• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini menjelaskan tentang sumber daya KEP Posdaya EM yakni kemudahan memperoleh bantuan. Sistem pengelolaan kegiatan dijelaskan melalui jumlah alokasi dana bantuan dan frekuensi kunjungan pendamping. Selanjutnya peranan kelompok dibahas melalui pola kepemimpinan dari seluruh pengurus KEP dan Non-KEP Posdaya EM. Penjelasan dari beberapa variabel tersebut dipaparkan pada sub-bab berikut.

Tingkat Bantuan Dana

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab profil Posdaya EM, bahwa bantuan pinjaman sebesar Rp19 000 000 dialokasikan untuk 38 peserta pada awal berjalannya KEP ini. Seiring bertambahnya modal untuk simpan pinjam maka semakin banyak peserta yang bergabung untuk meminjam dana. Tingkat bantuan dana yang diberikan menjadi beragam tergantung pada peserta mengajukan nominal jumlah pinjaman. Peserta peminjam paling banyak terdapat pada RT 01, di duga karena koordinator KEP Posdaya dan sebagian besar pengurus terletak pada RT tersebut. Peserta terbanyak setelah RT 01 adalah RT 03 dan peserta paling sedikit pada RT 02. Berikut adalah tabel persentase tingkat bantuan dana pada KEP Posdaya EM.

Tabel 15 Persentase jumlah peminjam pada rumah tangga peserta KEP Posdaya EM di Desa Cihideung Udik, Tahun 2014

Tingkat Bantuan Jumlah Persentase (%)

Rendah 41 59.4

Sedang 12 17.4

Tinggi 16 23.2

Total 69 100.0

Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa persentase tertinggi adalah tingkat bantuan rendah. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar jenis pekerjaan peserta adalah sebagai pedagang yang membutuhkan modal besar. Posdaya EM hanya sanggup memberi modal pinjaman dari Rp500 000 sampai Rp2 000 000 karena terbatasnya uang kas Posdaya. Hal tersebut menjadikan peserta hanya diperbolehkan meminjam sesuai ketentuan pengurus sehingga, sebagian peserta jarang meminjam pada Posdaya dan masih mengakses “Bank Keliling” yang ada di desa Cihideung Udik. Alasan mereka masih mengakses “Bank Keliling” karena meminjam di “Bank Keliling” bisa dengan jumlah nominal yang besar sehingga dapat menambah modal dagang dengan jumlah yang besar, seperti yang dikemukakan oleh Bapak Rz salah satu peserta KEP Posdaya Ez:

“ nya bade kumaha deui neng, tambutan ti Posdaya mah alit. Teu tiasa kanggo nambihan modal jualan abdi. Upami abdi butuh na 5 juta, mung Posdaya ngan tiasa masihan 1 juta, eta oge cairn a lami neng. Saur pengurus na artos na tos se’ep ditambutkeun ka nu sanes lajeung artos ka na teu ceukap kanggo dana pnjeman. Da abdi mah rumaos yen abdi the anggota, enya

enya wae, akhirna abdi nambut ka bank keliling. Supados nambahin modal nab eh enggal”.

Persentase tingkat bantuan tinggi lebih sedikit 36.2 persen dari tingkat bantuan rendah. Peserta tersebut mengaku bahwa Posdaya sangat membantu menambah modal bagi pedagang kecil. Selain itu uang pinjaman juga dapat digunakan sebagai biaya pendidikan anak dan konsumsi sehari-hari. Peserta juga menyatakan pada KEP Posdaya uang bagi hasil realatif rendah sehingga tidak memberatkan mereka dalam membayar angsuran.

Pengelolaan Posdaya EM

Tingkat Kemudahan Memperoleh Bantuan

Syarat dan ketentuan pinjaman ditetapkan sesuai kesepakatan bersama antara pengurus dengan anggota melalui rapat bulanan. Syarat tersebut meliputi menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK), fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP), menyetujui membayar dana hibah yang sering disebut uang bagi hasil, dan menyetujui membayar infaq bagi peserta yang terlambat membayar cicilan pinjaman.

Beberapa syarat yang ditetapkan tersebut tidak memberatkan peserta sehingga dana awal sebesar Rp19 000 000 terbagi merata sebesar Rp500 000 pada seluruh anggota. Secara keseluruhan peserta mengaku memenuhi persyaratan tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kemudahan memperoleh bantuan tergolong mudah.

