Konstruksi Baru Kebebasan Beragama
A. Potret Intoleransi Keagamaan di Indonesia
Dilihat dari perspektif agama, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Selain Islam, afiliasi keberagamaan masyarakat terbagi ke dalam lima agama
lain: Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Namun demikian, secara ideologis dan religio-politis Indonesia bukanlah “Negara Islam,” Indonesia tetap menjadi negara yang didasarkan kepada ideologi resmi, yang dikenal dengan Pancasila: (1) kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau monoteisme; (2) kemanusiaan yang adil dan beradab; (3) persatuan Indonesia; (4) demokrasi; dan (5) keadilan sosial. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, telah menawarkan lima dasar dalam Pancasila tersebut sebagai bagian dari modus vivendi antara nasionalisme sekuler yang diwakili oleh kaum nasionalis-sekuler dan gagasan negara Islam yang diwacanakan oleh kaum nasionalis-Islam.1
Dari sini, dapat dilihat bahwa negara memiliki peran yang cukup signifikan di wilayah kehidupan bersama dalam ranah relasi sosial, termasuk di dalam wilayah kehidupan beragama setiap warga negaranya. Meskipun demikian, agama dan negara bukanlah dua entitas yang menyatu dan juga tidak berarti sama sekali terpisah, namun keduanya memiliki peranan yang berbeda dalam mengatur kehidupan manusia dalam bidangnya masing-masing. Negara mengatur manusia dalam hubungannya dengan pemerintah dan mengatur hubungan manusia sebagai subjek hukum dengan sesama subjek hukum lainnya, sementara agama mengatur manusia dalam hubungannya dengan sesama dalam pergaulan dan hubungan dengan Tuhannya. Sehingga, dalam posisi ideal, negara dapat bekerjasama dengan agama, dan ________________________
1 Selain melewati perjalanan yang cukup panjang, penetapan lima dasar dalam Pancasila tersebut juga tidak sepi dari perdebatan dan tarik-ulur kepentingan yang berakhir pada penghapusan tujuh kata yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Lihat, misalnya, dalam Ahmad A. Sofyan & M. Roychan Madjid, Gagasan Cak Nur
tentang Negara & Islam, Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 2003, hlm. 37-43.
Bandingkan dengan Siti Musdah Mulia “Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Era Reformasi” dalam Elza Peldi Taher (ed.), Merayakan Kebebasan
Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Efendi, ICRP, Jakarta, 2009,
lebih jauh dengan berbagai aliran kepercayaan yang ada, untuk kemudian secara tegas menciptakan kerukunan dan kedamaian di antara masyarakat dan menegakkan hukum yang berlaku serta, pada titik tertentu, menentang segenap tindakan anarkisme atas nama agama.
Akan tetapi, pada dimensi faktualnya, di Indonesia— sebagaimana juga yang terjadi di wilayah negara lain—seringkali agama dan negara (baca: politik) menjadi entitas yang tumpang tindih. Sebagai akibatnya, agama kerapdijadikan sebagaialat legitimasi dan manipulasi untuk kepentingan dan target politik. Di era pemeritahan Soeharto, misalnya, seringkali negara mengkooptasi Islam untuk mengontrol kekuasaannya. Hal ini berujung pada pembentukan beberapa organisasi keagamaan berbasis kelembagaan oleh pemerintah seperti MUI, yang kemudian dijadikan sebagai legitimasikebijakan politik pemerintah. Efek lain dari hal ini adalah intervensi negara yang terlampau jauh masuk dalam ranah garapan agama dan urusan moral seperti persoalan keyakinan (akidah) warganya dalam memilih dan memeluk agama dan kepercayaan tertentu yang berakhir pada pembatasan kebebasan warganya dalam beragama melalui beragam aturan hukum.2
________________________
2 Intervensi yang dilakukan negara ini tentu dirasa berlebihan mengingat persoalan akidah dan keyakinan merupakan hak setiap warga negara yang justru harus dilindungi dan mendapatkan jaminan dari negara sebagaimana yang telah digariskan dalam undang-undang. Hal ini juga pernah diungkapkan oleh Presiden Soeharto di hadapan peserta Rapat Kerja Depag (sekarang Kemenag) pada tanggal 24 Maret 1984, bahwa:
“Negara dan pemerintah kita menghormati kebebasan beragama bagi setiap penduduk dan menjalankan ibadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Agama adalah masalah keyakinan, dan tidak ada satu kekuasaan duniawi yang mampu dan berhak mencampuri keyakinan hati seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah melayani hajat kehidupan beragama bangsa kita sebaik-baiknya dan seadil-adilnya…. Kita ingin kebebasan beragama benar-benar dilaksanakan sehingga tidak ada golongan agama, betapapun kecilnya jumlah mereka, yang merasa tertekan atau dibatasi kebebasan beragama mereka.”
