Konstruksi Baru Kebebasan Beragama
D. Proses dan Konstruksi Baru Konsep Kebebasan Beragama di Negara Hukum Indonesia Berbasis Nilai
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Indonesia adalah negara yang tidak perlu lagi diragukan dalam hal menerima dan mengakui kebebasan beragama, bahkan menempatkannya sebagai sesuatu yang konstitutif dan mengikat. Namun demikian, sebagaimana kerap diungkap di muka bahwa kemapanan konseptual tersebut tidak sejalan dengan produk regulasi turunannya dan realitas pandangan masyarakat, termasuk intelektual Muslimyang berkaitan dengan fatwa MUI tentang aliran sesat keagamaan.
Buku ini hendak melakukan rekonstruksi ragam problem tersebut agar sejalan dengan konsep normatifnya, Pancasila. Artinya, objek rekonstruksi ini adalah ketidaksepahaman sebagaian masyarakat berkaitan dengan konsep kebebasan beragama kaitannya dengan fatwa MUI tentang aliran sesat di Negara Hukum Indoneisa. Adapun basis rekonstruksinya adalah nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menjadi salah satu nilai fundamental Pancasila.
Pemilihan nilai dari Pancasila sebagai basisnya ini lebih disebabkan karena secara filosofis ia merupakan serapan dari ragam unsur atas konsep-konsep, yang beberapa elemen pokok partikularnya bertentangan. Sebagai sebuah titik temu dari beragam unsur, Pancasila—dalam pandangan Mahfud MD.— sebenarnya merupakan perwujudan dari konsep prismatik. Sebagai konsepsi prismatik, Pancasila mengandung unsur-unsur yang baik dan cocok dengan nilai khas budaya Indonesia yang sudah hidup di kalangan masyarakat selama berabad-abad.
Dengan demikian, paling tidak, ada dua hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun konsep kebebasan beragama dengan basis prismatik ini. Pertama, memuat unsur yang baik dari pandangan kolektivisme, yang berbasis pada
ideologi partikular-absolut, dan individualisme, yang berbasis pada ideologi universal-absolut. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki akar sosio-kultural yang sangat plural. Pluralitas tersebut kentara pada beragamnya suku dan budaya. Namun demikian, pluralitas tersebut dapat disatukan dalam semboyan, “Bhineka Tunggal Ika”. Artinya, semboyan tersebut menjadi garis penghubung dari unsur-unsur yang berbeda tersebut. Kedua, Indonesia adalah Negara Hukum yang menganut paham religious nation state, dalam arti bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler. Sehingga, aturan mengenai keberagamaan dan/atau keagamaan dapat dikonstruksi dalam bingkai hukum yang berdasarkan filosofi bangsa, Pancasila, bukan agama. Dua hal tersebut dapat disederhanakan dalam ragaan sebagai berikut:
Ragaan. 4.3.
Konsep Kebebasan Beragama Prismatik a
Hal demikian itu pada dasarnya tampak jelas dalam sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai rechtsidee konsep kebebasan beragama di Indonesia—
Kecenderungan: Mengutamakan kepentingan kolektif Kecenderungan: Mengutamakan kepentingan individualisti Konsep Kebebasan Beragama
di Negara Hukum Indonesia (Religious Nation State) “Bhineka Tunggal Ika”
Existing: - Eksklusif - Berbasis partikular-absolut Existing: - Liberal - Berbasis universal-absolut NILAI KEMANUSIAANJ
sebagaimana telah diungkap sebelumnya—nilai dasar yang termuat di dalamnya tidak hanya berdimensi teologis, tetapi juga politis. Implikasinya adalah bahwa nilai dasar itu menuntut orang untuk mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama antar-pemeluk agama dan/atau kepercayaan yang beragam terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain. Berikut gambaran dialektika dua persepsi di atas beserta proses prismatiknya, sehingga menjadi bahan pertimbangan konstruksi baru konsep kebebasan beragama di Negara Hukum Indonesia:
Tabel 4.5.
