• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasi Bimbingan Kerja

D. Upaya yang dilakukan oleh Lembaga Permasyarakatan Klas I Malang agar warga binaan permasyarakatan (Narapidana) yang dipekerjakan di Bengkel warga binaan permasyarakatan (Narapidana) yang dipekerjakan di Bengkel

2. Upaya yang dilakukan berdasarkan Struktur Hukum

Struktur hukum adalah salah satu dasar dan elemen nyata dari sitem hukum, struktur sebuah sistem adalah kerangka badannya, ia adalah bentuk permanennya, tubuh institusional dari sistem tersebut, tulang-tulang keras yang kaku yang menjaga agar proses mengalir dalam batas-batasnya.73

Struktur hukum, melingkupi pranata hukum, aparatur hukum dan sistem penegakkan hukum. Struktur hukum erat kaitannya dengan sistem peradilan yang dilaksanakan oleh aparat penegak hukum, dalam sistem permasyarakatan, aplikasi penegakan hukum dilakukan oleh petugas Lapas Klas I Malang khususnya Bengker otomotif dan las dan juga orang-orang yang terkait dengan berbagai jenis lembaga, dan selanjutnya substansi itu tersusun dari peraturan-peraturan dan ketentuan mengenai bagaimana institusi-institusi itu harus berperilaku.74

Struktur hukum yang terdapat pada penelitian ini adalah petugas Lapas Klas I Malang khususnya di Bengker otomotif dan las, dan juga struktur lain yang terkait yaitu lembaga pengawas ketenagakerjaan kota Malang. Seperti yang sudah peneliti jelaskan diatas mengenai struktur, bahwa struktur melingkupi pranata hukum, aparatur hukum dan sistem penegakkan hukum. Dalam hal ini struktur di aplikasikan pada petugas Lapas Klas I Malang khususnya pada bagian Bimbingan kerja pada

73 Lawrence M. Friedman Sistem Hukum:Perspektif Ilmu Sosial, diterjemahkan dari buku Lawrence M. Friedman, The Legal System: A Social Science Perspective (New York: Russel Sage Foundation, 1975) Bandung: Nusa Media, 2015hlm. 15

74 Ibid, hlm. 16

Bengker otomotif dan las. Tugas dari petugas Bidang kegiatan kerja sendiri diatur di dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.01.PR.07.03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Permasyarakatan, berikut merupakan penjelasan masing-masing pasal:

Pasal 14

Bidang kegiatan kerja mempunyai tugas memberikan bimbingan kerja, mempersiapkan sarana kerja dan mengelola hasil kerja

Pasal 15

Untuk menyelenggarakan tugas tersebut pada pasal 14, Bidang Kegiatan Kerja mempunyai tugas:

a. memberikan bimbingan latihan kerja bagi narapidana b. mempersiapkan fasilitas sarana kerja

c. mengelola hasil kerja Pasal 16

Bidang Kegiatan Kerja terdiri dari:

a. Seksi Bimbingan Kerja b. Seksi Sarana kerja

c. Seksi Pengelolaan Hasil Kerja Pasal 17

(1) Seksi Bimbingan Kerja mempunyai tugas memberikan petunjuk dan bimbingan latihan kerja bagi narapidana

(2) Seksi Sarana Kerja mempunyai tugas mempersiapkan fasilitas sarana kerja (3) Seksi Pengelolaan Hasil Kerja mempunyai tugas mengelola hasil kerja

Dalam pelaksanaan perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las mengalami hambatan yang sudah dijelaskan diatas, Berdasarkan keterangan Kasi Bimker, terdapat 2 (dua) hambatan mengapa pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las tidak diikutsertakan dalam

program JKK yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagkerjaan. Berikut adalah hambatan tidak diikut sertakannya pekerja (Narapidana) dalam program JKK:75

1. Petugas Bengker otomotif dan las menjelaskan bahwa kurang adanya kerjasama dengan pihak Dinas Tenaga Kerja selanjutnya disebut Disnaker khususnya bagian pengawas ketenagakerjaan, sehingga tidak ada sosialisasi dari pihak Disnaker untuk pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las.

2. Pihak Lapas Klas I Malang menilai klinik yang ada untuk menangani Narapidana yang tidak bekerja maupun pekerja (Narapidana) di Bengker otomotif dan las sudah cukup untuk menangani kecelakaan kerja, sehingga para pekerja (Narapidana) tidak diikutsertakan program JKK oleh pihak Lapas Klas I Malang.

Upaya pihak Lapas Klas I Malang yang merupakan bagian dari sisi struktur hukum dalam mengatasi hambatan untuk mencapai suatu perlindungan hukum seperti yang sudah peneliti jelaskan diatas yaitu, antara lain dengan upaya memenuhi hak-hak pekerja (Narapidana) dengan memberikan pengakuan hak-hak-hak-hak pekerja (Narapidana) yang diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan, pada Pasal 14 ayat (1) hururf g yang menjelaskan bahwa Narapidana berhak bekerja dan Pasal 14 ayat (1) huruf m yang menjelaskan hak-hak keperdataan pekerja (Narapidana). Untuk lebih meningkatkan keselamatan kerja bagi pekerja (Narapidana) Bengker ototmotif dan las pihak Lapas Klas I Malang

75 Hasil wawancara Kasi Bimbingan Kerja Kudaryanto, S.Sos, 2 Mei 2017

melakukan upaya dengan cara pencegahan, penyembuhan dan meningkatkan pelayanan untuk menangani kecelakaan kerja.

