• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENDIDIKAN MORAL DI ERA LOBALISASI

B. Relevansi Pendidikan Moral Zakiah Daradjat di Era

2. Pilar-pilar Pendidikan Moral

Berbagai kenyataan dan realitas yang menghambat bagi terlaksananya pendidikan moral,…sebagai pilar-pilar pendukung

70

pendidikan karakter tersebut kian hari tampak semakin parah dan lemah (Nata, 2013:154) keadaan tersebut jika tidak diatasi, maka pendidikan yang diharapkan dapat mengatasi dekadensi moral dan akhlak bangsa ini akan sulit diwujudkan. Selanjutnya untuk merealisasikan pendidikan moral Zakiah Daradjat membagi tiga pilar utama lembaga pendidikan diantaranya sebagai berikut:

a. Pendidikan Moral dalam Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam buku The National Studi on Family Strength, Nick

dan De Frain (Mahmud, 2011:99) mengemukakan beberapa hal

tentang pegangan menuju hubungan keluarga dan bahagia, yaitu:

Pertama, Terciptanya kehidupan keberagamaan dalam keluarga

Kedua, Tersedianya waktu untuk bersama keluarga

ketiga, Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak

keempat, Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi

dan kondisi yang sehat.

Seiring kriteria keluarga yang diungkapkan diatas, maka dapat ditarik benang merah bahwa fungsi keluarga yang terdiri dari fungsi biologis, edukatif, religious, protektif, sosialis dan ekonomis. Dari fungsi tersebut fungsi religius dianggap fungsi paling penting karena sangat erat kaitanya dengan edukatif, sosialisasi dan protektif. Jika fungsi keagamaan dapat dijalankan, maka keluarga tersebut akan

71

memiliki kedewasaan dengan pengakuan pada suatu system dan ketentuan norma beragama yang direalisasikan dalam lingkungan sehari-hari termasuk lingkungan keluarga. Sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Baqarah ayat 132:



































Artinya: “Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak- anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak- anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Sejalan dengan hal tersebut Zakiah dalam gagasanya memberikan saran bahwa sudah menjadi keharusan dalam pendidikan moral keluarga, yang pertama kali harus diperhatikan adalah bagaimana terjalinya hubungan baik antara bapak dan ibu, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka bisa menjadi contoh bagi anak- anaknya. Pendidikan moral sudah harus mulai dilaksanakan sejak anak kecil dengan cara membiasakan mereka kepada peraturan yang baik, benar, jujur, adil dan perilaku terpuji lainya. Hal tersebut akan lebih dapat dirasakan akibatnya jika dilakukan dengan pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari (Daradjat, 1977:20).

Zakiah memberikan point yang terpenting yaitu keteladanan orang tua, dengan norma yang baik yang dilandaskan pada Pancasila

72

yang dijiwai oleh sila pertama yaitu ketuhanan Yang maha Esa dalam hal ini adalah norma agama.

Seringkali orang menyangka bahwa pendidikan agama dalam keluarga adalah pemberian pelajaran agama kepada anak. Anggapan tersebut dirasa kurang tepat karna pada hakikatnya yang dimaksud adalah pembinaan jiwa agama pada anak. Atau dengan kata lain

pembinaan pribadi” anak sedemikian rupa sehingga segala tindak

tanduknya dalam hidup, sesuai dengan ajaran agama.

Dalam agama terdapat kewajiban yang dibebankan kepada orang tua, mulai dari anak lahir, misalnya dengan mengadzankanya. Setelah itu mendidik dan memperlakukanya sesuai dengan ajaran agama. Berkaitan dengan hal tersebut sebagaimana pendapat salah sorang tokoh Psychoterapy, yang mengatakan bahwa:

Setiap pengalaman yang dilalui anak dalam hidupnya baik melalui penglihatan, pendengaran, perlakuan yang diterimanya, dan sebagainya ikut menjadi bagian yang membentuk pribadinya. Maka anak yang sering mendengar orang tuanya megucapkan nama Allah, akan mulai mengenal Allah, yang kemudian dapat menolong bertumbuhnya jiwa agama padanya. Dan apabila anak sering melihat orang tuanya ibadah, maka hasil penglihatanya itupun merupakan bibit lainya dalam pembinaan jiwa agama padanya. Demikian selanjutya dengan pergaulan orang tua sesama mereka, perlakuan yang diterimanya secara pribadi atau bersama- sama dengan saudara-saudaranya, jika mencerminkan kasih sayang dan ketentraman, akan bertumbuh pulalah pada jiwanya rasa kasih sayang dan rasa aman. Hal itu akan menolongnya dalam mencintai Tuhan. Tapi sebaliknya, jika pengalaman yang dilalui anak dalam masa permulaan dari pembinaan pribadi (dalam keluarga), jauh dari unsur keagamaan maka akan jauh pulalah rasa agama anak dan pribadinya kosong dari agama (Daradjat, 1977).

73

Oleh karena itu menjadi suatu keniscayaan bahwa keluarga merupakan pondasi pertama bagi terbentuknya nilai moral untuk keberlangsungan bangsa yang bermartabat. Apalagi di dunia era globalisasi sekarang ini yang memiliki banyak sekali tantangan yang berbeda dan lebih berfariatif.

b. Pendidikan moral di Sekolah

Pendidikan moral dalam sekolah, diusahakan supaya sekolah menjadi lapangan yang baik bagi penumbuhan dan perkembangan mental dan moral peserta didik, disamping sebagai tempat pemberian pengetahuan, pendidikan ketrampilan, pengembangan bakat dan kecerdasan sekolah juga mampu menjadi lapangan sosial yang baik, dimana pertumbuhan mental, moral, sosial dan segala aspek kepribadian dapat tumbuh dan berkembang (Daradjat, 1977:21).

