Seperti yang telah dijelaskan di dalam kerangka teori,
maqashid al-syariah pada dasarnya bertitik tolak pada kemaslahatan secara syar’i maupun kemaslahatan pada pelakunya (mukallaf). Titik tekannya pada lima hal, yaitu kemaslahatan dalam hal beragama, keturunan, jiwa, harta benda, dan daya pikir. Jika sesuatu itu membawa maslahat, tentu saja bisa dilakukan. Begitu juga sebaliknya, jika membawa madharat, harus ditinggalkan.
Dalam praktik nikah sirri, ada banyak implikasi yang bisa didapatkan, dan hal itu tergambar dalam pembahasan implikasi nikah sirri di atas. Jika melihat hal tersebut, pada dasarnya ada banyak implikasi negatif yang didapatkan dari nikah sirri ini, dan hal itu terjadi baik yang dilakukan secara benar menurut hukum agama maupun yang tidak benar. Semuanya memiliki kenegatifan dan kemudharatan yang lebih besar dibandingkan dengan nikah yang sesuai dengan ketentuan agama dan negara.
Salah satu implikasinya adalah seorang istri yang dinikah secara sirri dan suaminya melakukan poligami terpaksa harus mengalah setiap saat. Hal itu terjadi karena suami harus membagi waktu dengan istri pertama. Sedangkan istri yang dinikah sirri tidak bisa menuntut atau meminta suami untuk selalu berada di dekatnya. Akibatnya, kasih sayang, perlindungan, perhatian, dan pemberian
nafkah lahir dan batin tidak bisa dirasakannya di setiap saat.
Istri yang dinikah sirri ini tentu saja tidak merasa tenang, aman, dan tenteram dalam menjalani kehidupannya. Dia tidak bisa maksimal mempertahankan dirinya jika misalnya ada orang lain yang masuk ke dalam rumahnya, seperti pencuri, pemerkosa, dan semacamnya, karena tidak ada figur lelaki yang bisa membela dan melindungi dirinya. Hal ini tentu saja telah menghilangkan kemaslahatan hidup dirinya yang harusnya didapatkan dari seseorang yang dianggap sebagai suaminya.
Istri yang dinikah secara sirri juga tidak bisa mendapatkan nafkah lahir dan batin setiap waktu. Nafkah lahir mungkin bisa diberikan setiap saat, karena suami bisa mentransfer dana untuk bisa dibelanjakan secara lahir. Namun, nafkah batin tentu saja tidak bisa didapatkan setiap saat, dan hal itu tergantung kepulangan suami yang tidak bisa dipastikan kedatangannya. Selain itu, kedatangan suami yang sebentar dan hanya memuaskan nafsu berahinya tentu saja memunculkan sinisme tersendiri, dan seakan merendahkan substansi istri sebagai pemuas nafsu saja. Dalam hal ini, istri bisa saja dianggap seakan-akan sebagai “pemuas nafsu“ yang kemudian mendapatkan “bayaran“ dan setelah itu pergi. Hal ini tentu saja telah menghilangkan hak kehidupan istri secara batin dan pada tataran tertentu bisa jadi akan memunculkan stereotipe yang tidak baik bagi dirinya. Hal tersebut tentu akan lebih parah lagi jika nafkah lahir tidak bisa dipenuhi secara rutin, sehingga kemaslahatan hidup istri semakin menguap dan mempersulit kehidupannya.
Selain itu, istri yang dinikahi dengan cara sirri ini juga akan kehilangan kebebasan, sehingga kemaslahatan dirinya tergadaikan dan harus meladeni suaminya, yang bahkan bisa jadi tidak bertanggung jawab secara penuh terhadap tugas-tugasnya sebagai suami. Biasanya suami seperti ini adalah orang pengangguran atau tidak punya pekerjaan tetap, sedangkan istri harus banting tulang untuk menghidupi keluarga. Hal inilah yang terjadi pada pasangan
Rhmh dan Snrt.
