• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pola Peresepan Antibiotika

Pola atau karakteristik peresepan dalam penelitian ini adalah gambaran peresepan antibiotika yang diterima oleh pasien anak rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho pada periode Februari sampai Juli 2013. Pola peresepan yang diambil meliputi golongan dan jenis antibiotika yang dipakai, bentuk sediaan yang diresepkan, rute pemakaian antibiotika, aturan pemakaian, dan lama penggunaan antibiotika.

c. Nilai DDD

Merupakan nilai pengukuran kuantitas antibiotika yang dikeluarkan oleh WHO. Untuk obat-obat yang dianalis dengan metode DDD harus terdapat atau termasuk dalam klasifikasi ATC (Anatomical Theraupetic Chemical). Klasifikasi ATC merupakan sistem klasifikasi obat berdasarkan organ atau sistem dimana

obat tersebut bekerja, dan memberikan efek terapetik. Perhitungan dapat dilakukan dengan perhitungan DDD 100 patient-days, DDD per 100 bed-days atau DDD per 1000 penduduk.

Pada penelitian ini digunakan DDD 100 patients-days dengan rumus :

Jumlah gram antibiotika yang digunakan oleh pasien

standar WHO DDD dalam gram x

100 (total LOS)

Keterangan :

LOS ( Length of Stay ) adalah lama hari rawat inap pasien dari hari pertama pasien masuk bangsal sampai hari keluar pasien dari bangsal yang terdapat di catatan medik pasien anak selama periode Februari –Juli 2013.

Nilai DDD yang diperoleh dari hasil perhitungan lalu dibandingakan dengan nilai standar DDD WHO untuk melihat kerasionalan penggunaan antibiotika pada pasien rawat inap di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho dari aspek kuantitas. Nilai DDD yang diproleh dari penelitian melebihi nilai standar yang ditetapkan WHO. Hal ini menandakan kemungkinan masih terdapat ketidakselektifan penggunaan antibiotika. Ketidakselektifan penggunaan antibiotika ini dapat berdampak pada ketidakrasionalan penggunaan antibiotika.

Bahan penelitian yang digunakan adalah semua catatan medik dari pasien anak yang menerima peresepan antibiotika di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho pada periode Februari sampai Juli 2013.

Kriteria Inklusi dari bahan penelitian adalah:

1. Catatan medik pada pasien anak berusia ≤ 12 tahun yang menerima peresepan antibiotika periode Februari sampai Juli 2013 di Rumah Sakit Panti Nugroho.

2. Catatan medik yang data penggunaan antibiotikanya lengkap. 3. Catatan medik yang memuat obat-obatan antibiotika yang masuk

dalam klasifikasi ATC

Kriteria eksklusi dari bahan penelitian adalah :

1. Pasien yang pulang paksa atau meninggal sebelum program pemberian antibiotika pada pasien selesai.

2. Pasien yang terapinya dilanjutkan atau dirujuk ke rumah sakit lain. 3. Pasien anak yang masuk kategori anak pada kartu pengobatan, namun

berusia lebih dari 12 tahun.

4. Catatan medik yang tidak jelas terbaca dan tidak bisa dikonfirmasi kejelasannya.

5. Alat atau Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berupa “Lembar Data Dasar Pasien” dan “Lembar Data Penggunaan Antibiotika” untuk memudahkan mencatat data yang diambil dari catatan medik. Lembar data tersebut terdiri dari :

a. Nama pasien g. Nama antibiotika yang diberikan b. Jenis kelamin h. Dosis antibiotika

c. Tanggal masuk i. Rute penggunaan antibiotika d. Tanggal keluar j. Bentuk sediaan antibiotika e. Diagnosis penyakit k. Lama penggunaan antibiotika f. Keterangan keluar pasien l. Frekuensi pemberian antibiotika

6. Tempat Pengambilan Data

Penelitian dilakukan di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho, Yogyakarta. Tempat pengambilan data adalah di ruang instalasi farmasi dan ruang catatan medik Rumah Sakit Panti Nugroho.

