• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasi Bimbingan Kerja

C. Hambatan pelaksanaan perlindungan hukum atas hak memperoleh Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) bagi warga binaan permasyarakatan (Narapidana) Kecelakaan Kerja (JKK) bagi warga binaan permasyarakatan (Narapidana)

1. Petugas Lembaga Permasyarakatan Klas I Malang

Para cendikiawan berbicara, berdebat dan meneliti peraturan dan struktur, menerima realitasnya begitu saja. Mereka cenderung untuk mengabaikan perbedaan antara apa yang dijadikan pegangan tindakan institusi-institusi itu dan apa yang benar-benar mereka kerjakan. Dalam dunia nyata peraturan tertentu digunakan atau disalahgunakan, struktur tertentu tidak bekerja, sementara yang lainnya bekerja dengan cara-cara yang ganjil dan menyimpang dari ketentuan.47

Seperti yang sudah peneliti jelaskan diatas mengenai struktur, bahwa struktur melingkupi pranata hukum, aparatur hukum dan sistem penegakkan hukum. Dalam

46 Ibid, hlm. 16

47 Ibid., hlm. 16

hal ini struktur di aplikasikan pada petugas Lapas Klas I Malang khususnya pada bagian Bimbingan kerja pada Bengker otomotif dan las. Tugas dari petugas Bidang kegiatan kerja sendiri diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.01.PR.07.03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Permasyarakatan, berikut merupakan penjelasan masing-masing pasal:

Tabel 4.9 Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Permasyarakatan

Pasal Isi Pasal

Pasal 14 Bidang kegiatan kerja bertugas untuk memberikan bimbingan kerja, mempersiapkan sarana kerja serta mengelola hasil kerja

Pasal 15 Untuk menyelenggarakan tugas pada pasal 14 tersebut, Bidang Kegiatan Kerja mempunyai tugas:

a. memberikan bimbingan latihan kerja untuk narapidana

b. mempersiapkan fasilitas dan sarana kerja

c. mengelola hasil kerja Narapidana Pasal 16 Bidang Kegiatan Kerja terdiri dari:

a. Seksi Bimbingan Kerja b. Seksi Sarana kerja

c. Seksi Pengelolaan Hasil Kerja

Pasal 17 (1) Seksi Bimbingan Kerja bertugas memberikan petunjuk dan juga bimbingan latihan kerja bagi narapidana

(2) Seksi Sarana Kerja bertugas mempersiapkan fasilitas sarana kerja (3) Seksi Pengelolaan Hasil Kerja

bertugas mengelola hasil kerja

Resiko kecelakaan kerja bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, dan resiko itu akan semakin besar apabila pihak Lapas Klas I Malang tidak mengikutsertakan para

pekerja (Narapidana) pada program JKK. Seharusnya pihak Lapas Klas I Malang sudah membaca kondisi lingkungan kerja serta fasilitas untuk menanggulangi kecelakaan kerja maupun bahaya-bahaya lain yang menyangkut keselamatan kerja para pekerja (Narapidana) di Bengker otomotif dan las. Padahal secara normatif, pekerja (Narapidana) seharusnya wajib diikutsertakan pada program JKK.

Di dalam Lapas Klas I Malang, Kepala Seksi Bimbingan Kerja selanjutnya disebut Kasi Bimker tidak hanya bertugas memberikan petunjuk dan bimbingan latihan kerja bagi narapidana saja, menurut keterangan Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker (Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.20 ):48

“Kasi Bimker disini juga bertanggung jawab jika pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las mengalami kecelakaan kerja., Bengker otomotif dan las merupakan Bengker yang mempunyai resiko kecelakaan kerja yang tinggi, sehingga menurut kami perlu ada tindakan yang lebih untuk menangani kecelakaan kerja, yaitu dengan cara mengikutsertakan pekerja (Narapidana) pada program JKK yang diadakan oleh BPJS Ketenagakerjaan”.

