• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Penegakan Ketentuan tentang Perlindungan

BAB IV BATAS ALASAN PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL SEBAGAI

4.2. Praktik Penegakan Ketentuan tentang Perlindungan

Dalam peperangan, sangat dimungkinkan pemenuhan suatu hak asasi manusia tertentu dibatasi berdasarkan kondisi-kondisi tertentu. Seperti yang tercantum dalam Pasal 4 International Covenant on Civil and Political Rights bahwa Negara dapat melakukan upaya-upaya yang bersifat sementara dan mengabaikan beberapa kewajiban Negara “ketika terjadi keadaan darurat yang mengancam bangsa” dan “sejauh yang sangat dibutuhkan oleh keadaan yang bersifat sangat darurat”. Hal yang sama juga tercantum dalam Pasal 15 Konvensi Eropa – 1950 mengenai HAM. Namun demikian kebutuhan agar Hak Asasi Manusia tetap terjaga selama peperangan telah mendapat pengakuan penuh dengan disetujuinya Konvensi Jenewa-1949 terutama Konvensi IV dan juga melalui usaha-usaha PBB dalam menekankan jaminan penghormatan hak asasi manusia pada pertikaian bersenjata dan pembatasan penggunaan senjata-senjata tertentu, beserta sejumlah dukungan dari lembaga-lembaga pengadilan internasional yang akan dibahas lebih lanjut pada sub-bab selanjutnya.

4.2.1 Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad ‘Hoc

Pengadilan Ad ‘Hoc merupakan suatu badan peradilan yang dibentuk dan dimaksudkan untuk salah satu tujuan saja.149 Adapun contoh dari pengadilan Ad

      

146 Lihat Article 76 Protokol Tambahan I-1977 147 Lihat Article 77 dan 78 Protokol Tambahan I-1977 148 Lihat Article 79 Protokol tambahan I-1977

‘Hoc ialah Mahkamah Nuremberg, yang dibentuk berdasarkan Nuremberg Charter atau yang lebih dikenal dengan London Charter; yang memiliki yuridiksi untuk mengadili kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace), kejahatan perang (crimes war) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against

humanity).150

Selanjutnya ialah mahkamah Tokyo (International Military Tribunal for the Far East) dengan pengaturan yuridiksi yang sama dengan mahkamah Nuremberg. Hanya saja Mahkamah Tokyo dibentuk berdasarkan proklamasi Jenderal Douglas Mac Arthur,151 bukannya berdasarkan perjanjian (treaty) layaknya Nuremberg.

Contoh lainnya adalah ICTY (International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia) yang dibentuk pada tahun 1991 yang secara khusus menangani kejahatan kemanusiaan yang terjadi di daerah bekas Yugoslavia (termasuk Kroasia, Bosnia dan Herzegovina). ICTY ini dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan 827 (1993) kemudian Resolusi Dewan Keamanan 1966 (2010) dengan tujuan melanjutkan yuridiksi, hak, kewajiban dan fungsi penting ICTY152

       

149 http://www.learnersdictionary.com, URL:

http://www.learnersdictionary.com/qa/what-does-ad-hoc-mean

150 Lihat article 6 London Charter 151

http://sayfudin27071992.blogspot.com, URL:

http://sayfudin27071992.blogspot.com/2011/09/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_4393.html,

diakses 15 April 2012.

152 Article 4 Resolusi Dewan Keamanan 1966 – 2010 :

Decides that, as of the commencement date of each branch referred to in paragraph 1, the Mechanism shall continue the jurisdiction, rights and obligations and essential functions of the ICTY and the ICTR, respectively, subject to the provisions of this resolution and the Statute of the Mechanism, and all contracts and international agreements concluded by the United Nations in relation to the ICTY and the ICTR, and still in force as of the relevant commencement date, shall continue in force mutatis mutandis in relation to the Mechanism;

Serupa dengan ICTW, pernah juga dibentuk ICTR (International Criminal Tribunal for Rwanda) berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 955-1994. ICTR dibentuk untuk menangani kejahatan genosida di Rwanda yang dilakukan antara tanggal 1 Januari 1994 hingga 31 Desember 1994.153

Berdasarkan putusan ICTY dalam Tadic Case, kejahatan perang yang dapat diadili haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut154:

1. Tindakan tersebut haruslah merupakan suatu pelanggaran dalam ketentuan-ketentuan hukum humaniter internasional;

2. Ketentuan-ketentuan tersebut merupakan suatu yang umum, apabila ketentuan tersebut berasal dari suatu perjanjian, syarat-syarat didalamnya harus terpenuhi;

