• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

B. Manajemen Berbasis Madrasah

5. Prinsip-Prinsip MBM

Terdapat empat prinsip MBM dalam mengelola madrasah, yaitu:

(a) prinsip ekuifinalitas; (b) prinsip desentralisasi; (c) prinsip sistem pengelolaan mandiri; dan (d) prinsip inisiatif sumber daya manusia.

Pertama, prinsip ekuifinalitas (principal of equifinality). Prinsip-

prinsip ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berasumsi, bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda untuk mencapai suatu tujuan.

Kedua, prinsip desentalisasi (principal of decentralization).

Desentralisasi adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen madrasah modern. Prinsip ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas.

Ketiga, prinsip sistem pengelolaan mandiri (principal of self-

managing system). MBM menyadari pentingnya madrasah mendesain sistem pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakan sendiri yang memiliki otonomi untuk mengembangkan tujuan pembelajaran, strategi manajemen, dan sumber daya lainnya.

Keempat, prinsip inisiatif manusia (principal of human initiative).

Sejalan dengan perkembangan pergerakan hubungan antar manusia dan pergerakan ilmu perilaku pada manajemen modern, manusia mulai menaruh perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia pada efektivitas organisasi (Hermino, 2017 : 78).

Merujuk pada keempat prinsip tersebut, maka peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya dalam perspektif madrasah dipandang sebagai sebuah organisasi, yaitu setidaknya meliputi: (1) berfokus pada pelanggan, yang dalam hal ini adalah warga madrasah; (2) melakukan peningkatan secara terus menerus, baik kepada guru, orang tua, dan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan; (3) membuat perencanaan madrasah secara terbuka; (4) mempromosikan keterbukaan, memberikan informasi yang luas kepada masyarakat ataupun publik; (5) menciptakan tim kerja, yang dalam hal ini kepala madrasah memposisikan sebagai manajer dan pemimpin bagi warga madrasah; (6) mengelola tugas-tugas melalui tim fungsional silang yang

telah ditugaskan sesuai dengan bidangnya; (7) mengembangkan disiplin pribadi, bahwa tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan agar dilaksanakan dengan benar.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dimaknai bahwa madrasah dalam tataran sebagai organisasi perlu dikelola oleh seorang kepala madrasah yang dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam upaya meningkatkan kualitas mutu pendidikan.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 48 Ayat (1) menyatakan bahwa, ―Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik‖. Sejalan dengan amanat tersebut, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 49 Ayat (1) menyatakan: ―Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan MBM yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas‖.

Berdasarkan kedua isi kebijakan tersebut, prinsip MBM meliputi: (1) kemandirian; (2) keadilan; (3) keterbukaan; (4) kemitraan; (5) partisipatif;

(6) efisiensi; dan (7) akuntabilitas. Ketujuh prinsip tersebut disingkat dengan K4 PEA, berikut penjelasannya:

a. Kemandirian

Kemandirian berarti kewenangan madrasah untuk mengelola sumber daya dan mengatur kepentingan warga madrasah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi seluruh warga madrasah sesuai peraturan perundangan.

Kemandirian madrasah hendaknya didukung oleh kemampuan madrasah dalam mengambil keputusan terbaik, demokratis, mobilisasi sumber daya, berkomunikasi yang efektif, memecahkan masalah, antisipatif dan adaptif terhadap inovasi pendidikan, sehingga dapat bersinergi, berkolaborasi, dan memenuhi kebutuhan madrasah sendiri.

b. Keadilan

Keadilan berarti madrasah tidak memihak terhadap salah satu sumberdaya manusia yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya madrasah, dan dalam pembagian sumber daya untuk kepentingan peningkatan mutu madrasah.

Sumber daya manusia yang terlibat, baik warga madrasah maupun pemangku kepentingan lainnya diberikan kesempatan yang sama untuk ikut serta memberikan dukungan guna peningkatan mutu madrasah sesuai dengan kapasitas mereka. Pembagian sumber daya untuk pengelolaan semua substansi manajemen madrasah dilakukan secara bijaksana untuk mempercepat dan keberlanjutan upaya peningkatan mutu madrasah. Dengan diperlakukan secara adil, maka semua pemangku kepentingan akan memberikan dukungan terhadap madrasah seoptimal mungkin.

