III. PEMBERDAYAAN DAERAH DAN PENGUSAHA DAERAH
6. Pola Penjaminan Kredit UMKM dan Koperasi di Daerah
6.1. Pendahuluan
Pemerintah Daerah (Pemda) menempatkan dana pusat dan daerah pada Bank Pembangunan
Daerah (BPD). Tidak sedikit BPD yang menempatkan dana Pemda tersebut ke dalam instrumen
jangka pendek Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dana yang tersimpan di SBI tersebut adalah dana
pengeluaran rutin Pemda dan dana pembangunan dari APBD yang belum terpakai karena
lambatnya proses rencana, persetujuan dan realisasinya. SBI dinilai memberikan pendapatan yang
setiap saat dapat dijadikan uang tunai tanpa mengakibatkan kerugian pada bank sehingga bank
akan dapat menjaga likuiditas dan memupuk laba.
Namun demikian, pada dasarnya dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk percepatan kegiatan
ekonomi daerah antara lain melalui skema pemberian kredit UMKM yang dijamin oleh Pemda.
6.2. Persoalan daerah
Masih terdapat kendala kepemimpinan di pemerintah daerah maupun persoalan yang
menghambat implementasi anggaran, termasuk di daerah, yang disebabkan, antara lain:
1) Perencanaan yang kurang bagus dan lamban dari Pemda/DPRD sehingga membawa kesulitan
eksekusi program yang membawa dampak penyerapan anggaran daerah yang rendah.
2) BPD dipandang sebagai kebanggaan daerah dan acapkali tidak terlepas dari percaturan politik
di daerah.
3) Seolah‐olah ada petunjuk dari DPRD yang mensyaratkan peningkatan pendapatan asli daerah.
Akibatnya, banyak dana yang seharusnya untuk membiayai pembangunan lebih dititipkan di
BPD untuk mendapatkan keuntungan yang dapat dibukukan bagi peningkatan pendapatan asli
daerah.
4) Adanya keterbatasan kemampuan SDM perbankan BPD, khususnya petugas kredit BPD, untuk
menggali dan mengenal potensi bisnis yang prospektif di daerah berikut risiko dan kendala
yang mungkin terjadi.
5) Kemampuan memupuk keuntungan merupakan indikator keberhasilan kepemimpinan direksi
BPD yang mewakili Pemda.
Jika memang demikian, buat apa perbankan memupuk laba tinggi dan pendapatan asli daerah yang
besar tetapi sektor riil tersendat, infrastruktur rusak, pengangguran dan kemiskinan sulit ditekan.
6.3. Solusi Pemberdayaan BPD
APBD akan dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi jika sumber dana yang dimiliki mampu
dialokasikan dengan efektif dan efisien. Bank Pembangunan Daerah/BPD harus menggunakan dana
untuk pembangunan daerah dalam bentuk kredit investasi atau modal kerja. Jika perlu BPD
membuat konsorsium dengan bank swasta nasional dan bank asing untuk pembiayaan
pembangunan daerah mengingat BPD seharusnya lebih tahu keperluan pembangunan di
daerahnya. BPD juga perlu membuat program penerusan kredit kepada BPR. Hal yang diperlukan
dilakukan adalah:
1) Perlu ada kepemimpinan kuat di Pemda, sehingga perencanaan dan eksekusi anggaran lebih
tepat dan cepat.
2) Ada baiknya DPRD mulai menganggap peningkatan sektor riil di daerah lebih penting
3) Pemda sebagai pemilik BPD tidak hanya mensyaratkan keuntungan tinggi tetapi lebih kepada
penyerapan kredit kepada investasi atau kegiatan riil di wilayah setempat. Lebih baik
perekonomian berjalan dan dinikmati masyarakat secara nyata.
4) BPD perlu menyiapkan petugas kelayakan kredit yang handal dalam berbagai sektor. Salah satu
keunggulan BPD adalah perannya dalam pembangunan ekonomi regional, yang secara
ekonomis kadang sulit dilakukan bank swasta lain. Bagaimanapun, selayaknya BPD lebih
paham tentang peluang bisnis di daerahnya.
