• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Potensi Pakan

5.2.3 Pola sebaran tumbuhan pakan

Analisis data menunjukkan bahwa pola sebaran tumbuhan pada beberapa jenis dominan yang memiliki INP terbesar pada masing-masing tingkat pertumbuhan dan tipe hutan menunjukkan pola sebaran mengelompok (Tabel 4). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa berdasarkan indeks penyebaran tumbuhan Ludwig dan Reynold (1988) untuk petak contoh sebanyak 25, jenis tumbuhan memiliki pola sebaran acak pada selang kepercayaan 95% jika nilai indeks tumbuhan tersebut berada pada kisaran 12,401−39,364. Jika nilai indeksnya lebih besar dari 39,364 maka jenis tumbuhan tersebut dinyatakan menyebar secara mengelompok, sedangkan jika nilai indeksnya kurang dari 12,401 maka menurut Ludwig dan Reynold (1988) tumbuhan tersebut menyebar merata.

Tinggi rendahnya nilai indeks ini dikarenakan perbedaan jumlah tumbuhan yang ditemukan pada tiap-tiap plot yang menyebabkan besarnya nilai ragam variasi. Sebagai contoh adalah jenis ribu-ribu (Lygodium microphyllum) yang merupakan jenis dominan pada tingkat semai. Nilai indeks ribu-ribu sesuai perhitungan sangat besar yakni 2.027,115 yang berarti bahwa Lygodium microphyllum menyebar secara mengelompok. Lygodium microphyllum pada penelitian ini dapat ditemukan di 13 dari 25 plot. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa di salah satu plot jenis ini dapat ditemukan sebanyak 147 individu. Hal ini tentu menimbulkan variasi yang sangat besar dikarenakan terdapat 12 plot yang tidak ditemukan jenis ini ( 0 individu). Sedangkan pada

tumbuhan yang dominan akan tetapi penyebarannya acak hal ini umumnya karena jenis ini dapat ditemukan di beberapa plot tetapi keragaman variasi tidak terlalu besar. Hal ini disebabkan jumlah individu yang ditemukan tidak jauh berbeda antar plot. Sebagai contoh adalah bedaru (Cantleya corniculata). Jenis ini diketahui dapat ditemukan di 11 dari 25 plot contoh. Jumlah yang ditemukan berkisar 1−3 individu dan ada yang ditemukan sampai 6 individu dalam satu plot. Hal ini menyebabkan ragam variasi tidak terlalu tinggi sehingga didapatkan nilai 37,556 yang berarti bahwa nilai indeks berada pada kisaran nilai tabel sehingga menurut Ludwig dan Reynold (1988) bedaru (Cantleya corniculata) menyebar secara acak. Selanjutnya untuk penyebaran merata berarti jenis tersebut dapat ditemukan di hampir seluruh lokasi dengan rata-rata perjumpaan individu hampir sama sehingga nilai keragaman variasi harus kecil (mendekati 0).

Tabel 4 Pola penyebaran jenis beberapa jenis dominan pada berbagai tingkat pertumbuhan di seluruh habitat

Tipe Habitat Tingkat

Pertumbuhan Nama Lokal Nilai Indeks Pola sebaran

Hutan Dataran Rendah

Semai Ribu-Ribu 2.027,115 Berkelompok

Ubar Merah 612,963 Berkelompok

Pancang Tembaras 128,464 Berkelompok

Ubar Merah 115,444 Berkelompok

Tiang Lewari 75,838 Berkelompok

Bulin Payak 79,143 Berkelompok

Pohon Lewari 52,727 Berkelompok

Idat 40,211 Berkelompok

Tumbuhan Bawah

Langkur 328 Berkelompok

Ubi Hantu 24 Acak

Hutan Rawa Air Tawar

Semai Poga 483,333 Berkelompok

Medang 213,355 Berkelompok

Pancang Ketiau 42,667 Berkelompok

Bedaru 52 Berkelompok

Tiang Bedaru 37,556 Acak

Bekapas 63,882 Berkelompok

Pohon Ketiau 22,681 Acak

Lanan 23,667 Acak

Tumbuhan Bawah

Sirih Hantu 96 Berkelompok

Pekat Laki 346,667 Berkelompok Padang

Rumput

- Tilam Buaya 104,599 Berkelompok

Tratat 181,568 Berkelompok

Semak Belukar - Sempiring 173,578 Berkelompok

Kelakai 58,479 Berkelompok

Secara umum jenis tumbuhan di Resort Teluk Pulai untuk habitat hutan dataran rendah dan hutan rawa air tawar memiliki pola penyebaran acak,

sedangkan pada habitat padang rumput dan semak belukar jenis tumbuhannya cenderung menyebar secara berkelompok. Akan tetapi untuk jenis tumbuhan yang memiliki pola penyebaran merata tidak ditemukan. Pola sebaran jenis tumbuhan pakan lebih mengikuti pola acak pada habitat hutan dataran rendah dan hutan rawa air tawar, sedangkan pada padang rumput dan semak belukar pola berkelompok lebih dominan. Hal ini juga terjadi pada jenis tumbuhan non pakan kecuali pada tingkat pertumbuhan semai di hutan rawa. Sebaran tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan disajikan dalam Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5 Sebaran jenis tumbuhan pada tingkat pertumbuhan di berbagai tipe habitat di Resort Teluk Pulai

Tipe Habitat Tingkat

Pertumbuhan

Pakan Non Pakan Total

A B M A B M A B M Hutan Dataran Rendah Semai 3 3 0 18 20 0 21 23 0 Pancang 6 6 0 28 16 0 34 22 0 Tiang 9 2 0 28 6 0 37 8 0 Pohon 11 2 0 40 6 0 51 8 0 Tumbuhan Bawah 0 0 0 2 2 0 2 2 0

Hutan Rawa Air Tawar Semai 1 6 0 9 26 0 10 32 0 Pancang 2 6 0 15 18 0 17 24 0 Tiang 9 1 0 34 5 0 43 6 0 Pohon 7 1 0 31 4 0 38 5 0 Tumbuhan Bawah 0 3 0 0 7 0 0 10 0 Padang Rumput - 2 13 0 0 0 0 2 13 0 Semak Belukar - 2 10 0 1 3 0 3 13 0

Keterangan: A = Acak, B = Berkelompok, M = Merata.

