• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes

4. Prinsip-Prinsip Asesmen

Depdiknas (2004 dan 2006) menjeskan prinsip-prinsip asesmen

sebagai berikut :

a. Prinsip Validitas

Validitas dalam asesmen mempunyai pengertian bahwa dalam

melakukan penilaian harus “menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya

dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur

kompetensi”. b. Prinsip Reliabilitas

Pengertian reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan)

hasil penilaian. Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan

perbandingan yang reliable, menjamin konsistensi, dan

keterpercayaan. Misal, dalam menilai unjuk kerja, penilaian akan

reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila unjuk kerja

itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Menjamin

reliabilitas petunjuk pelaksanaan unjuk kerja dan penskorannya harus

jelas.

c. Terfokus pada kompetensi

Pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, penilaian harus

terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan

pada penguasaan materi (pengetahuan). Bisa mencapai itu penilaian

harus dilakukan secara berkesinambungan, dimana penilaian dilakukan

secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh

gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu

tertentu.

d. Prinsip Komprehensif

Proses pembelajaran, anda sebagai pendidik pasti telah

menyusun rencana pembelajaran yang secara jelas menggambarkan

serta indikator yang menggambarkan keberhasilannya. Untuk itu

penilaian yang dilakukan harus menyeluruh mencakup seluruh domain

yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan menggunakan

beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau

kemampuan siswa sehingga tergambar profil kemampuan siswa.

e. Prinsip Objektivitas

Obyektif dalam konteks penilaian di kelas adalah bahwa proses

penilaian yang dilakukan harus meminimalkan pengaruh-pengaruh

atau pertimbangan subyektif dari penilai. Dalam implementasinya

penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Dalam hal tersebut,

penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan

bahasa yang dapat dipahami siswa, dan menerapkan kriteria yang jelas

dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka (skor).

f. Prinsip Mendidik

Penilaian yang mendidik artinya proses penilaian hasil belajar

harus mampu memberikan sumbangan positif pada peningkatan

pencapaian hasil belajar peserta didik, dimana hasil penilaian harus

dapat memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik

untuk lebih giat belajar. Pada akhirnya proses dan hasil penilaian dapat

dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran

bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik

5. Jenis-jenis Asesmen

Asesmen dikategorikan menjadi dua menurut Blaustein (Sudjana:

2008) yaitu:

a. Asesmen Konvensional

Biasanya menggunakan paper and pencil test atau disebut

dengan asesmen formal atau asesmen konvensional. Disebut demikian

karena metode inilah yang biasa digunakan oleh guru. Metode paper

and pencil test hanya dapat mengukur kemampuan kognitif peserta didik namun belum dapat mengukur hasil belajar peserta didik secara

holistik. Soal-soal tes tradisional dibagi menjadi 2 tipe yaitu selected

response items (soal pilihan ganda dan benar-salah, memungkinkan siswa memilih jawaban di antara alternatif yang tersedia)

dan constructed-response item (esai atau jawaban pendek mengisi

titik-titik, mengharuskan siswa memberikan jawabannya sendiri).

b. Asesmen Berbasis Kinerja

Asesmen ini menginginkan siswa dapat mengerjakan tugas

tertentu seperti menulis esai, melakukan eksperimen, menginterpretasi

solusi untuk masalah atau menggambarkan sesuatu. Siswa

mengerjakan beragam tugas selama beberapa hari, bukan tugas yang

dapat diakses beberapa menit. Hal ini merupakan upaya mengukur

berbagai macam keterampilan dan proses intelektual yang kompleks.

dalam proses belajar mengajar misalkan dalam kerja kelompok,

eksperimen, atau diskusi kelompok.

Menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan

menjadi empat, yaitu:

a. Asesmen Penempatan

Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap

masing-masing peserta didik sebelum menempuh program

pembelajaran. Tujuannya yaitu untuk:

1) Mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing

peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan

diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan prasyarat atau

prerekuisit.

2) Menjajagi penguasaan masing-masing peserta didik terhadap

kemampuan yang ditargetkan.

3) Meneliti interes, langgam belajar, ataupun karakteristik personal

masing-masing peserta didik

4) Mendiagnosis kemampuan masing-masing peserta didik terhadap

kemampuan prasyarat atau kemampuan prerekuisit jika diperlukan

kemampuan prasyarat untuk menguasai kompetensi yang

b. Asesmen Formatif

Asesmen formatif dilakukan berdasarkan hasil pengukuran

terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan

pembelajaran. Tujuannya yaitu untuk:

1) Mengetahui apakah setiap peserta dapat melaju dengan baik selama

proses pembelajarannya sehingga kegiatan belajar selanjutnya

menjadi lebih efektif dan efisien.

2) Untuk mengetahui apakah ada peserta didik yang mengalami

kesulitan untuk menguasai kompetensi yang ditargetkan.

3) Untuk meramalkan seberapa jauh masing-masing peserta didik akan

berhasil dalam menempuh asesmen sumatif.

4) Mengetahui seberapa jauh masing-masing peserta didik akan

berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran sampai akhir

program.

c. Asesmen Sumatif

Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik

setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya

yaitu untuk:

1) Menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang

menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat

ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau

menguasai kecakapan ataupun keterampilan tertentu yang

ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang.

2) Menggunakan hasil asesmen setiap peserta didik untuk

meramalkan apakah ia dapat menyelesaikan program/semester

berikutnya jika memang masih ada program/semester yang harus

ditempuh.

3) Menyeleksi siapa yang lulus, siapa yang menjadi juara jika dalam

konteks untuk mencari/menyeleksi siapa yang paling baik dan siapa

yang kurang baik dalam kelompoknya.

d. Asesmen Konfirmatif

Asesmen konfirmatif dilakukan terhadap masing-masing orang

yang ingin dinilai tanpa dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran yang

ditempuh. Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran

yang menggunakan instrumen yang sahih dan andal. Dalam hal

kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh

pihak eksternal. Pemeritah menerapkan ujian nasional untuk

menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus ataulah tidak

lulus dalam menguasai kompetensi yang ditetapkan

Dokumen terkait