HASIL PENELITIAN
B. Perencanaan dan Pelaksanaan Praktik Peradilan Mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
2. Praktik Peradilan Tahun Akademik 2019/2020
Pelaksanaan praktik peradilan mahasiswa pada Tahun Akademik 2019/2020 di 17 lokasi pengadilan agama yang ada di Sumatera Barat, dari 18 pengadilan agama yang ada. Ada satu lokasi yang tidak diadakan praktik peradilan mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN IB Padang yaitu di Pengadilan Agama Pulau Punjuang. Kegiatan praktik dilaksanakan dari tanggal 13 Januari 2020 sampai dengan tanggal 21 Februari 2020. Pada saat pelaksanaan praktik peradilan tahun 2020 ini yang menjadi ketua panitia adalah Rahmat Hidayat (Ketua Program Studi Jinayah Siyasah/Hukum Tata Negara). Pada masa ini adalah masa transisi kepemimpinan di Fakultas, termasuk juga kepengurusan Klinik Peradilan.
Adapun tahapan kegiatan praktik peradilan mahasiswa Fakultas Syari’ah Tahun Akademik 2019/2020 adalah sebagai berikut:
1. Rapat persiapan praktik peradilan mahasiswa pada hari Jum’at, tanggal 11 Oktober 2019. Adapun yang ikut hadir di dalam rapat tersebut adalah:
Efrinaldi (Dekan), Azhariah Khalida (Wakil Dekan I), Yusnita Eva (Wakil Dekan II), Fauzi Yati, Rahmat Hidayat (Ketua Panitia/Ketua Program Studi Jinayah Siyasah), Leo Dwi Cahyono, Abdul Hafiz, dan Aidil Aulya.
2. Pada tanggal 14 Oktober sampai dengan tanggal 18 Oktober adalah waktu pendaftaran mahasiswa yang akan mengikuti praktek pada bulan tanggal 13 Januari sampai dengan 21 Februari 2020.
3. Setelah mahasiswa melakukan pendaftaran, maka dilakukan pembekalan terhadap mahasiswa yang sudah memenuhi persyaratan untuk ikut praktik pada tahun 2020 tersebut. Pembekalan dilakukan pada hari Minggu, tanggal 3 November 2019 sebagai pemateri adalah Mawarlis MH, Sabtu, 9 November 2019 sebagai pemateri adalah Dr.Neni Vesna Majid.SH, Minggu, 27 Oktober 2019 sebagai pemateri adalah Dr.Yusnita Eva.M.Hum dan tanggal 23 November 2019.
4. Setelah mahasiswa mendaftar, sudah diketahui jumlah mahasiswa yang akan praktik peradilan tahun 2020, dan juga sudah dilakukan pembekalan kepada
mahasiswa, maka panitia, pimpinan serta calon dosen pembimbing mengadakan penjajakan/survey ke 17 pengadilan agama yang ada di Sumatera Barat.
5. Setelah selesai penjajakan, dilakukan pembagian kelompok, maka pada tanggal 13 Januari 2020 masing-masing dosen pembimbing mengadakan serah terima mahasiswa di masing-masing pengadilan. Berikut data praktik peradilan pada tahun 2020 (TA 2019/2020):
Tabel.4.6
Data Praktik Peradilan TA 2019/2020
No Nama Pengadilan Nama Dosen Pembimbing Jumlah Mhs bimbingan
1 PA Sawahlunto I Masna Yunita 18 orang
PA Sawahlunto II M. Taufik 18 orang
2 PA Padang Asasriwarni 17 orang
3 PA Lbk.Basung Rahmat Hidayat 17 orang
4 PA Painan Ridha Mulyani 16 orang
5 PA Maninjau Abrar 16 orang
6 PA Solok Afifah Jalal 16 orang
7 PA Talu Alfadli 16 orang
8 PA Payakumbuh I Surwati 16 orang
PA Payakumbuh II Elfia 16 orang
9 PA Batusangar Efrinaldi 16 orang
PA Batusangar Hamda Sulfinadia 16 orang
10 PA Padang Panjang Azhariah Khalida 16 orang
11 PA Pariaman Yusnita Eva 16 orang
PA Pariaman Duhriah 16 orang
12 PA Sijunjung Eli Suryani 16 orang
13 PA Muara Labuh Zulfan 16 orang
14 PA Bukittinggi Makmur Syarif 16 orang
15 PA Lbk.Sikaping Yasrul Huda 16 orang
16 PA Koto Baru Burhanuddin 15 orang
17 PA Tj Pati Salma 14 orang
PA TJ.Pati Nurhasnah 14 orang
PA Pulau Punjung Tidak ada 353 orang
Jmlh 17 PA 22 orang
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa praktik peradilan mahasiswa tahun akademik 2019/2020 dilaksanakan di 17 (tujuh belas) lokasi pengadilan agama di Sumatera Barat di bawah lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Padang. Ada satu lokasi yang tidak diadakan praktik mahasiswa yaitu di Pengadilan Agama Pulau Punjung, karena lokasi yang sangat jauh, baik mahasiswa maupun dosen pembimbing lapangan tidak ada yang memilih di sana.
Pada tahun 2020 ini mahasiswa yang ikut praktik sebanyak 353 orang, sementara lokasi praktik hanya ada 17 pengadilan agama. Pembagian kelompok terdiri dari 14 orang sampai dengan 18 orang dalam satu kelompok. Karena jumlah mahasiswa yang praktik sangan banyak, sementara lokasi praktik hanya di 17 pengadilan agama, maka terpaksa ada di beberapa pengadilan terdapat 2 (dua) kelompok, sehingga semakin banyak mahasiswa di pengadilan tersebut. Adapaun pengadilan yang terdapat dua kelompok adalah: PA Sawaklunto (36 orang), PA Payakumbuh (36 orang), PA Batusangkar (32 orang), PA Pariaman (32 orang), dan PA Tanjung Pati (28 orang).
Pada saat pengantara masing-masing dosen diminta untuk menanyakan saran dari masing-masing pengadilan tentang pelaksanaan praktik peradilan mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN IB Padang, adapun saran dari masing-masing pengadilan adalah sebagai berikut:
Tabel.4.6
Saran Hakim Pengadilan Agama Saat Serah Terima Mahasiswa 13 Januari 2020
No Nama
Pengadilan
Saran Hakim
1 PA Padang Administrasi lebih tertib dan rapi, SK, penyerahan mahasiswa.
2 PA Painan Sebaiknya jumlah mahasiswa dalam satu kelompok tidak lebih dari 12 (dua belas) orang.
Mahasiswa yang akan praktik adalah mahasiswa yang betul-betul tidak ada lagi yang akan berurusan dengan kampus, agar praktik berjalan dengan lancer dan mahasiswa fokus dalam menjalankan kegiatan praktiknya.
Pihak pengadilanpun tidak direpotkan dan fokus dengan pembelajaran yang akan mereka lakukan.
3 PA Maninjau Masa perjalanan dinas sebaiknya dijadwalkan dalam dua hari sehingga ada komunikasi antara pembimbing, mahasiswa, pembimbing mantra, dan pihak pengadilan agama yang lainnya.
4 PA Sawahlunto I Jumlah mahasiswa per kelompok dipertimbangkan lagi
Adakan koordinsai antara PTKIN di Sumatera Barat sehingga jadwal praktik tidak bentrok
Adakan rapat evaluasi antara kampus dengan pihak pengadilan agama
5 PA Solok Pembagian kelompok dalam pengadilan agama maksimal 12 orang.
Bagi mahasiswa yang izin selama praktik peradilan agama diharapkan memberitahu kepada dosen pembimbing lapangan (etika mahasiswa).
6 PA Tj Pati Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi 7 PA Talu Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi
8 PA Payakumbuh I Jumlah mahasiswa per kelompok untuk tahun berikutnya dikurangi
Mahasiswa yang ditempatkan di pengadilan agama tertentu, sedapat mungkin bukan penduduk asli daerah tersebut, supaya mahasiswa lebih fokus untuk melaksanakan praktik peradilan.
9 PA Batusangar Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi, sehingga praktik di pengadilan agama bisa dijalankan dengan maksimal.
10 PA Padang Panjang
Diharapkan Fakultas Syari’ah UIN IB Padang tetap mengadakan kerjasama dengan seluruh pengadilan agama yang ada di Sumatera Barat.
11 PA Pariaman Jumlah mahasiswa perkelompok dikurangi, maksimal satu kelompok 12 orang.
Adakan rapat koordinasi antara PTKIN di Sumatera Barat (IAIN Bukit Tinggi dan IAIN Batusangkar), sehingga jadwal antar perguruan tinggi tidak bentrok.
Adakan rapat evaluasi antar kampus dengan pihak pengadilan agama.
Lamanya waktu praktik di pengadilan dipertimbangkan lagi, dan perlu ada pembicaraan dengan pihak pengadilan.
12 PA Sijunjung Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi 13 PA Muara Labuh Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi 14 PA Bukittinggi Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi 15 PA Koto Baru Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi 16 PA Lbk.Basung Jumlah mahasiswa per kelompok dikurangi
17 PA Lbk.Sikaping Kerjasama antara Fakultas Syari’ah UIN IB dengan pengadilan agama perlu ditingkatkan, tidak sebatas tempat mahasiswa mengadakan tempat praktik peradilan
Kompetensi mahasiswa yang akan praktik peradilan terus diupayakan.
Berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh masing-masing pengadilan kepada tim yang dating ke masing-masing pengadilan dalam rangka penjajakan, maka dapat diketahu ada 3 poin penting yang disampaikan oleh pengadilan kepada tim yaitu:
1. Jumlah mahasiswa dalam 1 (satu) kelompok maksimal hanya 12 orang, ini menandakan bahwa lebih dari 12 orang makan praktik peradilan yang dilaksanakan kurang efektif, karena banyaknya mahasiswa yang harus dibimbing kalau lebih dari 12 orang. Akan tetapi dalam kenyataanya mahasiswa yang paling sedikit adalah 14 orang, bahkan ada yang 18 orang dalam satu kelompok, dan bahkan ada yang 2 (dua) kelompok dalam satu pengadilan.
2. Ada koordinasi antara Fakultas Syari’ah UIN IB Padang dengan Fakultas Syari’ah IAIN Batusangkar dan juga dengan Fakultas Syari’ah IAIN Bukit Tinggi, agar pelaksanaan praktik peradilan antara tiga perguruan tinggi agama di Sumatera Barat ini tidak dilaksanakan pada waktu yang bersamaan, karena itu akan membuat semakin banyaknya mahasiswa yang praktik di satu
pengadilan, hal ini sangatlah tidak efektif, dan cenderung mengganggu kinerja pengadilan.
3. Adakan evaluasi oleh pihak fakultas ke masing-masing pengadilan tentang kegiatan praktik yang sudah berjalan, sehingga semua kendala yang selama ini terjadi dapat diatasi, dan dicarikan solusi untuk perbaikan pelaksanaan praktik pada tahun-tahun berikutnya.
Untuk mendapatkan masukan serta pendapat dari hakim yang pernah membimbing mahasiswa praktik, atau panitera pendamping mahasiswa, maka tim peneliti mengadakan wawancara dengan hakim tentang 4 hal yaitu:
1. Pendapat hakim tentang etika mahasiswa yang selama ini praktik di masing-masing pengadilan agama.
2. Pendapat hakim tentang pengetahuan mahasiswa praktik dalam bidang hukum acara perdata, dan khususnya hukum acara di lingkungan peradilan agama.
3. Pendapat hakim tentang waktu pelaksanaan praktik peradilan, apakah di awal tahun, pertengahan tahun atau di akhir tahun, serta berapa lama mahasiswa praktik yang ideal, sehingga apa yang ingin dicapai dengan kegiatan praktik ini dapat tercapai dengan maksimal.
4. Saran hakim untuk perbaikan praktik pada masa yang akan dating.
Berikut ini adalah data dari hasil wawancara dengan hakim atau panitera tempat mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN IB selama ini melakukan praktik peradilan.
Tabel.4.3
Pendapat Pembimbing Mitra tentang Pelaksanaan Praktik Peradilan Mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN IB Padang
No Nama Hakim/
Panitera PA
Pendapat Hakim/Panitera Etika Mhs Kemampuan
Hukum Acara
cukup kurang Pertengahan tahun,
jangan di awal atau di akhir tahun, minimal 2 bulan
2. M.Yusuf baik Perlu ada Minimal 2 Mata kuliah hukum
PA Painan peningkatan bulan, awal 12 orang saja, lebih serius saja tidak perlu lagi memberikan materi
11.
perlu ada modul lapangan bisa langsung praktek, tapi selama ini pihak pengadilan memberikan materi dulu baru praktek, jadi banyak kerja dari pihak pengadilan.
