• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : Pada bab ini berisi tentang bagaimana sejarah gay di Indonesia dan bagaimana perkembangan kaum gay khusus nya di wilayah Indonesia dan bagaimana perkembangan kaum gay khusus nya di wilayah

HASIL TEMUAN DAN ANALISIS

2. Pra coming out

a. Proses Kesadaran Diri

Kesadaran diri terhadap interest seks sesama jenis biasanya merupakan proses

yang lambat dan menyakitkan. Individu-individu yang menyadari

perasaan-perasaan tersebutt kemungkinan besar akan menolak. Pra-coming out adalah

proses kesadaran yang preconscious terhadap adanya identitas seksual terhadap sesama jenis66.

65

Wawancara pribadi dengan informan "A". Jakarta 29 Maret 2016.

66

Paul, Weinrich Gonsiorek & Hotvedt , Homosexuality:Social,Psychological and Biological Issues, London: SAGE Publication. 1982, h. 221.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa Pra coming out merupakan proses kesadaran diri terhadap ketertarikan menyukai sesama jenis67. pada informan "D"

ia sebelum melaksanakan coming out terlebih dahulu mencari tahu bagaimana dan

apa Gay itu sebenarnya. Seperti yang ia sampaikan dalam wawancara pribadi:

"Gue cari tau lewat facebook. Dan setelah gue cari tau ternyata yang kaya gue ini banyak banget. Asli deh sempet kaget, kirain cuma gue yang aneh suka sesama jenis. eh ternyata banyak yang kaya gitu. Semakin gue pahamin ternyata yang gue rasain ini mungkin emang udah pemberian aja dari Tuhan"68

Sebelum ia memahami bagaimana cara ia melakukan coming out nantinya

"D" memutuskan untuk mencari tahu terlebih dahulu mengenai Gay melalui akun FACEBOOK dan mencari tau mengenai apa yang sebenarnya sedang ia alami. Saat ia mengetahui bahwa yang ia alami ini disebut dengan Gay ia merasa cukup bingung kenapa hal ini bisa terjadi pada dirinya.

"Awalnya sih gue bingung, tapi gue gak berusaha untuk berontak atau ngelak dari permasalahan yang gue alami ini. gue tau kalau ini salah dan tidak seharus nya gue seperti ini tapi ini terjadi kan bukan karena keinginan gue. Bukan gue yang milih untuk menjadi Gay. Gue ngerasa ini emang takdir yang Tuhan berikan aja"69

Walaupun pada awalnya ia merasa bingung mengenai permasalahan yang ia alami. Namun pada akhirnya "D" merasa bahwa masalah ini adalah pemberian Tuhan kepadannya dan ia tidak mau mengelak atau pun berontak dari permasalahan yang ia alami.

67

Erikson, Journal : Childhood and society. New York: Norton. Erikson, E. H. Identity: Youth and crisis. (1968). New York: Norton, h.76.

68

Wawancara pribadi dengan informan "D". Jakarta 17 April 2016.

69

Saat menanyakan banyak hal tentang dirinya, informan menjawab semuanya dengan santai tanpa merasa khawatir ada yang mendengar pembicaraan kita. Ia

pun menceritakan semuanya dengan ekspresi yang senang.70

Pada proses pra coming out Penolakan tak langsung ini biasanya dirasakan sangat mendalam. sehingga menahan mereka untuk mengungkapkan aspek yang ada dalam diri mereka tersebutt kepada siapa pun setiap saat kaum homoseksual mengingkari validitas dari perasaan mereka atau menahan untuk tidak mengekspresikan diri, pada saat yang sama ia melukai dirinya sendini la membalikkan energinya ke dalam dan melakukan supresi (secara sadar menekan

ke unconsciousness) vitalitas yang dimilikinya71

Pada informan "R" sebelum ia memutuskan untuk melaksanakan coming out

ia mencari tahu terlebih dahulu mengenai permasalahan yang sedang ia rasakan ini melalui sosial media yaitu TWITTER dan hanya memantau saja tanpa mengadakan kontak dengan para gay lainnya. Dan saat itu ia merasakan stress yang sangat mendalam pada dirinya mengenai apa yang ia alami saat ini mengenai orientasi seksualnya.