Seiring dengan berjalannya waktu, beragam produk hukum yang membatasi dan melarang kebebasan warganya untuk menganut agama dan keyakinannya ini, ternyata telah melahirkan beragam pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan (violation of right to freedom of religion or belief).3
Sebagai contoh adalah fenomena kekerasan seputar kebebasan beragama di Indonesia yang dari tahun ke tahun justru semakin memburuk jika dibandingkan dengan era sebelum reformasi. Praktik kekerasan—baik dalam bentuk pengusiran, penghancuran tempat ibadat, maupun intimidasi dan pemaksaan, baik secara fisik maupun psikis, terhadap para penganut agama minoritas atau sekte-sekte tertentu—menyebar semakin luas dan liar tidak terkendali. Bahkan tidak jarang di beberapa daerah, justru aksi kekerasan tersebut didukung oleh aparatur pemerintah seperti polisi. Di tengah upaya pemerintah era reformasi yang sedang berusaha untuk terus membumikan pelaksanaan HAM di negeri ini, tentu berbagai aksi anarkis berbasis agama tersebut menjadi sebuah anomali tersendiri.
Dalam konteks ini, yang tampak kemudian adalah negara terkesan ambigu dan lemah dalam meregulasi wacana dan praktek kebebasan beragama di negeri ini sebagaimana mestinya, sesuai dengan porsi dan proporsinya yang tepat. Ambiguitas ini salah satunya tampak dalam sikap negara yang terlalu jauh melakukan intervensi terhadap urusan akidah dan keyakinan seseorang atau sekelompok warga negara yang menganut keyakinan tertentu. Akan tetapi pada sisi yang lain, dalam beberapa kasus, kriminalitas dan kekerasan yang ________________________
3 Adalah setiap bentuk kegagalan atau kelalaian negara dalam implementasi seperti campur tangan atas kebebasan orang atau tidak melindungi seseorang atau kelompok orang yang menjadi sasaran intoleransi atau tindak pidana berdasarkan agama dan keyakinan. Lihat, Ismail Hasani (ed.), Siding and Acting Intolerantly:
Intolerance by Society and Restriction by the State in Freedom of Religion/ Belief in Indonesia,
dilakukan oleh sekelompok orang beragama terhadap kelompok lainnya dibiarkan begitu saja oleh negara tanpa ada tindakan hukum yang jelas. Padahal, dalam perspektif HAM kebebasan beragama atau berkeyakinan diletakkan sebagai hak individu yang tidak bisa ditunda atau ditangguhkan pemenuhannya (non derogable rights).4
Dalam konteks yang lain, jika kita mengacu kepada instrumen HAM, terdapat dua bentuk cara negara melakukan pelanggaran: (1) dengan cara melakukan tindakan aktif yang memungkinkan terjadinya pembatasan, pembedaan, campur tangan, dan/atau menghalang-halangi penikmatan kebebasan seseorang dalam beragama atau berkeyakinan (by commission); (2) dengan cara membiarkan hak-hak seseorang menjadi terlanggar, termasuk membiarkan setiap tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang tidak diproses secara hukum (by omission).5
________________________
4 Selain kebebasan beragama dan berkeyakinan, hak-hak yang juga terkandung dalam prinsip non derogable rights ini mencakup: hak hidup (tidak dibunuh), hak atas keutuhan diri (tidak disiksa, diculik, dianiaya, diperkosa), hak untuk tidak diperbudak, hak untuk bebas berpikir, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara atas kegagalannya memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut. Dengan demikian, setiap tindakan yang dapat menghilangkan hak-hak di atas dari diri seseorang atau sekelompok orang, maka dapat digolongkan sebagai sebuah pelanggaran HAM. Ismail Hasani (ed.), Op. Cit., hlm. 13-14.