Jika pasangan nikah sirri ini mendapatkan keturunan, maka anak-anaknya pun akan kehilangan hak kemaslahatannya dari orangtuanya secara utuh. Kasih sayang, perhatian, dan pengasuhan dari figur seorang ayah akan terkurangi dan bahkan bisa hilang. Bahkan ada anak dari hasil nikah sirri yang tidak pernah tahu siapa ayahnya, karena ayahnya tidak pernah pulang. Belum lagi hak anak untuk mendapatkan pengakuan yang sah dari segi hukum terkait dengan pengurusan akte kelahiran yang akan dijadikan sebagai syarat untuk kehidupannya, seperti sekolah, dan pengurusan administrasi pribadi lainnya. Belum lagi berbagai stereotipe yang harus diterima anak pada saat dia bergaul dengan lingkungannya, yang tidak jarang akan membawa luka psikologis yang mendalam dalam diri sang anak. Karena itulah, anak akan menderita dan kehilangan segalanya dari hasil pernikahan sirri ini.
Jika pasangan nikah sirri ini adalah seorang PNS, maka pernikahan sirri ini tentu saja dilakukan atas dasar penipuan, penggelapan identitas, dan bahkan dilakukan dengan membohongi istri sah dan juga atasan. Dengan dasar tersebut, pernikahan tersebut akan menjauh dari substansi pernikahan itu sendiri, yaitu bagaimana mendapatkan ketenangan, keharmonisan, dan kenyamanan dalam membina keluarga. Setiap saat, pasangan nikah sirri dari PNS ini akan was-was jika suatu saat akan diketahui atasan, sehingga dia akan mendapatkan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pasangan ini juga takut bersosialisasi dengan tetangga karena khawatir bahwa pernikahan sirrinya itu akan ada yang melaporkan kepada atasan atau pimpinan di dalam instansinya. Kalau sudah demikian, kemaslahatan diri dan keluarga akan menguap seiring dengan berjalannya waktu. Contoh kasus ini terjadi pada pasangan St dan Fr dan juga pasangan Nr dan Klb.
Selain itu, pasangan nikah sirri sering kali juga menarik diri dari pergaulan masyarakat. Hal ini disebabkan karena adanya
stereotipe masyarakat terhadap praktik nikah sirri yang kadang kala negatif. Akibatnya, kemaslahatan hidupnya menjadi terganggu dan tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, pasangan nikah sirri ini adakalanya merasa canggung dan tidak percaya diri untuk bersosialisasi disebabkan karena pernikahan sirrinya itu. Hal inilah yang terjadi pada pasangan Hnk dan Antk. Hnk merasa tidak percaya diri bergaul dengan masyarakat karena sebenarnya dia masih punya ikatan dengan suami pertamanya. Kasus lain terjadi pada pasangan Shd dan Stryn. Stryn tidak mau berkumpul dengan masyarakat, meskipun masyarakat sudah tahu tentang pernikahan sirrinya. Hal ini disebabkan karena Stryn merasa malu mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak layak untuk dilaksanakan. Selain secara hukum pernikahan itu menyalahi aturan karena Styrn dalam masa iddah, secara moral juga tergolong menyimpang. Mengingat almarhum istri dari pihak laki-laki belum ada dua bulan menikah, tapi suaminya harus sudah melakukan pernikahan lagi.
Dengan demikian, dari apa yang telah digambarkan di atas, peneliti menegaskan bahwa ada sebuah proses yang peneliti namakan dengan “degradasi kemaslahatan” dalam diri pasangan nikah sirri. Dari berbagai degradasi kemaslahatan di atas, pada akhirnya peneliti menggunakan teori maqashid al-syari’ah dari Jaser Audah untuk menganalisis hal ini.
Dalam kaitan ini, Jaser Audah mengemukakan konsep al- maqāsid untuk ‘membuka sarana’ dan ‘memblokir sarana’ (fath} al-dharai’ dan sadd al-dharāi’). Memblokir sarana (sadd al-dharāi’)
dalam hukum Islam bermakna melarang sebuah aksi yang legal, karena dikahwatirkan akan mengakibatkan aksi yang ilegal. Para ulama sepakat bahwa pelarangan itu hanya dapat diberlakukan jika kemungkinan terjadinya aksi ilegal itu melebihi kemungkinan tidak terjadinya. Dengan demikian, penggunaan sadd al-dharāi’
bermanfaat dalam berbagai situasi tapi juga bisa sebaliknya.