c. Keterbukaan

Manajemen dalam konteks MBM dilakukan secara terbuka atau transparan, sehingga seluruh warga madrasah dan pemangku kepentingan dapat mengetahui mekanisme pengelolaan sumber daya madrasah. Selanjutnya madrasah memperoleh kepercayaan dan dukungan dari pemangku kepentingan. Keterbukaan dapat dilakukan melalui penyebarluasan

informasi di madrasah dan pemberian informasi kepada masyarakat tentang pengelolaansumber daya madrasah, untuk memperoleh kepercayaan publik terhadap madrasah. Tumbuhnya kepercayaan publik merupakan langkah awal dalam meningkatkan peran serta masyarakat terhadap madrasah.

d. Kemitraan

Kemitraan yaitu jalinan kerjasama antara madrasah dengan masyarakat, baik individu, kelompok/organisasi, maupun Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dalam prinsip kemitraan antara madrasah dengan masyarakat dalam posisi sejajar, yang melaksanakan kerjasama saling menguntungkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah. Keuntungan yang diterima madrasah antara lain meningkatnya kemampuan dan keterampilan peserta didik, meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana madrasah, diperolehnya sumbangan ide untuk pengembangan madrasah, diperolehnya sumbangan dana untuk peningkatan mutu madrasah, dan terbantunya tugas kepala madrasah dan guru. Keuntungan bagi masyarakat biasanya dirasakan secara tidak langsung, misalnya tersedianya tenaga kerja terdidik, terbinanya anggota masyarakat yang berakhlakul karimah, dan terciptanya tertib sosial. Madrasah bisa menjalin kemitraan, antara lain dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dunia usaha, dunia industri, lembaga pemerintah, organisasi profesi, organisasi pemuda, dan organisasi wanita.

e. Partisipatif

Partisipatif dimaksudkan sebagai keikutsertaan semua pemangku

kepentingan yang terkait dengan madrasah dalam mengelola madrasah dan pembuatan keputusan. Keikutsertaan mereka dapat dilakukan melalui prosedur formal yaitu komite madrasah, atau keterlibatan pada kegiatan madrasah secara insidental, seperti peringatan hari besar nasional, mendukung keberhasilan lomba antar madrasah, atau pengembangan pembelajaran. Bentuk partisipasi dapat berupa sumbangan tenaga, dana, dan sarana prasarana, serta bantuan teknis dalam rangka pengembangan madrasah.

f. Efisiensi

Efisiensi dapat diartikan sebagai penggunaan sumber daya (dana, sarana prasarana dan tenaga) dengan jumlah tertentu untuk memperoleh hasil seoptimal mungkin. Efisiensi juga berarti hemat terhadap pemakaian sumber daya namun tetap dapat mencapai sasaran peningkatan mutu madrasah.

g. Akuntabilitas

Akuntabilitas menekankan pada pertanggung jawaban penyelenggaraan pendidikan di madrasah utamanya pencapaian sasaran peningkatan mutu madrasah. Madrasah dalam mengelola sumber daya berdasar pada peraturan perundangan dan dapat mempertangung jawabkan kepada pemerintah, seluruh warga madrasah dan pemangku kepentingan lainnya. Pertanggung jawaban meliputi implementasi proses dan komponen manajemen madrasah. Pertanggung jawaban dapat dilakukan secara tertulis dan tidak tertulis disertai bukti-bukti administratif yang sah dan bukti fisik (seperti

bangunan gedung, bangku, dan alat-alat laboratorium). Sejalan dengan adanya pemberian otonomi yang lebih besar terhadap madrasah untuk mengambil keputusan, maka implementasi ketujuh prinsip MBM di madrasah sesuai dengan situasi dan kondisi madrasah. Madrasah boleh menambah prinsip implementasi MBM yang sesuai dengan karakteristik madrasah, guna mempercepat upaya peningkatan mutu madrasah baik secara akademis maupun non akademis. (Kemendikbud, 2013 : 13).

Untuk mencapai keberhasilan implementasi MBM, masing- masing komponen manajemen madrasah diselenggarakan secara profesional melalui empat proses manajemen madrasah guna menghasilkan kesatuan pengelolaan madrasah yang berkualitas. Keempat proses manajemen madrasah dan ketujuh komponen manajemen madrasah merupakan sistem, yang dielaborasi dalam gambar berikut:

Gambar 2.1 Prinsip dalam MBM

6. Indikator Keberhasilan Manajemen Berbasis Madrasah di Madrasah