Di dalam sekolah pendidikan agama juga haruslah dilakuan dengan intensif, baik dari segi ilmu maupun amal agar dapat dirasakan secara langsung oleh peserta didik (Daradjat, 1977:21). Hal ini juga dalam rangka mengembangkan didikan agama yang sudah diterimanya dirumah.

Bagi guru selain guru agamapun hendaknya menerapan prinsip agama dalam segala aspek pembelajaranya misalnya bagi guru olahraga ketika Praktik renang berlangsung, maka perlu menerapkan syariat Islam yaitu dengan cara memisahkan antara laki-laki dan

74

perempuan dan juga tidak mengizinkan murid perempuanya memakai pakaian renang yang ketat.

Ketika disekolah hal yang penting yang tidak boleh dianggap remeh adalah mengawasi pergaulan diantara murid-muridnya, apakah sudah mengarah kepada pergaulan yang sehat ataukah terbawa oleh pergaulan yang kurang sehat.

Hendaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik guru, pegawai, buku, perturan dan alat-alat) dapat membawa anak didik kepada pembinaan mental yang sehat, moral yang tinggi sehingga anak dalam pertumbuhanya dan jiwanya tidak goncang. Karena kegoncangan jiwa dapat menimbulkan perilaku yang tidak baik.

Disetiap sekolah sebisa mungkin harus ada kantor atau biro bimbingan dan penyuluhan, yang akan menampung dan memberikan tuntutan khusus bagi anak yang membutuhkanya. Dengan tujuan untuk mengurangi meluasnya kelakuan moral yang tidak baik kepada teman- temanya. Selain itu untuk menolong anak-anak yang memiliki gejala pada kerusakan moral, seperti yang akhir-akhir ini banyak terjadi perilaku yang dilakukan oleh siswa kepada gurunya.

Orang tua perlu memilih sekolah yang mengedepankan pembentukan moral, bukan hanya sekolah yang mengejar prestasi akademik (being smart) namun mengabaikan moral (being good). Hasil riset menunjukkan bahwa IQ hanya menyumbang sekitar 20%

75

bagi kesuksesan anak, yang lain (80%) adalah faktor kecerdasan yang lain, seperti kejujuran, disiplin, setian kawan, komitmen, tanggung jawab, yang semuanya itu masuk dalam kawasan moral. Orang tua dalam mengawal perkembangan anak agar anak dapat berkembangan sesuai dengan potensi awal yang dimilikinya (http://www.infodiknas.com/pendidikan-moral-dalam-keluarga-

modern-perspektif-ekologi-sosial.html10:32 8/11/2016)

Dalam rangka membentuk anak yang bermoral melalui sekolah, orang tua harus proaktif melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan anaknya di sekolah. Sayangnya hal ini tidak mudah, karena beberapa orang tua mempunyai pemahaman yang keliru ketika anak- anak mereka masuk sekolah, mereka melepaskan tanggung jawab dan membiarkan sekolah mengambil alih sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak-anak mereka. Mereka kurang menyadari bahwa keluarga dan sekolah harus bekerja sama dalam kemitraan untuk mengembangkan sepenuhnya potensi anak-anak. Ketika seorang anak pergi ke sekolah, ia memperoleh nilai-nilai, sikap, dan pengetahuan baru yang harus diperkuat oleh keluarga. Ketika keluarga gagal mensuport pembelajaran hal-hal yang baru, anak mungkin akan terperangkap di antara nilai-nilai yang berbeda dan menjadi bingung.

Tidak selayaknya jika orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah atas urusan pendidikan anaknya dengan alasan apapun,

76

karena orang tua bersama anggota keluargalah yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan performa anak.

c. Pendidikan Moral Dalam Masyarakat

Pendidikan moral dalam masyarakat, sebelum menghadapi pendidikan anak, apabila didalam masyarakat itu memang sudah ada kerusakan moral maka perlu adanya perbaikan yang dimuai dari diri sendiri, keluarga dan orang terdekat. Karena kerusakan moral sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak (Daradjat, 1977:22).

Mengusahakan supaya masyarakat, pimpinan dan penguasanya menyadari betapa pentingnya masalah pendidikan anak, terutama pendidikan agama

Lingkungan sosial juga termasuk salah satu element sosial yang mempengaruhi performa moral anak. Sebagaimana telah disinggung di bagian awal, bahwa anak akan terpengaruh dengan segala interaksi yang dijumpainya. Anak menganggap apa yang disaksikan di sekelilingnya sebagai kebenaran yang harus diikutinya. anak belum memiliki daya selektif yang tinggi terhadap berbagai hal yang ada di sekitarnya.

Para orang tua perlu memperjuangkan penciptaan lingkungan sosial yang baik, yang dapat mengapresiasi nilai-nilai kebaikan dalam pergaulan. Mereka juga perlu berusaha untuk menghilangkan faktor- faktor pemicu yang dapat munculkan perilaku amoral dalam lingkungan sosialnya. Usaha penciptaan lingkungan sosial yang baik

77

ini dilakukan sebagai perwujudan tanggung jawab bersama dalam pendidikan antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

Kesepakatan penciptaan lingkungan yang baik ini dapat diwujudkan dalam bentuk aturan-aturan sosial yang dimaksudkan untuk melindungi anak-anak dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Misalnya pemberlakuan jam belajar malam antara jam 19.00 – 21.00, pendirian sanggar belajar di lingkungan, poster-poster moral, sosialisasi pendidikan anak pada berbagai pertemuan lingkungan, gerakan sosial untuk keluarga kurang mampu, dan sebagainya

Dokumen terkait