BAB I : PENDAHULUAN
A. Kajian teori
3. Strategi Pembelajaran Aktif
a. Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif
Pada berbagai situasi proses pembelajaran seringkali digunakan berbagai istilah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan cara, tahapan, atau pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Istilah strategi, metode, atau teknik sering digunakan secara bergantian, walaupun pada dasarnya istilah-istilah tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lain.
Teknik pembelajaran seringkali disamakan artinya dengan metode pembelajaran. Gerlach dan Ely dalam Hamzah (2009: 2) Teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai.
Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat commit to user
implementatif. Dengan perkataan lain, metode yang dipilih oleh masing-masing guru adalah sama, tetapi mereka menggunakan teknik yang berbeda. Menurut Udin S. Winataputra dan Tita Rosita (1994: 124) istilah strategi secara harfiah adalah akal atau siasat. Sedangkan strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi., sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Hubungan antara strategi, tujuan, dan metode pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik tolak dari penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan strategi pembelajaran, dan perumusan tujuan, yang kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai metode yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung.
Menurut Masdjudi, dkk. (2003: 3-4) yang di maksud dengan aktif adalah bahwa pembelajaran dimana guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan.
Sedangkan pembelajaran aktif dimaksudkan adalah bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian hingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran aktif adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin, sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.
b. Ciri-ciri Pembelajaran Aktif di Kelas
Pembelajaran aktif atau active learning adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. Saat ini pembelajaran aktif telah diyakini oleh sebagian besar para teoritis, praktisi dan pemegang kebijakan di hampir seluruh belahan muka bumi ini sebagai sebuah
commit to user
konsep pembelajaran yang memberikan harapan bagi tercapainya mutu pembelajaran.
Menurut Akhmad sudrajat (2010) ciri-ciri atau indikator terjadinya pembelajaran aktif pada setting kelas yaitu.
1) Kegiatan belajar suatu kompetensi dikaitkan dengan kompetensi lain pada suatu mata pelajaran atau mata pelajaran lain.
2) Kegiatan belajar menarik minat peserta didik.
3) Kegiatan belajar terasa menggairahkan peserta didik.
4) Semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar.
5) Mendorong peserta didik berpikir secara aktif dan kreatif.
6) Saling menghargai pendapat dan hasil kerja (karya) teman.
7) Mendorong rasa ingin tahu peserta didik untuk bertanya.
8) Mendorong peserta didik agar tidak takut berbuat kesalahan.
9) Menciptakan suasana senang dalam melakukan kegiatan belajar.
10) Mendorong peserta didik melakukan variasi kegiatan individual (mandiri), pasangan, kelompok, dan atau seluruh kelas.
11) Mendorong peserta didik bekerja sama guna mengembangkan keterampilan sosial.
12) Kegiatan belajar banyak melibatkan berbagai indera.
13) Menggunakan alat, bahan, atau sarana bila dituntut oleh kegiatan belajar.
14) Mendorong peserta didik melalui penghargaan, pujian, pemberian semangat.
15) Menerapkan teknik bertanya guna mendorong peserta didik berpikir dan melakukan kegiatan.
16) Mendorong peserta didik mencari informasi, data, dan mencari jawaban atas pertanyaan.
17) Mendorong peserta didik menemukan sendiri.
18) Peserta didik pada umumnya berani bertanya secara kritis.
Untuk dapat memenuhi seluruh ciri (indikator) di atas tentu bukan hal yang mudah, khususnya bagi guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran pasif. Oleh karena itu, guru dalam mencoba memenuhi dan mempraktikannya di kelas, mulai dari hal yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
Dan berikut ini boleh jadi dapat digunakan guru dalam menerapkan penggunaan strategi pembelajaran aktif pada siswa.
1) Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
2) Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua atau komite sekolah.
3) Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
4) Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
5) Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian. commit to user
6) Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
7) Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
8) Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
9) Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
10) Peserta didik berani bertanya kepada guru.
11) Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
12) Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
13) Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
14) Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
15) Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
16) Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
17) Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
18) Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
19) Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang atau tamu yang datang ke sekolah.
c. Prosedur Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini, dkk. (2007) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Di sisi lain, Silberman (2006) menyatakan lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Sehingga dari pernyataan tersebut perlengkapan kelas perlu disusun ulang untuk menciptakan formasi tertentu yang sesuai dengan kondisi belajar siswa. Namun begitu tidak ada satu susunan atau tata letak yang mutlak ideal, namun ada banyak pilihan yang tersedia. Sepuluh kemungkinan susunan tata letak meja dan kursi yang disarankan sebagai berikut: bentuk U, gaya tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja, pengelompokan berpencar, formasi tanda pangkat, ruang kelas tradisional, auditorium.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Syamsu Mappa dan Anisa Basleman (1994) menyatakan penggunaan meja, kursi dan papan tulis beroda lebih memungkinkan berlangsungnya proses interaksi belajar dan membelajarkan yang commit to user
bergairah. Aktifitas siswa belajar di kelas terwujud bila terjadi interaksi antar warga kelas. Boakes alam Mar’at (1984) menyatakan bahwa di dalam interaksi ada aktifitas yang bersifat resiprokal (timbal balik) dan berdasarkan atas kebutuhan bersama, ada aktifitas daripada pengungkapan perasaan, dan ada hubungan untuk tukar-menukar pengetahuan yang didasarkan take and give, yang semuanya dinyatakan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Lebih lanjut, Syamsu Mappa dan Anisa Basleman (1994) menyatakan hubungan timbal balik antar warga kelas yang harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar. Dengan demikian, upaya mengaktifkan siswa belajar dapat dilakukan dengan mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas. Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya.
Kaitannya dengan proses pembelajaran, berdasarkan teori kebutuhan Maslow, Silberman (2006) menyatakan kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa dipenuhinya kebutuhan untuk mencapai sesuatu, mengambil resiko, dan menggali hal-hal baru. Proses pembelajaran di kelas dapat dipandang sebagai tiga bagian kegiatan yang terurut, yaitu: kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Dengan demikian, strategi pembelajaran aktif dapat dirumuskan sebagai prosedur kegiatan yang mengaktifkan siswa pada setiap bagian kegiatan secara terurut.
Silberman (2006: 100-102) menyatakan dalam mengawali kegiatan pembelajaran aktif dengan prosedur sebagai berikut.
1) Tentukan rentang waktu yang pasti untuk kegiatan awal pembelajaran.
2) Ucapkan salam pembuka yang menghangatkan siswa.
3) Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan pelajaran matematika yang akan diajarkan. Misalnya.
- Kata-kata untuk didefinisikan.
- Soal-soal sederhana dari aplikasi rumus yang telah kenal.
- Pertanyaan tentang aplikasi matematika sederhana dalam kehidupan sehari-hari. commit to user
4) Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.
5) Perintahkan siswa untuk menyebar dikelas, menanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya.
Doronglah siswa untuk saling membantu.
6) Perintahkan untuk kembali ketempat semula dan gunakan teknik tanya jawab untuk menjawab jawaban yang mereka dapatkan.
7) Gunakan pertanyaan-pertanyaan arahan sebagai upaya merangsang berpikir siswa menjawab pertanyaan yang tak satupun siswa bisa menjawab.
8) Gunakan informasi-informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini sebagai sarana untuk memperkenalkan topik-topik penting materi pelajaran dalam kegiatan inti.
Secara umum manusia tidak menyukai suatu kegiatan yang kurang bervariasi. Oleh karenanya perlu dipilih kegiatan lain sebagai variasi kegiatan di atas. Berikut ini dapat menjadi alternatif pilihan.
a) Daftar pertanyaan dapat diganti dengan menyediakan kartu indeks dan perintahkan siswa untuk menuliskan satu informasi yang menurut siswa akurat tentang materi yang akan diajarkan.
b) Kegiatan menyebar dapat diganti dengan merotasi pertukaran pendapat antar kelompok belajar di kelas.
Silberman (2006: 117-206) menyatakan strategi berikut ini dapat digunakan guru untuk mengaktifkan siswa belajar matematika.
1. Menstimulasi Rasa Ingin Tahu Siswa Prosedur
a) Ajukan pertanyaan atau masalah yang kompleks atau yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban untuk menstimulasi keingintahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan.