7. Tata Cara Penelitian

a. Tahap Orientasi dan Studi Pendahuluan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan proposal kemudian diserahkan ke bagian personalia Rumah Sakit Panti Nugroho untuk memperoleh izin penelitian. Setelah izin penelitian keluar, dilakukan studi pendahuluan di ruang instalasi farmasi untuk memperoleh informasi berapa banyak pasien anak yang menerima antibiotika pada periode Februari sampai Juli 2013. Data ini diperoleh melalui

kartu pengobatan. Kartu pengobatan adalah kartu yang berisi identitas pasien

(nama, alamat, kategori usia pasien, kelas kamar perawatan) serta catatan nama obat beserta dosis yang telah diberikan kepada pasien selama pasien menjalani perawatan di rumah sakit dari awal hingga akhir perawatan.

Hasil orientasi menunjukkan terdapat 297 pasien anak yang menerima peresepan antibiotika selama periode tersebut. Setelah diketahui terdapat 297 jumlah pasien anak yang menerima antibiotika dari kartu pengobatan tersebut, kemudian dilakukan pencocokan data catatan medik sesuai identitas di kartu pengobatan. Pencocokan data yang dimaksud adalah disesuaikan antara data yang ada di kartu pengobatan dengan data yang ada di catatan medik sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Dari kegiatan tersebut diperoleh 216 jumlah catatan medik yang masuk dalam kriteria inklusi penelitian.

b. Tahap Pengambilan Data

Tahap pengambilan data dilakukan di ruang catatan medik. Data yang diambil meliputi data 216 catatan medik sesuai dengan jumlah catatan medik yang telah diseleksi menurut kriteria inklusi penelitian. Adapun data yang diambil ditulis di dalam “Lembar Data Dasar Pasien” dan “Lembar Data Penggunaan Antibiotika” (instrumen penelitian)

c. Tahap Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah – langkah berikut ini. : 1. Editting.

Editting dilakukan dengan memeriksa ulang kelengkapan data – data yang diperoleh dari catatan medik di bangsal anak Rumah Sakit Panti Nugroho periode Februari sampai Juli 2013 sebelum ditulis pada “Lembar Data Dasar Pasien” dan “Lembar Data Penggunaan Antibiotika”.

Entry data yaitu pemindahan data dari “Lembar Data Dasar Pasien” dan “Lembar Data Penggunaan Antibiotika” kedalam buku besar untuk selanjutnya diolah dengan dibantu dengan program ABC Calc. Setelah data antibiotika dimasukan lalu selanjutnya data akan diolah sesuai dengan rumus perhitungan DDD 100 patient-days secara manual dengan bantuan kalkulator. Pengolahan data dilakukan secara manual karena angka-angka dalam perhitungan cukup sederhana sehingga memungkinkan dan lebih cepat apabila dihitung secara manual.

3. Cleaning.

Cleaning dilakukan dengan memeriksa ulang data-data yang telah dihitung secara manual tersebut.

8. Tata Cara Analisa Data dan Penyajian Hasil

Analisa data dilakukan secara deskriptif dan evaluatif. Analisa deskriptif dilakukan dengan melihat gambaran tentang karakteristik pasien, pola penyakit, dan pola peresepan. Karakteristik pasien yang dimaksud meliputi data demografi pasien seperti umur dan jenis kelamin pasien. Pola penyakit diperoleh berdasarkan diagnosis penyakit yang ditulis oleh dokter. Pola peresepan meliputi distribusi golongan dan jenis antibiotika, bentuk sediaan, rute penggunaan, aturan pemakaian, lama penggunaan antibiotika, serta lama rawat inap pasien. Selanjutnya hasil tersebut akan disajikan dalam bentuk persentase melalui tabel dan gambar.

Analisa evaluatif dilakukan dengan menghitung dan menganalisa kuantitas penggunaan dengan metode DDD. Penghitungan dilakukan dari data dosis dan lama hari rawat inap yang didapat dan diproses dengan cara manual. Penghitungan data dilakukan dengan bantuan kalkulator sesuai rumus perhitungan DDD 100 patient-days dan dibantu dengan menggunakan program ABC Calc untuk mengubah data dosis tersebut dalam bentuk Defined Daily Dose (DDD).

