• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Prediksi Permintaan Pelanggan

Menentukan jumlah permintaan pelanggan dimasa yang akan datang dalam penyusunan perencanaan agregat PT APP, tentu saja tidak dapat dipastikan secara tepat karena adanya ketidakpastian apa yang terjadi dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk menentukan jumlah permintaan ini diperlukan metode peramalan atau prediksi. Metode yang tepat digunakan untuk memperkirakan permintaan masa yang akan datang yang sesuai dengan kondisi dan ketersediaan data pada perusahaan adalah dengan metode kualitatif yaitu dengan metode Delphi.

Metode Delphi bersifat kualitatif yaitu lebih didasarkan pada intuisi dan penilaian orang yang melakukan peramalan daripada banyak melakukan pemanipulasian data historis (pengolahan dan analisis) yang tersedia. Penggunaan metode kuantitatif (forecasting) tidak digunakan karena kurang mendukungnya data historis untuk memprediksikan permintaan yang akan datang adanya perbedaan kondisi perusahaan yang disebabkan diperolehnya sertifikasi ISPM. Jika kita lihat pada Gambar 9 data historis permintaan palet pada PT APP satu tahun yang lalu menunjukan peningkatan yang tinggi pada triwulan ke-3 tahun 2006. Keadaan ini tidak bisa diputuskan bahwa akan terjadi lagi dimasa yang akan datang karena data historis yang tersedia kurang dari 2 tahun dan diperkirakan permintaan masa yang akan datang berbeda dari perbedaan masa lalu.

8613 10798 16241 9028 7480 10964 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 (1)2006 (2)2006 (3)2006 (4)2006 (1)2007 (2)2007 Triwulan ke- Jum lah per m in taan

Gambar 9. Grafik penjualan palet tahun 2006 dan triwulan ke-1 dan ke-2 tahun 2007 ( PT APP, 2007)

Teknis penggunaan metode Delphi dilakukan dengan cara memberikan kuesioner dua tahap kepada empat orang pimpinan yaitu direktur utama, manajer produksi, manajer keuangan dan manajer administrasi. Pada

38

kuesioner dilampirkan juga data jumlah permintaan satu tahun yang lalu sebagai pendukung pilihan prediksi permintaan yang akan datang.

Kuesioner tahap satu menggunakan lebar kelas kenaikan 20 persen dengan periode perkiraan triwulan. Periode triwulan digunakan dalam memprediksikan permintaan pelanggan dengan pertimbangan untuk memudahkan pengisian kuesioner. Alasan lain digunakannya periode triwulan karena berdasarkan data tahun sebelumnya karakteristik dari tiga bulan tersebut hampir sama. Kuesioner pada tahap satu diolah dengan statistik sederhana dengan cara mencari modus dari selang yang dipilih oleh empat pimpinan. Hasil modus pada kuisioner tahap 1 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil modus yang memilih pada selang persentase kenaikan permintaan.

Statistik per-selang (Orang)

No Tri wulan ke -

a b c d e f

1 3 (Juli + Agustus + September) tahun 2007 1 3 0 0 0 0

2 4 (Oktober + Nopember + Desember) thn 2007 3 1 0 0 0 0

3 1 (Januari + Februari + Maret ) tahun 2008 4 0 0 0 0 0

4 2 (April + Mei + Juni ) tahun 2008 1 3 0 0 0 0

Keterangan : a = 0 % - 20 %, b = 21 % - 40 %, c = 41 % - 60 %,

d = 61 % - 80 %, e = 81 % - 100 %, f = 101 % keatas.

Hasil modus pada kuesioner tahap satu diberikan kembali kepada para pimpinan disertai dengan dengan pilihan prediksi dengan lebar kelas yang lebih sempit. Hasilnya diolah dengan cara mencari rata-rata dari para pimpinan tersebut (Tabel 5).

Tabel 5. Hasil rata-rata yang memilih pada tingkat persentase kenaikan permintaan (dalam persen).

Responden ke- No Tri wulan ke - Modus pada

tahap ke-1 (%) 1 2 3 4 Rata-rata (%) 1 3 tahun 2007 21 - 40 30 40 30 38 34,5 2 4 tahun 2007 0 - 20 10 20 10 20 15 3 1 tahun 2008 0 - 20 10 16 10 10 11,5 4 2 tahun 2008 21 - 40 40 38 30 22 32,5

Berdasarkan tabel 5. maka diperoleh kenaikan tertinggi terjadi pada triwulan ke-3 tahun 2007 sebesar 34,5 persen, dan terendah terjadi pada triwulan ke-1 tahun 2008 sebesar 11,5 persen. Dari hasil kuesioner menunjukan bahwa tidak ada satu pimpinan pun yang memberikan pilihan bahwa permintaan masa yang akan datang akan tetap (peningkatan 0 persen), tetapi akan terjadi kenaikan permintaan dimasa yang akan datang.

Kenaikan ini didukung oleh semakin membaiknya iklim investasi di Kabupaten Sukabumi, termasuk adanya pertumbuhan dan perkembangan di bidang industri, hal ini terbukti dengan adanya peningkatan investasi pada tahun 2005. Nilai investasi sektor industri pada tahun 2004 sebesar Rp.12.976.914.500,- pada tahun 2005 meningkat menjadi Rp 49.342.847.000,- dan tahun selanjutnya dipastikan akan mengalami kenaikan yang pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan permintaan palet. Selain itu, dari data BPS juga diperoleh bahwa perkembangan industri di daerah Jawa Barat setiap tahun semakin meningkat. Hal ini tentu saja akan berimplikasi terhadap bertambahnya penggunaan palet oleh industri yang baru berdiri (Tabel 6).

Tabel 6. Perkembangan Industri Jawa Barat Tahun 2001 - 2005

Perkembangan Industri Jawa Barat Tahun 2001 - 2005

URAIAN SATUAN 2001 2002 2003 2004 2005

1. UNIT USAHA Unit

1) Ind. Kecil & Menengah Unit 185,215 189,567 190,523 191,659 192,140

2) Ind. Besar Unit 2,856 2,943 2,976 3,097 3,234

TOTAL 188,071 192,510 193,499 194,756 195,374

2. INVESTASI Rp. Juta

1) Ind. Kecil & Menengah Rp. Juta 1,082,845 1,512,274 1,592,465 1,730,949 1,731,958 2) Ind. Besar Rp. Juta 50,566,220 52,636,684 55,680,699 58,692,292 59,090,545

TOTAL 51,649,065 54,148,958 57,273,164 60,423,241 60,822,503

Sumber : BPS Jawa Barat (2006)

Faktor lain yang berdampak pada kenaikan permintaan palet adalah letak geografis Kabupaten Sukabumi yang cukup menguntungkan dan memiliki peluang yang baik bagi perkembangan industri dan perdagangan, karena kabupaten sukabumi merupakan penyangga kawasan Jabotabek yang laju pertumbuhan ekonominya berkembang sangat pesat, sehingga

40

Kabupaten Sukabumi dapat berperan pula sebagai Counter magnet (penyangga) dari perkembangan ekonomi wilayah Jabotabek tersebut.

Hasil prediksi dengan metode Delphi setelah data satu tahun yang lalu ditambah dengan persentase kenaikan dapat dilihat pada Tabel 7. Hasil prediksi menunjukan bahwa permintaan paling tinggi akan terjadi pada Triwulan ke-3 tahun 2007 dengan jumlah permintaan 21.844 unit dan permintaan paling rendah terjadi pada triwulan ke-1 tahun 2008 dengan jumlah permintaan 8.340 unit. Perkiraan tingkat produksi yang tinggi pada triwulan ke-3 tahun 2007 disebabkan adanya perpindahan konsumen dari perusahaan lain yang mengalami masa pembekuan oleh Badan Karantina Pertanian. Pembekuan ini disebabkan perusahaan tersebut tidak konsisten dengan ketentuan dan persyaratan ISPM#15 yang dikeluarkan Badan Karantina Pertanian, sementara itu PT APP selama ini konsisten dalam menerapkan ketentuan dan persyaratan ISPM#15. Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi satu atau dua tahun yang akan datang karena masih banyak perusahaan yang belum bisa konsisten dengan ketentuan dan persyaratan ISPM#15 yang masih baru diterapkan di Indonesia.

Tabel 7. Prediksi jumlah permintaan pelanggan tahun yang akan datang.

No Triwulan ke -

Permintaan Triwulan yang Lalu (unit)

Prediksi Kenaikan (%) Prediksi Kedepan (unit) 1 (III)2007 16241 34,5 21844 2 (IV)2007 9028 15 10382 3 (I)2008 7480 11,5 8340 4 (II)2008 10964 32,5 14527

Setiap bulan Mei Badan Karantina Pertanian melakukan audit atau pemeriksaan ulang terhadap perusahaan yang bersertifikat ISPM#15, pada bulan ini pembekuan terjadi pada perusahaan yang tidak lolos audit. Mengacu pada situs resmi Badan Karantina Tumbuhan pada tanggal 6 Mei 2007 terdapat 17 perusahaan yang mengalami masa pembekuan, hal ini disebabkan tidak mudahnya bagi perusahaan dalam jangka waktu pendek melakukan penyesuaian dengan cara produksinya yang sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian. Kondisi ini akan berpeluang berpindahnya konsumen pada perusahaan tersebut kepada perusahaan yang tidak dibekukan, sedangkan pada bulan Oktober 2007 –

April 2008 tingkat produksi rendah karena memang pada saat itu perusahaan yang mengalami masa pembekuan sudah kembali teregistrasi yang akhirnya konsumen kembali ke perusahaan lama.

Perbedaan jumlah permintaan yang tinggi pada triwulan ke-3 tahun 2007 dan triwulan ke-1 tahun 2008, tentu saja akan membuat perusahaan tidak dapat menyeimbangkan ketersediaan sumberdaya dengan jumlah yang diproduksi. Misalnya jika pada triwulan ke-3 tahun 2007 penggunaan tenaga optimal digunakan namun pada triwulan ke-1 tahun 2008 tenaga kerja akan banyak yang menganggur. Walaupun sebenarnya masalah ini dapat diatasi dengan penyesuaian subkontrak tapi bagi perusahaan keadaan jumlah permintaan yang statis adalah keadaan yang diharapkan. Oleh karena itu, perusahaan juga sebaiknya melakukan strategi perencanaan dengan cara meningkatkan persediaan produk jadi pada waktu permintaan rendah. Persediaan ini bermanfaat untuk mengatasi masalah kekurangan produksi jika terjadi permintaan tinggi.

Dokumen terkait