• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I: PENDAHULUAN

C. Unit Makna dan Deskripsi

1. Postpartum Blues Symptoms

Postpartum blues symptoms atau gejala-gejala postpartum blues adalah sejumlah indikator yang menunjukkan adanya kesedihan atau keadaan depresif ringan, muncul pada ibu setelah melahirkan. Gejala-gejala tersebut diantaranya adalah distorsi kognitif (cognitive distortion), perubahan mood yang berganti-ganti (mood swing), gejala perilaku (behavioral symptom) dan gejala psikosomatis (psychosomatic symptom).

a. Cognitive distortion

Cognitive distortion atau distorsi kognitif adalah gejala postpartum blues yang melibatkan terjadinya suatu kesalahan dalam menangkap dan mengolah suatu peristiwa, meliputi tiga hal, yaitu cara berfikir mengenai suatu hal secara terus-menerus (obsessive thinking), melebih-lebihkan suatu peristiwa/ kegagalan (maximization), dan pernyataan-pernyataan keharusan yang dibuat oleh individu terhadap dirinya (self-commandment).

1) Obsessive thinking

Masing-masing subjek dalam penelitian ini memiliki cara khas masing-masing dalam mereaksi suatu peristiwa yang disinyalir sebagai pemicu munculnya gejala. Subjek #1 menunjukkan cara berfikir yang obsesif sebagai respon terhadap munculnya beban finansial akibat proses persalinan sectio caesarea yang belum terfikirkan sebelumnya (a), belum mempunyai rumah sendiri meski telah mempunyai anak (b), dan berat badan berlebih setelah melahirkan (c).

Subjek #1:

(a) “Ya… meh piye ya Mbak. Operasi. Itu yang nyari uang itu… ini

[bayinya] bisa… keluar apa nggak. Soalnya masalah biaya juga jadi pikiran ...., … Kita kan ya, pegangnya uang cuma segitu. Jadikan… baru periksa sebentar terus langsung suruh operasi. Kita kan juga bingung mikirin masalah biaya. Ya, itu seperti itu. ... ... Mikirnya gimana cari uang.”

(b) “Ya masalahnya ini loh Mbak. Aku gini. Belum bisa… belum punya ya

gubug-gubug sendiri. Jadi kan, aku kan udah punya anak. Mau nggak mau harus mikir itu.”

(c) “E… perute nggak bisa kecil lagi kok Mbak!! Susah! ... ... Perubahan

bentuk, takut nek gemuk itu! Namanya perempuan kan nek gemuk kan, namane suami perginya jauh… jadi supir… lihat cewek cantik-cantik…

kan gitu… ... Yo wedi Mbak, nek kebablasen? Nek kebablasen dadi gedhe

terus?..., ... Ya kepikirano… lha aku nek gedhe terus sakmene ki njur piye dadine. Podho wae to Mbak.”

Subjek #2 menunjukkan cara berfikir sebagai respon terhadap perasaan tidak mampu dalam perawatan bayi (a), keinginan mertua agar bayi tinggal bersama dengan mertua (b), dan kekhawatiran tentang keadaan bayinya yang lahir prematur sehingga membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit (c).

Subjek #2:

(a) “Bar selama seminggu kuwi ki aku mikir, wah nek ibu kerjo aku

dhewe, aku ki opo iso ngono lho Mbak koyo ngono ki. Pokoke bebanku ki ning kono. Pokoke mikir, ojo ndang senen, pokoke ibu ojo ndang kerjo sik.”

(b) “Paling bingung ki mengko opo… nek… mbahe kono [ibu

mertuaku] njaluk [bayine] tinggal ning kono [rumah mertua]. ... ... bingung… lha aku sing, sing tak pikirke ki kuwi terus. Piye ki, aku bingung.”

(c) “... Jik panik ning kono, terus mbayangke anake terus. Anakku ki jek

opo, ngono. Nek bengi barang ngono lho Mbak. Nek aku turu dhewe, Ya Allah, ora ono sing ngeloni ning kono. Dhewean mesakke, opo ora nangis. Pokoke pikirane ngono.”

“Bar, pas aku ning kono nggendong yo, mesakke ngono lho Mbak,

ndelokke infus, kuwi opo ora loro… mesakke, ... ... Ya Allah mosok diinfus kok mesakke… ... sing takut mengko cacat opo nggak. Kan dikeki selang opo-opo. Duh! Iki mengko cacat opo nggak. Mesti kan takute gitu.”

