Kasi Bimbingan Kerja
C. Hambatan pelaksanaan perlindungan hukum atas hak memperoleh Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) bagi warga binaan permasyarakatan (Narapidana) Kecelakaan Kerja (JKK) bagi warga binaan permasyarakatan (Narapidana)
2. Wewenang Pegawai Spesialis a. Memasuki tempat kerja;
b. Meminta keterangan baik lisan maupun tertulis kepada pengusaha atau pengurus perusahaan dan atau tenaga kerja atau serikat pekerja tanpa dihadiri oleh pihak ketiga;
c. Menjaga, membantu serta memerintahkan pengusaha atau pengurus perusahaan dan tenaga kerja agar mentaati ketentuan peraturan perundangundangan ketenagakerjaan;
d. Memberikan peringatan atau teguran terhadap penyimpangan dan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang telah ditentukan;
e. Melakukan pengujian teknik persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja;
f. Menetapkan dan menyelesaikan masalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja;
g. Memanggil pengusaha atau pengurus dan atau tenaga kerja atau serikat pekerja;
h. Melarang pemakaian atau penggunaan bahan/alat pesawat yang berbahaya;
i. Meminta bantuan Polisi apabila ditolak memasuki perusahaan atau tempat kerja atau pihak-pihak yang dipanggil tidak memenuhi panggilan;
j. Meminta pengusaha atau pengurus seorang pengantar untuk mendampingi dalam melakukan pemeriksaan;
k. Melaksanakan penyelidikan setiap pelanggaran peraturan perundang-undangan.55
Dalam menjalankan tugasnya, Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan berhak dan wajib melakukan:
1. memasuki semua tempat dimana dijalankan atau biasa dilakukan pekerjaan atau dapat disangka bahwa disitu dijalankan pekerjaan dan juga segala rumah yang disewakan atau dipergunakan oleh pengusaha atau wakilnya untuk perumahan atau perawatan pekerjaan
2. jika terjadi penolakan untuk memasuki tempat-tempat tersebut, Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan berhak meminta bantuan POLRI
3. mendapatkan keterangan sejelas-jelasnya dari pengusaha atau wakilnya dan pekerja mengenai kondisi hubungan kerja pada perusahaan yang bersangkutan
4. menanyai pekerja tanpa dihadiri pihak ketiga 5. harus melakukan koordinasi dengan serikat pekerja
6. wajib merahasiakan segala keteranagan yang didapat dari pemeriksaan tersebut
7. wajib mengusut pelanggaran
55Pasal 11 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.03/Men/1984 tentang Pengawasan Ketenagakerjaan Terpadu
Pengawasan ketenagakerjaan berfungsi untuk memperkecil pelanggaran terhadap norma kerja, sehingga proses hubungan kerja dapat berjalan dengan baik dan harmonis. Pengawasan ketenagakerjaan merupakan unsur penting dalam perlindungan tenaga kerja, sekaligus sebagai upaya penegakan hukum ketenagakerjaan secara menyeluruh,56 dikarenakan kondisi persyaratan kerja bagi pekerja (Narapidana) belum dapat dikatakan cukup hanya dengan penetapan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan saja, agar hukum ketenagakerjaan dipatuhi, maka perlu eksistensi dan peran aktif dari pegawai pengawas ketenagakerjaan.
Dalam hal tugas pokok dan fungsi pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang sudah diatur dalam Uraian tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:
Pasal 21
(1) Bidang Pengawasan melaksanakan tugas pokok dari pengawasan ketenagakerjaan.
