Afdeling meliputi pembuatan rencana kerja harian, bulanan, dan tahunan, memeriksa dan

mengevaluasi laporan kerja mandor, laporan manajemen dan laporan lainnya, serta membuat bon permintaan dan pengeluaran barang (BPPB).

Dalam melaksanakan tugasnya Asisten Afdeling dibantu oleh Mandor I, Mandor I dibantu oleh beberapa mandor yang mengawasi langsung pekerjaan di lapangan. Mandor membuat laporan harian yang diserahkan kepada kerani Afdeling yang bertugas di bagian adminstrasi di kantor Afdeling. Dalam adminstrasi Afdeling, Kerani Afdeling juga dibantu oleh seorang kerani keliling yang betugas memantau kesesuaian hasil kerja di lapangan dengan hasil laporan dari mandor.

Kepala Tata Usaha (KTU) bertanggung jawab dalam bagian adminstrasi kebun. KTU dibantu oleh kepala gudang dalam hal pelaksanaan dan pengawasan administrasi di gudang.

Status pegawai di kebun PT Inti Indosawit Subur terdiri atas karyawan tetap (SKU) dan pekerja harian lepas (PHL). Jumlah karyawan staf dan non staf PT Inti Indosawit Subur dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Jumlah Staf dan Non Staf di PT Inti Indosawit Subur, Tahun 2010 No Jabatan Jumlah 1 Staf General Manager 1 Estate Manager 1 Asisten Kepala 2 Asisten Afdeling 6 Asisten QC 1 Asisten Humas 1 Asisten By Product 1 Asisten Traksi 1 KTU 1 2 Non Staf

Tenaga kerja tak langsung

SKU B/H : - Traksi 48

SKU B/H : - Kantor 141

SKU B/H : - Afdeling 196

Tenaga Kerja langsung

SKU B/H : - Panen 292

SKU B/H : - Upkeep 616

Total SKU H/B + PHL 1293

Jumlah 1308

Sumber : Kantor Besar PT Inti Indosawit Subur (2011)

Keterangan:

QC : Quality Control

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Aspek Teknis

Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit umumnya difokuskan pada 3 tempat, yaitu di piringan, pasar pikul dan TPH. Hal ini dikarenakan bahwa ketiga tempat tersebut memiliki peranan masing-masing. Piringan sebagai tempat penyebaran pupuk dan tempat jatuhnya tandan buah serta brondolan, sedangkan di pasar pikul sebagai jalan pengangkutan buah ke TPH dan di TPH sebagai tempat pengumpulan TBS ataupun brondolan sebelum diangkut ke PMKS.

Pengendalian gulma secara manual (Dongkel Anak Kayu). Dongkel anak kayu adalah salah satu teknik pengendalian gulma secara manual. Pengendalian gulma ini selain berfokus terhadap gulma berkayu juga melakukan pembersihan di piringan dengan membersihkan pelepah-pelepah yang berada di sekitar piringan dengan menyusun dengan letter “I” jika berada di dekat jalan raya

Dokumen terkait