5) Untuk mengimbangi persaingan, BPD perlu berbenah dengan menguatkan fungsinya sebagai
lembaga intermediasi dan fokus pada segmen tertentu sesuai dengan potensi daerah.
6.4. Urgensi skema penjaminan kredit di daerah
Guna mendorong peran BPD dalam pemberian kredit di daerah maka Pemda bersama‐sama
dengan BPD dengan endorser Bank Indonesia dapat membentuk skim penjaminan kredit di daerah
mengingat peran penjaminan Askrindo yang sangat terbatas.
Skim penjaminan kredit daerah dapat menggunakan dana APBD yang disisihkan dengan tujuan:
1) Mempertahankan kesimbambungan pembiayaan dari sektor perbankan ke sektor riil.
2) Memfasilitasi akses kredit UMKM yang dinilai feasible (memiliki prospek usaha yang baik
sesuai penilaian bank) kepada kredit perbankan tetapi tidak bankable karena menghadapi
masalah agunan yang tidak memenuhi persyaratan. Adapun prinsip‐prinsip skim penjaminan
kredit di daerah adalah: Pelengkap dari suatu sistem perkreditan , Penjaminan hanya dilakukan
apabila usaha dinilai layak, Penjaminan kredit merupakan pelengkap atau pengganti agunan,
Penagihan subrograsi tetap merupakan tugas dari kreditur.
Pola skim pembiayaan kredit yang diusulkan:
1) Penjaminan Pemda atas kredit yang diberikan
2) Skim penjaminan kredit dengan Pemda tidak memiliki Lembaga Penjaminan Kredit Daerah
3) Skim penjaminan kredit dengan Pemda memiliki Lembaga Penjaminan Kredit Daerah
Adapun manfaat pemberian skim penjaminan kredit adalah:
Bagi Pemda dan UKM:
1) Memberikan kemudahan akses kredit kepada UMKM dengan persyaratan sebagaimana
umumnya.
2) Meningkatkan produktivitas UMKM, sehingga lebih banyak menyerap tenaga kerja dan pada
akhirnya berdampak pada stabilitas sosial, peningkatan pendapatan dan tabungan pemerintah
melalui peningkatan pajak.
Bagi BPD:
1) Peluang meningkatkan keuntungan sekaligus menurunkan risiko (bobot risiko kredit yang
dijamin oleh BUMN <100%)
2) Meningkatkan kapasitas pemberian kredit serta keuntungan yang diperoleh tanpa harus
menambahan modal
3) Menjamin bank mendapatkan pelunasan lebih cepat dibandingkan jika harus melikuidasi
agunan debitur
6.5. Benturan peraturan
Peraturan yang mendukung dan tidak mendukung pelaksanaan skim penjaminan kredit daerah
Peraturan yang mendukung:
1) UU No.1/2004 Tentang Perbendaharaan Negara Pasal 9.(2) Kepala Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah Selaku ... dst. berwenang: Menyiapkan Pelaksanaan Pinjaman dan
Pemberian Jaminan Atas Nama Pemerintah Daerah.
2) Peraturan Presiden No.7/2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004‐2009
BAB 20 Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Butir D No. 2. Program Pengembangan Sistem
Pendukung Usaha Bagi UMKM; Perluasan sumber pembiayaan bagi koperasi dan UMKM,
khususnya skim kredit investasi bagi koperasi dan UMKM, serta peran lembaga penjaminan
kredit koperasi dan UMKM Nasional dan Daerah, disertai dengan pengembangan jaringan
Informasinya.
Peraturan yang tidak mendukung:
1) Peraturan Pemerintah RI No.107/2000 Tentang Pinjaman Daerah, pasal 10 (1) Daerah Dilarang
Melakukan Perjanjian Yang Bersifat Penjaminan Terhadap Pinjaman Pihak Lain Yang
Mengakibatkan Beban Atas Keuangan Daerah.
2) SK Menkeu No.479/KMK.06/2003 Tentang Penghentian Izin Usaha Perusahaan Penjaminan
3) UU No. 33/2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah. Pasal 55 (1) Daerah Tidak Dapat Memberikan Jaminan Atas Pinjaman Pihak Lain B.III.Pemberdayaan_daerah/14 september 2009