PERTANIAN SEBAGAI BASIS EKONOM
2.4 Politik Undervalue Sektor Pertanian
Peminggiran yang dilakukan oleh politisi dan perumus kebijakan (representasi dari politik) terhadap sektor pertanian sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari argumen paradoks pembangunan di atas. Pada intinya,
undervalue terhadap sektor pertanian lebih banyak disebabkan kalkulasi ekonomi rasional (dan personal) para politisi terhadap manfaat politis atau konsesi yang mereka peroleh apabila terlalu berpihak pada sektor dengan basis sumberdaya alam itu. Pada masa Orde Baru dulu, para politisi sangat piawai membaca situasi dan memperhitungkan kekuatan dinamis yang mampu mempengaruhi proses pembangunan ekonomi nasional. Artinya, pilihan strategis mereka untuk menempatkan ketahanan pangan tingkat nasional telah digunakan
mereka tetapkan. Akan tetapi, keberpihakan semu seperti itu membawa dampak buruk kepada petani karena beberapa bias kebijakan (policy bias) yang menyertainya.
Beberapa bias kebijakan karena keputusan politik yang sangat tidak menguntungkan sektor pertanian itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut: Pertama, bias perkotaan (urban bias) yang sangat umum menjangkiti para politisi yang kebanyakan memang tinggal di perkotaan. Kejadian kronis setiap musim panen mengenai anjloknya harga gabah petani adalah akibat dari ketidakampuhan kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) yang memang lebih dipengaruhi oleh bias perkotaan di atas. Masyarakat konsumen perkotaan yang lebih banyak menerima manfaat dari sekian mancam program pemerintah, yang bahkan memberikan subsidi pada sektor pertanian (lihat Arifin, 2001a)
Demikian pula, warna urban bias menjadi begitu kental ketika pada musim paceklik atau krisis seperti pada pertengahan 1998 lalu. Pemerintah melakukan operasi pasar atau menjual beras murah untuk menahan melonjaknya harga eceran beras, yang apabila berlanjut jelas sangat tidak kondusif pada stabilitas politik. Subsidi senilai hampir Rp 10 triliun pada tahun anggaran lalu ternyata lebih banyak (hampir 70%) dinikmati konsumen yang nota bene tinggal di perkotaan. Benar bahwa pemerintah belakangan telah mempertajam sasaran operasi pasar khusus, misalnya melaksanakan program beras untuk rakyat miskin (raskin) beras agar dapat dinikmati oleh kaum miskin di perkotaan dan di pedesaan. Namun, representasi suara masyarakat petani di tingkat perumusan kebijakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan akses politik konsumen dan kaum perkotaan apabila kepetingannya terganggu.
Kedua, bias kebijakan industrialisasi dan ekonomi makro yang jelas tidak dapat dipisahkan dari derajat pemahaman ekonomi para politisi dan mind-set
dari pemimpin nasional. Kebijakan industrilaisasi – walaupun harus melakukan proteksi industri – jelas amat diskriminatif terhadap sektor pertanian. Beberapa instrumen kebijakan seperti pajak impor, nilai tukar rendah, dan bahkan kuota tertentu untuk melindungi industri bayi – seperti kasus industri otomotif, petrokimia, tekstil dan lain-lain – telah mengakibatkan konsumen domestik, termasuk petani harus membayar harga beli produk-produk itu lebih mahal dari harga sebenarnya di tingkat internasional. Menurut istilah ekonomi, sektor industri yang diproteksi seperti itu justru tidak terpengaruh oleh perubahan atau apresiasi nilai tukar sehingga seluruh beban ekonomi politik karena apresiasi itu harus ditanggung sektor pertanian.
Kebijakan makroekonomi lain juga tidak berpihak pada sektor pertanian. Skandal bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang melibatkan pejabat penting dan kaum elit serta dana besar trilyunan rupiah yang dibutuhkan untuk rekapitalisasi perbankan – apalagi ditingkahi penjarahan bank-bank pemerintah – telah mengorbankan sektor pertanian. Begitu pula, kebijakan perdagangan internasional sampai pada program- program pengkuatan posisi para eksportir untuk komoditas ekspor hasil pertanian sekalipun juga terlalu diskriminatif. Kebijakan itu secara inheren telah melemahkan posisi tawar petani di pedesaan dan memperlemah acuan nilai tukar (terms of trade) sektor pertanian di Indonesia.
Ketiga, pemikiran mengenai ekonomi dualistik yang dioperasionalisasikan di Indonesia melalui pola inti-plasma, juga dibangun dengan karakter dikotomis: modern versus tradisional yang ternyata sangat merugikan sektor pertanian tradisional. Studi empiris terhadap beberapa komoditas perkebunan dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) ternyata mempersubur fenomena kegagalan pasar (market failures) yang ditunjukkan oleh struktur pasar yang sangat tidak sehat. Perusahaan inti yang diharapkan membina
petani plasma, justru memanfaatkan power yang dimilikinya untuk menciptakan struktur pasar monopsonis. Inti menjadi penentu harga (price determinator) ntuk produk-produk yang dihasilkan petani plasma, sedangkan para petani plasma hanya menjadi penerima harga (price taker) karena kemampuan tawar yang demikian rendah.
Sebaliknya, untuk produk-produk olahan yang diproduksi oleh perusahaan inti, struktur pasar monopoli – atau tepatnya oligopoli yang menjurus ke kartel – lebih banyak dijumpai. Kekuatan dan privilege perusahaan inti sebenarnya atas bantuan dan fasilitas tertentu yang diberikan birokrasi pemerintahan. Menariknya, pola inti-plasma ini sangat digemari oleh birokrasi, politisi dan tentunya perusahaan swasta, karena disamping secara ekonomis feasible, menguntungkan, dan mudah dilaksanakan, juga secara politis justifiable karena seakan-akan telah mengembangkan pola kemitraan yang baik.
Pada kesempatan lain, penulis memperkuat argumen di atas, terutama untuk kasus komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan minyak goreng, serta komoditas tebu dan gula (Arifin dan Rachbini, 2001). Permasalahan struktural dari hulu sampai hilir untuk komoditas perkebunan strategis di atas telah mengurangi daya saing dan efisiensi Indonesia di pasar internasional. Harga rendah Rp 300-400/kg yang diterima petani plasma untuk tandan buah segar (TBS) jelas tidak berdiri sendiri, tetapi berkait dengan struktur monopsonis industri ini. Sementara itu di tengah-tengah harga CPO di pasar dunia yang anjlok, pemerintah masih menerapkan pajak ekspor 10 persen, walaupun telah ada tekad untuk menghapuskannya belakangan ini. Sedangkan tebu dan gula domestik jelas-jelas tidak mampu bersaing dengan gula dunia karena strategi tebu-rakyat intensifikasi (TRI) dan tebu rakyat bebas yang tidak lepas dari perburuan rente ekonomi oleh pelaku industri.