Contoh Perhitungan DDD 100 patient-days :

Terdapat tiga pasien anak yang menerima peresepan antibiotika. Seluruh pasien menerima antibiotika dengan jalur intravena (IV).

a. Pasien pertama, menerima antibiotika gentamisin dengan dosis 2x5mg selama 3 hari, dan antibiotika ampisilin 2x100 mg selama 3 hari. Lama hari rawat inap (LOS) pasien pertama adalah 7 hari.

b. Pasien kedua, menerima antibiotika sefotaksim dengan dosis 4 x 300 mg selama 2 hari, dan antibiotika gentamisin 2x35 mg selama 3 hari. Lama hari rawat inap (LOS) adalah 5 hari.

c. Pasien ketiga, menerima antibiotika amoksisilin 3x200 mg selama 5 hari, dengan lama rawat inap (LOS) selama 8 hari.

Tabel I. Daftar Pasien anak yang Menerima Peresepan Antibiotika dan Lama Rawat Inap atau LOSnya

Pasien Regimen Antibiotika LOS

Pasien 1 Gentamisin (IV) 2 x 5mg (3 hari) Ampisilin (IV) 2 x 100mg (3 hari)

7 hari

Pasien 2 Sefotaksim (IV) 4 x 300 mg (2 hari)

Gentamisin (IV) 2 x 35 mg (3 hari)

5 hari

Pasien 3 Amoksisilin (IV) 3 x 200 mg (5 hari)

8 hari

Rumus DDD 100 patient-days :

Jumlah gram antibiotika yang digunakan oleh pasien

standar WHO DDD dalam gram x

100 (total LOS) Diketahui nilai standar DDD menurut WHO (2013) :

Gentamisin (Parenteral) = 0,24 gram Ampisilin (Parenteral) = 2 gram Sefotaksim (Parenteral) = 4 gram Amoksisilin (Parenteral) = 1 gram.

Tabel II. Contoh Perhitungan Jumlah Gram Antibiotika dibagi DDD WHO Setiap Pasien

Pasien Regimen Antibiotika LOS Total Gram Antibiotika / DDD WHO Pasien 1 Gentamisin (IV)

2 x 5mg (3 hari) Ampisilin (IV) 2 x 100mg (3 hari) 7 hari 0,03 gram 0,6 gram 0,03/0,24=0,125 0,6/2=0,3

Pasien 2 Sefotaksim (IV) 4 x 300 mg (2 hari) Gentamisin (IV) 2 x 35 mg (3 hari) 5 hari 2,4 gram 0,21 gram 2,4/4=0,6 0,21/0,24=0,875

Pasien 3 Amoksisilin (IV) 3 x 200 mg (5 hari)

8 hari 3 gram 3/1=3

Total LOS : 20 hari

Jumlah gram antibiotika dibagi DDD dalam WHO per antibiotika untuk seluruh pasien:

Gentamisin: Pasien 1 + pasien 2 = 0,125 + 0,875 = 1,0 Ampisilin : Pasien 1 = 0,3

Sefotaksim : Pasien 2 = 0,6 Amoksisilin : Pasien 3 = 3

Nilai DDD 100 patient-days per antibiotika : Gentamisin : 1/20 x 100 = 5

Ampisilin : 0,3/20 x 100 = 1,5 Sefotaksim : 0,6/20 x 100 = 3 Amoksisilin : 3/20 x 100 = 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari 297 jumlah catatan medik pasien yang menerima peresepan antibiotika di bangsal anak rawat inap Rumah Sakit Panti Nugroho selama periode 6 bulan yaitu dari bulan Februari sampai Juli 2013, terdapat 216 catatan medik yang masuk dalam kriteria inklusi penelitian. Berikut adalah karakteristik 216 pasien tersebut seperti yang tercantum dalam catatan medik.

Perbandingan jumlah pasien laki-laki dan perempuan dari 216 pasien yang menerima peresepan antibiotika, sebagian besar adalah perempuan yaitu 51,9% sedangkan laki-laki sebesar 48,1% seperti yang tercantum pada Gambar 2.

Gambar 2. Perbandingan Jumlah Pasien Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Menerima Antibiotika di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

48,1%

51,9%

Laki-laki dengan jumlah = 104

Jumlah penggunaan antibiotika berdasarkan umur dari 216 pasien anak yang menerima peresepan antibiotika, sebagian besar bayi berusia kurang dari 1 tahun sebanyak 33,8%. Pasien anak yang berusia 1 ≤ umur ≤ 3 tahun adalah 28,7 %, diikuti pasien anak berusia 3 ≤ umur ≤ 6 tahun sebanyak 20,8 % dan yang paling sedikit adalah usia 6 ≤ umur ≤ 12 tahun sebesar 16,7 %. Jumlah pasien anak yang menerima antibiotika berdasarkan umur dapat dilihat dalam Gambar 3.