Tabel di atas menunjukkan bahwa penyebaran secara acak lebih banyak terjadi pada tingkat tiang dan pohon di habitat hutan dataran rendah dan rawa air tawar. Sebanyak 37 dari 45 jenis tumbuhan menyebar secara acak pada tingkat tiang di habitat hutan dataran rendah, sedangkan pada tingkat pohonnya diketahui sebanyak 51 dari 59 jenis. Sedangkan habitat hutan rawa pada tingkat pertumbuhan tiang dan pohon berturut-turut adalah 43 dan 38 dari 49 dan 43 jenis diketahui penyebarannya secara acak. Sedangkan untuk tingkat pertumbuhan semai dan pancang umumnya bersifat mengelompok kecuali pada semai di tipe habitat hutan dataran rendah yang memiliki proporsi hampir sama antara tipe penyebaran acak dan mengelompok yakni 21 jenis menyebar secara acak dan 23 lainnya menyebar secara mengelompok. Perbedaan pola sebaran jenis ini dipengaruhi oleh bentuk hidup dari masing-masing jenis. Sebagai contoh adalah pada habitat padang rumput umumnya jenis memiliki habitus herba seperti jenis

rumput mambun (Zoysia matrella), tratat (Eleusine indica) dan tilam buaya (Isachne globosa), ketiganya memiliki pola sebaran jenis mengelompok. Begitu pula dengan lanan (Shorea ovalis) pada hutan rawa, jenis ini memiliki pola sebaran acak karena jenis ini berhabitus pohon. Djufri (2002) menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara bentuk hidup (habitus) dengan pola distribusi spesies. Habitus herba dan terna umumnya memilki sebaran mengelompok sedangkan untuk habitus pohon umumnya pola sebaran tumbuhannya adalah acak atau mengelompok.

Selain faktor bentuk hidup (habitus), faktor lain yang turut berpengaruh adalah dominasi jenis di suatu kondisi habitat. Umumnya jenis-jenis yang dominan memiliki pola sebaran tumbuhan mengelompok dan merata, sedangkan tumbuhan yang tidak dominan memiliki pola sebaran tumbuhan acak. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pada habitat hutan dataran rendah sesuai uraian di atas, jenis tumbuhan dominan seperti lewari (Schima wallichii) dan idat (Cratoxylon glaucum) memiliki habitus pohon akan tetapi karena dominasi yang tinggi menyebabkan jenis ini memiliki pola sebaran mengelompok. Sebagai perbandingan spesies penyusun padang rumput Taman Nasional Baluran cenderung pola distribusinya mengelompok karena faktor lingkungan dan pengaruh kompetisi (Djufri 2002). Selain itu pola distribusi tumbuhan cenderung mengelompok akibat tumbuhan ini berproduksi dengan biji yang jatuh dekat induknya (Barbour et al. 1987).

Sebanyak 10 jenis tumbuhan pakan diberbagai tipe habitat ditemukan menyebar secara acak. Sedangkan 35 jenis lainnya memiliki pola sebaran secara berkelompok dan 16 jenis lainnya tidak diketahui pola sebarannya. Jenis yang tidak diketahui ini ditemukan di luar plot contoh analisis vegetasi akan tetapi diketahui merupakan pakan rusa sambar. Pola penyebaran tumbuhan pakan pada berbagai tipe habitat dapat dilihat di Gambar 14.

Gambar 14 menunjukkan bahwa secara umum jenis pakan rusa menyebar secara berkelompok yakni sebesar 57,38 % dari total jenis pakan yang diketahui. Pola penyebaran jenis ini merupakan konsekuensi dari pemilihan lokasi analisis vegetasi yang merupakan habitat yang digunakan oleh rusa ketika mencari makan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Fischhoff et al. (2007) bahwa pemilihan

5 2 2 1 6 8 12 9 0 2 4 6 8 10 12 14 Hutan Dataran rendah Hutan Rawa Air Tawar Padang Rumput Semak Belukar Jum la h j eni s Tipe hutan Acak Mengelompok

habitat oleh satwa salah satunya adalah karena ketersediaan sumber pakan. Dasar ini menunjukkan bahwa satwa akan memilih habitat yang optimal sehubungan dengan ketersediaan pakan. Satwa akan lebih memilih habitat yang menyediakan sumber makanan yang merata dan mengelompok jika dibandingkan dengan sumber pakan yang tersebar secara acak. Hal ini karena satwa akan memilih untuk mencari pakan dengan sedikit biaya atau tenaga yang dikeluarkan (Hochman & Kotler 2007). Hal ini menunjukkan bahwa rusa sambar akan lebih memilih habitat padang rumput karena tumbuhan pakannya lebih banyak berkelompok. Akan tetapi karena letaknya yang berada di dekat pemukiman dan luasannya yang sempit, rusa sambar mengakibatkan rusa sambar lebih mudah ditemukan di habitat semak belukar dan hutan rawa air tawar.

Gambar 14 Sebaran jenis tumbuhan pakan yang ditemukan di berbagai tipe habitat di Resort Teluk Pulai.

Dokumen terkait