Dalam Islam, nikah sirri memang ada syariatnya, namun harus dengan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Namun, jika nikah sirri ini kemudian membawa mafsadat atau yang peneliti istilahkan dengan degradasi kemaslahatan, maka dalam pandangan Jaser Audah, hal itu harus diblokir atau dilarang dilakukan. Apalagi dalam kasus degradasi kemaslahatan dari nikah sirri ini, ada langkah-langkah ilegal yang berdiri di atas pernikahan sirri ini. Contohnya adalah pernikahan poligami para PNS secara sirri yang dilakukan dengan cara membohongi aturan yang berlaku di dalam kepegawaian negeri dan sipil. Hal ini tentu saja merupakan langkah ilegal.
Jadi, pernikahan sirri yang dalam Islam itu legal, tapi karena kemudian menyebabkan terjadinya perbuatan ilegal, maka dalam hal ini, pernikahan sirri yang memang hukumnya legal dalam Islam dan anggaplah dilakukan secara legal dengan menjalankan syarat dan rukun nikah, maka pernikahan tersebut akan menjadi ilegal dan harus ditolak atau diblokir.
Karena itulah, dengan adanya sadd al-dharāi, kemudian ada konsep fath al-dharāi’, yakni membuka sarana-sarana yang meng- antarkan kepada tercapainya tujuan yang legal. Dengan demikian, adanya degradasi kemaslahatan dalam praktik nikah sirri harus dihentikan dan kemudian dicarikan jalan keluar dengan membuka berbagai hal yang bisa meminimalisasi praktik nikah sirri ini di masyarakat.
Fath al-dharāi’ ini dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
pertama, melakukan penguatan kepada institusi KUA untuk bisa melakukan pembinaan terhadap umat dengan menambah personel yang khusus untuk menangani praktik nikah sirri ini di Kota Salatiga.
Kedua, mempermudah perizinan dan pengaturan surat- menyurat yang berkaitan dengan pengurusan pernikahan, sehingga masyarakat tidak merasa keberatan untuk mengurusnya. Tentu saja
hal ini harus dilakukan dengan tidak melanggar aturan dan syarat yang berlaku dalam kaitannya dengan pernikahan.
Ketiga, aparatur pemerintah tingkatan terkecil seperti RT, RW, Dukuh, dan Kelurahan untuk bisa berperan aktif dalam meminimalisasi praktik nikah sirri ini dengan mempersulit izin yang terkait dengan hal ini.
Keempat, memberikan kesadaran kepada para tokoh masyarakat, ulama, dan pemuka agama, untuk tidak memberikan pelayanan nikah sirri sebelum jelas maksud dan tujuannya, serta harus dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun dari pernikahan dalam Islam.
Kelima, memperketat pengawasan dan kontrol kepada para PNS yang terindikasi melakukan praktik nikah sirri.
Paling tidak, kelima hal tersebut akan menjadi sarana untuk bisa membuka sarana ke arah proses pernikahan yang ideal dan legal sesuai dengan aturan agama dan negara. Hal inilah yang harus terus ditingkatkan dan mampu memberikan kemaslahatan bagi umat sebesar-besarnya.
PERSEPSI MASYARAKAT
TERHADAP NIKAH SIRRI
P
ersepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan infor- masi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan.117 Secara terminology pengertian persepsi adalah tang-gapan langsung dari suatu serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pengindraan.118 Sedangkan dalam kamus besar
psikologi, persepsi diartikan sebagai suatu proses pengamatan seseorang terhadap lingkungan dengan menggunakan indra-indra yang dimiliki sehingga ia menjadi sadar akan segala sesuatu yang ada dilingkungannya. pengertian persepsi adalah “proses individu dalam menginterprestasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan di mana individu itu berada yang merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman.” Dalam pengertian persepsi tersebut terdapat dua unsur penting yakni interprestasi dan pengorganisasian. Interprestasi merupakan upaya pemahaman dari individu terhadap informasi yang diperolehnya. Sedangkan perorganisasian adalah proses mengelola informasi
117 Schacter Daniel, Psychology, (Worth Publishers: 2011).
118 Poerwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Yogyakarta:1990),
tertentu agar memiliki makna.119
Persepsi yang dimaksud dalam disertasi ini adalah pema- haman masyarakat yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi juga pemerintah terhadap pernikahan sirri yang terjadi di lingkungannya atau di wilayah kota Salatiga.