5 Wawancara dengan Eko Riyadi, Direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham UII), pada tanggal 20 Agustus 2011. Dalam beberapa kasus, terlihat sikap aparat keamanan yang membiarkan dan tidak melakukan pencegahan sehingga mendorong sekelompok orang untuk tetap melakukan aksinya seperti menutup tempat ibadat atau menyerangkelompok kepercayaan lain. Sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam pengendalian keamanan dan ketertiban di masyarakat, aparat keamanan seharusnya menindak pelaku kekerasan tersebut. Tetapi tidak jarang aparat keamanan membiarkan, seakan tindakan pelaku kekerasan dibenarkan. Tindakan pembiaran ini tentu tidak dapat dibenarkan karena sama halnya negara tidak memberikan jaminan dan perlindungan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan. Lihat, Syamsul Arifin, “Diskursus Hak Asasi Manusia di Indonesia: Perspektif Kebebasan Beragama/Berkeyakinan”, Makalah dalam
Annual Converence on Islamic Studies (ACIS) Ke-10 di Banjarmasin, 1-4 November
Sementara pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dilakukan oleh warga negara terhadap warga negara lainnya secara garis besar mencakup: (1) tindakan kriminal berupa pembakaran rumah ibadat, intimidasi, kekerasan fisik, misalnya, dan (2) tindakan intoleransi.
Terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh negara, Ghufron Mahmudi menyatakan bahwa pelanggaran tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan negara dalam mengambil jarak terhadap persoalan agama yang muncul di masyarakat. Kebebasan beragama dan keyakinan merupakan bagian dari hak-hak sipil dan politik yang dikategorikan sebagai hak negatif (negative rights)—berbeda dengan hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya yang dikategorikan sebagai hak positif (positive rights), yang bisa terpenuhi jika negara ikut berperan aktif memajukannya. Sebaliknya, hak negatif bisa diwujudkan bila negara tidak terlalu banyak mencampuri urusan agama dan keyakinan tersebut.6
Pada tataran yuridis-formal, Indonesia sebenarnya telah memberikan jaminan konstitusional kepada setiap warga negaranya untuk memeluk agama dan kepercayaan serta menjalankan ibadat sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut, sebagaimana tertuang dalam Pasal 29 UUD 1945 dan Ketetapan MPR No. II/1978 tentang Pedoman Penghayat dan Pengamal Aliran Kepercayaan.
Jaminan ini kemudian diperkuat dengan langkah pemerintah dalam meratifikasi instrumen pokok HAM yang mengatur jaminan kebebasan beragama dan keyakinan yaitu ICCPR khususnya Pasal 18 yang diratifikasi melalui UU No. 12 Tahun 2005.7 Tidak berhenti sampai di sini, berbagai produk ________________________
6 Ibid., hlm. 722.
7 Pasal tersebut mencakup: (1) kebebasan untuk menganut atau memilih agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik di tempat umum atau tertutup, untuk mengejawantahkan agama atau kepercayaannya dalam
kebijakan turunan, baik dalam bentuk Keppres, Perpres, Keputusan Bersama, dan fatwa melalui lembaga keagamaan, juga terus muncul sebagai upaya menjamin hak warga dalam beragama dan keyakinan.