"Lewat sosial media terutama twitter. Awalnya gue Cuma pantau aja tanpa punya akun twitter. Cuma baca bacain status para gay gitu. Setelah gue pahamin agak lama gue emang ngerasa gak sendirian sih"72

70

Hasil observasi dengan informan "D". Jakarta 17 April 2016. lihat pada lampiran nomer 5

71

Paul, Weinrich Gonsiorek & Hotvedt , Homosexuality:Social,Psychological and Biological Issues, London: SAGE Publication. 1982, h. 221.

72

Seteleh ia mengetahui bahwa yang ia alami disebut Gay dan yang mengalami hal tersebutt tidak hanya ia saja. "R" mencoba untuk tidak hanya mencari tahu hal tersebutt tetapi ia juga memberanikan diri melakukan kontak dengan para Gay lain seperti yang ia sebutkan dalam wawancara :

"Gue ngerasa kaya ada temennya aja gitu akhirnya gue memberanikan

diri buat bikin akun dan mulai mengadakan kontak dengan mereka"73

Setelah ia mulai mengetahui banyak hal mengenai Gay yang ia peroleh tidak hanya dari media sosial tetapi ia mendapatkan banyak informasi dari teman Gay yang ia kenal melaui TWITTER tersebutt

Proses menyadari terhadap adanya permasalahan seksual terhadap sesama jenis. Hal ini terjadi saat iya sudah memahami perbedaan yang terjadi pada dirinya. Konsekuensi yang paling jelas dari kesadaran ini adalah adanya dampak negatif terhadap konsep diri74.

Pada informan "A" proses pra coming out sedikit berbeda dengan informan sebelumnya bahwa sudah mulai merasakan perbedaan sejak SD dan sudah mengetahui banyak hal mengenai homoseksual atau Gay sejak kecil. Awal ia mengetahui tentang homoseksual pertama kali melalui televisi.

"Waktu gue SD itu gue mulai suka nonton tv yang ada pembahasan

mengenai homoseksual yang kalau dulu itu disebut banci"75

73

Wawancara pribadi dengan informan "R" 74

Paul, Weinrich Gonsiorek & Hotvedt , Homosexuality:Social,Psychological and Biological Issues, London: SAGE Publication. 1982, h. 221.

75

Saat masih berada dibangku sekolah dasar "A" sering diajak oleh kakak nya kekampus. Dan karena hal itu ia banyak bergaul dengan orang dewasa yang bukan sesuai dengan umurnya. Sehingga banyak informasi yang ia dapatkan dari teman teman kakaknya mengenai homoseksual.

"Dan kebetulan gue waktu SD itu sering diajak kaka gue kekampus nya dan sering dengerin masalah gay gitu kalau temen temen kaka gue lagi bahas mengenai gay itu gue suka nguping sampe akhirnya gue mulai ngerti sedikit demi sedikit"76

Tidak hanya sampai disitu ketika "A" mengetahui homoseksual yang dahulu sering disebut oleh teman kakak kakanya. Ia juga pernah mengikuti kegiatan seminar homosekusal dikampus kakak nya.

"Waktu gue kekampus kaka gue lagi ada seminar mengenai homoseksualitas gitu dan gue ikutan dengerin disana. Sampai akhirnya setelah ikut seminar itu gue ngerti kalau yang gue alami ini namanya Gay. Tapi gue gak begitu peduliin masalah inisampe gue masuk ke SMP. Nah pas gue SMP itu gue inget banget pernah baca Koran Tempo dan disana ada pembahasan mengenai homoseksualitas dan ternyata yang mengalami kaya gue gini banyak banget. Dan ternyata bukan gue doang pengidap masalah ini. semenjak itu gue tau yang gue alami ini namanya Gay dan banyak orang di luar sana yang sama kayak gue"77

Dari banyaknya pengetahuan yang ia dapat dari kampus kakaknya dan informasi dari banyak pihak itulah yang membuatnya mengetehaui mengenai homoseksual sejak masih kecil sekali sehingga tidak terlalu sulit untuknya mengembangkan perasaan yang ia alami karena pengetahuan yang dapatkan sudah banyak

76

Wawancara pribadi dengan informan "A". Jakarta 29 Maret 2016. 77

Dokumen terkait