IV. Mal-administrasi Publik
2. Kegiatan Monitoring Spontanitas/Mendadak
4.2.3. Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik
4.2.3.3. Prinsip Transparansi (Transparancy)
Tata pemerintahan yang transparansi, yaitu pemerintah harus menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan
informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi. Tata pemerintahan yang bersifat terbuka (transparan), Wujud nyata prinsip tersebut antara lain dapat dilihat apabila masyarakat mempunyai kemudahan untuk mengetahui serta memperoleh data dan informasi tentang kebijakan, program, dan kegiatan aparatur pemerintah, baik yang dilaksanakan di tingkat pusat maupun daerah. Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia agar dapat dimengerti dan dipantau masyarakat.
Transparansi misalnya, mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian tentang:
1. Prosedur atau tata cara pelayanan yang jelas 2. Adanya persyaratan pelayanan yang tepat
3. Unit kerja atau pejabat yang berwenang untuk setiap jenis pelayanan 4. Rincian biaya atau tarif setiap pelayanan
5. Jadwal waktu penyelesaian setiap pelayanan
6. Lembaga pengaduan dan jadwal waktu penyelesaiaannya.
7. Pengelolaan barang milik negara harus transparanterhadap hak masyarakatdalam memperoleh informasi yang benar
4.2.3.4. Responsif (Responsiveness)
Tata pemerintahan yang responsif, yaitu pemerintah harus tanggap terhadap persoalan-persoalan masyarakat secara umum. Terutama, pemerintah
harus proaktif dalam mempelajari dan menganalisa kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Jadi setiap unsur pemerintah harus memiliki dua etika yaitu etika individual yang menuntut pemerintah agar memiliki kriteria kapabilitas dan loyalitas profesional. Dan etika sosial yang menuntut pemerintah memiliki sensitifitas terhadap berbagai kebutuhan pubik. Responsif misalnya: Pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi, sosial dan politik yang menguntungkan masyarakat luas, seperti mendorong terciptanya lapangan kerja baru, memajukan perdagangan domestik, menjamin peningkatan ketahanan ekonomi negara dan masyarakat.
4.2.3.5.Konsensus (Consensus Oriented)
Tata pemerintahan yang konsensus, yaitu setiap keputusan apapun yang diambil pemerintah harus dilakukan melalui proses musyawarah. Tata Pemerintahan yang konsensus, misalnya: pemerintah memilihara ketertiban dengan mencegahnya perselisihan dengan warga masyarakat, menjamin agar perselihan apapun (faham dll) yang terjadi dengan masyarakat dapat berjalan damai atau diselesaikan secara konsensus.
4.2.3.6. Keadilan (Fairness)
Tata pemerintahan yang berkeadilan, yaitu: pemerintah berprilaku adil dalam pemberian peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Tata pemerintahan yang bersifat kesetaraan dan keadilan dilihat dari perlakuan yang sama dari pejabat pemerintah dalam memberikan pelayanan terhadap publik tanpa mengenal perbedaan kedudukan,
keyakinan, suku, dan kelas sosial. Keadilan misalnya: Pemerintah menjamin diterapkannya perlakuan yang adil kepada setiap warga masyarakat tanpa membedakan status apapun yang melatarbelakanginya untuk melakukan pengaduan kepada pemerintah tanpa membeda-bedakan strata.
4.2.3.7. Keefisienan dan Keefektifan (Effectiveness and Efficiency)
Tata pemerintahan yang keefisienan dan keefektifan, yaitu pemerintahan yang berdaya guna dan berhasil guna. Kriteria efektivitas biasanya diukur dengan parameter produk yang dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai kelompok dan lapisan sosial. Sedangkan asas efisiensi umumnya diukur dengan rasionalitas biaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Semakin kecil biaya yang dipakai untuk mencapai tujuan dan sasaran maka pemerintah dalam kategori efisien. Keefisienan dan Keefektifan misalnya: pemerintah yang efektif (absah) dan efisien dalam memproduksi out put berupa aturan, kebijakan, pengelolaan keuangan negara yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat, rasional, dan terukur.
4.2.3.8. Prinsip Akuntabilitas
Tata pemerintahan yang akuntabilitas, yaitu pertanggungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan masyarakat. Setiap pejabat publik dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua kebijakan, perbuatan, moral, maupun netralitas sikapnya terhadap masyarakat. Inilah yang dituntut dalam asas akuntabilitas dalam upaya menuju pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa. Prinsip
Akuntabilitas misalnya: pada hakekatnya pemerintah adalah milik masyarakat (people own government), sewajarnya seorang kepala negara, pemerintahan, para menteri dan kepada daerah mempertanggungjawabkan hasil kinerjanya kepda publik melalui media cetak dan eletronik. Dalam kaitan ini, kinerja pemerintah akan terbuka untuk dicek kebenarannya (auditable).
Oleh karena itu, laporan akuntabilitas publik dititikberatkan pada efisiensi dan penhematan dalam mengunakan dana, harta kekayaan, serta sumber daya manusia, bahkan sumber-sumber lainnya.
4.2.3.9.Wawasan ke Depan (Visionery)
Tata pemerintahan yang berwawasan ke depan, yaitu, pemerintah memiliki visi strategis untuk menghadapi masa yang akan datang. Kualifikasi ini menjadi penting dalam rangka realisasi good governance. Wawasan ke Depan misalnya: Semua kegiatan pemerintah di berbagai bidang dan tingkatan didasarkan pada visi dan misi yang jelas dan jangka waktu pencapaiannya serta dilengkapi strategi implementasi yang tepat sasaran, manfaat dan berkesinambungan.
Adapun kegiatan Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan yang didasarkan pada ke 9 prinsip good governance di atas, sebagai upaya untuk mencegah perbuatan mal-administrasi publik, bagi terdorongnya pejabat publik maupun masyarakat umum di Timor Leste untuk menjalankan budaya publik ber good governance, dapat terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel: 4.10. Kegiatan Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik
Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2013
Pada tabel 4.10 menunjukan bahwa dalam periode tahun 2012 Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan telah berhasil menyelenggarakan aktivitas kerja promosi 10 Prinsip Good Governance sebanyak 6 (enam) kali, dengan mengundang peserta yang hadir berjumlah total 684 (enam ratus delapan puluh empat) orang, dengan perincian kegiatan sebagai berikut:
Kegiatan Departemen
Workshop di Aula Administratif Distrik Covalima, Kementerian Administrasi
Timor Lorosae (UNTL) Dili 15 Oktober 2012
360 Peserta 10 prinsip good
governance
Pelatihan di Memorian Hall, Farol Dili,
Timor Leste 28 Oktober
1. Workshop atau seminar 10 Prinsip Good Governance dengan Pemimpin Pemerintahan Daerah (Bupati, Camat dan Sekwilda) dan Pemimpin Masyarakat Desa (Kepala Desa, Ketua RT dan RW), se Kabupaten/Distrik Covalima sebanyak 90 orang, di Aula Administratif Distrik Covalima, Kementerian Administrasi Negara dan Penetapan Wilayah pada tanggal 23 hingga 24 Februari 2012.
2. Pelatihan 10 Prinsip Good Governance dengan Pejabat Pemerintah Daerah Administratif Kabupaten/Distrik Manufshi beserta jajarannya, Aparat Penegak Hukum dan Masyarakat Sipil di Kabupaten/Distrik Manufahi pada tanggal 10 Mei 2012.
3. Membagi informasi mengenai tugas, fungsi dan kewenangan Ombudsman dengan 17 orang wartawan media lokal Timor Leste pada tanggal 30 Juni 2012.
4. Menyelenggarakan seminar internasional, dengan mengundang pembicara Presiden RDTL dan Ketua Ombudsman Indonesia, untuk membahas dan mendiskusikan tentang pentingnya penerapan 10 Prinsip Good Governance di Timor Leste dengan seratus orang peserta dari para pejabat publik pemerintahan, NGO, LSM dan Civil Society pada tanggal 10 Oktober 2012.
5. Memberikan pelatihan-pelatihan 10 Prinsip Good Governance kepada 390 pelajar dari Sekolah Meneggah Atas dan mahasiswa dari 6 perguruan Tinggi se-Timor Leste pada tanggal 15 Oktobern 2012.
6. Pelatihan 10 Prinsip Good Governance kepada 28 anggota Kepolisian Nasional dan 58 anggota Kepolisian Militer Angkatan Pertahanan Timor Leste pada tanggal 28 Oktober 2012.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan13 menyatakan bahwa:
Di tahun anggaran 2012, saya melakukan penyusunan perencanaan program kerja tahunan dengan penentuan promosi prinsip-prinsip good governance terhadap kelompok sasaran yang ditetapkan sebanyak 12 kali, dengan mendapatkan persetujuan dari atasan saya. Pada pelaksanaan program kerja sesuai yang direncanakan dilapangan kami melaksanakan promosi 10 Prinsip Good Governance, melalui program-program pelatihan-pelatihan, worshop, seminar dan kursus-kursus sebanyak 9 kali, yaitu 6 program kegiatan pelatihan-pelatihan, worshop, seminar dan kursus-kursus 10 Prinsip Good Governance terhadap publik di Timor Leste pada tahun 2012 sebanyak 6 kali dan pada tahun 2013 sebanyak 3 kali.
