Materi Pertemuan Minggu VI - VIII
B. WAWASAN LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN MARITIM DAN KELAUTAN
3. Potensi Sumberdaya Alam dan Jasa-jasa Lingkungan
Secara umum, sumberdaya alam kelautan terdiri atas sumberdaya dapat pulih (renewable resources), sumberdaya tidak dapat pulih
(non-renewable resources), dan jasa-jasa lingkungan(enviromental services). a. Sumber Dapat Pulih
Data Statistik menunjukkan bahwa sektor kelautan memperlihatkan peningkatan dan kontribusi lagi pembangunan perekonomian, seiring dengan pemanfaatan potensi yang terbentang luas. Salah satu bagian terpenting dari sektor kelautan adalah sumberdaya hayati kelautan atau sumberdaya perikanan. Selama kurun waktu 1999-2002, produk domestik
Ekologi Kawasan Tepian Air 88
bruto (PDB) subsektor perikanan mengalami kenaikan 21,72 persen, atau jauh lebih besar dari kenaikan PDB nasional sebesar 13,56 Persen.
Hasil analisis yang terbaru menunjukkan bahwa potensi ikan laut kita adalah 6,26 juta ton MSY (maximum suistainable yield) atu 5,00 juta ton TAC(total allowable catch). Angka MSY ata TAC ini adalah batas atas produksi perikanan yang aman bagi keberlanjutan lingkungan dan sumberdaya ikan (Tabel 1). Dengan produksi perikanan laut sebesar 3,62 juta ton pada tahun 1998, maka itu berarti perairan laut kita telah dimanfaatkan sebsar 57,83 MSY atau 72,40 TAC. Dengan begitu peluang untuk pengembangan perikanan tangkap di laut tinggal kurang dari separuh potensi ikan yang ada.
b. Sumber Daya Tidak Dapat Pulih
Sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resources) berupa sumber daya mineral di kawasan perairan laut Indonesia relative besar, seperti minyak dan gas bumi, bauksit, timah, bii besi dan bahan tambang seperti pesisir laut serta mineral lainnya.
1) Minyak Bumi dan Gas Lepas Pantai
Sumberdaya tidak dapat pulih terpenting dan terbesar saat ini adalah minyak bumi. Jumlah produksi minyak bumi Indonesia sampai tahun 2000 tercatat mencapai 4,872 juta barel dengan nilai penjualan total mencapai US$ 20,45 milyar. Dari jumlah tersebut, ternyata baru sekitar 32 persen produksi minyak bumi berasal dari penambangan lepas pantai. 2) Emas dan Perak
Emas dan perak dalam bentuk mineral letakan ditemukan pada endapan dasar laut di perairan Lampung, Kalimantan Selatan, Sukabumi Selatan, Teluk Tomini dan Laut Arafura. Dari data petrografi mineral, umumnya mineral emas ini berasosiasi dengan mineral perak terutama pada contoh clay mineral.
Ekologi Kawasan Tepian Air 89
Pasir kuarsa yang dikenal sebagai mineral silica (bahan kaca), merupakan sedimen lapukan dan ledakan dari batuan induk yang bersifat granitic ataupun rombakan dari urat-urat kuarsa atau kristalin. Potensi pasir kuarsa umumnya terdapat di sepanjang jalur granit Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung. Umumnya pasir laut di perairan Riau mempunyai kandungan kuarsa di atas 80%. Selain itu, umumnya pasir kuarsa ini juga mengandung mineral pembawa unsure radio aktif torium. Oleh sebab itulah, ekspor pasir laut sebagai material reklamasi pantai ke Singapura yang ditambang di kawasan perairan Riau, sebenarnya dapat diklasifikasikan sebagai komoditi mineral yang mempunyai harga jual yang jauh lebih tinggi dari pada harga pasir laut atau agregat.
4) Monazit, Zirkon, dan Rutil
Monazit, zircon, dan rutil merupakan produk sampingan (by
product) dari endapan ledakan. Monazite dan zircon merupakan mineral
yang penting dan langka karena mengandung unsure torium yang bersiat radio aktif. Umumnya mineral ini dimanfaatkan sebagai produk sampingan penambangan timah di Bangka dan Belitung.
5) Pasir Besi
Pasir besi yang umumnya berwarna hitam terdiri dari mineral magnetit dan ilmenit, banyak ditemukan hampir di seluruh kawasan pantai Indonesia terutama yang telah terangkut dari endapan vulkanik yang bersifat basa. Penambangan pasir besi telah dilakukan di Pantai Cilacap, Jampang Kulon dan Yogyakarta dan digunakan sebagai bahan dasar logam besi dan sebagai mineral pencampur dalam industry semen. Kawasan busur vulksnik merupsksn sumber pasi besi yang berlimpah se[erti di sepanjang Pantai Selatan Jawa dan Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara.
Ekologi Kawasan Tepian Air 90
6. Agregat Bahan Konstruksi
Agregat merupakan bahan konstruksi terdiri dari kerikil dan pasir yang tersebar dalam jumlah berlimpah di kawasan pantai dan lepas pantai. Kawasan perairan Karimun dan Kundur merupakan kawasan penambangan pasir laut terbesar saat ini, karena jenis dan komposisi pasir yang ditambang memenuhi persyaratan untuk material konstruksi dan bahan reklamasi.