Dialektika Kondisi Existing Problem Kebebasan Beragama di Negara Hukum Indonesia Berkaitan dengan Persepsi Intelektual
Muslim terhadap Fatwa MUI tentang Aliran Sesat Titik Perbedaan Kolektivisme Individualisme Bentuk Persepsi Eksklusif Inklusif-Liberal Basis Nilai Agama Humanisme Basis Ideologi Partikular-Absolut Universal-Absolut Dasar Legitimasi UU No. 1/PNPS/ 1965 UU No. 12 Tahun 2005 Pandangan
atas Fatwa MUI tentang Aliran Sesat berkaitan dengan Kebebasan Beragama 1. Pemerintah harus melindungi agama dan pemeluknya. 2. Aliran sesat bukan
termasuk bagian dari problem kebebasan beragama (sebagai bagian dari HAM). 3. Suatu keyakinan atau aliran kepercayaan yang dianggap sesat 1.Pemerintah harus melindungi pemeluk agama dan pengikut suatu keyakinan (aliran kepercayaan), bukan agama dan keyakinan itu sendiri. 2.Aliran sesat termasuk bagian dari problem kebebasan beragama (sebagai bagian dari HAM).
3.Semua aliran atau keyakinan adalah
bukan bagian dari hak kebebasan beragama sebagai bagian dari HAM, justru ia telah melanggar HAM. 4. Kebenaran tafsir keagamaan dapat ditentukan secara kolektif (mainstream).
bagian dari hak kebebasan beragama yang merupakan bagian dari HAM. 4.Tafsir keagamaan tidak memiliki kebenaran mutlak, artinya ditentukan oleh keyakinan individu. 5. Fatwa MUI, sebagai contoh tafsir keagamaan, memang bersifat legal opinion tetapi karena kolektivitasnya maka kebenarannya bersifat mutlak. 6. Berkaitan dengan kasus persekusi, aliran sesatlah yang menjadi pemicunya
5.Fatwa MUI, sebagai contoh tafsir keagamaan, bersifat legal opinion. Karena itu, ia sejajar dengan bentuk tafsiran lain yang mungkin bertentangan.
6.Berkaitan dengan kasus persekusi, aliran sesat bukan sebagai pemicunya
Konsekuensinya Pemerintah harus tegas untuk membubarkan dan melarang aliran yang dianggap sesat oleh MUI.
Pemerintah harus menindak tegas para pelaku persekusi, dan wajib melindungi para penganut suatu keyakinan atau aliran kepercayaan yang dianggap sesat oleh MUI.
Tabel 4.6.
Konstruksi Baru Konsep Kebebasan Beragama di Negara Hukum Indonesia Berkaitan dengan Persepsi Intelektual
Muslim terhadap Fatwa MUI tentang Aliran Sesat
Bentuk Persepsi Inklusif-Moderat
Basis Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Pancasila)
Basis Ideologi Universal-Relatif Dasar Legitimasi UUD 1945 Pandangan
atas Fatwa MUI tentang Aliran
1. Pola perlindungan dan penjaminannya ditekankan pada pemeluk agama atau penganut suatu keyakinan (aliran kepercayaan Sesat berkaitan
dengan Kebebasan Beragama
beserta agama dan keyakinan (kepercayaan) itu sendiri dalam batasan-batasan tertentu. 2. Aliran sesat termasuk bagian dari problem
kebebasan beragama sebagai bagian dari HAM, selama ia secara konstitusional dapat dikatakan demikian.
3. Suatu keyakinan atau aliran kepercayaan yang dianggap sesat dapat dikatakan melanggar hak kebebasan beragama yang merupakan bagian dari HAM jika memang secara konstitusional dapat dikatakan demikian. 4. Tafsir keagamaan memang tidak memiliki
kebenaran yang bersifat mutlak, akan tetapi tidak serta-merta kemudian seseorang dengan bebas melakukan penafsiran dengan tanpa metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
5. Fatwa MUI, sebagai contoh tafsir keagamaan, bersifat legal opinion dan bisa menjadi referensi dalam menentukan kebijakan kasus aliran sesat, tetapi bukan merupakan satu-satunya referensi.
Berkaitan dengan kasus persekusi, jika secara konstitusional pelakunya dapat dikatakan melanggar hukum, baik itu dari pihak aliran yang dianggap sesat maupun pelaku
persekusi, maka keduanya bisa jadi dikatakan sebagai pemicu.