Dengan adanya konsep yang mapan dalam Konstitusi sebagaimana terurai sebelumnya, bagi penulis hal itu sudah cukup untuk menjadi referensi pemerintah dalam mengimplementasikan kebebasan beragama secara menyeluruh. Sebab, secara normatif hal tersebut memang dapat dikatakan sudah cukup ideal (baca: indah). Akan tetapi, idealisme tersebut masih mengandung kesenjangan di ranah implementasi. Hal ini terbukti dengan masih maraknya praktik kekerasan berbasis agama yang dialami oleh kelompok-kelompok minoritas, terlebih yang diklaim “sesat.”
Pada bagian ini, akan dilihat tingkat keberhasilan implementasi berbagai peraturan tersebut dan sejauh mana negara menjalankan kewajiban generiknya untuk menghormati (to respect) dan melindungi (to protect) kebebasan beragama atau berkeyakinan dengan mengemukakan sekian tindak kekerasan8
yang terjadi dalam era reformasi, yang kemudian akan dilakukan ________________________
kegiatan ibadat, penataan, pengamalan, dan pengajaran, (2) tanpa pemaksaan sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau memilih agama atau kepercayaan sesuai dengan pilihannya, (3) kebebasan untuk mengejawantahkan agama dan kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, dan apabila diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban dan kesehatan atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain, dan (4) Negara-negara Pihak Kovenan ini berjanji untuk menghormati kebebasan orangtua, dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Ismail Hasani (ed.), Op. Cit., hlm. 8-9.
8 Kekerasan di sini kurang lebih diartikan dengan tindakan fisik, baik kepada manusia maupun barang dengan tujuan menghancurkan, merusak, atau melukai. Termasuk ke dalam kategori kekerasan ini adalah berbagai perusakan dan penyegelan secara ilegal terhadap sebuah tempat atau aset ang dimiliki oleh sebuah kelompok keagamaan. Lihat, Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia tahun 2008 CRCS, hlm. 11.
flashback pada era Orde Baru dan Orde Lama. Data-data pelanggaran kebebasan beragama dan keyakinan di sini penulis kutip dari berbagai sumber, baik dalam bentuk buku maupun laporan penelitian berkala seperti yang dilakukan oleh SETARA Institute, The Wahid Institute, CRCS UGM maupun lembaga-lembaga lain. Dalam buku ini, dari seluruh data pelanggaran yang diperoleh, penulis hanya mengidentifikasi bentuk-bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan munculnya fatwa tentang aliran sesat dari berbagai lembaga keagamaan dan/ atau yang mengandung unsur-unsur penyesatan yang disajikan secara kronologis dalam bentuk tabel.
Penyajian berbagai pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang hanya dibatasi pada konteks fatwa-fatwa ini sendiri bertujuan untuk menunjukkan bahwa keluarnya fatwa yang sedianya dimaksudkan untuk meredam maraknya berbagai aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas, justru dipersepsikan secara berlebihan oleh sebagian masyarakat melalui tindakan anarkis “berkedok” agama. Meskipun fatwa bukanlah satu-satunya alasan bagi terciptanya sebuah persepsi dalam bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM di masyarakat, namun paling tidak dapat dilihat bahwa ternyata pengeluaran fatwa penyesatan terhadap sebuah kelompok keyakinan/ keagamaan bukanlah satu-satunya upaya rekonsiliasi yang tepat karena fatwa-fatwa tersebut masih memunculkan multi-tafsir di kalangan umat.
Tabel. 4.1.
Dinamika Kebebasan Beragama dan Keyakinan Berkaitan dengan Fatwa MUI
Waktu Tempat Keterangan
7 Mei 2005 Kepanjen, Malang, Jatim
- MUI Malang dan MUI Jatim mengeluarkan fatwa klaim sesat terhadap Muhammad Yusman Roy dalam kasus salat dua bahasa.