Gambar 3. Jumlah Pasien Anak yang Menerima Antibiotika Berdasarkan Umur di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

Dari 216 catatan medik pasien tersebut, didapatkan data mengenai pola penyakit berdasarkan diagnosis yang ditulis dokter, karakteristik pasien, pola peresepan, dan kuantitas pengguanaan antibiotika. Data penggunaan antibiotika ini dihitung berdasarkan konsep DDD dan diperoleh dari data pasien anak yang menerima peresepan antibiotika pada periode Februari - Juli 2013.

33,8%

28,7% 16,7%

20,8%

umur < 1 tahun dengan jumlah = 73

1 ≤ umur ≤ 3 tahun dengan jumlah = 62

3 ≤ umur ≤ 6 tahun dengan jumlah = 36

6 ≤ umur ≤ 12 tahun dengan jumlah = 45

A. Pola Penyakit

Pola penyakit diperoleh berdasarkan diagnosis dokter yang tertulis di catatan medik pasien. Dari 216 catatan medik, didapat tiga besar penyakit yang paling banyak ditemukan berdasarkan diagnosis yang ditulis dokter. Diagnosis terbanyak pertama adalah Gastroenteristis Acut (GEA) ditemukan pada 46 pasien, diikuti urutan kedua adalah Obstruksi Ductus Naso Lacrimale (ODNL) pada neonatus sebanyak 38 pasien dan diikuti urutan ketiga adalah febris atau demam pada 33 pasien. Diagnosis febris disini merupakan diagnosis yang berdiri sendiri dan bukan merupakan symptom yang mengikuti suatu penyakit, seperti yang dipaparkan pada definisi operasional (lihat bab III). Pola penyakit selengkapnya dapat dilihat pada Tabel III.

Urutan jenis penyakit terbanyak berdasarkan diagnosis yang ditulis dokter di catatan medik merupakan penyakit infeksi oleh bakteri dimana pengobatannya adalah menggunakan antibiotika. Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian-penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya. Pada penelitian di bangsal anak RSUP Dr. Kariadi periode Agustus – Desember 2011, ditemukan jenis penyakit terbanyak adalah demam tifoid. Penelitian pada pasien balita di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta tahun 2011, ditemukan jenis penyakit terbanyak pertama adalah ISPA sebesar (88,1%), kemudian terbanyak kedua adalah pneumonia (4,8%) dan diikuti oleh infeksi kulit (3,1%). Hal ini menunjukkan sebagian besar penyakit-penyakit infeksi merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan pada pasien anak rawat inap di rumah sakit. Temuan ini sama seperti yang terdapat dalam Data Dinas Kesehatan Provinsi DIY (2011),

untuk balita masih banyak didominasi oleh penyakit infeksi. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada anak masih mendominasi sepuluh besar penyakit pada rawat inap di rumah sakit Provinsi DIY tahun 2011.

Tabel III. Jumlah Pasien berdasarkan Diagnosis Penyakit pada Pasien Rawat Inap yang Menerima Antibiotika di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013

Diagnosis Penyakit

Jumlah Pasien

Febris 33

GEA (Gastroenteritis Acut) 46

ODNL (Obstruksi Ductus Naso Lacrimale) 38

Vomitus 4

Tifoid 15

ISPA (Infeksi saluran Pernapasan Akut) 11

BBL (Bayi Baru Lahir) Sesar 7

ISK (Infeksi Saluran Kemih) 8

Bronkitis 11

DF (Dangue Fever) 5

Pneumonia 4

KDK (Kejang Demam Kompleks) 2

KDS (Kejang Demam Sedang) 2

Ikterus Neonatus 5

CKR (Cidera Kepala Ringan) 3

Dispepsia 2

DHF (Dangue Haemorrhagic Fever) 2

Faringitis 2

Diare 2

Penyakit lain 14

B. Pola Peresepan Antibiotika

Dari 216 catatan medik pasien yang diteliti terdapat 374 peresepan antibiotika. Pola peresepan antibiotika tersebut disajikan sebagai berikut ini.

Antibiotika yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin (33,2 %) dengan jenis antibiotika sefotaksim (17,9 %), sefiksim (8,0 %), seftriakson (6,7 %), seftazidim (0,3 %), dan sefadroksil (0,3 %). Antibiotika terbanyak kedua adalah golongan aminoglikosida (28,6 %) dengan jenis antibiotika gentamisin (28,3 %) dan amikasin (0,27 %). Kemudian urutan terbanyak ketiga adalah antibiotika golongan penisilin (21,7 %) dengan jenis antbiotika amoksisilin (19,3 %) dan ampisilin (2,4 %). Data hasil pengamatan penggunaan golongan dan jenis antibiotika terbanyak dapat dilihat dalam Tabel IV.

Penelitian serupa yang membahas tentang golongan dan jenis antibiotika terbanyak yang digunakan pada pasien di bangsal anak antara lain adalah penelitian pada balita di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta tahun 2011 (Nastiti, 2011). Penelitian tersebut menunjukkan antibiotika terbanyak adalah kotrimoksasol (43,7 %), dan antibiotika terbanyak kedua adalah amoksisilin (39,9 %). Penelitian lain adalah di Bangsal Anak RSUP Kariadi periode Agustus – Desember 2011 (Febiana, 2012). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa antibiotika terbanyak adalah ampisilin (42 %) kemudian terbanyak kedua adalah seftriakson (20,6 %). Dari ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa antibiotika jenis amoksisilin adalah yang paling sering digunakan. Sedangkan golongan antibiotika yang paling sering digunakan adalah penisilin dan sefalosporin.

Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian-penelitian serupa menunjukkan bahwa golongan ampisilin dan sefalosporin masih banyak digunakan sebagai obat pilihan untuk mengobati penyakit-penyakit infeksi.

Tabel IV. Frekuensi dan Persentase Penggunaan Antibiotika pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013 berdasarkan Golongan dan Jenis Antibiotikanya

Golongan Antibiotika Jenis Antibiotika Frekuensi Persentase (%) Sefalosporin Sefotaksim Sefiksim Seftriakson Seftazidim Sefadroksil 67 30 25 1 1 17,9 8,0 6,7 0,3 0,3 Total 124 33,2 Aminoglikosida Gentamisin Amikasin 106 1 28,3 0,3 Total 107 28,6 Penisilin Amoksisilin Ampisilin 72 9 19,3 2,4 Total 81 21,7 Imidazol Metronidazol 39 10,4 Trimetoprim dan Sulfonamida Kotrimoksasol 11 2,9 Ampenikol Kloramfenikol 3 0,8 Kuinolon dan Flourokuinolon Siprofloksasin 2 0,5 Vankomisin Fosfomisin 2 0,5 Rifampin Rifampisin 1 0,3 Makrolida Azitromisin 1 0,3 Karbapenem Meropenem 1 0,3 Trimetoprim Trimetoprim 2 0,5 TOTAL 374 100

Banyaknya penggunaan antibiotika golongan ampisilin dan sefalosporin kemungkinan disebabkan terkait penggunaannya yang ditujukan sebagai terapi empiris dimana jenis bakteri penyebabnya belum dapat diketahui, sehingga digunakanlah antibiotika yang mempunyai afinitas spektrum luas seperti ampisilin dan sefalosporin. Selain itu golongan penisilin, sefalosporin, maupun aminoglikosida juga banyak dipergunakan dikalangan pediatri sebagai terapi infeksi baik itu monoterapi maupun kombinasi (IDAI, 2008). Pada penelitian ini antibiotika gentamisin merupakan jenis antibiotika yang paling banyak digunakan. Gentamisin banyak ditemukan, selain karena penggunaannya yang luas di kalangan pediatri, gentamisin juga sering digunakan untuk terapi penyakit ODNL pada hampir semua bayi yang baru lahir. Pada bayi yang baru lahir saluran air matanya masih belum terbuka, sehingga menyebabkan lendir dan bakteri mengumpul di saluran yang tersumbat tersebut. Untuk mencegah terjadinya infeksi diberikan pengobatan tetes mata gentamisin.

Dilihat dari jumlah penggunaan penisilin dan sefalosporin yang besar dalam penelitian ini, apabila dikaitkan dengan rumus DDD 100 patient –days, maka semakin besar jumlah penggunaan antibiotikanya, maka kuantitas atau nilai DDD nya akan semakin besar apabila tidak diimbangi dengan lama hari rawat inap yang semakin besar pula.

Dari 216 catatan medik, dan 374 peresepan antibiotika yang telah diresepkan, diperoleh sebaran distribusi bentuk sediaan antibiotika yang digunakan paling banyak adalah injeksi (66 %), diikuti oleh bentuk sediaan sirup

(16 %) dan bentuk sediaan topikal (11,8%). Data pengamatan mengenai distribusi bentuk sediaan anibiotika dapat dilihat pada Tabel V.

Tabel V. Frekuensi dan Persentase Pemakaian Bentuk Sediaan Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013 Bentuk Sediaan Frekuensi Persentase (%) Injeksi 247 66 Infus 9 2,4 Tablet 3 0,8 Kapsul 1 0,3 Sirup 60 16 Puyer 3 0,8 Drop 7 1,9

Topikal (tetes mata) 44 11,8

TOTAL : 374 100

Dari 216 catatan medik yang masuk dalam kriteria inklusi, diperoleh hasil rute pemakaian yang paling banyak digunakan adalah melalui intravena (63,6 %) baik itu injeksi (60,9 %) dan infusa (2,7 %), diikuti rute oral (24,3 %) dan melalui topikal (12 %). Rute penggunan intravena yang besar disebabkan karena rute ini memiliki onset yang lebih cepat dan bioavailabilitas yang lebih besar di dalam tubuh daripada rute oral. Data pengamatan mengenai distribusi rute penggunaan dapat dilihat melalui Gambar 4.

Gambar 4. Distribusi Rute Penggunaan Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

Dari 216 catatan medik yang masuk dalam kriteria inklusi, dan 374 pola peresepan antibiotika yang terdokumentasi, didapat karakteristik aturan pemakaian antibiotika yang paling sering diresepkan adalah 2 x sehari (42 %), 3 x sehari (38,2 %), diikuti 1 x sehari (14,2 %), dan 4 x sehari (5,6 %). Gambaran distribusi aturan pemakaian antibiotika pada pasien anak dapat dilihat pada Gambar 5.

Aturan pemakaian antibiotika menggambarkan frekuensi penggunaan antibiotika yang digunakan pasien per hari. Semakin tinggi frekuensi antibiotika yang digunakan dalam satu hari, maka akan menyebabkan dosis penggunaan antibiotika semakin besar. Meningkatnya dosis akan berpengaruh pada jumlah (gram) antibiotika yang diterima oleh pasien. Semakin besar jumlah (gram) antibiotika yang digunakan akan memungkinkan menyebabkan nilai DDD dari suatu jenis antibiotika semakin besar pula (WHO, 2013).

63,6% 24,3%

12,1%

Intravena dengan jumlah = 238

Oral dengan jumlah = 91

Gambar 5. Distribusi Aturan Pemakaian Antibiotika di Bangsal Anak Rawat Inap Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

Dilihat dari lama penggunaan antibiotika setiap pasien, dari 216 catatan medik yang terdokumentasi didapat gambaran karakteristik lama penggunaan antibiotika pasien anak yang paling banyak adalah 1 sampai 5 hari (88 %), kemuadian 6 sampai 10 hari (11 %), dan lama penggunaan lebih dari 10 hari (1 %). Berikut adalah gambaran distribusi lama penggunaan antibiotika pada Gambar 6.

Gambar 6. Distribusi Jumlah Pasien berdasarkan Lama Penggunaan Antibiotika di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

14,2%

42% 38,2%

5,6%

1xsehari dengan jumlah = 53

2xsehari dengan jumlah = 157

3xsehari dengan jumlah = 143

4xsehari dengan jumlah = 21

88% 11%

1%

1-5hari dengan jumlah = 190

6-10hari dengan jumlah = 24

Karakteristik lama rawat inap pasien anak yang menerima antibiotika dari 216 pasien, frekuensi lama hari rawat inap terbanyak adalah 2-5 hari (83,8 %), 6-10 hari (14,3 %), dan lebih dari 10 hari (1,9 %). Distribusi lama rawat inap dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Distribusi Jumlah Pasien Anak Berdasarkan Lama Rawat Inap di Bangsal Anak Rumah Sakit Panti Nugroho Periode Februari sampai Juli 2013.

C. Evaluasi Penggunaan Antibiotika dengan Metode Defined Daily Dose

Dokumen terkait