Konsekuensi Pembentukan regulasi turunan yang dapat mengakomodasi jaminan perlindungan atas individu pemeluk agama atau penganut suatu keyakinan aliran kepercayaan) beserta agama dan keyakinan (kepercayaan) itu sendiri dalam batas-batas tertentu yang selaras dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab adalah konsekuensi bagi pemerintah.
Batasan-batasan yang dimaksud dalam tabel 4.6. contohnya adalah apa yang diistilahkan dengan blashphemy.62 Hal demikian menjadi lazim karena, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, Indonesia adalah Religious Nation State63 dan didasarkan atas hukum yang berisi nilai-nilai Pancasila, bukan ________________________
62 Dalam Black’s Law Dictionary disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
blashphemy adalah; “Any oral or written reproach maliciously cast upon God, His name, attributes, or religion…. In English law, blashphemy is the offense of speaking matter relating to God, Jesus Christ, the Bible, or the Book of Common Preyer, intended to wound the feelings of mankind or to excite contempt and hartred against the church by law established, or to promote immorality”. Hanry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, West Publishing, St. Paul
Minn, 1990, hlm. 171. Artinya, agama dan seperangkatnya dapat dilindungi oleh negara hanya dalam batasan untuk tidak direndahkan dalam bentuk penghinaan. Sementara itu, pada wilayah penafsiran keagamaan, negara tidak memiliki hak untuk mengaturnya. Di samping karena secara fundamental agama memang berpotensi untuk ditafsiri secara beragam, juga tidak akan ditemukannya general
terminology yang akomodatif dari ragam perbedaan dalam dunia penafsiran.
Mendekati pola semacam itu adalah pandangan Kaelan, menurutnya regulasi tentang kebebasan beragama harus bertumpu pada jaminan perlindungan atas pemeluk keyakinan atau agama sekaligus institusi keyakinan atau keagamaan itu sendiri. Berkaitan dengan tafsir keagamaan, Kaelan berpandangan bahwa hal tersebut menjadi sah selama tidak dianggap menghina institusi keyakinan atau keagamaan lain. Wawancara dengan Kaelan, Guru Besar UGM, di Yogyakarta pada tanggal 22 Agustus 2011. Bandingkan dengan, Barda Nawawi Arif, Op. Cit., hlm. 65-66.
63 Hal senada juga diungkapkan oleh Amidhan, Pihak Terkait, dalam Sidang
Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965 pada hari Kamis, 4 Februari 2010 di Gedung
agama. Sementara itu, kenyataan yang ada adalah bahwa produk regulasi turunan tentang sosial-keagamaan satu sama lain tampak kontraproduktif, dan bahkan kontradiktif. Sehingga, re-evaluasi dan harmonisasiadalah konsekuensinya. Agenda tersebut dapat dijalankan secara konsisten mengacu pada Pancasila yang telah menggariskan empat kaidah penuntun hukum nasional. Kaidah-kaidah ini tidak terlepas dari kedudukan Pancasila yang menjadi citra hukum (rechtsidee) dan merupakan dasar dan tujuan setiap hukum di Indonesia. Berkaitan dengan konsep kebebasan beragama, maka kaidah-kaidah penuntun itu dapat dijabarkan dalam bentuk:
1. Hukum kebebasan beragama di Indonesia bertujuan dan menjamin integrasi bangsa. Konsep hukum tersebut tidak boleh memuat isi yang berpotensi menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa.
2. Hukum kebebasan beragama di Indonesia dirumuskan dengan pola yang selaras dengan cita pembangunan demokrasi dan nomokrasi. Konsep hukum tersebut tidak dibuat berdasar paradigma keagamaan mainstream semata, tetapi juga mengalir dari filosofi Pancasila dan prosedur yang benar.
3. Hukum kebebasan beragama di Indonesia diproduk dalam rangka membangun keadilan sosial. Tidak bisa dibenarkan jika produk hukum tersebut berpotensi mendorong atau membiarkan terjadinya jurang sosial karena eksploitasi oleh golongan mainstream terhadap minoritas tanpa perlindungan Negara. Selain itu, konstruksi hukum kebebasan beragama juga diarahkan untuk menjaga agar minoritas tidak dibiarkan menghadapi sendiri pihak mainstream yang sudah pasti akan selalu dimenangkan oleh yang mainstream.