Subjek #3 telah menyampaikan bagaimana pola cara berfikir bila sedang menghadapi masalah pada umumnya (a):

Subjek #3:

“Punya pikiran to, memang kalau pertama dipikir pusing banget. Gitu lho Mbak!”

Selain itu cara berfikir yang demikian ia tunjukkan sebagai respon terhadap keadaan perekonomian keluarganya, suami yang belum bekerja setelah melahirkan karena sifat pekerjaan yang musiman (b), dan merasa tidak enak karena suami dan anak-anak menggantikannya melakukan pekerjaan rumah (c).

Subjek #3:

(b) “ Ya pikirane ya itu Mbak, bapaknya kan belum kerja. Namanya

orang kan, nomer satukan kebutuhan sehari-hari. … … ya pusing keadaan saya sendiri. Bapaknya kan belum kerja… ya itu.”

“Ya itu, yang tak omongin ya masalah… bapaknya nganggur,

sehari-harinya kan di rumah. Lha itu tok, yang tak pikirin itu tok.”

“...Giliran di rumah, ya mungkin kan di rumah kan nglihat keadaan

rumah, terus pikiran ... ... ya Mbak lihat keadaan saya sendiri, ya. Kalau bapaknya nggak kerja, wong namanya kerja kaya gitu ya Mbak,

ya… kan kadang ada, kadang nggak. Kalau nggak kerja memang saya

pusing banget Mbak.”

“Ya masalah ekonomi… ya… nggak ada masalah lain, ya masalah, pokoke

kalau bapake nggak kerja ya saya tu memang… istilahe, piye ya Mbak namanya orang kan kehidupannya itu kan ya butuhnya kan buat sehari-harinya. … … nomer satu kan buat sehari-harinya.”

“… ya mikir keluarga, ya mikir macem-macem. … … aku tu yang lagi

tak fikirin tu Vicky ni Mbak. Vicky kan ni ujian, ntar ambil ijazah, apalagi bayar buku-buku. Lha itu satu tok itu. Itu yang lagi tak pikirin banget-banget. Kalau lain-lainnya si, saya nggak begitu ini ya Mbak ya.

Ni Vicky ni lho Mbak yang lagi tak fikirin banget-banget.”

(c) “… Perasaan saya ya, sebenernya nggak tega saya tu Mbak. Ngelihat

bapaknya, ini-ini. Sebenernya sih saya orangnya nggak bisa lho, ngelihat bapaknya pada kerja terus saya tiduran. Saya tu orange nggak bisa kok

Mbak. … … Nggak boleh gitu lho Mbak [sama suami, anak-anak]. Aku kan

kadang nggak enak sendiri ngono lho Mbak. Ya… saya sih malah… saya tu malah pinginnya bantu. Malah, halah ngapain daripada

tidur-tiduran, … … Aku tu orange tu nggak, nggak ini lho Mbak, lihat yang lain pada kerja terus saya tiduran, rasane tu nggak enak, piye gitu lho.”

2) Maximization

Melebih-lebihkan suatu kegagalan/ peristiwa terjadi pada subjek #1 sebagai reaksi terhadap ketidakmampuannya dalam melakukan perawatan bayi dan berat badan subjek yang berlebih setelah melahirkan. Bentuk melebih-lebihkan suatu kegagalan/ peristiwa ditunjukkan ketika ia membuat ilustrasi bagaimana keadaan anaknya bila tidak ada yang membantunya melakukan perawatan (a). Selain itu subjek juga merasa bayinya akan takut padanya ketika sudah besar karena alasan adik yang takut padanya dan menganggap dirinya galak (b). Melebih-lebihkan suatu kegagalan/ peristiwa juga ditunjukkan subjek ketika menceritakan tentang bentuk tubuhnya, kemudian menyampaikan bahwa oranglain pun akan berfikir demikian (b). Subjek #1:

(a) “Saumpomone aku nduwe omah dhewe njur piye anakku?! …

Mungkin nggak pernah mandi… isone sibin… nek ngganteni baju yo mbek nangis… Isone mung mimiki tok.”

(b) “ Ya mungkin besok kalau sudah gedhe takut sama aku. Wong adik

aku takut sama aku. “Galak!” jarene [katanya].”

(c) “Yo isin wae to Mbak. Wong mosoko mandang nduwe anak kok dadi

mbledos koyo ngene. Nggilani, nek disawang! Wong nyawang awake dhewe wae gilo opo meneh yen wong nyawang awake dhewe. Nggak nyangka. [Bayangannya ya] paling sekitar 60 lah. Gitu… He-em, apa kalau nggak 65 lah, [naik] 10 kilo. Eh malah 72.”

Subjek #2 yang belum memahami kesehatan fisik bayinya seringkali merasa panik bila bayinya dalam keadaan sakit, meski kemudian disadari bahwa hal tersebut tidak perlu. Indikasi mengenai kepanikan ini juga seringkali ditemukan dalam pernyataan-pernyataan subjek yang menceritakan keadaan bayinya.

Subjek #2:

“... Nek pilek, lho nek bengi ko nafase koyo ngene? Iki ngopo yo?

Padahal rak opo-opo. Yo akune wae sing, bar tak gawe panik, nggugah ibu’e, ... ... lha nek sing biasane, mau to koyo, kok metu susune [gumoh] ...

Subjek #3 menganalogikan sakit kepala yang mengganggu dan belum pernah dialami sebelumnya dengan terjadinya pembuluh darah yang pecah dan gegar otak. Subjek #3:

“Aku kalau pusing sampai bilang bapake, “Apa aku tu… pembuluh

darahe tu mau pecah apa gimana,” aku tu kadang gitu. Ugh, sakite jan tenan kok Mbak. Kalau lagi kepala pusing tu pingine muntah Mbak, mual. Lha aku kan takut Mbak. Takute kan gegar otak…”

3) Self-commandment

Pernyataan-pernyataan keharusan muncul dan ditujukan pada diri sendiri sebagai bentuk distorsi kognitif pada subjek #1 karena ASI tidak keluar setelah melahirkan, subjek #2 berkaitan dengan tuntutan terhadap kemampuan dalam perawatan bayi (a) dan kesehatan fisik bayi (b), subjek #3 berkaitan dengan adanya gagasan yang kuat tentang kerapihan setelah kepulangan dari rumah sakit.

Subjek #1:

“... aku gimana caranya [ASI] bisa keluar. ... ... Itu ya… biarpun dia

[ASI] nggak bisa keluar ya harus bisa nyusuin. Gimana caranya supaya bisa nyusuin.”

Subjek #2:

(a) “Yo opo-opo, yo aku kudu iso ngono lho Mbak. Maksude, mboh… opo

piye carane, nek misale adike nangis, opo ngopo, pokoke aku biso nandangi ngono lho Mbak.”

(b) “Nek koyo ngene ki [awake ketok cilik] aku ketoke ijik percoyo tak

keki ASI-ku terus ngono lho.”

Subjek #3:

“Pulang dari rumah sakit saya tu langsung berbenah. Berbenah… ngapa-ngapa. Ngelihat pakaian berantakan tak rapihin.”

“Saya tu tak ajarin gitu lho Mbak anak-anak biar rapi, kerjaannya biar

rapi. … … kalau lagi keluar rajinnya ya, … semuanya tak rapiin.”

“Kalau… biarpun saya di rumah, anak-anak di rumah, kan tak atur saya Mbak. Ini, Vicky ini, Diah ini, ini siapa gitu kan kelihatan bersih,

rapi. … … Memang kalau saya nggak di rumah tu kayanya berantakan

gitu lho Mbak, … … pinginnya tu ya ngrapihin biar resik ngono lho Mbak.”

b. Mood swing

Mood swing atau perubahan mood secara berganti-ganti adalah gejala postpartum blues yang melibatkan terjadinya labilitas perasaan dalam waktu yang sementara dan berubah-ubah. Perubahan mood tidak hanya melibatkan munculnya afek negatif melainkan juga afek positif. Subjek #2 yang mengalami perubahan mood terkait dengan kesehatan fisik bayi yang menurun. Pernyataannya menunjukkan rasa senang karena kehadiran bayinya sekaligus khawatir bila terjadi sesuatu pada anaknya secara tiba-tiba (a). Selain itu, kesehatan fisik bayi yang lahir prematur sehingga memerlukan perawatan intensif juga menjadi pemicu. Subjek berusaha menenangkan dirinya dengan meyakini kemampuan Rumah Sakit dalam memberikan perawatan lebih baik terhadap bayinya, namun kemudian menunjukkan perubahan suasana hati setelah melihat keadaan bayinya di Rumah Sakit (b).

Subjek #2:

(a) “Pokoke, tambah ngono lho Mbak bebane. Maksude bebane tambah. Maksude… opo, tambah anak. Yo seneng. Yo kadang yo bingung.

Bingunge ki nek ono opo-opo mbek anake tiba-tiba ngono ki lho...”