- Bupati Malang mengajukan Yusman Roy ke Pengadilan dengan tuduhan penodaan agama.
- Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen memvonis Yusman 2 tahun penjara. 16 Mei 2005 Desa Krampilan, Kec. Besuk, Kraksaan, Probolinggo
MUI Kab. Probolinggo mengeluarkan fatwa penyesatan terhadap M. Ardhi Husein, Pimpinan Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) Desa Krampilan, karena dianggap menyebarkan aliran sesat melalui bukunya “Menembus Gelap Menuju Terang 2.” Husein diajukan ke pengadilan dengan tuduhan penodaan agama. 29 Juli 2005 Brebes Kepolisian dan Pemerintah
Daerah (Pemda) Brebes membubarkan kelompok Kanjeng Patih Kala Jenggel pimpinan Kasnawi, setelah dinyatakan sesat oleh MUI setempat. 4 September 2005 Jl. Utan Kayu 68 H, Matraman, Jakarta Timur.
Kurang lebih 30-an orang mendatangi Komunitas Utan Kayu dengan membawa spanduk bertuliskan “Kami Mendukung Fatwa MUI dan Mendesak Muspika Matraman untuk Mengusir JIL dan antek-anteknya”, “JIL Haram, Darah Ulil Halal”, dan lain-lain. Mereka juga menuntut agar JIL diusir dari Utan Kayu.
14
November 2005
Paseh, Kab. Sumedang
- MUI Kecamatan Paseh menyesatkan kelompok Husnul Huluq.
- Massa membakar rumah pengikut ajaran tersebut. 29
Desember 2005
Jakarta - Pada tanggal 22 Desember 1997
- MUI memfatwa bahwa kelompok keyakinan pimpinan Lia Aminuddin sesat-menyesatkan.
- Lia Aminuddin alias Lia Eden ditahan Polda Metro Jaya atas sangkaan melakukan penodaan terhadap agama dan menghasut atau mengajak orang lain untuk mengikuti ajarannya. Ia dijerat Pasal 156a, 157, 335, dan 336 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Januari 2009 Perum Parahyangan Kencana, Desa Nagrak, Kec. Cangkuang, Kab. Bandung
- Sekitar seratus massa dari Gerakan Reformis Indonesia (Garis) melakukan demo menyatakan kelompok Amanah Keagungan Ilahi (AKI) adalah sesat, mencoreng nama Islam, dan meresahkan masyarakat Muslim.
- Perwakilan AKI, Garis, dan MUI melakukan negosiasi. Akhirnya perwakilan AKI menandatangani pernyataan menghentikan segala aktivitas dan kegiatan yang dinilai Garis menyimpang dari syariah Islam.
- PAKEM melakukan kajian terhadap AKI dan memutuskan bahwa AKI pimpinan Wahyu Kurnia/ Syamsu di Cangkuang tidak sesat. Sedangkan AKI versi Andreas sesat karena mencampuradukkan antara agama Islam dan agama lain. 11 Januari
2009
Desa Jajar, Kec. Talun, Kab. Blitar
- MUI Blitar menyatakan bahwa aliran Tiket Masuk Surga (aliran Dununge Urip) yang dipimpin oleh Suliyani telah berkembang di Blitar beberapa bulan sebelumnya. Aliran ini mewajibkan seluruh pengikutnya menandatangani kesanggupan membayar sejumlah biaya untuk jaminan masuk surga dari Rp. 3 juta hingga Rp. 7 juta.
- Ketua MUI menyatakan aliran ini sesat karena menyalahi syariah Islam dan polisi bisa menjerat pelaku dengan pasal penodaan agama. MUI meminta warga untuk tidak bertindak anarkis. Kapolres Blitar akan berkoordinasi dengan MUI untuk mengkaji aliran ini dan kalau terbukti sesat, aparat akan membubarkannya.