Dari penjelasan diatas, bahwa sebenarnya petugas dari Bengker otomotif dan las sudah mengetahui resiko yang ditimbulkan dari pekerjaan tersebut, dan juga mereka menyadari bahwa pekerja (Narapidana) perlu untuk diikutsertakan dalam program JKK. Selain itu, petugas Bengker otomotif dan las telah ditugaskan untuk memenuhi fasilitas kerja untuk para pekerja (Narapidana). Sebagaimana telah dijelaskan pada dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor:

M.01.PR.07.03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Permasyarakatan:

Pasal 17

48 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.20, di dalam kantor Bengker otomotif dan las

(1) Seksi Bimbingan Kerja mempunyai tugas memberikan petunjuk dan bimbingan latihan kerja bagi narapidana

(2) Seksi Sarana Kerja mempunyai tugas mempersiapkan fasilitas sarana kerja (3) Seksi Pengelolaan Hasil Kerja mempunyai tugas mengelola hasil kerja

Pada Pasal 17 ayat (2) Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.01.PR.07.03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Permasyarakatan secara jelas mengharuskan petugas Bengker otomotif dan las mempersiapkan fasilitas sarana kerja, dalam hal ini adalah mengikutsertakan pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las dalam program JKK.

Berdasarkan keterangan Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker menurut keterangan Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker (Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.05), peneliti mendapatkan 2 (dua) hambatan mengapa pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las tidak diikutsertakan dalam program JKK yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagkerjaan:49

“Alasannya pertama, Kami selaku Petugas Bengker otomotif dan las kurang adanya kerjasama dengan pihak Disnaker khususnya bagian pengawas ketenagakerjaan, sehingga tidak ada sosialisasi dari pihak Disnaker untuk pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las. Kedua Kami menilai klinik yang ada untuk menangani Narapidana yang tidak bekerja maupun pekerja (Narapidana) di Bengker otomotif dan las sudah cukup untuk menangani kecelakaan kerja, sehingga para pekerja (Narapidana) tidak diikutsertakan program JKK oleh pihak Lapas Klas I Malang”.

Jika melihat hasil wawancara mengenai hambatan pertama, sebenarnya secara normatif sudah diatur dalam Peraturan bersama Meneteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2014, Nomor 11 Tahun 2014, Nomor 04 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Program Pelatihan

49 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017,

Kerja bagi Warga Binaan Permasyarakatan Tenaga kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Menteri Sosial Republik Indonesia selanjutnya disebut Peraturan Bersama yaitu sebagai berikut:

Pasal 3

Tanggung jawab Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia meliputi:

a. menyediakan data warga binaan permasyarakatan dan

b. melakukan koordinasi dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Sosial dalam penyelenggaraan program pelatihan kerja dan rehabilitasi sosial serta reintegrasi sosial.

Pada Pasal tersebut menjelaskan seharusnya pihak Lapas menyediakan data pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las, dan juga melakukan koordinasi dengan Disnaker kota malang. Namun jika di lihat di lapangan, tidak ada kerjasama yang terjalin antara pihak Lapas Klas I Malang dengan Disnaker Kota Malang perihal perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi Narapidana yang bekerja di Bengker otomotif dan las.

Untuk hambatan yang kedua, klinik yang disediakan untuk menangani kecelakaan kerja menurut keterangan dari pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las kurang memadai, karena klinik tersebut merupakan klinik umum yang dipergunakan Narapidana umum atau Narapidana yang tidak bekerja untuk berobat, sehingga tidak tersedia fasilitas yang memadai untuk menangani pekerja (Narapidana) yang mengalami kecelakaan kerja. Hal tersebut dikarenakan pihak Lapas Klas I Malang menilai penangan kecelakaan kerja klinik dalam Lapas dianggap sudah memadai, padahal dalam kenyataannya tidak memadai.

Jika merujuk pendapat dari Lawarence M. Friedman yang menyatakan bahwa ,

”Dalam dunia nyata peraturan tertentu digunakan atau disalahgunakan, struktur

tertentu tidak bekerja, sementara yang lainnya bekerja dengan cara-cara yang ganjil dan menyimpang dari ketentuan”. Dalam hal ini, peraturan mengenai JKK, hak-hak Narapidana ketentuan kerjasama antar lembaga dan juga tugas dari Lapas Klas I Malang sudah diatur berdasarkan undang-undang ataupun peraturan-peraturan yang terkait, namun dari pihak struktur sendiri dalam hal ini adalah petugas Bengker otomotif dan las maupun Disnaker Kota Malang khususnya bagian pengawas ketenagakerjaan menyimpang dari ketentuan. Sehingga perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi Narapidana yang bekerja di Bengker otomotif dan las tidak terlaksana.