Hukum kebebasan beragama di Indonesia diproduk dalam rangka membangun toleransi beragama dan berkeadaban. Konsep hukum tersebut tidak boleh mengistimewakan atau
mendiskriminasi kelompok tertentu berdasar besar atau kecilnya pemeluk agama dan/atau keyakinan (yang mendasarkan pada satu agama atau keyakinan tertentu) dan bukan negara sekuler (yang tidak peduli atau hampa spirit keagamaan). Konsep hukum negara tidak dapatmewajibkan berlakunya hukum agama, tetapi negara memfasilitasi, melindungi, dan menjamin keamanannya jika warganya akan melaksanakan ajaran agama karena keyakinan dan kesadarannya sendiri.
Dalam menyusun aturan soal agama, kaidah pertama dan keempat di atas mesti diperhatikan, karena hukum Indonesia bertujuan dan menjamin integrasi bangsa, dan pada saat bersamaan membangun toleransi beragama serta berkeadaban. Harus disadari, agama dalam arti keyakinan secara fundamental merupakan wilayah privat, sehingga negara memiliki kewenangan untuk mengaturnya hanya dalam batas-batas tertentu atas kepentingan ketertiban sosial, bukan kepentingan agama itu sendiri. Sehingga, pengaturan terbatas pada bagimana masing-masing orang mengekspresikan keyakinannya supaya tidak merugikan atau melanggar hak orang lain. Aturan hukum sebaiknya hanya mengatur kehidupan bersama, interaksi, dan interelasi antar warga negara yang berbeda agama dan/atau kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Artinya, hukum diproduk bukan dalam rangka mengatur kegiatan dan keagamaan secara individual dan internal komunitas pemeluk agama, apalagi mengatur kegiatan keagamaan yang terkait dengan pengalaman, sakralitas, dan ritualitas menurut keyakinan masing-masing agama atau suatu keyakinan. Tidak boleh, misalnya, negara membuat aturan hukum yang mewajibkan sesuatu yang sudah diwajibkan oleh agama atau suatu keyakinan, atau sebaliknya melarang sesuatu yang sudah jelas-jelas dilarang agama atau suatu keyakinan.
Selain itu, nilai-nilai humanitas juga mesti terkandung di segala produk hukum. Bertolak dari gagasan hukum progresif Satjipto Rahardjo—sebagaimana telah diungkap dalam kerangka pemikiran—maka diproduknya sebuah hukum ditujukan untuk manusia, dalam arti bukan sebagai institusi yang bersifat mutlak dan final. Sehingga, diproduksinya hukum kehidupan beragama tetap menjunjung nilai-nilai humanitas. Jika suatu produk hukum berkaitan dengan hal tersebut kurang dianggap relevan, UU No. 1/PNPS/1965 misalnya, maka pihak berwenang mestinya tidakgamang untuk merevisinya. Karena, segala produk hukum sejatinya selalu berada pada status “law in the making”, yakni selalu berproses dan menjadi.
Bertolak dari ragam persoalan dan kerangka prismatika tersebut, maka konsep kebebasan beragama di Negara Hukum Indonesia dapat dirumuskan dalam pola jaminan perlindungan atas hak kebebasan berkeyakinan dan beragama serta keyakinan dan agama itu sendiri yang berbasis pada nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan pola semacam ini, tidak bisa dengan serta-merta seseorang memaksakan kehendak keyakinan atau keberagamaannya kepada orang lain, termasuk dalam hal penafsiran. Seseorang juga tidak bisa dengan sesuka hati melakukan penghinaan terhadap suatu agama atau keyakinan, termasuk pula ritus-ritus yang menyertainya. Selain itu, seseorang juga dilarang untuk mengganggu prosesi upacara suatu agama atau keyakinan, apalagi melakukan perusakan-perusakan terhadap tempat-tempat peribadatan keagamaan atau suatu keyakinan. Pola semacam ini dapat disederhanakan dalam ragaan sebagai berikut: