BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Fungsi
2.6.1 Polimerisasi adisi
Polimerisasi adisi adalah reaksi antara dua molekul (ikatan rangkap/ikatan jenuh), baik molekul yang sama yang akan membentuk homopolimer atau molekul yang berbeda yang membentuk heteropolimer sehingga menghasilkan molekul yang lebih besar tanpa mengeliminasi molekul yang kecil seperti air (Noort, 2008). Pada umumnya polimerisasi adisi dilakukan dengan bantuan inisiator. Reaksinya diawali dengan
18
pemutusan ikatan rangkap, kemudian dilanjutkan dengan reaksi adisi monomer lain yang belum bereaksi. Polimerasi adisi mengakibatkan terbukanya ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal.
Beradasarkan mekanisme reaksinya, polimerisasi adisi dibagi menjadi dua, yakni: polimerisasi adisi radikal bebas dan polimerisasi adisi ionik (Satibi, 2010).
a. Polimerisasi Adisi Radikal Bebas
Polimerisasi adisi radikal bebas merupakan metode yang banyak digunakan pada polimer kedokteran gigi dan untuk mensintesis polimer.
Radikal bebas ini dihasilkan agen reaktif atau inisiator, yang mana inisiator merupakan suatu molekul yang mempunyai satu ikatan yang relatif lemah dan bisa melalui proses degradasi untuk membentuk dua gugus reaktif yang memiliki elektron yang tidak berpasangan. Jenis reaktor yang sering digunakan pada bidang kedokteran gigi adalah benzoil peroksida, pada keadaan tertentu iktana peroksida dapat terpisah dan membentuk dua radikal yang identik. Proses dekomposisinya diperoleh dengan pemanasan atau reaksi menggunakan akivator kimia yang terjadi pada suhu yang rendah (McCabe &
Walls, 2008). Proses polimerisasi adisi yang membentuk polimer terdiri dari empat tahapan yaitu aktivasi, inisiasi, propagasi, terminasi dan chain transfer (Noort, 2008).
1. Aktivasi
Proses polimerisasi memerlukan radikal bebas. Radikal bebas adalah spesis kimia yang reaktif dan mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Proses memproduksi radikal bebas ini disebut sebagai proses aktivasi. Radikal bebas juga dikenal sebagai inisiator yang menginisiasi proses polimerisasi. Tetapi sebelum proses inisiasi, benzoil
peroksida tersebut perlu di aktivasi terlebih dahulu, melalui panas, senyawa kimia, dan sinar (Dykema dkk, 2010)
2. Inisiasi
Polimerisasi terinisiasi apabila radikal yang terbentuk pada aktivasi, bereaksi dengan monomer (McCabe & Walls, 2008).
3. Propagasi
Setelah inisiasi, radikal bebas yang baru dapat bereaksi dengan monomer lainnya. Setiap tahap reaksi menghasilkan satu gugus reaktif yang mampu berekasi lagi (McCabe & Walls, 2008).
4. Terminasi
Reaksi ini mengahasilkan rantai polimer yang sempurna berpolimerisasi dan tidak mampu lagi untuk adisi. Contohnya adalah gabungan dua rantai yang berkembang untuk satu rantai lengkap (McCabe & Walls, 2008).
5. Chain Tranfer (Alih Rantai)
Reaksi chain transfer merupakan reaksi yang mungkin terjadi pada proses polimerisasi adisi radikal bebas. Pada awalnya reaksi ini merupakan reaksi yang menganggu karena dapat mengurangi kecepatan pertumbuhan. Namun mekanisme ini kemudian dapat digunakan sebagai cara untuk mengontrol polimerisasi adisi radikal bebas.
b. Polimerisasi Adisi Ionik
Reaksi polimerisasi ionik ditandai dengan (Cowd, 1982):
1. Polimerisasi adisi ionik biasanya dilakukan pada suhu yang lebih rendah jika dibandingkan dengan polimerisasi radikal.
2. Ionik polimerisasi reaksi energi aktivasi selalu kurang dari energi aktivasi sesuai polimerisasi radikal, dan bahkan mungkin negatif.