Menurut keterangan dari Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker ( Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las):76

“Ya selama ini upaya yang dilakukan pihak Lapas Klas I Malang dalam hal melindungi hak atas memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las hanya memenuhi hak-hak seperti yang sudah dijelaskan Pasal 14 ayat (1) huruf g UU Permasyarakatan tersebut, kan sudah dijelaskan bahwa Narapidana yang ingin bekerja di bengker otomotif dan las harus melalui seleksi, saya akan jelaskan tahapan seleksi untuk bisa bekerja di Bengker otomotif dan las mas:

1. Narapidana ditempatkan pada Bengker Unit keset

2. Narapidana yang sudah ditempatkan di Unit keset kemudian diawasi dan diamati minat dan bakat selama 1 bulan oleh petugas Bimker yang merupakan bawahan dari Kasi Bimker

3. Setelah melewati seleksi minat dan bakat barulah Narapidana ditempatkan sesuai dengan hasil pengawasan dan pengamatan dari petugas Bimker

4. Setelah masuk di Bengker otomotif dan las Narapidana akan di arahkan dan di bimbing serta pemberitahuan hak dan kewajiban selama bekerja di Bengker otomotif dan las dengan perjanjian kerja”.

Selanjuntya Bapak Kusdaryanto memberikan keterangan lebih lanjut mengenai tahapan seleksi masuk ke dalam Bengker otomotif dan las (Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las):77

“Selanjutnya, Narapidana yang sudah masuk ke dalam Bengker otomotif dan las dibimbing dan diberitahu apa saja hak dan kewajiban mereka, disini Narapidana yang bekerja di dalam Bengker otomotif dan las dulu menggunakan perjanjian kerja tertulis namun sekarang sudah tidak. Perjanjian kerja yang saya maksud disini adalah perjanjian kerja perburuhan yang diatur di dalam UU ketenagakerjaan”.

76 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las

77 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las

Perjanjian kerja yang dimaksud berdasarkan wawancara diatas adalah perjanjian kerja yang telah disebutkan pada Pasal 52 UU Ketenagakerjaan. Di dalam Pasal tersebut menerangkan syarat-syarat sahnya suatu perjanjian kerja, yaitu:

Pasal 51

(1) Perjanjian kerja dibuat secara tertulis atau lisan

(2). Perjanjian kerja yang dipersyaratkan secara tertulis dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 52

(1) Perjanjian kerja dibuat atas dasar:

a. Kesepakatan kedua belah pihak

b. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum c. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan dan

d. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku

(2). Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dalam ayat (1) huruf a dan b dapat dibatalkan

(3). Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak bertentangan dengan ketentua sebagimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dan d batal demi hukum

Namun setelah dilihat perkembangannya, pada tahun 2015 Narapidana yang ingin bekerja di dalam Bengker otomotif dan las semakin meningkat, sehingga pihak Bimker merasa kesulitan untuk menggunakan perjanjian kerja tertulis kepada Narapidana yang ingin bekerja di Bengker otomotif dan las. Menurut penjelasan dari Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker mengenai penerapan perjanjian kerja tidak tertulis (Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las):78

78 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las

“Kalau kami ditanya mengapa menggunakan perjanjian kerja tidak tertulis, karena kurangnya petugas yang membawahi bengker otomotif dan las untuk mengawasi, sehingga perjanjian kerja yang kami gunakan selanjutnya adalah perjanjian kerja secara lisan, dan berlangsung sampai sekarang ini”.

Upaya selanjutnya yang dilakukan Lapas Klas I Malang dalam hal untuk melakukan perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las adalah dijelaskan pada Pasal 14 ayat (1) huruf m UU Permasyarakatan menjelaskan bahwa Narapidana yang bekerja di bengker otomotif dan las mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini menjelaskan bahwa Narapidana yang bekerja di Bengker otomotif dan las berhak menerima hak-hak lain.

Pada penjelasan Pasal 14 ayat (1) huruf m UU Permasyarakatan mengatakan yang dimaksud dengan hak-hak lain adalah hak politik, hak memilih dan hak keperdataan lainnya.79 Berdasarkan penejalasan pasal tersebut, bahwa pekerja (Narapidna) berhak mendapatkan hak keperdataan lain seperti JKK. Menurut keterangan Bapak Kusdaryanto selaku Kasi Bimker mengenai perlindungan pada Pasal 14 huruf m UU Permasyarakatan diatas (Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las):80

“Ya selama ini kami untuk mengatasi masalah kecelakaan kerja, sama seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Yaitu dengan membawa Napi yang

79 Penjelasan Pasal 14 ayat (1) huruf m, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 77

80 Hasil wawancara dengan Kasi Bimbingan Kerja Kusdaryanto, S.sos Tanggal 3 Mei 2017, pukul 11.45, di dalam kantor Bengker otomotif dan las

mengalami kecelakaan kerja ke klinik dalam Lapas, kalau sekiranya tidak parah ya tidak dibawa ke rumah sakit, kalau parah baru dibawa ke rumah sakit”.

