• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGEMBANGAN SPAL

4.3. PENGEMBANGAN DAERAH PELAYANAN

4.3.1. Pilihan Arah Pengembangan

Strategi sanitasi bisa dirumuskan dengan menganalisis SWOT isu-isu strategis dan kemungkinan hambatan tersebut, yakni dengan analisis S-O, S-T, W-O, dan W-T. Selanjutnya, hasilnya menjadi strategi sanitasi kota/kabupaten yang mencakup semua sub sektor (teknis) dan seluruh aspek non teknis (kelembagaan, keuangan, partisipasi masyarakat, komunikasi, peran swasta).

Seperti telah dijelaskan di atas, untuk merumuskan strategi aspek non teknis, akan dipergunakan analisis SWOT. Analisis SWOT (strong, weakness, opportunity, threat) adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisis SWOT dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, yaitu:

a. Penentuan faktor internal dan eksternal.

b. Penentuan bobot dan nilai dari faktor internal dan eksternal.

c. Penggunaan analisis SWOT matriks untuk menghasilkan alternatif strategi (S-O, S-T, W-O dan W-T).

Laporan Akhir IV-5 Gambar 4.1. Diagram Pemilihan Alternatif Pengolahan

Laporan Akhir IV-6 Faktor Internal Dan Eksternal

Faktor internal yaitu segala kondisi dan komponen internal pengembangan sanitasi di Kota Banjarbaru yang secara strategis berpengaruh besar terhadap kemungkinan keberhasilan pengelolaan air limbah, sedangkan faktor eksternal kondisi lingkungan makro yang berpengaruh terhadap pengembangan sanitasi, meliputi:

a. Faktor Internal

1. Kekuatan (strong), adalah semua potensi pengembangan sanitasi yang ada di dalam kota/kabupaten seperti halnya; adanya kebijakan daerah dalam pengelolaan sanitasi, ketersediaan lembaga yang mengelola sanitasi (operator-regulator), ketersediaan prasarana dan sarana sanitasi, adanya anggaran dari APBD yang memadai, ketersediaan SDM yang berkualitas, adanya keterlibatan pelaku bisnis dan sebagainya.

2. Kelemahan (weakness), adalah semua permasalahan pengembangan sanitasi yang ada di dalam kota/kabupaten, seperti halnya;

belum adanya peraturan daerah yang terkait dengan sanitasi, rendahnya anggaran APBD, rendahnya kualitas SDM, belum adanya pelibatan swasta dan masyarakat dan sebagainya.

b. Lingkungan Eksternal:

1. Peluang (opportunity) ,adalah potensi dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pengembangan sanitasi di kota/ kabupaten, seperti adanya program dana hibah sanitasi, adanya peningkatan anggaran sanitasi dalam APBN, adanya program sanitasi dari Negara donor (Amerika dan Australia) dan sebagainya.

2. Ancaman (threat), permasalahan dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pengembangan sanitasi di kota/ kabupaten, seperti; kondisi fisik wilayah kabupaten, perkembangan dan kepadatan penduduk dan sebagainya.

Analisis Faktor Internal

Analisis faktor strategi internal merupakan evaluasi lingkungan internal untuk mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman sebelum strategi diterapkan mengingat hal ini dapat mempengaruhi penentuan strategi di masa yang akan datang.

Evaluasi internal dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator guna mendapatkan gambaran mengenai kinerja pengelolaan air limbah.

Diharapkan dari hasil evaluasi internal yang diperoleh dapat menghasilkan keluaran berupa langkah-langkah strategis guna menangani pengelolaan air limbah yang lebih baik.

Dalam tahapan evaluasi ini akan dilakukan pembandingan antara kondisi masing-masing tolok ukur eksisting di lapangan dengan kriteria ideal masing-masing tolok ukur yang dikumpulkan dari peraturan serta dari berbagai literatur yang ada.

4.3.1.1. Kekuatan

1. Adanya Lembaga Pengelola Air Limbah

Telah ada lembaga yang mengelola (operator) air limbah, yaitu Kantor Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru pada Seksi Pengendalian Dampak Lingkungan.

2. Keikutsertaan dalam Program PPSP

Adanya kesungguhan upaya pemerintah Kota Banjarbaru untuk meningkatkan kinerja pengelolaan air limbah secara optimal dengan mengikuti Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) .

4.3.1.2. Kelemahan

1. Belum Adanya Pemisahan Fungsi Regulator dan Operator

Pemerintah Kabupaten belum memisahkan fungsi regulator dan operator untuk pengelolaan air limbah.

2. Kedudukan Lembaga Pengelola Masih Setingkat Seksi

Kelembagaan pengelola air limbah di Kota Banjarbaru (regulator dan operator) masih setingkat seksi (seksi Pengendalian Dampak Lingkungan) sehingga terbatas SDM, pengawasan, pengembangan program dan anggaran.

3. Belum Adanya Perda Air Limbah

Belum memadainya perangkat Perda yang diperlukan dalam pengelolaan dan belum adanya Perda terkait Restribusi Air Limbah Permukiman.