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok berdasarkan ayat (1), Bidang Pengawasan mempunyai fungsi :
1. perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis di Bidang Pengawasan;
2. pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan teknis pengawasan ketenagakerjaan;
3. penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di dalam bidang pengawasan ketenagakerjaan;
4. pengumpulan dan pengolahan data sebagai bahan penyusunan rencana program pelaksanaan pembinaan dan pengawasan norma kerja, norma Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan norma jaminan sosial tenaga kerja;
5. pengawasan terhadap norma kerja, norma Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta norma Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek);
6. pelaksanaan fasilitasi di bidang pembinaan dan pengawasan ketenagakerjaan;
7. pelaksanaan Pelayanan Wajib Lapor Ketenagakerjaan (WLK);
56 Abdul Khakim, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2007 hlm. 123
8. penanganan dan penyelesaian kasus pengaduan masyarakat dan pekerja tentang adanya pelanggaran norma kerja dan peraturan ketenagakerjaan;
9. pelaksanaan penyidikan terhadap pelanggaran norma kerja, norma Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan norma jaminan sosial tenaga kerja;
10. pelaksanaan koordinasi dengan bidang lain dan/atau instansi terkait dalam rangka menegakkan hukum di bidang ketenagakerjaan;
11. pelaksanaan pembinaan dan pengawasan ketenagakerjaan;
12. pengawasan terhadap norma tenaga kerja wanita, anak dan penyandang cacat;
13. pengawasan lembaga penempatan dan pelatihan tenaga kerja;
14. penyiapan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak lanjut Hasil Pemeriksaan;
15. pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
16. pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional dan Prosedur (SOP);
17. Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
18. pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
19. pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
20. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas pokoknya.
Pasal 22
(1) Bidang Pengawasan, terdiri dari : 1. Seksi Norma Kerja;
2. Seksi Kesehatan dan Keselamatan Kerja;
3. Seksi Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
(2) Masing-masing Seksi dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
Dalam pemeriksaan lapangan, pegawai pengawas ketenagakerjaan seharusnya melakukan pengawasan secara langsung sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang sudah diatur dalam uraian tugas pokok dan fungsi diatas untuk membuktikan kebenaran dari data yang diberikan oleh pihak Lapas Klas I Malang dalam hal, hubungan kerja, waktu kerja, jaminan sosial serta hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan kerja Bengker otomotif dan las. Hal ini dilakukan guna melindungi hak-hak
dari pekerja (Narapidana) baik yang bekerja di Bengker otomotif dan las maupun Bengker lain yang terdapat di dalam Lapas Klas I Malang.
Namun berdasarkan wawancara dengan Ibu Ida Sriwahyuni selaku Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Pengawas Ketenagakerjaan Kota Malang tentang pengetahuan pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang tentang Bengker otomtoif dan las adalah sebagai berikut (Tanggal 9 Mei 2017, pukul 12.50 di dalam kantor pengawasan ketenagakerjaan Kota Malang):57
“Kalau setahu saya, dulu kami melakukan pengawasan ya di kerajinan tangan itu mas, waktu itu kami mengamati dan mengawasi kegiatan kerja di bagian kerajinan tangan itu, dari situ kami menilai bahwa disitu tidak ada resiko kecelakaan kerja. Kalau ditanya soal Bengker otomotif dan las kami tidak mengetahuinya, saya baru tahu kali ini kalau ada Bengker otomotif dan las”.
Hasil-hasil temuan dalam pemeriksaan lapangan tersebut dicatat dalam laporan hasil pemeriksaan pengawasan ketenagakerjaan yang memuat suatu kesimpulan.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil analisa dari temuan-temuan di lapangan yang didapatkan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan pada saat melakukan pengawasan di dalam Bengker otomotif dan Las. Laporan hasil pemeriksaan yang dibuat oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan tersebut kemudian disampaikan kepada pimpinan Kepala Sub Dinas Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Kota Malang.
Kemudian laporan individu tersebut direkapitulasi dalam formulir yang telah ditetapkan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor:
PER.09/MEN/V/2005 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan Pelaksanaan Pengawasan Ketenagakerjaan.