3. Polimerisasi ionik media reaksi dan polaritas pelarut sensitif terhadap perubahan kapasitas
2.6.2 Polimerisasi Kondensasi
20
Polimer yang mengalami kondensasi yaitu polimer yang mempunyai formula molekular dengan unit berulang dalam rantai polimer dan mengandung atom yang tidak berpasangan pada monomer asalnya. Reaksi kondensasi melibatkan dua berekasi dan menghasilkan molekul ketiga yang besar (McCabe & Walls, 2008 ; Noort, 2008).Untuk memastikan reaksi tersebut dapat menghasilkan polimer, setiap molekul yang bereaksisekurang-kurangnya perlu mempunyai dua kelompok reaktif sehingga dapat terjadi reaksikondensasi yang lebih lanjut.
2.7 Isu Terkini
Penggunaan Polimer sebagai Bahan Restorasi Estetika Masa Kini
Dewasa ini, pengaruh gigi pada penampilan sudah terlihat dan mulaidiperhatikan oleh sebagian besar masyarakat. Gigi-gigi dimodifikasi dengan mengubah bentuk, warna dan menambahkan permata atau emas dalam upaya meningkatkan standart penampilan. Salah satu upaya memperbaiki nilaiestetika gigi yaitu dengan cara menutupi gigi yang mengalami kelainan dengan sebuah pelapis agar mempunyai kualitas penampilan yang lebih baik, yang biasa disebut dengan Veneer. Restorasi veneer digunakan untuk melapisi bagian gigi yang mengalami kerusakan, perubahan warna, fraktur sebagian gigi, gigi displasia maupun hipoplasia. Veneer dapat digunakan untuk merestorasi gigi tertentu (partial veneer) maupun untuk merestorasi gigi secara keseluruhan (full veneer) (Octarina, 2013).
Salah satu polimer kedokteran gigi yang erat hubungannya denganrestorasi veneer yaitu resin komposit. Resin komposit dipilih sebagai bahan restorasiveneer karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain dapat menghasilkan estetika dengan bentuk anatomi, morfologi serta warna yang menyerupai gigi asli, menghasilkan batas tepi yang baik, serta cukup kuat untuk menahan beban kunyah. Tak heran jika kini komposit tak hanya digunakan sebagi bahan tumpatan yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi gigi, tapi juga digunakan untuk memperbaiki estetika gigi (Maulidar, 2015).
Komponen restorasi veneer sama dengan resin komposit yang digunakansebagai tumpatan, yaitu terdiri dari campuran matriks resin organik, filler anorganik dan coupling agent. Seperti halnya tumpatan, dibutuhkan perekatan yang kuat antara permukaan gigi dengan restorasi veneer resin komposit agar tidak mudah lepas. Perekatan ini umumnya menggunakan bahan adhesif. Resin semen merupakan bahan adhesif yang paling sering digunakan untuk melekatkan inlay, onlay, veneer, crown yang terbuat dari material keramik, logam maupun resin komposit. Berdasarkan penelitian olehBagian Material Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia mendapatkan hasil bahwa semen resin yang dianjurkan karena memiliki kekuatan rekat yang paling baik untuk restorasi veneer yaitu semen resin Multi-step atau resin semen yang tahapan aplikasinya meliputi etsa, prime dan bonding yang dilakukan pada permukaan email (Octarina, 2013).
Restorasi veneer dengan resin komposit dapat dibagi ke dalam dua teknik, yaitu veneer komposit tidak langsung (indirect veneer) dan veneer komposit langsung (direct veneer).Restorasi direct veneer dikerjakan secara langsungpada rongga mulut pasien, biasanya terdiri dari satu atau beberapa lapisan dari komposit light curing, biasanya menggunakan microfill composite resin (resin komposit dengan partikel filler yang kecil). Direct veneer sangat berguna untuk anak-anak atau pasien usia remaja serta kosmetik tambahan pada pasien orang dewasa. Direct veneer mempunyai sejumlah keuntungan, seperti preparasi gigi yang minimal dan tidak memerlukan kerja laboratorium, biasanya digunakan pada restorasi partial veneer (Maulidar, 2015).