Beberapa mhs aktif di tengah2 masyarakat.
Berdasarkan wawancara dengan hakim atau panitera yang pernah membimbing mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN IB Padang dalam kegiatan praktik peradilan maka dapat disimpulkan bahwa:
4. Etika
Rata-rata mahasiswa mempunyai etika yang baik. Ada yang menonjol dan ada yang biasa-biasa saja. Rata-rata hakim menyatakan bahwa pada minggu pertama praktik di pengadilan mahasiswa masih dalam proses pengenalan terhadap lingkungan, proses pembiasaan. Belum banyak kegiatan. Pada minggu ke 2 mahasiswa baru mulai aktif, mulai bertanya, mulai mengenal apa tugas dan kewajiban mereka di lapangan, mulai aktif berdiskusi.
5. Kemampuan Mahasiswa di bidang hukum acara peradilan
Semua responden mengatakan bahwa pada awal mereka dating ke pengadilan, rata-rata mahasiswa belum paham dengan hukum acara perdata di lingkungan pengadilan agama. Tidak paham tentang gugatan, unsur-unsur gugatan, alat bukti hukum acara di lingkungan peradilan agama, putusan verstek, putusan gugur dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hukum acara. Begitu juga dengan hukum materilnya, mereka masih tidak pahahm. Oleh kerena kondisi mereka yang tidak paham, maka langkah pertama yang dilalukan oleh pembimbing mitra di pengadilan adalah memberikan materi hukum kepada mahasiswa, baik hukum materil maupun hukum formil. Ada pengadilan yang mengadakan pre-test kepada mahasiswa untuk mengukur kemampuan mahasiswa. Setelah mendapatkan data kemampuan mahasiswa, maka pihak pengadilan memberikan pengarahan/bimbingan seperti halnya kuliah. Setelah itu baru masuk kepada praktik beracara.
6. Jangka waktu
Karena minggu pertama mahasiswa masih penyesuaian, maka waktu yang idela di lapangan adalah selama 1 ½ bulan. Mengenai waktu yang tepat, rata-rata pihak pengadilan mengatakan bahwa praktik peradilan jangan dilakukan pada akhir tahun, karena pada akhir tahun di pengadilan sedang padat agenda sidang, sehingga tidak efektif mengadakan praktik pada bulan tersebut, pihak pengadilan tidak sempat untuk memberikan bimbingan atau pengarahan pada akhir tahun tersebt, karena agenda pengadilan sangat padat. Jangan pula mengadakan praktik pada bulan Januari, karena belum ada sidang, jadi mahasiswa pada bulan Januari lebih banyak duduk-duduk saja di pengadilan dan tidak ada kegiatan, jadi kegiatan praktik peradilannya menjadi tidak
efektif. Sebaiknya awal tahun tapi mulai dari akhir Januari atau awal Februari, maka aka ada agenda sidang di pengadilan, maka mahasiswa bisa melihat langsung proses persidangan di pengadilan agama.
7. Saran hakim/panitera
Ada beberapa saran dari pihak pengadilan untuk perbaikan kegiatan praktik peradilan mahasiswa untuk selanjutnya yaitu:
a. Sebelum datang ke lapangan mahasiswa sudah menguasai materi hukum acara perdata dan juga hukum materil, agar sesampai di lapangan kegiatan praktik lebih efektif lagi. Karena selama ini pihak pengadilan di samping membimbing tentang praktik sidang, tetapi hakim juga dibabani memberikan materi perkuliahan sebelum bisa masuk pada praktik sidang.
Oleh karena itu mahasiswa yang akan ke lapangan sudah mendapatkan pelatihan tentang hukum acara.
b. Ada modul dari kampus tentang tahapan-tahapan kegiatan praktik,
c. Ada uraian tentang target praktik peradilan, sehingga seragam untuk semua lokasi
d. Jangan terlalu banyak mahasiswa dalam satu kelompok, karena kalau banyak tidak efektif.
e. Upayakan melakukan praktik tidak hanya di wilayah Sumatera Barat, tapi juga bisa ke luar Sumatera Barat.
Pendapat Dosen Pembimbing Praktik Peradilan tentang pelaksanaan Praktik Mahasiswa:
C. Bentuk Pengembangan Model Praktik Peradilan Mahasiswa Fakultas