(b) “... mikirku cuma, alah ning kono yo dokter pinter-pinterlah dirawat,

mesti anakku dirawat apik, ora mungkin ditelantarke. Malah daripada ning ngomah, mengko aku durung iso ngemong, ngono-ngono. Cumo pikiranku ki pertamane ngono. Bar pas ning konone [rumah sakit] kok,

tapi kok ketemu kok pingine dijak balik ngono lho. Yo ndeloki, ketoke

kok anake kok angger rono kok ning konooo terus ngono lho. Kok ora mimik ora opo, opo aku pas rono ndilalah wis mimik, “Udah minum to?” “Udah.” Yo wislah.”

Subjek #3 pada awalnya merasa senang setelah kepulangan mengingat kebosanan yang dialami karena lama menjalani rawat inap di rumah sakit, namun setelah itu mengalami perubahan suasana hati karena suami sakit dan sakit kepala yang mengganggu.

Subjek #3:

“Lha, akunya ngomong, aku udah nggak betah di rumah sakit, udah 12

“… saya pulang tu dah seneng banget. Rasanya yo seneng lah. Eh let dua

hari kan bapake meriang. Bapaknya meriang, akunya kepalanya pusing.”

Perubahan mood secara berganti-ganti juga ditunjukkan dengan sejumlah keadaan emosional subjek seperti terkejut/ perasaan tidak percaya, iritabilitas (perasaan lekas marah/ tersinggung), kebosanan, kebingungan, ketakutan/ kekhawatiran, perasaan bersalah, perasaan tidak berdaya, kekecewaan, frustrasi, konflik, kesedihan dan kecemburuan. Masing-masing dari reaksi emosional tersebut dipicu oleh faktor-faktor yang bersifat karakteristik bagi masing-masing subjek.

1) Surprise

Perasaan terkejut atau tidak percaya ditunjukkan oleh subjek #2 sebagai reaksi terhadap pengalaman perubahan kehidupan terkait dengan pertemuan pertama dan melakukan aktivitas perawatan pada bayi.

Subjek #2:

“... Bar hari [kunjungan] keduane, hari kedua kesana, kok aku entuk

mimiki ngono lho Mbak. Kok entuk nggendong, yo nggendong pertama ki ndredeg, ya Allah mosok iki anakku to? Tak gendong, yo ndredeg

wae. Kon mimiki yo tak mimiki… kok gelem...”

“... ih… kok cilik banget! Mosok kuwi bayiku to? Kok aku sing

nggendong. Ngono lho Mbak. ... ... Nggendong ki aku ndredeg. Sing tak

rasake ki ngene, hih mosok to iki anakku? Aku wis nduwe anak! Ngono-ngono Ngono-ngono lho Mbak. Koyo ora percoyo, yo wis Ngono-ngono lah! He-em,

hamil tujuh bulan yo wis ngrasake… tapi yo ora nyongko nek pas metune yo ternyata koyo ngene…”

2) Irritability

Iritabilitas atau perasaan lekas marah atau lekas tersinggung dialami oleh subjek #1 ketika menanggapi pandangan orang mengenai proses persalinannya secara sectio caesarea yang dinilai negatif (a) atau berkaitan dengan ketidaknyamanan akibat berat badan yang berlebih setelah melahirkan (b), subjek #2 ketika mengalami perubahan kehidupan terkait dengan perawatan bayi pada malam hari karena hal ini mengganggu pola tidurnya, dan subjek #3 sebagai respon terhadap perkataan suami

yang membuat tersinggung (a), gagasan yang kuat tentang kerapihan (b), dan tekanan yang dirasakan dari keluarga suami (c). Iritabilitas ternyata juga dialami oleh subjek #3 ketika mendapatkan teguran petugas sebelum melahirkan karena HB-nya turun (d). Hal ini menyebabkan subjek menanyakan kejelasan proses persalinan yang telah dialaminya pada pengunjung lain di rumah sakit, kemudian mendatangi Puskesmas tempat subjek biasa memeriksakan kehamilannya dan menegur petugas sepulang dari rumah sakit.

Subjek #1:

(a) “Ya jengkel [orang bilang seperti itu] sih! Wong kita ya memang…

Kalau memang nggak harus dioperasi kan nggak mungkin dioperasi

kan? Aku juga pinginnya lahirnya normal. Gimana to rasanya orang

nglahirin. Gimana to dulu aku waktu ibuku nglahirin aku. Kan ya pinginnya ya seperti itu...”