57 Hasil wawancara dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Pengawas Ketenagakerjaan Kota Malang, Ida Sri Wahyuni, 9 Mei 2017, pukul 12.50, di dalam Kantor Pengawasan Ketenagakerjaan Kota Malang
Selanjutnya menurut keteranagan dari Ibu Ida Sriwahyuni selaku Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Pengawas Ketenagakerjaan Kota Malang (Tanggal 9 Mei 2017, pukul 13.00 di dalam kantor pengawasan ketenagakerjaan Kota Malang):58
“Dulu pada Tahun 2012 kami pernah melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja yang dilaksanakan oleh Lapas Klas I Malang, kami hanya pernah melakukan pengawasan satu kali yaitu pada Tahun 2012. Kami pada waktu itu hanya melakukan pengawasan pada Bengker unit kerajinan tangan dan sebenarnya kami menyadari, kami seharusnya membantu para Napi yang bekerja itu ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Selanjutnya kami tidak melakukan pengawasan lagi sampai dengan Tahun 2017”.
Dengan tidak dilakukannya lagi pengawasan secara berkala oleh pengawas ketenagakerjaan Kota Malang, mengakibatkan Bengker otomotif dan las tidak mendapatkan pengawasaan. Bahkan pihak pengawas ketenagakerjaan Kota Malang tidak mengetahui kegiatan kerja Bengker otomotif dan las Lapas Klas I Malang.
Sehingga data pengawasan yang dijadikan tolak ukur adalah data pengawasan pada Tahun 2012 di Bengker unit kerajinan tangan. Berdasarkan hasil wawancara,59 pihak pengawas ketenagakerjaan menyadari bahwa Bengker otomotif dan las seharusnya mendapatkan perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK. Karena hal ini berkaitan juga dengan keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las.
Hal-hal yang menjadi hambatan pegawai pengawas ketenagakerjaan Kota Malang dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan kerja Lapas Klas I Malang sehingga pengawasan tidak dapat dilakukan secara optimal antara lain:
58 Hasil wawancara dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Pengawas Ketenagakerjaan Kota Malang, Ida Sri Wahyuni, 9 Mei 2017, pukul 13.00, di dalam Kantor Pengawasan Ketenagakerjaan Kota Malang
59 Ibid
1. Pegawai pengawas ketenagakerjaan hanya melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja Lapas Klas I Malang sebanyak satu kali, yaitu pada Tahun 2012. Pengawasan tersebut ditujukan terhadap kegiatan kerja Bengker unit kerjainan tangan bukan pada Bengker otomotif dan las. sehingga pegawai pengawas ketengakerjaan tidak mengetahui keberadaan kegiatan kerja Bengker otomotif dan las. Padahal seharusnya pengawasan dilakukan secara berkala setiap satu tahun sekali agar kegiatan kerja dapat dikontrol dengan maksimal khususnya kegiatan kerja Bengker otomtif dan las.
2. Tidak adanya koordinasi dari pihak pegawai pengawas ketenagakerjaan dengan pihak Lapas Klas I Malang. Sehingga pihak pengawas ketenagakerjaan merasa kesulitan untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja khusunya Bengker otomotif di las Lapas Klas I Malang.
Menurut keterangan pegawai pengawas ketenagakerjaan, pegawai pengawas merasa kesulitan dalam menyiapkan dokumen-dokumen yang digunakan untuk pengawasan dikarenakan proses untuk memasuk Lapas Klas I Malang sulit, sehingga pihak pegawai pengawas ketenagakerjaan tidak melakukan pengawasan terhadap kegiatan kerja khususnya Bengker otomotif dan las Lapas Klas I Malang.
c. Kultur Hukum
Struktur dan substansi adalah komponen-komponen riil dari sebuah sistem hukum, tetapi semua itu paling jauh hanya cetak biru atau rancangan bukan sebuah
mesin yang tengah bekerja. Persoalannya, pada struktur dan substansi tradisional semua itu bersifat statis, mereka seperti foto diam dari sebuah sistem hukum gambar tak bernyawa dan bias. Gambaran itu tidak menampilkan gerak dan kenyataan. Yang memberi nyawa dan realitas pada sistem hukum adalah dunia sosial eksternal. Sistem hukum tidak terisolasi atau terasing, ia bergantung secara mutlak pada input-input dari luar.60
Kekuatan-kekuatan sosial terus-menerus menggerakkan hukum, merusak disini, memperbaharui disana, menghidupkan disini, mematikan disana, memilih bagian mana dari hukum yang akan beriperasi, mana yang tidak. Karena tidak ada istilah lain yang lebih tepat lagi, kita bisa namakan sebagian dari kekuatan-kekuatan ini sebagai kultur hukum. Kultur hukum adalah elemen sikap dan nilai sosial. Kekuatan-kekuatan sosial itu sendiri merupakan sebuah abstraksi. Namun begitu, kekuatan-kekuatan demikian tidak secara langsung menggerakkan sistem hukum. Orang-orang dalam masyarakat memiliki kebutuhan dan membuat tuntutan-tuntutan, semua ini kadang menjangkau dan kadang tidak menjangkau bergantung pada kulturnya.61
Dengan begitu kultur hukum mengacu pada bagian-bagian yang ada pada kultur umum, adat kebiasanaan, opini, cara bertindak dan berpikir yang mengarahkan kekuatan-kekuatan sosial menuju atau menjauh dari hukum dan dengan cara-cara tertentu. Suatu sistem hukum dalam operasi aktualnya merupakan sebuah organisme kompleks dimana struktur, substansi dan kultur berinteraksi. Untuk menjelaskan latar
60 Lawrence M. Friedman, Op.cit., hlm 14
61 Lawrence M. Friedman, Op.cit., hlm. 17
belakang dan efek dari setiap bagiannya diperlukan peranan dari banyak elemen sistem tersebut.62
Riset terkini memulai mengeksplorasi perbedaan yang terdapat pada pengetahuan hukum dan sikap-sikap terhadap hukum pada level nasional.63 Tentu saja sikap-sikap hanyalah sebagian dari kisah utuhnya. Kultur hukum penting karena sikap-sikap akan membantu terbentuknya tuntutan-tuntutan riil terhadap sistem hukum, yang menjadi penentu adalah sikap-sikap tersebut mengejawantah menjadi perilaku. Kultur membentuk struktur, pada gilirannya struktur mempengaruhi sikap-sikap, karena struktur mendefinisikan apa yang mungkin berlangsung, menentapkan apa yang dipandang lazim, dan menjelaskan dalam lingkaran apa pikiran dalam kultur tersebut harus berputar. Lebih dari itu struktur merupakan bukti penting mengenai sikap, suatu pola struktural yang konsisten akan membukakan dan menjelaskan sikap-sikap dibaliknya, seperti halnya pakaian yang mengikuti garis tubuh.64
Kultur hukum menyangkut budaya hukum yang merupakan sifat manusia (termasuk budaya hukum pada struktur) teradap sistem hukum. Sebaik apapun penataan struktur hukum untuk menjalankan aturan hukum dan sebaik apapun kualitas substansi hukum yang dibuat tanpa didukung budaya hukum maka penegakan hukum tidak akan efektif. Kita bisa membedakan antara kultur hukum eksternal dan kultur hukum internal. Kultur hukum eksternal adalah kultur hukum
62 Lawrence M. Friedman, Op.cit., hlm. 17-18
63 Adam Podgorecki et.al., Knowledge and Opinion About Law (1973), untuk deskripsi mengenai proyek-proyek lain yang tengah dilaksanakan, Sociologie du Droit et de la Justice(1970) sebuah laporan pertemuan Internasional Sociological Association Tahun 1969, Research Committee on Sociology of Law, Dikutip oleh Lawrence M. Friedman Sistem Hukum:Perspektif Ilmu Sosial, diterjemahkan dari buku Lawrence M. Friedman, The Legal System: A Social Science Perspective (New York: Russel Sage Foundation, 1975) Bandung: Nusa Media, 2015hlm. Hlm. 271
64 Lawrence M. Friedman, Op.cit., hlm. 271
yang ada pada populasi umum, kultur hukum internal adalah kultur hukum para anggota masyarakat yang menjalankan tugas-tugas hukum, tetapi hanya masyarakat dengan para spesialis hukum yang memiliki suatu kultur hukum internal.65 Pada penelitian ini, yang menjadi hambatan dalam perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las jika dilihat dari kultur hukum, ada dua faktor yaitu:
1. Kultur Eksternal:
a. Pekerja (Narapidana) 2. Kultur Hukum Internal:
a. Petugas Bengker otomotif dan las Lapas Klas I Malang b. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan Kota Malang 1. Kultur Eksternal
a. Pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las
Pertama peneliti membahas hambatan yang terdapat di dalam kultur pekerja (Narapidana) mengenai perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las. Jika dilihat dari sisi substansi, pekerja (Narapidana) adalah pekerja yang seharusnya dilindungi.
Berdasarkan substansi, pekerja Narapidana sudah mendapatkan hak sesuai dengan UU Permasyarakatan yang sudah dijelaskan peneliti di atas yaitu :
Pasal 14 ayat (1), Narapidana berhak:
a. melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya b. mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani c. mendapatkan pendidikan dan pengajaran
65 Lawrence M. Friedman, Op.cit., hlm. 292
d. mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak e. menyampaikan keluhan
f. mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti sairan media masssa lainnya yang tidak dilarang
g. mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan
h. menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya i. mendapatkan pengurangan masa pidana
j. mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga k. mendapatkan pembebasan bersyarat
l. mendapatkan cuti menjelang bebas dan
m. mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Dari penjelasan diatas, hak dari pekerja (Narapidana) sudah diatur dengan jelas dalam Pasal 14 ayat (1) UU Permasyarakatan, namun kemabali lagi pada kultur pekerja (Narapidana) Bengker ototmoif dan las yang sebagian besar tidak mengetahui tentang hak-hak mereka terutama dalam hal perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK. Berdasarkan hasil wawancara dengan 12 orang pekerja (Narapidana), hanya 2 orang yang mengetahui tentang pengaturan dan manfaat JKK, 10 orang lainnya tidak mengetahuinya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las, hambatan dari sisi kultur eksternal disini disebabkan karena latar belakang pendidikan para pekerja (Narapidana) yang kurang, diantaranya merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Mengah Atas (SMA). Dengan latar belakang pendidikan yang kurang seperti disebutkan diatas, sangatlah mempengaruhi pengetahuan mereka mengenai hak-hak mereka di bidang ketenagakerjaan, khususnya pada jaminan sosial mengenai JKK. Sehingga meskipun mereka tidak diikutsetakan dalam program JKK,
mereka tidak mengetahuinya dan hal tersebut sangat merugikan para pekerja (Narapidana) karena JKK tersebut merupakan hak mereka.
Selain latar belakang pendidikan yang kurang, pekerja (Narapidana) juga merasa pasrah dengan keadaan Bengker otomotif dan las, karena mereka berpendapat bahwa hak-hak mereka dalam mendapatkan perlindungan lebih dalam hal penanganan kecelakaan kerja sulit. Menurut keterangan T selaku pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las (Tanggal 2 Mei 2017, pukul 11.15, di dalam Bengker otomotif dan las):66
“Sebenarnya kami ingin mendapatkan perlakuan lebih mas, dalam hal kecelakaan kerja maupun hak-hak lain, karena kami sudah berkelakuan baik dengan mendaftarkan diri sebagai pekerja (Narapidana) Bengker otomtoif dan las, sehingga kami ingin diperlakukan lebih daripada Narapidana lain yang tidak bekerja pada Bengker, seperti dapat pengurangan hukuman begitu”.
Dari hasil wawancara yang sudah dijelaskan diatas, bahwa kultur eksternal sangatlah berpengaruh dalam proses penegakan hukum, sehingga untuk mewujudkan perlindungan hukum atas hak memperoleh JKK bagi pekerja Bengker otomotif dan las perlu adanya peran dari kultur eksternal. Namun pada kenyataannya, kultur eksternal yang di dalamnya adalah pekerja (Narapidana) Bengker otomotif dan las tidak begitu membantu dalam proses penegakan hukum karena latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
66 Hasil wawancara dengan T pekerja (Narapidana) yang bekerja di Bengker otomotif dan las Tanggal 2 Mei 2017, pukul 11.15, di dalam Bengker otomotif dan las