BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep-konsep dan Definisi yang Digunakan
2.1.2 Pilihan dalam Melakukan Mobilitas Penduduk
Beberapa pilihan yang melandasi keputusan seseorang dalam melakukan mobilitas dapat dikaitkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dari setiap individu. Everet S. Lee (1976) menyebutkan volume migrasi di suatu wilayah berkembang sesuai dengan tingkat keanekaragaman daerah wilayah tersebut. Selanjutnya Lee menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk bermigrasi dapat dipengaruhi oleh empat faktor sebagai berikut :
1) Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat asal migran (origin). 2) Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat tujuan migran
(destination).
3) Faktor-faktor penghalang atau pengganggu (intervening factors). 4) Faktor-faktor yang berhubungan dengan individu migran.
Di daerah asal dan daerah tujuan ada faktor positif (+) maupun faktor negatif (-), adapula faktor netral (o). Faktor positif adalah faktor yang memberikan nilai menguntungkan kalau bertempat tinggal didaerah itu. Faktor negatif adalah faktor yang memberikan nilai negatif pada daerah yang bersangkutan sehingga seseorang ingin pindah dari tempat itu karena kebutuhan tertentu tidak terpenuhi. Faktor-faktor di tempat asal migran misalnya dapat berbentuk faktor yang mendorong untuk keluar atau menahan untuk tetap dan tidak berpindah. Di daerah tempat tujuan migran faktor tersebut dapat berbentuk penarik sehingga orang mau datang kesana atau menolak yang menyebabkan orang tidak tertarik untuk datang. Perbedaan nilai kumulatif antara kedua tempat tersebut cenderung menimbulkan arus migrasi penduduk.
Ketidaktersedian lahan serta penghasilan yang rendah di daerah tempat asal migran merupakan faktor pendorong untuk pindah, namun adanya ikatan kekeluargaan yang erat serta lingkungan sosial yang dinamis merupakan faktor yang menahan agar seseorang tidak pindah. Adanya upah yang tinggi, ketersediaan fasilitas pendidikan, iklim yang baik serta banyaknya kesempatan kerja yang menarik di daerah tempat tujuan migran merupakan faktor penarik untuk datang kesana namun ketidakpastian, resiko yang mungkin dihadapi, pemilikan lahan yang tidak pasti dan sebagainya merupakan faktor penghambat untuk pindah ke tempat tujuan migran tersebut. Transportasi dan komunikasi yang tidak lancar, jarak yang jauh, ongkos pindah yang tinggi, birokrasi yang tidak baik, pajak yang tinggi, serta informasi yang tidak jelas merupakan contoh faktor yang menghambat. Di pihak lain adanya informasi tentang kemudahan, seperti kemudahan angkutan dan sebagainya
merupakan intervening faktor yang mendorong migrasi. Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor individu, karena dialah yang menilai positif dan negatifnya suatu daerah, dia pulalah yang memutuskan apakah akan pindah dari daerah asal atau tidak, dan kalau pindah maka individulah yang akan memutuskan daerah mana yang akan dituju.
Sumber : Demografi Umum, 2003
Gambar 2.1
Faktor-Faktor Determinan Mobilitas Penduduk Menurut Everett S. Lee (1976)
Robert Norris (1972) dalam Mantra (2003) mengungkapkan bahwa diagram Lee perlu ditambah dengan tiga komponen yaitu migrasi kembali, kesempatan antara, dan migrasi paksaan (force migration). Kalau Lee menekankan bahwa faktor individu adalah faktor terpenting diantara empat faktor tersebut. Norris berpendapat lain bahwa faktor daerah asal merupakan faktor terpenting. Di daerah asal seseorang lahir, dan sebelum sekolah orang itu hidup di daerah tersebut, maka dia tahu benar tentang kondisi daerah asal, penuh dengan nostalgia ketika hidup dan berdomisili di
+ + + + + + -+ - -+ - -+ - -+ + + + -+ - -+ - -+ - -+ 2. Rintangan Antara (Intaervening astacles)
1. Daerah Asal 4. Individu 3. Daerah tujuan
Keterangan : + = faktor dimana kebutuhan dapat terpenuhi
- = faktor dimana kebutuhan tidak dapat terpenuhi 0 = faktor netral + + + + + + -+ - -+ - -+ - -+ + + + -+ - -+ - -+ - -+
daerah asal dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Itulah sebabnya, seseorang sangat terikat dengan daerah asal, walaupun sesudah berumah tangga harus pindah dan berdomisili di daerah lain, namun mereka tetap menganggap bahwa daerah asal (daerah tempat mereka dilahirkan) merupakan home pertama, dan daerah tempat mereka berdomisili sekarang merupakan home kedua. Berdasarkan hal diatas dapatlah dikatakan bahwa penduduk migran adalah penduduk yang bersifat bi local
population, sehingga dimanapun mereka tinggal pasti mengadakan hubungan dengan
daerah asal.