(b) “Pingin… ndang cepet kecil! Aku hamil tu [badane] besar bangete

Mbak!! Gimana badanku nggak bisa kecil?! Ya kepikirano… lha aku nek gedhe terus sakmene ki njur piye dadine. Podho wae to Mbak. Jenenge wong wedok kan mesti pinginnya secantik mungkin …”

Subjek #2:

“... Biasane nek malem turune tanek kok, [sekarang] dikit-dikit bangun, dikit-dikit bangun. Tapi nek pagi ko bayine ki tidur… terus.Padahal pingine tu, bayine ki melek… Maksudnya bayinya nek esuk kok bobok wae sampe awan, tapi nek bengi kok malah tangi. Yo aku pertamane capek ngono lho Mbak. Kadang jengkel… kok gini. Nek malem kok tangi.”

Subjek #3:

(a) “... Kemarin sekali… ya… kemarin ya… he-em kemarin to, bapaknya

ngomong apa to, wong aku denger terus aku diem, aku nangis itu memang

Mbak. ... ... Pokoknya dia tu kalau dia ngomong apa terus saya diem, oh

berarti istriku marah.”

(b) “... Wong saya tu kalau anak saya ngrapiin pakaian habis nyetrika

gitu, kadang kan tak paido Mbak. Maksude tak, tak, tak seneni gitu lho

Mbak, “Anak perempuan kok nggak ngerti rapi. Wong nata pakaian

kok kaya gini.” Tanya aja Vicky, nggak bapaknya, nggak Diah, nggak Vicky, kalau nata pakaian nggak rapi memang tak omelin Mbak.”

“[sepulang dari rumah sakit, rumah] berantakan, Mbak. Namanya

yang nungguin anak-anak, nggak ditungguin orangtua. Ya… wis berantakan lah. Kalau… biarpun saya di rumah, anak-anak di rumah, kan tak atur saya Mbak. Ini, Vicky ini, Diah ini, ini siapa gitu kan kelihatan bersih, rapi. Lha pas saya pulang dari rumah sakit, tempatnya berantakan lagi…”

(c) “Kemarin misale saya di rumah sakit, kalau ngatain saya kan

seenaknya sendiri. Orang gimana nggak sakit hati kan… … He-em, ntar bapaknya kan ngadu sama saya. Kadang saya kan, jadinya kan… gimana ya, “Mbakyumu ki lho nek ngomong sak kepenake dhewe.” Kadang kan jadinya kan berantem, “Mentang-mentang aku di sini nggak ada saudara,” aku gituin. “Kene mengko tak omongane karo kakangku,” aku gitu.”

(d) “Lha terus saya jarang makan, saya kan dimarahin to sama susternya, “Kok ibu sampai HB-nya lima kok nggak terasa? Periksanya tu dimana?” “Di puskesmas.” Kemarin kan yang nganu, yang meriksa saya [di

puskesmas] kan tak tegur. Aku kan mampir ke puskesmas, “Mbak saya tu HB-nya turun lho!” “Oya, Mbak, waktu Mbak periksa tu nggak pernah saya periksa HB-nya.” Berarti, ‘kan bukan salah saya. Salah dia. Saya tu HB-nya lima.”

3) Boredom

Kebosanan dialami oleh subjek #1 karena tekanan lingkungan fisik di rumah sakit setelah melahirkan (a) dan tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah pasca sectio caesarea mengingat proses penyembuhan luka (b), sedangkan subjek #3 karena lama berada di rumah sakit sebelum melahirkan secara spontan.

Subjek #1:

(a) “Cuman ya pingin ndang balik, ndang balik, ndang balik, ko ora

balik-balik, kok ra ndang balik. Ko ora bar-bar urusane. Cuman gitu

aja. Jelas nggak betah di rumah sakit. ... ... Kalau di sana ki, rumah sakit

tu wis ora enak! Kesel! Ora ono gawean opo-opo. Lingak-linguk, lingak-linguk.”

(b) “Kan… nanti kalau lukae… nganu gimana, mbuka lagi gimana. Kan susah.... ... Nglangut, Mbak. Nglangut ki, opo meneh gaweane? Iya...

Kalau di rumah sini ni... [kerjaannya] yang ringan-ringan…”

Subjek #3:

“Lha, akunya ngomong, aku udah nggak betah di rumah sakit, udah 12

harian kok.”

4) Confusion

Kebingungan dialami oleh subjek #2 karena adanya pengalaman perubahan kehidupan terkait keadaan bayinya yang menunjukkan tingkah laku tertentu, dalam

hal perawatan bayi pada awal-awal setelah kepulangan bayi (a) dan belum ada pemahaman arti tangis bayi (b).