7. Fosporit
Endapat fosporit berumur Resen berupa fospat kalium dalam bentuk nodul atau butiran telah ditemukan di dasar laut Paparan Sahul, yaitu antara Pulau Timor dan Australia.
8. Nodul dan Kerak Mangaan
Endapan mangaan umumnya ditemukan dalam bentuk nodul (nodule), kerak (Crust) atau hamparan (Pavement). Indikasi sumberdaya mineral mangaan ini ditemukan di Laut Banda, Laut Selat Lombok, Perairan pulau Damar dan Misool, perairan Sula, Sulawesi Utara dan Halmahera. Jenis mineral mangaan yang ditemukan di perairan Indonesia Timur umumnya berbentuk nodul yang kaya akan mangaan besi. Kerak mangaan ditemukan pada system Punggungan Lucipara dan sekitar Punggungan Tampomas di Cekungan Banda Utara.
9. Kromit
Letak dan sebaran endapan kromit rombakan (detrital) selalu ditemukan berdekatan dengan batuan induknya (ultrabasa) . Oleh sebab itu penyebaran endapan kromit ini umumnya ditemukan di sekitar gawir pantai (coastal cliff ) yang berdekatan dengan singkapan batuan ultrabasa di Kalimantan Timur dan Tenggara, Pulau Laut dan Sebuku, Sulawesi Tenggara dan Timurlaut, Halmahera, Waigeo dan Timor.
Ekologi Kawasan Tepian Air 91
Gas biogenic merupakan salah satu sumber energi alternatif untuk kawasan pesisir yang terpencil. Pemetaan geologi kelautan sistematik di wilayah perairan Laut Jawa dan Selat Sumatera yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Balitbang Energi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral sejak tahun 1990 memperlihatkan indikasi sumber gas biogenik yang terperangkap pada sedimen Holocene. Lapisan pembawa gas ini umumnya ditemukan pada kedalaman antara 20-50 m di bawah dasar laut.
Pemetaan secara horizontal menunjukkan bahwa hampir seluruh kawasan perairan dangkal terutama di muara-muara sungai besar ditemukan indikasi sedimen mengandung fas (gas charged sediment) yang diduga merupakan akumulasi gas biogenic yang berasal dari maturasi tumbuhan rawa purba yang tertimbun sedimen Resen.
Gas biogenic ini umumnyadidominasi oleh gas methan yang dikenal sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Gas biogenic telah dieksploitasi dan dimanfaatkan sebagai energy pembangkit listrik mikro dan industry kecil di muara sungai Yangtze, China (Mc Caffret et al, 1985) Umumnya dari satu sumur gas di kawasan ini dapat dieksploitasi 5000m3 per gas per hari dengan tekanan maximum m6,1 kg/cm2.
Sepanjang kawasan perairan Pantai Utara Jawa, pantai selatan Kalimantan, pantai Timur Kalimantan, dan pantai barat Sumatera merupakan kawasan yang potensial menjadi sumber gas biogenik, karena memiliki sejarah terbentuknya sungai dan rawa purba yang mirip dengan terbentuknya gas biogenik di muara Sungai Yangtze.
11. Mineral Hydromental
Indikasi adanya mineral hydromental deposit di perairan Indonesia ditemukan di perairan Sulawesi Utara, Teluk Tomini, Selat Sunda dan perairan Wetar (Gunung api bawah laut Komba, Abang Komba, dan Ibu
Ekologi Kawasan Tepian Air 92
Komba). Lubang hydromental (hydromental vent) atau yang lebih dikenal dengan istilah “Black Smoker” dan “White Smoker” merupakan ekosistem laut dalam yang unik, karena air panas yang dikeluarkannya mengandung ikatan sulfur yang digunakan oleh bakteria sebagai energi. Dengan demikian, dasar laut kawasan ini mempunyai kelimpahan biota laut yang tinggi. Selain itu, ahli geologi kelautan menaruh perhatian karena diyakini bahwa lubang hydromental ini membawa larutan mineral yang selanjutnya mengawali proses mineralisasi pada suatu jebakan mineral dasar laut. Kawasan black smoker biasanya berpotensi mineral tembaga dan white
smoker berpotensi mineral emas.
12. Sumberdaya Energi yang Berasal dari Dinamika Lautan
Sumberdaya energy yang berasal dari dinamika lautan, sampai saat ini masih terbatas pemanfaatannya pada beberapa Negara maju yang menguasai teknologi pengembangannya. Sementara di Indonesia masih belum banyak yang bisa dikembangkan. Hal ini antara lain disebabkan oleh keterbatasan teknologi yang kita kuasai. Misalnya sumber energi pasut di dunia yang diperkirakan mencapai 65 ribu Mw. Hingga saat ini, baru sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan. Beberapa Negara telah mulai memanfaatkannya, seperti perancis yang memelopori bidang ini dengan membangun PLT-Pasut dengan kapasitas 240Mw di Rance dan berfungsi dengan baik. Negara-negara lain yang telah memanfaatkannya adalah Rusia dengan kapasitas 0,4Mwm Cina dengan membangun beberapa PLT-Pasut dan berkapasitas total 8Mw. Beberapa Negara lain ikut ambil bagian dalam usaha memanfaatkan energi gelombang ini, diantaranya Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Korea Selatan, dan Australia. Pengalaman Negara-negara tersebut dapat digunakan untuk memanfaatkan laut sebagai sumber energi yang belum tergarap.
Ekologi Kawasan Tepian Air 93