Hubungan migran dengan pedesaan atau desa asal di negara-negara berkembang dikenal sangat erat (Connel 1974 dalam Mantra 1994), sehingga menjadi salah satu ciri fenomena migrasi di negara-negara sedang berkembang. Hubungan tersebut antara lain diwujudkan dengan pengiriman uang, barang-barang, bahkan ide-ide pembangunan ke desa asal baik secara langsung maupun tidak langsung. Intensitas hubungan ini antara lain ditentukan oleh jarak, fasilitas transportasi, lama merantau, status perkawinan, atau jarak hubungan kekeluargaan, Mantra (1994) melihat adanya hubungan terbalik antara jarak dengan intensitas hubungan. Semakin dekat tempat tinggal migran, maka semakin tinggi fekuensi kunjungan ke desa asal.
Mantra (1992) mengungkapkan bahwa hubungan langsung mobilitas penduduk dapat bersifat periodik dan insidental. Bersifat periodik artinya bahwa kunjungan ke daerah asal bersifat rutin misalnya hari raya Galungan, Kuningan dan Nyepi. Pada peristiwa-peristiwa tersebut ada semacam kewajiban moral bagi para migran untuk berkunjung ke kampung halaman.
Galungan dan Kuningan merupakan peristiwa yang sangat penting yang merupakan suatu kesempatan yang baik untuk membina hubungan antara migran dengan keluarga yang lain, terutama dengan keluarga yang lebih tua yang masih hidup. Selain itu Nyepi juga merupakan peristiwa penting yang hanya terjadi setahun sekali, dimana pada hari raya tersebut para migran berkunjung ke kampung halaman dengan tujuan untuk membina hubungan dengan kerabat serta mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia. Namun tidak dipungkiri bahwa pada waktu itu juga merupakan kesempatan yang baik untuk membina hubungan sosial dengan keluarga atau kawan-kawan yang lain. Bersifat insidental menurut Mantra yaitu pada saat tertentu migran berkunjung ke kampung halaman karena salah seorang famili atau kawan meninggal dunia atau melaksanakan suatu upacara.
Rintangan antara
Sumber : Demografi Umum, 2003
Gambar 2.2
Faktor-Faktor Determinan Mobilitas Penduduk Menurut Robert E. Norris (1972)
0 -+ Daerah Asal -+ 0 -- + 0 + Daerah Tujuan + - + 0 Kesempatan Antara Migrasi Paksaan Migrasi Kembali
Rozy Munir (1990) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi ada dua, yakni faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong (daerah asal) tersebut misalnya makin berkurangnya sumber-sumber alam, menyempitnya lapangan pekerjaan akibat masuknya teknologi yang menggunakan mesin-mesin, tekanan atau diskriminasi politik dan SARA, tidak ada kecocokan secara adat dan budaya, perkawinan atau pengembangan karier pribadi, dan bencana alam. Faktor penarik (daerah perkotaan) antara lain adanya kesempatan kerja yang lebih baik, kesempatan mendapat pendidikan yang lebih tinggi, situasi yang menyenangkan di tempat tujuan, adanya tarikan dari orang yang diharapkan sebagai tempat berlindung di tempat tujuan, dan adanya aktivitas hiburan di perkotaan.
Mantra (2003) mengungkapkan bahwa teori kebutuhan dan stres (need and
stress) menjadi salah satu dasar seseorang dalam mengambil keputusan bermobilitas.
Setiap individu mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologi. Apabila kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi terjadilah tekanan (stress), dan tingkatan stress ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Secara umum tinggi rendahnya stress yang dialami oleh seseorang berbanding terbalik dengan proporsi pemenuhan kebutuhan tersebut.
Adapun stress yang dialami tersebut dapat dipilah menjadi dua, yaitu apabila
stress yang dialami seseorang masih dalam batas-batas toleransi, orang tersebut akan
memutuskan tidak akan pindah dan yang bersangkutan akan berusaha untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan kondisi lingkungan yang ada dan apabila stress yang dialami seseorang sudah diluar batas toleransinya, orang tersebut akan mulai
memikirkan untuk mengambil keputusan untuk pindah ke daerah tujuan lain, yaitu tempat dimana kebutuhannya dapat dipenuhi.
Gambar 2.3 memperlihatkan apabila kondisi kebutuhan seseorang tidak terpenuhi atau terjadi stress namun masih dalam batas toleransi, yang bersangkutan memutuskan tidak pindah dan akan terus berusaha untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan keadaan lingkungan yang ada dan memutuskan untuk menetap.
Sumber : Demografi Umum, 2003
Gambar 2.3
Hubungan Antara Kebutuhan dan Pola Mobilitas Penduduk
Secara garis besar mereka yang memutuskan untuk pindah ke daerah tujuan baru karena kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi, bahkan sudah di luar batas toleransi akan melakukan mobilitas permanen dan mereka yang memutuskan tidak pindah walaupun kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi, namun
Menginap/ mondok Komuter
(ulang-alik)
Kebutuhan (needs) dan aspirasi
Terpenuhi Tidak terpenuhi (stres)
Dalam batas toleransi Di luar batas toleransi
Tidak pindah Pindah
Mobilitas nonpermanen Tidak pindah
masih dalam batas-batas toleransi akan melakukan mobilitas nonpermanen yakni ulang alik (commuting) atau mondok di daerah tujuan.