Stakeholder didefinisikan sebagai grup atau individu yang dapat mempengaruhi atau
dipengaruhi pencapaian tujuan organisasi.13 Menurut Eden dan Ackerman yang
menjadi stakeholder adalah orang atau kelompok yang memiliki kekuasaan
mempengaruhi masa depan organisasi secara langsung.14 Identifikasi stakeholder
tidak cukup dilakukan pada struktur formal, tetapi juga harusmemperhatikan
hubungan informal dan tidak langsung.15 Analisis stakeholder saat ini jauh lebih
penting dari sebelumnya karena perubahan yang menyebabkan dunia saling
berhubungan.16 Stakeholder merupakan hal penting karena keberhasilan proses
manajemen strategis organisasi bergantung pada kepuasan stakeholder atas apa
yang dianggap berharga.17 Selain itu, stakeholder juga dibutuhkan untuk menilai dan
meningkatkan kelayakan politik.18 Perhatian terhadap stakeholder penting untuk
memuaskan semua yang terlibat atau terkena dampak serta terpenuhinya keadilan
prosedural, rasionalitas prosedural dan legitimasi hukum.19 Dengan demikian
stakeholder memiliki peran signifikan dalam pencapaian organisasi, maka analisis stakeholder menjadi penting.
Terdapat berbagai teknik pemetaan stakeholder, salah satunya analisis kekuasaan
dan kepentingan yang dikembangkan oleh Johnson dan Scholes yang diadaptasi
dari Mendelow.20 Matriks kekuasaan-kepentingan adalah alat yang berguna untuk
menganalisis harapan dan dampak dari stakeholder tertentu. Matriks kekuasaan-
kepentingan memberikan informasi tentang bagaimana menangani stateholder
tertentu dan kelompok.
Matrix Power-Interest21
13
R. Edward Freeman. Strategic Management: A Stakeholde. page : 46, 1984
14
John M. Bryson. Stakeholder identification and Analysis Techniques. Public Managemen Review, Vol. 6 Isue 1 hal. 21-53, 2004
15
Dagmar Reclies. Stakeholder Management, Recklies Management Project GmbH. www.themanager.org, April 2001
16
D Ketti. The Transformation o f Governance Public Administration for Twenty-First Century of America. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press
17
J. Bryson. Strategic Planning for Public and Nonprofit Organizations (rev. edn). San Francisco, CA: Jossey-Bass, hal. 27, 1995
18
C. Eden, and Ackermann. Making Strategy: The Journey of Strategic Management. London: Sage Publications.
19
ibid
20
S. Olander dan A. Landin. Evaluation of Stakeholder Influence in The Influence of Construction Project. International Journal of Project Management 23, hal. 321–328, 2005
21
Stakeholder dengan kepentingan dan kekuasaan rendah dalam organisasi hanya perlu diberikan informasi jika diperlukan serta tidak perlu berinvestasi terlalu banyak
usaha kedalamnya. Stakeholder dengan kepentingan tinggi, tetapi mereka memiliki
kekuasaan yang terbatas dapat menjadi sekutu yang berharga dalam keputusan-
keputusan penting. Untuk stakeholder dengan kepentingan rendah, tetapi memiliki
kekuasaan besar yang berdampak besar pada organisasi diperlukan analisis niat potensial dan reaksi dari kelompok-kelompok dalam semua perkembangan penting
serta melibatkan mereka sesuai dengan kepentingannya. Stakeholder paling penting
adalah yang memiliki kepentingan dan kekuasaan tinggi. Mereka harus dilibatkan
pada semua perkembangan yang sesuai.22
Perumusan dan pelaksanan kebijakan pertahanan Polandia banyak melibatkan
stakeholder. Masing-masing stakeholder yang terlibat memiliki kepentingan dan pengaruh yang berbeda terhadap kebijakan pertahanan. Hal ini ditunjukan dengan
peranan serta keterlibatan masing-masing stakeholder dalam pengembangan
pertahanan Polandia. Keadaan ini dapat mempengaruhi keberhasilan proses perencaan dan penerapan kebijakan pertahanan. Oleh karena itu, analisis
stakeholder digunakan untuk melakukan identifikasi stakeholder yang terlibat terkait dengan kepentingan dalam dan luar negeri Polandia serta pengaruhnya terhadap kebijakan pertahanan.
Analisis Stakeholder
Dalam analisis stakeholder ini dapat diketahui stakeholder yang berperan dalam
perubahan Polandia yang demokratis. Stakeholder ini digolongkan dengan dengan
Low Power dan Low Interest, Low Power dan High Interest, High Power dan Low Interest, dan High Power dan High Interest. Analisis stakeholder ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan ini.
Rakyat Polandia dikategorikan dalam stakeholder yang Low Power dan Low Interest.
Hal ini dikarenakan minimnya pengaruh rakyat Polandia dalam menentukan arah kebijakan Polandia. Akan tetapi, pernyataan ini masih dapat diperdebatkan mengingat peran besar rakyat Polandia dalam proses transformasi Polandia menjadi negara demokratis. Setelah menjadi negara demokratis, rakyat Polandia tidak berperan penting dalam menentukan arah kebijakan Polandia. Salah satu contohnya adalah keputusan dari Polandia untuk bergabung dengan NATO yang lahir dari pertimbangan elite politik Polandia supaya Polandia dapat memainkan peranannya
22
di dunia internasional. Dari sisi eksternal, terdapat masyarakat Uni Eropa yang
dikategorikan Low Power dan Low Interest dalam menentukan kebijakan Polandia.
Masyarakat negara-negara Uni Eropa memilliki kepentingan untuk mempromosikan demokrasi di Eropa Timur denga Polandia sebagai agen demokrasi. Tetapi, masyarakat negara-negara Uni Eropa tidak mempunyai pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan kebijakan Polandia.
Industri pertahanan dalam negeri, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
dan media lokal termasuk dalam kategori stakeholder yang memiliki Low Power dan
High Interest dalam kebijakan Polandia. Industri pertahanan Polandia memiliki kepentingan tinggi terhadap arah kebijakan Polandia mengingat pemenuhan kebutuhan angkatan bersenjata Polandia dilakukan oleh industri pertahanan dalam negerinya. Berkaitan dengan proses demokrasi Polandia, LSM lokal dan media lokal memiliki kepentingan khusus atas proses demokrasi Polandia pasca kekuasaan komunisme. Dari sisi eksternal, LSM internasional dan media internasional juga memiliki kepentingan tersendiri atas kebijakan Polandia mengingat peran Polandia sebagai agen demokrasi di Eropa Timur.
Ekonomi dalam negeri Polandia termasuk didalamnya institusi perbankan memegang kekuasaan besar di Polandia tetapi dengan tingkat kepentingan yang rendah. Hal ini diakibatkan dengan pertumbuhan ekonomi Polandia yang baik dengan tingkat investasi yang semakin meningkat membutuhkan aliran dana yang tidak sedikit. Kekuasaan besar yang dimiliki oleh ekonomi dalam negeri ini masih belum memiliki kepentingan terhadap kebijakan Polandia. Akan tetapi, jika pertumbuhan ekonomi terganggu akan mengakibatkan para stakeholder ini untuk menggunakan kekuatan finansialnya dalam mempengaruhi kebijakan Polandia. Pada pihak eksternal, IMF, World Bank, dan Multinational Corporation memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi kebijakan Polandia. Polandia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi pasar bebas membutuhkan aliran dana yang besar dalam menunjang pertumbuhan ekonominya. Oleh karena itu, badan finansial dunia dan perusahaan multinasional memiliki kekuatan yang besar dalam kebijakan Polandia meskipun dengan tingkat kepentingan yang masih rendah.
Beralih pada stakeholder yang memiliki High Power dan High Interest atas kebijakan
Polandia. Dari sisi internal, para stakeholder ini adalah Parlemen Polandia, Pemerintah Polandia, dan Angkatan Bersenjata Polandia. Ketiga stakeholder ini memiliki kekuatan dan kepentingan atas kebijakan Polandia. Parlemen sebagai lembaga legislatif berperan dalam membuat hukum bagi Polandia yang tentunya berimplikasi pada kebijakan Polandia. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif berperan untuk melaksanakan jalannya pemerintahan yang juga berpengaruh terhadap arah kebijakan Polandia. Angkatan Bersenjata Polandia juga berperan penting dalam peranannya sebagai aktor pertahanan terutama dengan melihat keanggotaan Polandia di NATO.
Dari sisi eksternal, para stakeholder yang mempunyai kekuatan dan kepentingan
tinggi terhadap kebijakan Polandia adalah NATO, Uni Eropa, Visegard Group, Weimar, Amerika Serikat, Rusia dan PBB. Para stakeholder ini dianggap memiliki peranan krusial dalam penentuan kebijakan Polandia. Polandia dalam empat pilar pertahanannya secara khusus menyebut aliansi dengan Amerika Serikat dan menjadi anggota NATO merupakan faktor penting dalam perumusan kebijakan pertahannanya. Polandia dalam keanggotaannya di Weimar dan Visegrad Group membutuhkan sekutu dalam melaksanakan pertahanan kolektif terhadap ancaman
militer dari negara lain. Polandia juga menyatakan manfaat positif dari keanggotaannya di NATO dimana Polandia mampu mengubah Angkatan Bersenjatanya menjadi militer yang profesional dan sesuai standarisasi NATO yang meningkatkan kualitas personel dan alutsista Polandia. PBB berperan penting dalam kebijakan pertahanan Polandia dimana dengan seringnya Polandia diminta untuk menajdi Pasukan Perdamaian PBB di berbagai daerah konflik. Penugasan ini tentu saja bermanfaat bagi Polandia untuk menciptakan kesan positif di mata dunia internasional.