Februari 2009
Sangkapura, Kab. Gresik
- Menurut beberapa pihak, Ali Akbar aliasSoleh Akbar adalah Dukun Kampung yang membuka praktik pengobatan. Menurut MUI, Ali Akbar mempraktekkan aliran sesat. Menurutnya, Ali meminta pasiennya untuk memuja sebagai Tuhan, mengajarkan syahadat bahwa dirinya adalah Allah dan sekaligus Rasulullah serta menginjak-injak al-Qur’an. - Untuk menghindari amuk
massa, pada tanggal 10 Februari 2009, polisi membawa Ali ke Polsek Sangkapura. Di Polsek, Ali membantah telah menginjak-injak al-Qur’an. Setelah ditahan 24 jam, kepolisian membebaskan Ali karena tidak memiliki bukti kuat untuk menetapkannya sebagai tersangka.
- Menindaklanjuti kasus ini, MUI, para tokoh agama, dan Muspika Sangkapura menetapkan Ali Akbar harus keluar dari Sangkapura. 6 Februari 2009 Kec. Diwek, Kec. Jombang, dan Kec. Tambelang di Jombang
- Pengurus MUI Jombang menyatakan aliran Noto Ati adalah sesat. Menurutnya, aliran ini mengutamakan wirid dan mengabaikan al-Qur’an, menolak tradisi
sungkeman Idul Fitri, fanatisme berlebihan terhadap guru, larangan bertakziyah, dan larangan terhadap anak-anak untuk bersekolah dan berinteraksi sosial.
- Depag menerima laporan kajian MUI, namun Depag menyatakan aliran ini telah membubarkan diri.
9 Juni 2009 Luwu, Sulsel MUI Luwu mengeluarkan fatwa penyesatan melalui SK
No.
2/MUS/MUI-LW/VI/2009 berisi larangan paham keselamatan Ambo (dkk.) di Dusun Pandada. Fatwa ini merupakan tindak lanjut dari hasil rapat koordinasi sebelumnya yang kemudian oleh Kejari Balopa akan diteruskan ke Bakorpakem Pusat sebagai landasan pelarangan.
Juni 2009 Desa Air Batu, Kec. Renah Pembarap, Kab. Merangin
- Tarekat Naqsabandiyah mulai dianut luas di Air Batu sejak tahun 2005. Sebagian warga melaporkan ada 20 prinsip ajaran dalam ajaran Tarekat Naqsabandiyah di Air Batu yang menyesatkan seperti Tuhan Beranak, malaikat tidak pernah ada dan bila iman sudah sempurna, salat tidak wajib lagi.
- Ketua MUI Merangin menyatakan pada dasarnya
ajaran Tarekat Naqsabandiyah tidak sesat, tetapi praktiknya di Air Batu adalah sesat. - Pada 23 Juni 2009 diadakan
pertemuan di kantor Depag (sekarang Kemenag) antara MUI dan pengikut Tarekat Naqsabandiyah. Hadir pula dalam pertemuan tersebut kepala Depag, Kasat Intel Polres, Camat, dan Kapolsek. MUI dalam pertemuan tersebut menyatakan aktivitas tarekat Naqsabandiyah segera dihentikan dan melarang guru Tarekat Naqsabandiyah Ali Wardana masuk ke Desa Air Batu.
Juni 2009 K a w a s a n hutan lindung Kab. Luwu
- Sejak tahun 2007, Ambo menyebarkan aliran Maddina Lekko Pini Bunda Maryam. Pengikutnya meyakini aliran ini sebagai salah satu agama yang diturunkan Allah SWT sebagai pelengkap ajaran Islam.
