BAB VII : KESIMPULAN DAN SARAN
LANDASAN TEORI
3.3. Postur Kerja
Posisi tubuh dalam kerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Masing-masing posisi kerja mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh. Bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan antara lain:
1. Pembebanan pada kaki
2. Pemakaian energi dapat dikurangi
3. Keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi
Namun demikian kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan tulang belakang akan melengkung sehingga cepat lelah. Mengingat posisi duduk mempunyai keuntungan dan kerugian, maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk pada tubuh, perlu dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja sesuai diterapkan posisi duduk. Untuk maksud tersebut, diberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk. Pekerjaan tersebut antara lain:
1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki
2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan 3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar
4. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian lebih dari 15 cm dari landasan kerja
5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi 6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama
III-5
7. Seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan posisi duduk4.
Selain posisi kerja duduk, posisi berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Menurut Sutalaksana (2000) bahwa sikap berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Pada dasarnya, berdiri lebih lelah daripada duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10-15%
dibandingkan dengan duduk. Untuk meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subyektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau melakukan gerakan dengan posisi kepala yang tidak alamiah. Untuk maksud tersebut, diberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri antara lain:
1. Tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut
2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg) 3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah dan ke samping.
5. Sering melakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah 6. Memerlukan mobilitas tinggi
Dari posisi kerja duduk dan berdiri dicoba diambil keuntungan dengan mengkombinasikan desain stasiun kerja untuk posisi duduk dan berdiri. Kemudian disimpulkan bahwa pemilihan posisi kerja harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan seperti pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Pemilihan Sikap Kerja Terhadap Jenis Pekerjaan yang Berbeda
Jenis Pekerjaan
Sikap Kerja yang Dipilih
Pilihan Pertama Pilihan Kedua
Mengangkat beban > 5kg Berdiri Duduk – Berdiri Bekerja di bawah tinggi siku Berdiri Duduk – Berdiri Menjangkau horizontal di luar
Berdiri Duduk – Berdiri daerah jangkauan optimum
Pekerjaan ringan dengan
Duduk Duduk – Berdiri
pergerakan berulang
Pekerjaan perlu ketelitian Duduk Duduk – Berdiri
Inspeksi dan monitoring Duduk Duduk – Berdiri
Sering berpindah-pindah Duduk – Berdiri Berdiri Sumber: Helander (1995:60). A Guide to the Ergomic of Manufacturing.
3.4 SNQ (Standard Nordic Questionaire)5
Nurliah (2012), salah satu metode untuk mengetahui keluhan MSDs adalah dengan menggunakan kuesioner SNQ (Standard Nordic Questionaire).
SNQ (Standard Nordic Questionaire) adalah peta tubuh untuk mengetahui bagian otot yang mengalami keluhan dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan pekerja. SNQ (Standard Nordic Questionaire) membagi tubuh menjadi nomor 0 sampai 27 dari leher hingga kaki yang akan mengestimasi tingkat keluhan MSDs yang dialami pekerja. SNQ (Standard Nordic Questionaire) tidak dapat dijadikan diagnosa klinik karena bersifat subjektif karena berdasarkan persepsi responden,
III-7
tidak berdasarkan diagnosa kesehatan. Gambar peta tubuh dapat dilihat seperti pada Gambar 3.1 berikut.
Gambar 3.1 Peta Tubuh
3.5. REBA (Rapid Entire Body Assesment)
REBA merupakan suatu metode penilaian postur untuk menilai faktor resiko gangguan tubuh keseluruhan. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai postur tubuh, kekuatan yang digunakan, jenis pergerakan atau aksi, pengulangan, dan pegangan. Skor akhir REBA dihasilkan untuk memberikan semua indikasi tingkat resiko dan tingkat keutamaan dari sebuah tindakan yang harus diambil. Pada masing-masing tugas, menilai faktor postur tubuh dengan penilaian pada masing-masing grup yang terdiri atas dua grup, yaitu:
1. Grup A, terdiri atas:
a. Batang tubuh (trunk)
III-9
c. Kaki (legs) 2. Grup B, terdiri atas:
a. Lengan atas (upper arm) b. Lengan bawah (lower arm) c. Pergelangan tangan (wrist)
Pada masing-masing grup, diberikan suatu skala skor postur tubuh dan suatu pernyataan tambahan. Diberikan juga faktor beban atau kekuatan dan coupling.