4. Pembiayaan Melalui APBD

Walaupun setiap tahun APBD telah mengalolasikan dana untuk pengelolaan air limbah, namun jumlahnya masih tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan pengelolaan air limbah yang dibutuhkan.

5. Ketersediaan Sarana dan Prasarana

Kota Banjarbaru memiliki sarana dan prasarana dasar pengelolaan air limbah seperti IPLT (instalasi pengolah lumpur tinja) dan pengolahan limbah off site sistem tetapi belum memadai.

6. Pelayanan Air Limbah

Pelayanan pengelolaan air limbah di Kota Banjarbaru masih rendah dengan melihat kenyataan dilapangan meskipun angka pemakaian septic tank data dari dinkes tinggi. Terlihat dari hasil survey lapangan.

Laporan Akhir IV-7 7. Kualitas SDM

Masih rendahnya SDM (pengetahuan dan keterampilan) yang dimiliki dalam pengelolaan air limbah.

8. Partisipasi Lembaga Non Pemerintah

Hingga saat ini belum terdapat lembaga non-pemerintah, baik dalam bentuk Pengelola Air Limbah swasta maupun BUMD yang memiliki kegiatan usaha pengelolaan air limbah domestik.

9. Ketersediaan Produk Perencanaan

Belum ada perencanaan untuk pengelolaan air limbah, seperti masterplan, DED untuk pengembangan on site system komunal (sanimas dll) dan off site sistem, maupun IPLT yang sesuai standart.

Dalam menentukan bobot setiap variabel digunakan skala 1,2,3, dan 4 dengan keterangan sebagai berikut : 1 = sangat tidak penting

2 = tidak penting 3 = penting

4 = sangat penting

Tabel 4.2. Penilaian Faktor Internal

Faktor Kunci Internal Bobot Peringkat Skor Tertimbang

A B C

Kekuatan

Adanya Lembaga Pengelola Air Limbah 4 4 16

Keikutsertaan dalam Program PPSP 4 4 16

Adanya Pokja Sanitasi 4 4 16

Ketersediaan Sarana dan Prasarana 4 1 4

Pelayanan Air Limbah 4 1 4

Kualitas SDM 3 2 6

Partisipasi Lembaga Non Pemerintah 4 2 8

Ketersediaan Produk Perencanaan 4 1 4

Jumlah 42

Analisis Faktor Eksternal

Penilaian kondisi eksternal dimaksudkan untuk mengetahui posisi pengelolaan air limbah dalam lingkungan eksternalnya sehingga akan dapat diketahui peluang dan ancaman yang dihadapi dan memberikan pilihan strategi umum yang sesuai serta dapat dijadikan dasar untuk memilih strategi guna mencapi sasaran-sasaran yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan para stakeholder.

Untuk menganalisis faktor-faktor eksternal perlu dikenali kekuatan kunci faktor-faktor ekstenal yang akan mempengaruhi kinerja pengelolaan air limbah, membuat proyeksi perkembangan faktor-faktor eksternal tersebut, menilai pengaruh kondisi tersebut terhadap upaya pengelolaan air limbah serta mengidentifikasikan faktor-faktor yang merupakan peluang dan ancaman.

Pengaruh kondisi diluar pengelola tidak selamanya merugikan, tetapi beberapa diantaranya merupakan faktor yang dapat menunjang operasional. Hal ini tergantung dari ketepatan penganalisaan dalam menilai unsur-unsur eksternal yang mempengaruhi, serta ketepatan dalam menghadapi kondisi di eksternal tersebut.

4.3.1.3. Peluang

1. Dukungan Pembiayaan APBN

Pemerintah pusat berencana menganggarkan hingga Rp14 trilun untuk keperluan sanitasi yang terprogram hingga lima tahun ke depan (2010-2015), naik lima kali daripada sebelumnya. (Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono)

2. Dukungan Dari Negara Donor

Adanya dana dari negara donor untuk pengembangan sanitasi antara lain : program IUWASH (indonesia urban water, sanitation and hygiene) dari USAID dan program IndII dari AusAID. Pemerintah Australia melalui AusAID akan memberikan dana hibah total sekitar AUD 40 juta atau Rp 10 Miliar per kota/kabupaten yang berminat dalam Program Percepatan Hibah Pembangunan Sanitasi tahun 2012-2014 dalam program Australia Indonesia Infrastructure Grants for Sanitation (AIIGS) (Direktur Bina Program, Antonius Budiono).

3. Pendanaan Melalui CSR

Laporan Akhir IV-8 Peluang program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa Perusahaan yang konsen dalam pengelolaan Air Limbah di Kota Banjarbaru.

4. Dukungan Kebijakan Pemerintah Pusat

Pemerintah Pusat melaksanakan kebijakan Bidang Sanitasi yang terintegrasi antar Departemen khususnya program PPSP.