- MUI mengadakan pertemuan di Kejari Belopa yang dihadiri oleh Muspida Kab. Luwu untuk membahas ajaran Ambo. Pertemuan berikutnya diadakan di Depag. Kemudian MUI menetapkan secara resmi dengan surat keputusan
bahwa aliran yang dibawa Ambo menyesatkan karena
tidak sesuai dengan agama dan adat di wilayah itu - Kejari Belopa meneruskan
fatwa ini ke Bakorpakem Pusat. Bersamaan menunggu keputusan Bakor Pakem Pusat, Bakorpakem Luwu mengawasi aktivitas pengikut paham ini, Ambo diperiksa oleh polisi pada akhir Juni 2009. Sebaliknya, 20 pengikut Ambo menyatakan bertaubat di depan aparat Kab. Luwu. 14 Oktober
2009
Madiun, Jawa Timur
Warga Dusun Tawangrejo Kec. Gumarang, Madiun yang tergabung dalam Forum Keadilan Masyarakat Babadan (FKMB) melaporkan ke MUI setempat bahwa ajaran yang dikembangkan Sukarno essat. Sebelumnya warga juga menggerebek rumah Sukarno yang waktu itu kosong.
Oktober- November 2009 Kelurahan Kranggan, Gg. 5, Mojokerto, Jatim
- Pada Oktober 2009, MUI Mojokerto menyatakan bahwa Aliran Ilmu Kalam Santriloka pimpinan Anwar aliasAchmad Nafan alias Mbah Aan adalah sesat. Aliran ini memublikasi-kan VCD dan buku berjudul Wind of Change. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Mojokerto pada 31 Oktober mendukung pernyataan MUI dan secara simbolis membakar buku dan VCD Santriloka. Pengurus
Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur juga berpendapat serupa. - Menurut pihak-pihak yang
tidak setuju dengan Santriloka di atas, Santriloka telah menistakan agama seperti mengajarkan puasa Ramadhan dan salat bukan suatu kewajiban. Al-Qur’an yang asli bukan berbahasa Arab, melainkan bahasa Kawi, Sansekerta, dan Jawa Kuno.
- Pada 28 Oktober 2009, Mbah Aan mengajarkan ajaran-ajarannya di sebuah padepokan di Kelurahan Kranggan. Aliran ini memiliki pengikut sekitar 700 orang. Paginya, setelah malamnya memberikan pengajaran di padepokan tersebut, Mbah Aan ditangkap polisi dan dibawa ke kantor Polres Kota Mojokerto. Setelah 7 hari ditahan, pada 5 November, Mbah Aan ditetapkan sebagai tersangka. 12 November 2009 Desa Kauman, Kec. Kota, Kudus, Jateng
- Diisukan Sabdo Kusumo alias Kusmanto Sujono menulis buku Syahadat Makrifat yang menyatakan Syahadat: “…dan saya
bersaksi bahwa Sabdo Kusumo utusan Allah” (dalam bahasa Arab).
- MUI mengumpulkan berkas tertulis ajaran Sabdo Kusumo dan membuat surat pernyataan ke Polres Kudus bahwa aliran yang memiliki pengikut sekitar puluhan orang tersebut sesat melalui surat pernyataan bernomor K.30/MUI/XI/2009.
- Depag memanggil Sabdo Kusumo untuk dimintai keterangan. Dia membantah telah menulis buku Syahadat
Makrifat. Dia mengaku mengarang buku Sabdaning
Suma: Kaweruh Sangkan Paraning Dumadi Ngalam Pernataning Gusti Hyang Maha Agung. Itu pun yang menulis kata-katanya adalah temannya, Kholiq dan Abdul Latief. Sabdo Kusumo mengaku, yang juga ditegaskan istrinya, bahwa dia tidak bisa membaca dan menulis bahasa Arab.
- Pada 12 November 2009 di depan pejabat Depag di Kantor Depag Kudus, Sabdo Kusumo menandatangani surat pernyataan tidak pernah menyebarkan ajaran menyesatkan sebagaimana tercantum dalam buku