• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekretariat Kelompok Jogya Grup berlokasi di Desa Laksana Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Kelompok ini merupakan kelompok peternak domba tangkas dikukuhkan pada tanggal 18 Agustus 1996, diketuai oleh Oro Suhara, sekretaris Iin Risnawati dan bendahara Erna Erfiana dengan anggota tetap pada saat ini 25 orang.

Fungsi kelompok untuk membangun dan mengembangkan potensi kemampuan ekonomi anggota khususnya dan masyarakat umumnya melalui ternak domba, untuk itu kelompok berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak domba, memperkokoh perekonomian melalui agribisnis bibit domba, penyediaan pakan, pelayananan kesehatan ternak serta mengadakan kemitraan dengan dinas peternakan, perguruan tinggi, BUMN maupun usaha- usaha swasta lainnya.

Kegiatan utama kelompok melakukan pembinaan terhadap anggota melalui pertemuan-pertemuan rutin mingguan, tukar menukar pengalaman beternak antar sesama anggota, mengikuti kegiatan kontes dan ketangkasan domba baik tingkat regional maupun nasional. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok sering mendatangkan ahli untuk memberikan ceramah maupun pelatihan. Kegiatan perekonomian kelompok diantaranya membentuk koperasi simpan pinjam, dibidang agribisnis sebagai usaha pokok menjual bibit ternak, mengusahakan pengadaan pakan terutama konsentrat, bekerjasama dengan Perum Perhutani menanam hijauan pakan ternak dilahan kehutanan sebagai tanaman sela.

Anggota kelompok adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa, mereka mempunyai wewenang penuh dalam memelihara ternaknya, namun demikian mereka berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh kelompok, mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasarkan azas kekeluargaan serta menanggung kerugian kelompok sesuai yang diatur dalam kesepakatan. Ketua kelompok lebih berperan dalam mengkoordinasikan kegiatan kelompok, serta memberikan arahan dalam kegiatan usaha ternak terutama dalam seleksi bibit, menentukan pejantan yang digunakan dan penjualan ternak. Populasi ternak yang dimiliki kelompok pada bulan September 2003 sebanyak 756 ekor, rata-rata pemilikan 30 ekor/anggota dengan sex ratio jantan : betina yaitu 1 : 5. Anggota kelompok peternak umumnya mempunyai peternak penggarap atau peternak lain yang menjadi mitra dalam kegiatan pemuliaan,

kelompok melakukan seleksi bibit unggul baik pejantan maupun induk, hasil seleksi tetap dipelihara oleh peternaknya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan ketua serta anggota kelompok model pola pemuliaan di kelompok Jogya Grup termasuk Model Group Breeding Scheme. Model pola pemuliaan kelompok Jogya Grup disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Pola pemuliaan di kelompok Jogya Grup

Pola ini hampir sama dengan pola yang dilakukan Chagunda dan Wollny (2005) dalam konservasi sumber genetik ternak lokal di Malawi. Adanya kerjasama dalam kelompok memungkinkan untuk mendapatkan ternak yang memiliki performa baik, dari sekian banyak ternak yang dimiliki kelompok. Kriteria seleksi ditentukan bersama oleh kelompok sesuai dengan kebutuhan. Ternak terpilih tetap dipelihara oleh pemiliknya, peternak berkontribusi dalam program dengan membolehkan ternaknya untuk digunakan dalam kelompok atau menjual ternak terseleksi kepada peternak lain sesama anggota kelompok.

Keuntungan pola ini antara lain adalah: inbreeding akan rendah, meningkatkan partisipasi peternak karena peternak berperan langsung dalam program pemuliaan, peternak dapat memelihara/mengontrol ternak unggulnya, dan prasarana yang ada dapat dimanfaatkan bersama.

Di New Zealand grup breeding Scheme pertama kali dikembangkan tahun 1967, selanjutnya berkembang sangat pesat (Peart 1979). Pembibit membentuk

Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

?

?

?

?

?