5. Ketersediaan NSPM

Untuk mendukung kebijakan pengelolaan sanitasi Pemerintah Pusat telah menerbitkan pedoman dan standar yang berkaitan dengan pengelolaan air yang dapat dijadikan acuan dalam perencanaan dan pengelolaan air limbah.

4.3.1.4. Ancaman

Sesuai hasil proyeksi kepadatan penduduk tahun 2034 masing-masing wilayah Kecamatan, maka terdapat beberapa wilayah yang memiliki kepadatan rata2 577 Jiwa/Ha

Dalam menentukan peringkat setiap variabel digunakan skala 1, 2, 3, dan 4 dengan keterangan sebagai berikut : 1 = sangat lemah

2 = tidak begitu lemah 3 = cukup kuat

4 = sangat kuat

Perangkingan didapatkan dari hasil wawancara atau survey dengan aparat pemerintah, masyarakat, dll.

Tabel 4.3. Penilaian Faktor Eksternal

Faktor Kunci Ekternal Bobot Peringkat Skor Tertimbang

Dukungan Kebijakan Pemerintah Pusat 3 3 9

Ketersediaan NSPM 3 3 9

Setelah dilakukan analisis kondisi internal dan eksternal pengelolaan air limbah yang dilakukan melalui analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities & Threats) selanjutnya posisi pengelolaan air limbah saat ini. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan strategi pengembangan pengelolaan air limbah dan prioritas program.

Melalui analisis SWOT ini dan posisi pengelolaan air limbah akan dapat menentukan:

a. Posisinya terhadap lingkungannya saat ini dan mengetahui potensi pengembangan Pengelola Air Limbah dimasa yang akan datang.

b. Menentukan prioritas sasaran dan program Pengelola Air Limbah selama kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan.

Dalam menganalisis kondisi ekternal dan internal Pengelola Air Limbah terdapat 4 pilihan strategi posisi, sebagai berikut;

a. Posisi survival/defensif apabila kondisi eksternal tidak menguntungkan dan kelemahan lebih banyak daripada kekuatan.

b. Posisi stabil/rasionalisasi apabila kondisi eksternal cukup mendukung namun kelemahan lebih banyak daripada kekuatan.

c. Posisi pertumbuhan agresif, apabila kondisi eksternal cukup mendukung dan kekuatan lebih banyak dari pada kelemahan.

d. Posisi yang memerlukan diversifikasi oritentasi, apabila kondisi eksternal tidak menguntungkan, tetapi kekuatan lebih banyak daripada kelemahan.

Menghitung posisi kuadran dengan mengurangkan nilai skor total untuk kekuatan dengan kelemahan (sumbu x), serta mengurangkan nilai skor total peluang dan ancaman (sumbu y),

sehingga diperoleh kuadran kelembagaan (x,y).

Perhitungan:

 Sumbu-X = Selisih Kekuatan dan Kelemahan (Kekuatan – Kelemahan)

 Sumbu-Y = Selisih Peluang dan Ancaman (Ancaman – Peluang)

Laporan Akhir IV-9 Gambar 4.2. Matriks SWOT Kota Banjarbaru

Berdasarkan penilaian analisis SWOT, posisi pengelolaan air limbah Kota Banjarbaru berada di kuadran IV (ST). Pada kondisi ini aspek ekternal cukup mendukung namun kekuatan lebih banyak daripada kelemahan. Untuk lebih jelasnya posisi pengelolaan air limbah dapat dilihat pada gambar berikut:

Pengembangan Strategis

Berdasarkan matriks Analisis SWOT ini dapat menghasilkan 4 (empat) kemungkinan Strategi yang akan dirumuskan dan akan menjadi acuan pengembangan pengelolaan air limbah.

a. Strategi SO, Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.

b. Strategi ST, adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada.

c. Strategi WO, Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan.

d. Strategi WT, strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

Dan untuk lebih jelasnya dapat digambarkan melalui tabel berikut:

Tabel 4.4. Strategi Pengelola Air Limbah Berdasarkan Analisis SWOT IFAS

Melalui matriks ini, strategi dalam bentuk detail dapat ditentukan dengan melakukan pilihan yang paling tepat terhadap alternative-alternatif strategi yang ada. Pada prinsipnya masing-masing strategi tersebut memiliki karakteristik tersendiri, sehingga dapat digunakan secara

-45

Laporan Akhir IV-10 terpisah, namun juga dapat digunakan secara bersama-sama untuk saling mendukung. Keputusan menggunakan kemungkinan-kemungkinan alternatif strategi yang dimaksud, disesuaikan dengan posisi dan profil dari daerah yang bersangkutan dan prioritas yang hendak dicapai.

Secara diagramatis, keempat pilihan strategi Pengelola Air Limbah tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Matriks Strategi Pengelolaan Air Limbah Kota Banjarbaru IFAS

air limbah sesuai kondisi geografis Melaksanakan program pengelolaan air limbah sesuai kondisi geografis dan pemilihan teknologi yang tepat sasaran