Restorasi indirect veneer dengan menggunakan resin komposit memiliki beberapa keunggulan, antara lain dapat menghasilkan estetika dengan bentuk anatomi dan morfologi menyerupai gigi asli, menghasilkan batas tepi yang baik, serta cukup kuat untuk menahan beban kunyah. Apabila terjadi fraktur pada restorasi indirect veneer, serta harganya yang lebih terjangkau bila dibandingkan dengan veneer dengan bahan sepeerti keramik (Octarina, 2013).
22
Oleh karena kelebihan-kelebihannya di bidang estetik tersebut, resin komposit dipilih sebagai bahan restorasi estetik masa kini, yaitu veneer.
23 BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Polimer merupakan suatu makromolekul yang terbentuk susunan monomer yang terikat melalui ikatan kimia. Dalam kedokteran gigi material polimer banyak digunakan karena harganya relatif murah, estetik yang baik, biokampatibilitas baik, manipulasi mudah, serta cukup kuat untu menahan beban kunyah. Polimer dapat dibedakan menjadi polimer alami dan polimer sintetik. Beberapa jenis polimer yang sering digunakan dalam kedokteran gigi yaitu elastomer, komposit, dan akrilik. ikatan rantai yang dapat terjadi pada polimer dapat berupa rantai linier, bercabang, dan crosslink. Berdasarkan komposisi monomernya, polimer diklasifikasikan menjadi homopolimer dan kopolimer. Secara umum polimer berfungsi untuk membuat gigi palsu dan digunakan di berbagai bidang kedokteran gigi. Penggunaan material polimer harus kuat secara mekanis dan memiliki sifat fisik yang stabil, mudah dimanipulasi, memiliki kualitas estetik yang sempurna, stabil secara kimiawi selama penyimpanan maupun di dalam mulut, memiliki kompabilitas biologikal, dan memiliki harga ekonomis. Polimer dihasilkan melalui suatu proses yag disebut polimerisasi. Kesadaran masyarakan akan estetika penanpinan menyebabkan polimer digunakan sebagai bahan restorasi estetika masa kini.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sertakan pada student project ini, yaitu:
1. Diperlukan peningkatan kemampuan sintesis untuk merangkum informasi tanpa mengurangi substansinya.
2. Diperlukan adanya penelusuran literatur yang lebih banyak lagi untuk menambah pengetahuan mengenai polimer dan dapat pengaplikasian polimer
dalam bidang kedokteran gigi.
24 BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Ali, U., Karim, K. J. B. A., & Buang, N. A. 2015. A review of the properties and applications of poly (methyl methacrylate)(PMMA). Polymer Reviews, 55(4), 678-705.
Anusavice, K. J., Shen, C., Ralph, R. H. 2013. Philips’ science of dental materials 12nd ed. Missouri: Elsevier. 474-82.
Baqar, M., dkk. 2012. Methylol‐functional benzoxazines as precursors for high‐performance thermoset polymers: Unique simultaneous addition and condensation polymerization behavior. Journal of Polymer Science Part A:
Polymer Chemistry, 50(11), pp.2275-2285. Tersedia di:
https://onlinelibrary.wiley.com [Diakses pada 10 September 2018].
Bhola, R., Bhola, S. M., Liang, H., & Mishra, B. 2010. Biocompatible denture polymers-a review. Trends Biomater Artif Organs, 23(3), 129-136.
Budiati, T. 2006. Kimia Organik Sebagai Dasar Pemahaman Senyawa Obat.
Surabaya. Tersedia di: http://repository.unair.ac.id [Diakses pada 12 September 2018].
Dykema, R.L., Goodacre, C.J., Phillips, R.W. 2010. Johnston’s modern practice in fixed prosthodontics. 4th ed. Philadelphia, WB. Saunders Company.110-126.
Halpern, B.D. 2006. Dental polymers. Annals New York Academy of Science. Hal.
106-113. Tersedia di: https://doi.org,10.1111/[Diakses pada 15 September 2018].
Hanhi, K., Poikelispaa, M., & Tirila, H. M. 2007. Elastomeric materials. Tampere University of Technology. 1-84.
Hussain, S. 2004. Textbook of dental materials. New Delhi: JBM Publishers. Hal 1-2
Maulidar. 2015. Direct veneer composite pada gigi premolar satu kiri rahang atas (laporan kasus). Cakradonya Dent J. 7(1):745-806. Tersedia di:
http://jurnal.unsyiah.ac.id/ [Diakses pada 15 September 2018].
McCabe, J.F., Walls, A. 2008. Applied dental materials. 9th ed. Singapore: Blackwell Publishing. 1,101-123.
Milosevic, M. 2016. Polymers mechanics of dental composites.International Conference on Manufacturing Engineering and Materials. Hal 313-320.
Tersedia di: https://doi.org/[Diakses pada 15 September 2018].
Morales, C. 2018. Operative Dentistry,UF Health, College Of Dentistry University Of Florida. Tersedia di: https://dental.ufl.edu/ [Diakses pada 10 September 2018].
Noort, R.V. 2008. Introduction to dental material 3rd ed. Philadelphia:Mosby Elsevier.
Octarina, Eriwati, Y.K., Soufyan, A. 2013 Analisis patahan veneer indirek resin komposit yang direkatkan pada email menggunakan dua resin semen berbeda.
Jurnal Material Kedokteran Gigi.1 (1): 50-58. Tersedia di:
http:/jurnal.pdgi.or.id/ [Diakses pada 15 September 2018].
Satibi, L. 2010. Pengaruh umur katalis ziegler natta pada kecepatan awal polimerisasi asetilen. Majalah LAPAN, 3(3).
Sulistyawati, E. 2010. Polimerisasi akrilamida dengan metode, Mixed Solvent Precipitation Menggunakan Inisiator Kalium Persulfat. EKSERGI, 10(1), pp.21-28.
Yildiz, O., dkk. Dental polymers: effects on vascular tone. Encyclopedia of Biomedical Polymers and Polymeric Biometarials. New York: Taylor &
Francis, 1-13.
26
Deb, S. 1998. Polymers in dentistry. Journal of Engineering in Medicine. 212: Hal.
453-467. Tersedia di: http://www.mdpi.com/ [Diakses pada 15 September 2018].
Sideridou, I.D. 2010. Dental polymer composites. Encyclopedia of Polymer Composites: Properties, Performance and Applications. Hal. 593-619. Tersedia di: https://gudcare.netforce.co.th/[Diakses pada 15 September 2018].
Ismail, A.F. 2010. Material Kedokteran Gigi Yang Mempunyai Bahan Dasar Polimer. Universitas Sumatera Utara.
Bhola, R., dkk. 2010. Biocompatible denture polymers-a review. Trends Biomater Artif Organs, 23(3), 129-136. Tersedia di: http:// medind.nic.in/ [Diakses pada 15 September 2018].
Ali, U., Karim, K. J. B. A., & Buang, N. A. 2015. A review of the properties and applications of poly (methyl methacrylate)(PMMA). Polymer Reviews, 55(4), 678-705. Tersedia di: https://www.tandfonline.com/[Diakses pada 15 September 2018].
Yildiz, O., dkk. 2014. Dental polymers: effects on vascular tone. encyclopedia of biomedical polymers and polymeric biometarials. New York: Taylor & Francis, 1-13.
Hanhi, K., Poikelispaa, M., & Tirila, H. M. 2007. Elastomeric Materials. Tampere University of Technology. 1-84.
Boraldi, F., Coppi, C., Bortolini, S., Consolo, U., & Tiozzo, R. 2009. Cytotoxic evaluation of elastomeric dental impression materials on a permanent mouse cell line and on a primary human gingival fibroblast culture. Materials, 2(3), 934-944.
Din, S. U., Hassan, M., Parker, S., & Patel, M. 2016. Setting characteristics of three commercial vinyl polysiloxane impression materials measured by an oscillating rheometer. Pakistan Oral & Dental Journal, 36(3).