Berdasarkan keterangan diatas, upaya yang dilakukan pihak Lapas Klas I Malang untuk memberikan perlindungan hukum atas memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las dalam hal menangani kecelakaan kerja, petugas Bengker otomotif dan las hanya menunggu laporan dari pekerja (Narapidana) yang tertimpa kecelakaan kerja maupun teman dari pekerja (Narapidana) yang tertimpa keelakaan kerja. Setelah memperoleh informasi, petugas Bengker otomotif dan las akan memeriksa keadaan pekerja (Narapidana) yang tertimpa kecelakaan kerja apakah perlu dilakukan perawatan lebih lanjut atau tidak. Upaya perlindungan yang dilakukan pihak Lapas Klas I Malang merupakan upaya perlindungan represif.

Adapun tindakan yang dilakukan jika terjadi kecelakaan kerja adalah dengan membawa pekerja (Narapidana) tersebut ke klinik yang sudah ada di dalam Lapas Klas I Malang. Setelah mendapatkan pengobatan, klinik tersebut kemudian memberikan keperluan selama proses penyembuhan. Sehingga upaya yang dilakukan oleh pihak Lapas Klas I Malang kurang maksimal dengan adanya penjelasan Pasal 14 ayat (1) huruf m UU Permasyarakatan. Upaya Lapas Klas I Malang dalam melindungi hak-hak dari pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las masih banyak yang hanya sebatas pengakuan saja dalam perundang-undangan, namun dalam implementasinya jauh dari realita. Hal ini karena dalam pelaksanaannya masih banyak sekali hambatan-hambatan seperti yang sudah dijelaskan diatas, seperti dari segi substansi, struktur dan kultur hukum.

Pada bagian sebelumnya, peneliti menjelaskan struktur adalah sebagai petugas Lapas Klas I Malang, selanjutnya peneliti menjelaskan struktur sebagai pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang. Pengawasan ketenagakerjaan bertujuan untuk mengurangi jumlah pelanggaran UU Ketenagakerjaan sehingga hubungan industrial dapat berjalan dengan baik. Pengawasan ketenagakerjaan terbagi menjadi tiga unit kerja tersendiri dan lingkup tanggung jawabnya terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, hal ini tercantum pada UU Ketenagakerjaan sebagai berikut:

Pasal 178

(1) Pengawasan ketenagakerjaan dilaksanakan oleh unit kerja tersendiri pada instansi yang lingkup tugasnya dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan pada pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

(2) Pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden.

Namun dalam pelaksanaan pengawasan, pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang mengalami hambatan. Hal-hal yang menjadi hambatan pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan kerja Lapas Klas I Malang sehingga pengawasan tidak dapat dilakukan secara optimal antara lain:

1. Pegawai pengawas ketenagakerjaan hanya melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja Lapas Klas I Malang sebanyak satu kali, yaitu pada Tahun 2012. Pengawasan tersebut ditujukan terhadap kegiatan kerja Bengker unit kerjainan tangan bukan pada Bengker otomotif dan las. sehingga pegawai pengawas ketengakerjaan tidak mengetahui keberadaan kegiatan kerja

Bengker otomotif dan las. Padahal seharusnya pengawasan dilakukan secara berkala setiap satu tahun sekali agar kegiatan kerja dapat dikontrol dengan maksimal khususnya kegiatan kerja Bengker otomtif dan las.

2. Tidak adanya koordinasi dari pihak pegawai pengawas ketenagakerjaan dengan pihak Lapas Klas I Malang. Sehingga pihak pengawas

ketenagakerjaan merasa kesulitan untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja khusunya Bengker otomotif di las Lapas Klas I Malang.

Untuk menangani hambatan dalam perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las diatas, pihak pegawai ketenagakerjaan tidak melakukan upaya apapun agar pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las mendapatkan perlindungan hukum. Hal tersebut karena sarana perlindungan hukum yang diterapkan pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang adalah perlindungan hukum represif.

Menurut Philipus M. Hadjon, perlindungan hukum dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Perlindungan hukum preventiv 2. Perlindungan hukum represif

Di Indonesia belum diatur mengenai perlindungan hukum preventiv, sehingga dalam pelaksanaanya pihak Pengawas ketenagakerjaan Kota Malang menggunakan prinsip perlindungan hukum represif. Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa, pernyataan tersebut menyatakan bahwa perlindungan hukum akan diberikan ketika masalah atau sengketa sudah terjadi. Seperti halnya

perlindungan hukum represif yang dilakukan pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang ketika menangani kecelakaan kerja.