?

kerjasama untuk memanfaat keunggulan ternak yang ada, pengalaman peternak serta prasarana yang dimiliki. Ternak dengan performa baik sesuai dengan yang diharapkan kelompok dipilih dan dipelihara di inti. Recording dilakukan di inti untuk sifat-sifat yang mempunyai nilai ekonomis selanjutnya seleksi didasarkan atas sifat-sifat tersebut, ternak pengganti untuk kelompok anggota umumnya berasal dari inti sehingga perbaikan akan cepat menyebar ke seluruh kelompok. Keberhasilan grup sangat bergantung kepada efektifitas organisasi, partisipasi peternak serta pola pemuliaan yang digunakan.

Tujuan seleksi di kelompok Jogya Grup adalah menghasilkan domba tangkas unggul atau domba dengan berat badan tinggi. Kriteria seleksi meliputi : sifat sifat kualitatif diantaranya adalah bentuk badan, warna bulu, bentuk tanduk, serta bentuk telinga. Sifat Kuantitatif terutama adalah bobot lahir, bobot sapih, bobot tujuh bulan, dan bobot satu tahun. Seleksi betina pada umumnya sama dengan jantan, untuk tanduk dicari betina yang memiliki tanduk meskipun kecil (betina bertanduk). Perkawinan menggunakan kawin alam, peternak telah mengetahui gejala-gejala berahi ternaknya dan kapan waktu yang tepat untuk dikawinkan sehingga keberhasilan perkawinan cukup tinggi dan tidak mengawinkan ternak yang kekerabatannya dekat sehingga kemungkinan

inbreeding kecil. Rata-rata domba jantan pertama kali dikawinkan pada umur 18 bulan dan domba betina 12 bulan. Umumnya pejantan digunakan sampai umur 7 tahun sedangkan induk digunakan rata-rata sampai 10 kali beranak.

Seleksi domba jantan untuk bibit maupun tangkas dilakukan beberapa tahap yaitu pada umur 4 bulan (umur sapih), umur 7 sampai 9 bulan, dan umur 1.5 tahun (gigi seri tanggal 2). Pada umur sapih kriteria seleksi terutama melihat postur tubuh secara umum, diutamakan dari kelahiran tunggal, tidak terlihat cacat tubuh, kecepatan pertumbuhan, dan kesehatan ternak. Pada umur ini pemeliharaan masih disatukan jantan dan betina. Umur 7 sampai 9 bulan sering disebut domba galingan dilakukan seleksi khusus, mulai diperhatikan bagian kepala meliputi raut muka, sorot mata, daun telinga, dan tanduk. Postur tubuh yaitu kaki, ekor, serta warna bulu. Pada umur ini domba mulai di kandang pada kandang individu. Pada umur 1.5 tahun dilakukan seleksi terakhir terhadap sifat- sifat yang diseleksi pada umur sebelumnya, pada umur ini keserasian antara bentuk tanduk, muka, postur tubuh, warna bulu, serta karakteristik lainnya sudah dapat dilihat dengan jelas. Sifat kualitatif paling diperhatikan peternak dalam seleksi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Urutan empat besar sifat kualitatif yang paling diperhatikan dalam seleksi

No Sifat Kualitatif Urutan

1 2 3 4 Tanduk Bentuk badan Bulu Telinga I II III IV

Berdasarkan Tabel 8 semua responden menjadikan tanduk urutan pertama sebagai dasar seleksi. Pada domba tangkas tanduk merupakan komponen utama kegagahan dan sangat menentukan nilai ternak. Bentuk tanduk yang dikenal diantaranya adalah golong tambang, bendo, gayor, leang, jamplang, sogong, hamin lebe. Istilah bentuk tanduk belum ada kesepakatan yang jelas, masih banyak bentuk sama beda daerah beda istilahnya, namun Mulliadi (1996) mengidentifikasikan bentuk tanduk kedalam empat golongan yaitu (1) golong tambang, (2) Bendo, (3) Sogong, dan (4) Leang. Seleksi tanduk tidak saja bentuknya tetapi unsur keserasian, simetris, dan jenisnya. Jenis tanduk didasarkan pada kekuatan tanduk pada dasarnya ada tiga jenis yaitu (1) porslen, (2) gebog, dan (3) surat. Model bentuk tanduk disajikan pada Gambar 5.

Tanduk Gayor

Tanduk Japlang

Tanduk Ngabendo

Tanduk Golong Tambang

Tanduk Leang

Kelompok peternak Jogya grup tidak fanatik terhadap bentuk tanduk namun bentuk tanduk yang disukai dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Bentuk tanduk yang disukai

No Bentuk Tanduk Persentase

1 2. 3 4 5 Gayor Golong tambang Leang Ngabendo Japlang 37.04 18.52 14.81 22.22 7.41

Berdasarkan Tabel 9, bentuk tanduk yang paling disukai berturut-turut adalah bentuk gayor (37.04%), ngabendo (22.22%), golong tambang (18.52%),

leang (14.81%), dan japlang (7.41%). Martojo (1990) mengemukakan bahwa sifat bertanduk atau tidak bertanduk dipengaruhi oleh satu pasang gen, sedang besar dan bentuknya ditentukan oleh beberapa pasang gen. Sifat pertandukan domba jantan dipengaruhi gabungan tiga alel p, P’ dan P yang mempunyai kombinasi genotipe yaitu pp, pP, pP’, PP, PP’ dan P’P’, maka penampilan fenotip yang dihasilkan kemungkinan variasinya besar. Frekuensi bentuk tanduk domba tangkas hasil penelitian Heriyadi et al. (2002) adalah gayor (51.65%), ngabendo

(17.36%), leang (16.53%), golong tambang (9.09%), hamin lebe (3.31%), japlang

(1.24%), dan sogong (0.83%).

Urutan kedua yang diperhatikan peternak sebagai dasar seleksi adalah bentuk badan. Bentuk badan dikenal tiga bentuk yaitu ngabonteng (badan lurus bulat seperti mentimun), ngabuah randu (seperti buah randu, lonjong kebelakang), nyinga (seperti tubuh singa, dada besar kebelakang kecil). Seluruh responden menyukai bentuk tubuh seperti singa (nyinga).

Pola warna bulu pada domba priangan sangat beragam, putih polos, coklat polos, hitam polos, dan gabungan dari warna-warna tersebut Kombinasi warna hitam-putih di peternak dikenal dengan istilah baracak, baralak, belang batu, belang sapi, riben, sambung, pelong, sotong, laken, dan tablo. Kombinasi coklat- putih, dikenal kondang dan sambung sedangkan kombinasi hitam-putih-coklat dikenal istilah warna jogja: jogja gelosor dan jogja genjong. Selain istilah-istilah tersebut masih banyak lagi istilah lokal.

Tidak seperti pada kelompok peternak H. Osih yang fanatik dengan warna bulu, pola warna bulu yang disukai kelompok peternak Jogya Grup beragam. Pola warna bulu yang dijadikan dasar seleksi disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Pola warna yang dijadikan dasar seleksi

No Pola Warna Persentase

1. 2. 3. 4. Hitam polos Putih polos Kombinasi hitam-putih - Baracak - Sambung - Riben - Laken - Warna lain Warna lain 25.93 11.11 59.25 21.95 13.16 10.97 8.78 4.38 3.71

Pola warna paling disukai peternak berturut turut adalah kombinasi warna hitam-putih (59.25%), hitam polos (25.93%), putih polos (11.11%), dan warna lain (3.71%). Berdasarkan kombinasi warna hitam-putih, pola warna yang sering dijadikan dasar seleksi adalah baracak (21.95%), sambung (13.16%), riben

(10.97%), laken (8.78%) dan warna lain (4.38%). Pola warna coklat dan kombinasinya kurang diminati, peternak yang menyukai pola warna coklat dan kombinasinya, mereka yang pernah memiliki domba juara dengan pola warna coklat.

Tipe telinga domba Priangan tangkas yang paling disukai dan merupakan ciri khas domba Priangan adalah telinga rumpung. Tipe lain yang disukai adalah

ngadaun hiris dan rubak. Tipe telinga rumpung dipengaruhi oleh sepasang gen dalam keadaan homozigot resesif (tt), ngadaun hiris (medium) dalam keadaan

heterozigot (Tt) dan telinga panjang dalam keadaan homozigot dominan (TT) (Dwiyanto 1982). Hasil perkawinan domba jantan bertelinga rumpung dengan betina rumpung pasti akan menghasilkan anak bertelinga rumpung.

Keragaan Produksi dan Reproduksi Domba Priangan

Dokumen terkait