Frekuensi Kunjungan Pendamping Posdaya

Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Posdaya ini dibina oleh P2SDM IPB. Tugas Pembina dibantu oleh pendamping lapang yang bertugas mengunjungi Posdaya minimal satu bulan sekali. Dewan Pembina hanya sesekali saja berkunjung dan mengikuti rapat bulanan. Pendamping Lapang di Posdaya Eka Mandiri adalah RK, mahasiswa IPB berjenis kelamin perempuan. Pendamping Lapang mengaku tidak sering berkunjung pada Posdaya EM karena Posdaya ini dianggap sudah baik oleh P2SDM IPB maupun Pendamping. Berikut pernyataan dari RK Pendamping Lapang pada saat peneliti melakukan wawancara mendalam:

“ Saya mah ga sering berkunjung ke Eka Mandiri, karena Posdaya ini sudah lebih baik dari Posdaya yang lain. Pendamping kan diberi amanah untuk mendampingi 6 Posdaya oleh P2SDM IPB pada masa jabatannya, nah kalau saya lebih fokus ke Posdaya yang masih belum terlalu baik untuk di kunjungi seperti Posdaya Berdikari. Palingan nanti pas waktu mau ada OST saja kita sering datang sama Pembina buat ngasih arahan, yang penting mah satu bulan sekali dikunjungi”.

Pada tahun 2010 akhir, Posdaya EM berhasil mendapatkan dana bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sebesar Rp50 000 000 dan dialokasikan Rp 19 000 000 untuk KEP Posdaya. Pada tahun tersebut terdapat fasilitator dari BP3K (Pemkab Bogor) berjenis kelamin laki-laki yang secara rutin mengunjungi satu minggu sekali pada hari Kamis. Pendamping dari BP4K adalah laki-laki, namun ternyata pendamping ini hanya sesekali saja berkunjung ke Posdaya EM.

Kegiatan pendampingan oleh fasilitator terbagi menjadi beberapa kegiatan. Hasil survei pada 69 peserta menunjukkan kegiatan kunjungan tertinggi adalah kunjungan untuk persiapan Observation Study Tour (OST). Pendampingan yang sering dilakukan oleh BP3K meliputi mendampingi penentuan aturan dalam KEP Posdaya EM, penentuan sanksi bagi yang melanggar aturan. Pendamping tidak pernah mendampingi dan memberi arahan bagi peserta untuk mengembangkan usaha. Berikut pemaparan dari Ibu AT salah satu peserta KEP Posdaya EM:

“Pendamping mah tara kadieu neng. Mun datang oge paling ngen kabumi Pak IY ( Ketua Posdaya), lamun henteu kitu paling ka PAUD. Teu pernah oge naros usaha na aya kamajuan atawa henteu, pokokna mah tara we sumping ka bumi warga”.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa fasilitator yang memiliki frekuensi kunjungan tertinggi adalah fasilitator dari BP3K dan kegiatan pendampingan yang sering dilakukan adalah persiapan OST.

Peranan Kelompok

Peranan kelompok yang diidentifikasi dari pola kepemimpinan seluruh pengurus dan koordinator pengurus pada setiap bidang. Pola kepemimpinan tersebut dibagi menjadi tiga yaitu kepemimpinan otoriter, kepemimpinan demokratis, dan kepemimpinan laizess fiere. Secara lebih lanjut pola kepemimpinan pada Posdaya EM disajikan pada tabel 14 berikut.

Tabel 16 Persentase pola kepemimpinan pada pengurus KEP Posdaya EM di Desa Cihideung Udik, Tahun 2014

Pola Kepemimpinan Jumlah Persentase

Otoriter 34 49.3

Laizess faire 6 8.7

Demokratis 29 42.0

Total 69 100

Sesuai dengan Tabel 16 bahwa Pola kepemimpinan pada Posdaya EM menunjukkan pola kepemimpinan otoriter hampir sama dengan persentase pola kepemimpinan demoktaris. Kepemimpinan otoriter dikemukakan oleh responden yang merupakan anggota Posdaya. Responden mengaku tidak pernah diajak rapat dan mengemukakan pendapat jika ada kegiatan di Posdaya. Pola kepemimpinan demokratis dikemukakan oleh responden yang merupakan pengurus Posdaya. Menurut mereka pengurus telah mengajak anggota mengkuti rapat dan kegiatan lain, namun anggota tidak pernah datang karena sibuk urusan masing-masing. Selisih persentase tersebut sekitar 7.3 persen lebih besar pola kepemimpinan

otoriter. Dengan kata lain, pola kepemimpinan pengurus Posdaya EM masih tergolong otoriter.

Kesimpulan

Akumulasi frekuensi kunjungan dan tingkat kemudahan memperoleh pinjaman adalah variabel yang diduga berhungan dengan kesetaraan gender yang meliputi akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat. Disimpulkan bahwa akumulasi frekuensi kunjungan oleh pendamping seluruhnya tergolong tinggi karena Fasilitator rutin mengunjungi Posdaya EM. Demikian halnya dengan variabel tingkat kemudahan memperoleh pinjaman yang seluruhnya tergolong mudah dipenuhi. Dengan demikian tidak dapat dilakukan analisis hubungan antara kedua variabel input dengan variabel kesetaraan gender yang meliputi tingkat akses, tingkat kontrol, tingkat partisipasi, dan tingkat manfaat.

DINAMIKA GENDER DALAM KEGIATAN EKONOMI

Dokumen terkait