Pertanyaan yang disajikan haruslah merupakan pertanyaan yang menurut guru ada beberapa siswa yang mengetahui jawabannya atau bagian dari jawaban. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan sehari-hari, cara melakukan sesuatu, definisi, cara kerja (prosedur). commit to user
b) Doronglah siswa untuk berpikir, membuat skema atau diagram, dan membuat dugaan umum. Gunakan frase semisal “coba tebak” atau “coba jawab”.
c) Guru tidak boleh langsung memberikan jawaban. Kumpulkan semua jawaban sementara dari siswa agar siswa tetap mau berpikir terhadap jawaban yang telah dikemukakan.
2. Belajar Berpasangan Prosedur
a) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa.
b) Kemudian guru memperintahkan siswa untuk menyelesaikan pertanyaan tersebut secara perseorangan.
c) Setelah semua siswa memberi jawaban, aturlah menjadi sejumlah pasangan dan perintahkan mereka untuk berbagi jawaban satu sama lain.
d) Perintahkan pasangan untuk membuat jawaban baru bagi tiap masalah, memperbaiki tiap jawaban perseorangan.
Untuk menghemat waktu, bagilah seluruh siswa dalam 4 kelompok besar berilah nama kelompok. Pada akhir sesi, perintahkan masing-masing kelompok untuk menyajikan jawaban terbaiknya. Berikan hadiah pada jawaban terbaik.
3. Menstimulasi Pembelajaran Antar Siswa Prosedur
a) Buatlah kelompok siswa kemudian buatlah pertanyaan yang saling terkait dengan kelompok lainnya.
b) Perintahkan setiap kelompok untuk menyusun cara menyelesaikan permasalahan tersebut kepada kelompok siswa lainnya. Guru memberikan arahan agar siswa menghindari penyelesaian permasalahan dengan cara ceramah atau semacam pembacaan laporan, tapi lebih kea rah aplikasi agar temannya termiotivasi untuk berpikir. Doronglah mereka untuk menjadikan pengalaman belajar sebagai pengalaman yang aktif bagi siswa.
c) Setelah semuanya selesai dikerjakan. Beri tepuk tangan atas usaha mereka.
Sebagai alternatif usaha dari pengajaran model ini adalah perintahkan siswa commit to user
untuk mengajarkan atau memberi bimbingan kepada siswa lain secara individual atau dalam kelompok kecil.
4. Kelompok Belajar Prosedur
a) Berilah siswa satu ringkasan, selebaran pelajaran yang disusun dengan baik, teks singkat, bagan atau diagram yang menarik. Mintalah mereka membacanya dengan tenang. Kelompok belajar melaksanakan tugasnya dengan baik kalau materinya cukup menantang atau terbuka untuk interpretasi luas.
b) Bentuklah sub-kelompok dan beri mereka ruang yang tenang untuk mengadakan sesi belajar mereka.
c) Berikan petunjuk yang jelas yang dapat memandu peserta didik belajar dan terangkan materi dengan jelas. Petunjuk tersebut sebagai berikut:
1) Jelaskan isi materinya,
2) Buatlah contoh dan bagaimana menyelesaikannya dari contoh tersebut dan garis bawahi atau kasih tanda yang siswa tidak tahu.
d. Strategi Pembelajaran Aktif dengan Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion)
Strategi pembelajaran aktif dengan kelompok kecil adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin, sehingga diharapkan siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. Agar keterlibatan anak dapat secara maksimal dalam diskusi kelompok kecil, maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Winataputra (1997: 8) menjelaskan bahwa diskusi kelompok kecil adalah sebuah perbincangan yang terdiri atas 3-5 orang dalam situasi informal dan sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Tempat berdiskusi diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah. Diskusi diadakan dipertengahan pelajaran atau diakhir pelajaran dengan maksud menajamkan pemahaman kerangka pelajaran, memperjelas penguasaan bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang commit to user
mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interpretasi dan informasi yang diperoleh masing-masing individu yang dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi, informasi, interpretasi, sehingga dapat dihindarkan kekeliruan-kekeliruan.
Adapun sintaks pembelajaran aktif dengan kelompok kecil di kelas adalah sebagai berikut.