3. Tindakan tersebut haruslah merupakan suatu tindakan ‘serius’, dalam pengertian bahwa tindakan pidana tersebut merupakan pelanggaran ataupun penyalahgunaan wewenang dan/atau kekuasaan terhadap pasal-pasal yang mengatur kepentingan yang harus dilindungi, sebagai contoh apabila tentara ataupun kombatan menghancurkan ataupun mencuri sepotong roti di daerah yang telah dikuasainya, itu bukan berarti tentara/kombatan tersebut melakukan suatu pelanggaran serius dalam hukum humaniter internasional, mereka tidak akan diadili karenanya, meskipun pada dasarnya mereka melanggar Pasal 46 paragraf (1) Konvensi Den Haag, dimana dinyatakan properti atau barang-barang

      

153www.unictr.org, URL:

http://www.unictr.org/AboutICTR/GeneralInformation/tabid/101/Default.aspx, diakses 16 April

2012.

154 Robert Kolb and Richard Hyde, An Introduction to the International Law of Armed

pribadi harus dihormati oleh pihak militer yang berhasil menduduki wilayah musuhnya;

4. Pelanggaran tersebut haruslah beserta ketentuan yang dilanggar, baik yang merupakan hukum kebiasaan ataupun hukum konvensional, dan juga kewajiban kriminal individu yang melanggar ketentuan tersebut.

4.2.2 Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court)

International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional merupakan salah satu upaya dari penegakan hukum bagi para pelaku kejahatan internasional dan merupakan suatu badan permanen independen. ICC dibentuk berdasarkan Statuta Roma – 1998 dan telah berlaku efektif sejak 1 Juli 2002 dengan diratifikasi oleh 60 negara.

Pasal 5 Statuta Roma menentukan empat jenis kejahatan yang termasuk dalam kategori kejahatan internasional, yaitu kejahatan genosida (The crime of genoside), kejahatan kemanusiaan (Crime against humanity), kejahatan perang (War crimes) dan kejahatan agresi (The crime of aggressions).

Secara umum pasal-pasal dalam Statuta Roma telah mengatur mengenai perlindungan penduduk sipil seperti dalam Pasal 7 yang menyebutkan “kejahatan terhadap kemanusiaan” berarti bahwa tindakan yang dilakukan menjadi salah satu bagian dari serangan sistemasis yang meluas terhadap penduduk sipil.155 Terdapat

      

155 Lihat Pasal 7 Statuta Roma : ‘... "crime against humanity" means any of the following acts when committed as part of a widespread or systematic attack directed against any civilian population...’

pula dalam Pasal 8 mengenai kesengajaan dalam melakukan serangan yang dapat mengakibatkan kerugian terhadap warga sipil dan objek-objek sipil.156

Dalam Pasal 13 Statuta Roma dijelaskan mengenai yuridiksi ICC untuk mengadili dan meminta pertanggungjawaban individu (Individual criminal responsibility) yang melakukan, memfasilitasi, dan memberikan perintah sehingga menyebabkan terjadinya kejahatan-kejahatan yang berada dalam lingkup kejahatan internasional dalam situasi dimana jaksa prenuntut mengambil prakarsa melakukan suatu pengadilan berkaitan dengan tindak pidana berdasarkan Pasal 15 Statuta Roma.

Selain hal-hal tersebut dalam menyelesaikan suatu kasus, ICC akan bekerja dengan mengadili kasus-kasus kejahatan internasional hanya bila mahkamah nasional tidak ingin dan/atau tidak mampu mengadili pelaku-pelaku kejahatan yang dimaksud157 atau bila terjadi situasi dimana satu atau lebih tindak pidana telah terjadi dan dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum oleh dewan keamanan yang bertindak atas dasar Bab VII Piagam PBB, sehingga dapat dikatakan ICC merupakan pengadilan pelengkap atau komplementer dari suatu pengadilan nasional oleh karenanya yuridiksi ICC hanya dapat dilaksanakan bila ternyata suatu negara tidak ingin atau tidak mampu menyelesaikan kasus-kasus kejahatan yang termasuk dalam ruang lingkup kompetensi Mahkamah Pidana Internasional.

       156 Lihat Pasal 8, Statuta Roma – 1988

4.3 Analisis Penggunaan Alasan Perlindungan Penduduk Sipil dalam

Dokumen terkait