Subjek #2:

(a) “... Rak, mboh pas pertama rak ono ibu, nek nangis bingung aku,

biasane, “Buuu. Ki ngopo?” Saiki ora. Yo pertama ngurusi ki yo pas eek

tok bengi-bengi ki to aku bingung, meh ngopo ki piye to carane.”

(b) “… opo nek ngringik ngono lho Mbak aku bingung deknen ki

nangise, nangis opo. Mboh loro opo piye, sampe saiki kan bingunge ning ngono tok. Kok kadang ngringik dhewe… deknen ki ngringike ki ngringik

nangis biasa opo ngringik nganu kuwi lho... Kan kadang nangise angel Mbak kuwi Mbak. Yo, nek nangis ki ‘eee’ wis mandeg, ngono tok dadi

kene ki bingung. Koyo wingi eek terus tapi kok ora nangis. Lha iki ki nangis loro opo piye, kan biasane nek loro kan nangis kok iki ora nangis, kuwi pas ono ibu nek bengi. Tapi kok gek mau kok tiba-tiba ki eek terus tapi kok nangis. ...”

5) Fear

Ketakutan atau kekhawatiran dialami oleh subjek #1 karena ASI yang tidak keluar setelah melahirkan (a) dan ketidakmampuan dalam perawatan bayi (b). Munculnya ketakutan atau kekhawatiran ini diperjelas dari cara subjek menangani situasi stressfull tersebut.

Subjek #1:

(a) “Takut. Ya takut kalau [ASI] nggak keluar gimana. Lha nggak

keluar. Lha mau dikasihin minum susu buatan itu, ada yang bagus juga ada yang jelek juga… Tapi kasihan, kasih sayang ibu kan kurang gitu. Udah lahirnya operasi masa nyusuin aja kok nggak bisa.”

(b) “Aku masalahe masih takut [merawat] kok Mbak. Jadi ya… Gimana ya… kalau aku suruh mandiin ya aku nggak berani ... ... nanti nek ono

opo-opo kan malah kesalahan malah diseneni wong akeh.”

Subjek #2 merasakan ketakutan dan kekhawatiran berkaitan dengan kesehatan fisik bayi yang lahir prematur sehingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit (a), belum memahami kesehatan fisik bayi yang menurun atau bila menunjukkan gejala tidak biasa dan tiba-tiba (b), keadaan fisik bayi dengan berat badan lahir dibawah normal karena lahir prematur (c), membawa pulang bayi dari rumah sakit sebelum waktu yang diperbolehkan (d), adanya kekhawatiran meninggalkan bayi bila

sedang melakukan tanggung jawab pekerjaan rumah sehari-hari pada awal-awal kepulangan bayi dari rumah sakit (e), dan ketidakmampuan dalam perawatan bayi (f). Subjek #2:

(a) “... Bar, pas aku ning kono nggendong yo, mesakke ngono lho Mbak,

ndelokke infus, kuwi opo ora loro… mesakke, ... ... Ya Allah mosok diinfus kok mesakke… ... takut mengko cacat opo nggak. Kan dikeki selang opo-opo. Duh! Iki mengko cacat opo nggak. Mesti kan takute gitu.”

(b) “Yo bingung. Pernahkan, kok tiba-tiba ki, hajing-hajing terus. Ngono lho Mbak. Ibu’e kerjo, aku telpon ibu, “Bu, iki kok wahing-wahing

terus.” “Njajal tekon tonggone.” Nganti aku ki lari-lari Mbak, tekon tonggone, “Ora opo-opo ngono ki. Mengko mundak akale…” pokoke bingung ngono ki lho Mbak.”

“... habis mandiin ini. Mandiin ini kan pagi, terlalu pagi ndilalah kok

hajing-hajing to, lha kaget.”

“... Tapi kok gek mau kok tiba-tiba ki eek terus tapi kok nangis. Kan

aku kan wedi, bingung, ameh ning opo, puskesmas mbek sopo bojone mbayar listrik. Piye ki? Pokoke tak cekeli terus ngono lho Mbak.”

“Nek nangis malah bingung aku Mbak. Kadang kan pernah… wingi kae pernah si Mbak. Ora gelem mimiki susuku [ASI]. Lho ki ngopo to kok moh mimik susu… lha kuwi to pas pilek kuwi to... ... lemes kae awake…

Dokumen terkait