REBA dapat digunakan ketika penilaian postur kerja diperlukan dalam sebuah pekerjaan:
1. Keseluruhan bagian badan digunakan.
2. Postur tubuh statis, dinamis, cepat berubah, atau tidak stabil.
3. Melakukan sebuah pembebanan seperti: mengangkat benda baik secara rutin ataupun sesekali.
4. Perubahan dari tempat kerja, peralatan, atau pelatihan pekerja sedang dilakukan dan diawasi sebelum atau sesudah perubahan.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang dinilai pada metode REBA.
1. Grup A, terdiri dari : a. Batang tubuh (trunk)
Gambar 3.2 Postur Batang Tubuh (Trunk)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
Posisi normal 1
0 - 200 (ke depan dan belakang) 2 +1 jika batang tubuh
<-200 atau 20 - 600 3 berputar/bengkok/bungkuk
>600 4
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
Tabel 3.2 Penilaian Batang Tubuh (Trunk)
b. Leher (neck)
Gambar 3.3 Postur Tubuh Bagian Leher (Neck)
Tabel 3.3 Penilaian Leher (Neck)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
0 - 200 1
>200- ekstensi 2 +1 jika leher berputar/bengkok
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
c. Kaki (legs)
Gambar 3.4 Postur Tubuh Bagian Kaki (Legs)
III-11
Tabel 3.4 Penilaian Kaki (Legs)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
Posisi normal/seimbang
(berjalan/duduk) 1 +1 jika lutut antara 30-60 0
+2 jika lutut >600 Bertumpu pada satu kaki lurus 2
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
d. Beban (load)
Gambar 3.5 Ukuran Beban (Load)
Tabel 3.5 Penilaian Beban (Load)
Pergerakan Skor Skor Pergerakan
<5 kg 0
+1 jika kekuatan cepat
5 - 10 kg 1
>10 kg 2
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
2. Grup B, terdiri dari:
a. Lengan atas (upper arm)
Gambar 3.6 Postur Tubuh Bagian Lengan Atas (Upper Arm)
Tabel 3.6 Penilaian Lengan Atas (Upper Arm)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
200 (ke depan dan belakang) 1 +1 jika bahu naik
>200 (ke belakang) atau 20 - 450 2 +1 jika lengan berputar/bengkok
45 - 900 3 -1 miring, menyangga berat
>900 4 lengan
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
b. Lengan bawah (lower arm)
Gambar 3.7 Postur Lengan Bawah
Tabel 3.7 Skor Lengan Bawah
Pergerakan Skor
600 - 1000 1
0 0
III-13
c. Pergelangan tangan (wrist)
Gambar 3.8 Postur Pergelangan Tangan Tabel 3.8 Skor Pergelangan Tangan (wrist)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
0-150 (ke atas dan bawah) 1
+1 jika pergelangan tangan
>150 (ke atas dan bawah) 2
putaran menjauhi sisi tengah
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
d. Coupling
Tabel 3.9 Coupling
Coupling Skor Keterangan
Baik 0 Kekuatan pegangan baik
Sedang 1 Pegangan bagus tapi tidak ideal atau kopling cocok dengan bagian tubuh
Kurang baik 2 Pegangan tangan tidak sesuai walaupun mungkin
Tidak dapat
diterima 3
Kaku, pegangan tangan tidak nyaman, tidak ada pegangan atau kopling tidak sesuai dengan
bagian tubuh
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
Tabel 3.10 Skor Aktivitas
Aktivitas Skor Keterangan
Postur statik +1 1 atau lebih bagian tubuh statis/diam
Pengulangan +1 Tindakan berulang-ulang
Tindakan menyebabkan jarak yang Ketidakstabilan +1 besar dan cepat pada postur (tidak
stabil)
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods
Skor REBA kemudian diperiksa terhadap tingkat tindakan (Tabel 3.11).
ini adalah ketetapan dari nilai yang sesuai untuk meningkatkan urgensi untuk kebutuhan dalam melakukan perubahan.
Tabel 3.11 Tingkat Tindakan REBA
Skor REBA Tingkat Risiko Action Level Tindakan
1 Diabaikan 0 Tidak perlu
2-3 Rendah 1 Mungkin perlu
4-7 Sedang 2 Perlu
8-10 Tinggi 3 Perlu segera
11-15 Sangat Tinggi 4 Sekarang juga
Sumber: Stanton Neville, Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods