BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Potensi Kabupaten Brebes
Sektor pertanian adalah sektor yang paling dominan di Kabupaten Brebes. Potensi yang besar ini membuat sekitar 70 persennya dari sekitar 1,7 juta jumlah penduduk di Kabupaten Brebes bekerja pada sektor pertanian. Sektor pertanian ini menyumbang hingga 53 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Brebes, yang 50 persennya dari pertanian bawang merah. Budidaya bawang merah sendiri diperkirakan mulai berkembang di wilayah Kabupaten Brebes sekitar tahun 1950, diperkenalkan oleh warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Kabupaten Brebes. Dan hingga kini budidaya bawang merah ini menjadi napas kehidupan mayoritas masyarakat di Kabupaten Brebes.
Bawang merah sendiri bagi Kabupaten Brebes merupakan trade mark, mengingat posisinya sebagai penghasil terbesar komoditi di tataran nasional.
Pusat bawang merah ini tersebar di 11 kecamatan (dari 17 kecamatan) dengan luas panen per tahun 20.000 - 25.000 hektare. Sentra bawang merah tersebar di Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tonjong, Losari, Kersana, Ketanggungan, Larangan, Songgom, Jatibarang, dan sebagian Banjarharjo.
4.2.2. Peternakan
Di luar dari sektor pertanian dan perkebunan yang telah disebutkan di atas, Kabupaten Brebes juga mempunyai potensi makanan ternak yang begitu melimpah dan tersebar rata hampir di setiap kecamatan. Kondisi seperti ini menjadikan Kabupaten Brebes ini berkembang, berbagai jenis usaha peternakan baik jenis ternak besar ataupun kecil antara lain : ternak sapi (jenis lokal sapi jabres), domba, kerbau, ayam petelur, kelinci rex, ayam potong, itik dan ayam kampung. Dan lagi yang paling khas dari kabupaten adalah telur hasil ternak itik yang diolah oleh masyarakat setempat menjadi produk telur asin yang popularitas. Atas kualitasnya sangat dikenal dan tidak diragukan lagi, banyak yang menyebut Brebes sebagai Kota Telur Asin.
4.2.3. Kehutanan
Komoditas yang menjadi unggulan di sektor ini adalah pinus, jati, sonokeling dan mahoni yang produksinya cukup mengalami peningkatan.
Sektor ini tersebar di wilayah bagian selatan Kabupaten Brebes.
4.2.4. Pertambangan dan bahan galian
Memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup potensial untuk dapat dieksploitasi, seperti trass, batu kapur, batu bata, dan batu splite, serta potensi sumber panas bumi dan minyak bumi.
4.2.5. Cadangan batu bara muda
Di wilayah Kabupaten Brebes yang terletak di bagian selatan, telah ditemukan oleh Kementerian ESDM pada tahun 2008 potensi dari cadangan
batu bara muda di desa Bentarsari sebanyak 24,24 juta ton dengan memiliki kandungan minyak mencapai 5,30 liter per ton.
4.2.6. Perikanan
Sebagai salah satu daerah yang juga terletak dalam wilayah PANTURA atau pantai utara Pulau Jawa, Kabupaten Brebes sendiri memiliki 5 wilayah kecamatan yang sangat cocok untuk mengembangkan produksi perikanan yakni seperti Kecamatan Brebes, Kecamatan Wanasari, Kecamatan Bulakamba, Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Losari. Hasil produksi perikanan yang menonjol sendiri meliputi : udang windu, bandeng, rajungan, kepiting, mujair, teri nasi dan berbagai jenis ikan laut yang lain.
Hasil produk perikanan kini oleh masyarakat setempat telah dikembangkan lagi menjadi usaha pembuatan Bandeng Presto Duri Lunak dan juga terasi.
4.2.7. Pariwisata
Berikutnya kita akan mengenal beberapa objek pariwisata yang ada di Kabupaten Brebes. Baiklah langsung saja kita bahas satu per satu.
4.2.8. Waduk Malahayu
Fungsi waduk yang di samping sebagai sarana irigasi dari lahan pertanian di wilayah Kecamatan Banjarharjo, Kersana, Ketanggungan, Losari, Tanjung dan Bulakamba juga digunakan sebagai pengontrol banjir serta dimanfaatkan pula sebagai sarana rekreasi. Di obyek wisata Waduk Malahayu ini dapat ditemukan panorama alam dari pegunungan yang indah, dikelilingi oleh hutan jati yang luas dan sekarang telah dijadikan bumi perkemahan dan wana wisata.
4.2.9. Waduk Penjalin
Waduk yang dibangun pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda bersamaan dengan Waduk Malahayu ini, dipersiapkan untuk menyuplai irigasi dari Sungai Pemali bawah dan juga areal persawahan.
Penjalin sendiri dalam Bahasa Jawa berati rotan. Warga sekitar memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar waduk sebagai tempat
untuk mencari nafkah, antara lain untuk mencari ikan, memelihara keramba apung, dan juga pada saat Lebaran warga menyewakan perahu untuk sarana rekreasi air keliling waduk. Pada waktu sekarang ini, waduk tersebut banyak dimanfaatkan warga kota untuk berlibur dan juga bersantai seperti contohnya pengunjung dari Purwokerto, Cilacap, dan Purbalingga.
Di samping waduk penjalin juga terdapat mata air sungai Pemali.
4.2.10. Pantai Randusanga
Pantai Randusanga atau yang lebih dikenal dengan nama Pantai Randusanga Indah (Parin) berlokasi di Randusanga Kulon, sekitar 7 KM ke arah utara dari jalan raya Pantura kota Brebes. Dibangun sekitar tahun 2001, obyek wisata Pantai Randusanga ini sedang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Brebes dan pada saat ini keberadaannya telah dikelola oleh Kantor Pariwisata Kabupaten Brebes. Di sepanjang jalan menuju Parin akan banyak ditemui hamparan perkebunan bawang merah yang sangat luas, sedangkan pada saat mendekati lokasi pantai, akan banyak ditemui tambak- tambak yang pada umumnya digunakan masyarakat sekitar untuk budidaya bandeng dan juga rumput laut. Di samping itu terdapat Pemandian Air Panas Cipanas Bantarkawung dan Pemandian Air Panas Cipanas Kedungoleng
4.2.11. Cagar Alam Telaga Ranjeng
Cagar alam ini memiliki luas empat puluh delapan setengah hektare, yang terdiri dari hutan damar dan pinus yang mengelilingi telaga.
Sebelumnya Telaga ini merupakan tempat mandi para tokoh dari kerajaan di Jawa. Daya tarik dari Telaga Ranjeng sendiri adalah udara pegunungan yang sangat sejuk, cagar alam, hutan lindung, serta terdapat beribu-ribu ikan lele yang jinak dan juga dianggap keramat serta dianggap sebagai penghuni telaga.
Telaga Ranjeng yang memiliki kedalaman tiga meter, konon ikan lele penunggu hanya dapat diajak bermain-main dan tidak diperkenankan untuk diambil oleh siapapun meski hanya satu ekor. Penunggu telaga bercerita
bahwa pernah ada seorang wisatawan yang mencoba untuk mengambilnya namun ketika sampai di rumah orang tersebut kemudian sakit-sakitan, dan baru sembuh setelah mengembalikan ikan lele tersebut ke Telaga Ranjeng lagi. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas Telaga Ranjeng adalah aset wisata yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga sangat dibutuhkan peran serta dari masyarakat sekitar dan pemerintah untuk mengembangkan potensi dari tempat tersebut. Beberapa potensi lain seperti Mata Air Cibentar, Bentarsari, Salem, Air Terjun Waru Doyong, Mata Air Dua Suhu dan Ciblon Waterboom Brebes.
4.2.12. Agrowisata Kaligua
Argowisata ini berada pada ketinggian 1.200 - 2.050 meter dari permukaan laut. Kondisi udara termasuk sangat dingin, berkisar 8-22°C pada musim penghujan dan mencapai 4-12°C pada musim kemarau.
Wilayah perkebunan teh ini hampir setiap saat diselimuti oleh kabut tebal.
Perkebunan ini terletak di lereng barat Gunung Slamet (3.432 m dpl), yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa setelah Gunung Semeru.
Keindahan salah satu dari puncak gunung Slamet, yakni puncak Sakub, hal tersebut dapat dinikmati dari perkebunan teh Kaligua ini. Dari tempat ini, jika udara sedang cerah, juga terlihat keindahan dari Gunung Ceremai, wilayah Tegal, serta Cilacap. Beberapa tempat wisata lainnya seperti : Agrowisata Sepoor Teboe PG Jatibarang, Kebun Durian Antap Sari di desa Rajawetan, Tonjong dan Cipanas Jalatunda di desa Ciseureuh