1) Kegiatan pendahuluan (10 menit)
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran berupa kegiatan untuk pemanasan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan misalnya Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.
2) Kegiatan inti (65 menit)
Pada kegiatan inti, perintahkan siswa untuk menyebar dikelas membentuk kelompok dengan jumlah siswa 4 orang, dan dalam diskusi tanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya. Doronglah siswa untuk saling membantu dan gunakan teknik tanya jawab untuk menjawab jawaban yang mereka dapatkan.
Telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan matematika di segala jenjang dimaksudkan untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan matematika. Pembelajaran aktif dalam pendidikan matematika dapat berlangsung dalam penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Kondisi ini terjadi jika siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak mereka untuk berpikir, bekerja dan merasakan.
3) Kegiatan penutup (5 menit)
Pada kegiatan penutup guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat ikhtisar dan menyajikan ikhtisar kepada siswa lain.
e. Strategi Pembelajaran Aktif dengan Kelompok Besar (Whole Group Discussion)
Strategi pembelajaran aktif dengan kelompok besar adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik commit to user
seoptimal mungkin dengan jumlah anggota lebih dari 5 orang dan jumlah anggota maksimal tidak boleh lebih dari 15 orang (Roestiyah, 2001: 9). Pada diskusi ini, guru sekaligus sebagai pemimpin diskusi. Namun begitu, siswa yang dipandang cakap, dapat saja ditugasi guru sebagai pemimpin diskusi.
Pada diskusi kelompok besar, sebagai pemimpin diskusi, guru maupun siswa yang cakap berperan dalam memprakarsai terjadinya diskusi. Untuk itu, guru dapat mengajukan permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya sehingga mendorong anak untuk mengajukan pendapat. Pada diskusi kelompok besar, tidak semua siswa menaruh perhatian yang sama, karena itu tugas guru maupun siswa yang cakap sebagai pemimpin diskusi untuk membangkitkan perhatian anak terhadap masalah yang sedang didiskusikan. Di samping itu, distribusi siswa yang ingin berpendapat perlu diperhatikan. Pada diskusi kelompok besar, pembicaraan sering didominasi oleh anak-anak tertentu, akibatnya tidak semua siswa berkesempatan untuk berpendapat. Untuk menghindari keadaan itu, pemimpin diskusi perlu mengatur distribusi pembicaraan. Tugas terberat bagi pemimpin diskusi adalah menumbuhkan keberanian peserta untuk mengemukakan pendapatnya. Dalam praktik, tidak sedikit siswa yang kurang berani berpendapat dalam berdiskusi. Terlebih bagi siswa yang kurang menguasai permasalahan yang menjadi bahan diskusi.
Adapun sintaks pembelajaran aktif dengan kelompok besar di kelas adalah sebagai berikut.
1) Kegiatan pendahuluan (10 menit)
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran berupa kegiatan untuk pemanasan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan misalnya perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.
2) Kegiatan inti (65 menit)
Pada kegiatan inti, perintahkan siswa untuk menyebar dikelas membentuk kelompok dengan jumlah siswa lebih dari 5 orang dan tidak boleh lebih dari 15 orang dalam setiap kelompoknya dan dalam diskusi tanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya. Doronglah siswa commit to user
untuk saling membantu dan gunakan teknik tanya jawab untuk menjawab jawaban yang mereka dapatkan.
3) Kegiatan penutup (5 menit)
Pada kegiatan penutup guru menyimpulkan atau mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan siswa.
B. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Cheng (2009) yang dipublikasikan pada jurnal internasional menyatakan bahwa “The Result Showed That Student Exposed To Cooperative Learning Strategy Performed Better Than Their Counterparts In The Other Group”.
Persamaan penelitian yang telah dilakukan oleh chen dan cheng, yaitu sama-sama menggunakan strategi pembelajaran. Sedangkan perbedaan pada penelitian yang telah dilakukan oleh chen dan cheng, yaitu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sedangkan dalam penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran aktif dengan kelompok kecil dan kelompok besar..
2. “The Effect Of Cooperative Learning On Student Mathematics Achievent And Attitude Towards Mathematics” oleh Effendi Zakaria, Lu Chung Chin, dan Md Yusuf Daud Tahun 2010.
Persamaan penelitian yang telah dilakukan effendi, dkk terletak pada tinjauannya yaitu pada penelitian effendi zakaria, dkk penelitian ditinjau dari motivasi belajar siswa. Sedangkan perbedaan pada penelitian yang telah dilakukan effendi zakaria, dkk yaitu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe stad sedangkan dalam penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran aktif.
3. Mukhlis Mustofa (2006) dengan hasil penelitian: menyimpulkan bahwa penggunaan media transparansi dapat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar geografi.
Penelitian tersebut mempunyai kesamaan yaitu peninjauannya dari motivasi belajar siswa. Sedangkan perbedaannya adalah dalam penelitian Muklis Mustofa menggunakan media transparansi dan pada mata pelajaran geografi, sedangkan
commit to user
dalam penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran aktif dengan kelompok kecil dan kelompok besar pada mata pelajaran matematika.
4. Mujafar (2005) dengan hasil penelitian : prestasi belajar matematika peserta didik pokok bahasan peluang dipengaruhi oleh model pembelajaran jigsaw serta motivasi yang tinggi menghasilkan prestasi yang baik.
Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah ditinjau dari belajar siswa SM. Sedangkan perbedaannya adalah strategi pembelajaran yang peneliti gunakan lebih fleksibel artinya dapat menggunakan secara bergantian berbagai strategi pembelajaran yang telah ada, disesuaikan dengan keperluan dalam proses pembelajaran.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan arahan penalaran untuk sampai pada pemberian jawaban sementara atas masalah yang telah dirumuskan. Kerangka berpikir berguna untuk mewadahi teori-teori yang seolah-olah terlepas menjadi satu rangkaian yang utuh untuk menentukan jawaban sementara. Kerangka berpikir yang dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Kaitan strategi pembelajaran aktif terhadap prestasi siswa.
Pada pembelajaran matematika di kelas VIII SMP, guru mempunyai peran yang utama dalam jalur pendidikan maka hendaknya dapat menciptakan pembelajaran yang yang mampu membuat siswa jadi termotivasi dalam belajar.
Namun tidak efektifnya pengajaran yang dilakukan guru diduga akibat kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi pembelajaran. Hal ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan metode ceramah secara klasikal.
Peningkatan hasil belajar pada materi sistem persamaan linear dua variabel dan efektifitas pembelajaran yang diharapkan oleh peneliti adalah dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa aktif secara kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Selain harapan yang telah disampaikan dalam penelitian ini diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam melakukan pembelajaran dari guru sebagai pusat belajar agar beralih ke siswa. commit to user
Guna mewujudkan harapan yang diinginkan oleh peneliti, maka peneliti menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif kelompok kecil dan pembelajaran aktif kelompok besar.
Adapun jumlah anggota kelompok kecil adalah antara 3-5 anggota. Tempat berdiskusi diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah. Sedangkan pada diskusi kelompok besar jumlah anggota lebih dari 5 dan tidak boleh lebih dari 15 anggota (Roestiyah, 2001: 9), sebagai pemimpin diskusi, guru berperan dalam memprakarsai terjadinya diskusi. Untuk itu, guru dapat mengajukan permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya sehingga mendorong anak untuk mengajukan pendapat. Pada diskusi kelompok besar, tidak semua siswa menaruh perhatian yang sama karena hanya didominasi anak-anak yang lebih pintar, sehingga tidak semua siswa tertuju terhadap masalah yang
Adapun jumlah anggota kelompok kecil adalah antara 3-5 anggota. Tempat berdiskusi diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah. Sedangkan pada diskusi kelompok besar jumlah anggota lebih dari 5 dan tidak boleh lebih dari 15 anggota (Roestiyah, 2001: 9), sebagai pemimpin diskusi, guru berperan dalam memprakarsai terjadinya diskusi. Untuk itu, guru dapat mengajukan permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya sehingga mendorong anak untuk mengajukan pendapat. Pada diskusi kelompok besar, tidak semua siswa menaruh perhatian yang sama karena hanya didominasi anak-anak yang lebih pintar, sehingga tidak semua siswa tertuju terhadap masalah yang