Berkaitan dengan informasi dari informan tersebut, diketahui Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan berperan aktif dalam perencanaan program kerja/kegiatan promosi/kampanye prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik disetiap trimester kerjanya. Sebagai realisasinya dilaksanakan pada bulan Februari, Mei, Juni dan Oktober tahun 2012 yang lalu. Dan hasilnya dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ke 684 (enam ratus delapan puluh empat) peserta yang diundang Ombudsman dalam menhadiri pelaksanaan kegiatan-kegiatan pelatihan, seminar, worshop dan kursus-kursus tentan 10 Prinsip Good Governance yang dilksanakan di tahun 2012 yang lalu.
13Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Kepala Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik, Divisi Good Governance, Bapak Paulo Ribeiro di kantor di kantor Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan pada tanggal 30 September 2013.
Pemberi informasi juga menyampaikan bahwa Ombudsman biasanya melakukan proses selektif terhadap organ pemerintahan yang menjadi sasaran atau target group Ombudsman, terutama yang sering menjadi sasaran laporan pengaduan masyarakat menyangkut dugaan adanya perbuatan mal-administrasi, mereka menjadi fokus perhatian dan ditargetkan secara khusus untuk diberi pelatihan-pelatihan lebih lanjut agar membangun pemahaman dan pengetahuannya akan prinsip-prinsip good governance lebih mendalam untuk menhindar dari perbuatan kesalahan-kesalahan administratif.
Menurut hasil wawancara dengan informan14 Direktur Divisi Good Governance, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, Ambrosio G.
Soares, pada tanggal 16 September 2012, menyatakan bahwa:
Pada tahun 2012, ada beberapa institusi pemerintahan yang kinerja layanan administrasi publiknya dikeluhkan masyarakat banyak, karena berjalan kurang baik bagi pemenuhan tuntutan kepentingan umum masyarakat. Dampaknya ada beberapa masyarakat menyampaikan laporan pengaduannya ke Ombudsman. Yang menjadi laporannya masyarakat masuk dalam daftar target groupnya Ombudsman yang perlukan pemberian pelatihan-pelatihan prinsip-prinsip good governance, sebagai upaya pencegahan lebih lanjut. Dari data/informasi yang ada institusi-institusi publik yang menjadi target groupnya Ombudsman adalah menurut kasus yang ada bisa disebut
Atas informasi tersebut, peneliti mewancarai informan15 menyatakan bahwa:
14Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Direktur Divisi Good Governance, di kantor Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan pada tanggal 30 September 2013.
15 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Kepala Departemen Sumber Daya Manusia, di Kantor Kementerian Solidaritas Sosial pada tanggal 30 September 2013.
Pada bulan Juli 2011, Wakil Ketua Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan (area good governance) beserta Tim mendatangi instansi Kementerian Solidaritas Sosial dalam rangka melaksanakan pelatihan 10 prinsip good governance kepada 52 orang partisipan (pegawai Solidaritas Sosial dari tingkat pusat dan distrik). Dalam penyampaian materi pelatihan disajikan dalam bentuk diskusi tanya jawab dengan partisipan pejabat struktural di ruang rapat Kementerian Solidaritas Sosial, dan tema diskusinya seputar manajemen/kinerja yang berbasis prinsip-prinsip good governance.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam berperan mensosialisas10 prinsip good governance di setiap institusi publik di Timor sudah cukup efektif . Hal ini terlihat bahwa melalui pelatihan 10 prinsip good governance yang diselenggarakan Ombudsman di Kementerian Solidaritas Sosial, membangun pemahaman para pegawai Kementerian Solidaritas Sosial tentang hubungan antara kinerja pemerintah yang berbasis good governance. Dengan demikian, ditemukan bahwa untuk mencapai pelayanan administrasi yang baik di institusi Kementerian Solidaritas Sosial masyarakat, Kabinet Inspektorat Umum, Kementerian Solidaritas Sosial mengirimkan beberap pegawainya untuk mengikuti on the job trainin di Komisi Anti Korupsi Timor Leste, sebagai institutional kapacity building untuk mendampingi institusi jika adanya permasalahan dengan kepemerintahan yang baik. Selain itu juga Kementerian Solidaritas Sosial tela merencanakan kerja sama dengan Bank Dunia country Timor Leste, untuk menginstal sistem MIS (Management Information System) di Kementerian Solidaritas Sosial, sebagai pendekatan manajemen administrasi yang efekti dalam menfasilitasi pelayanan sosial dalam bidang pemberian beasiswa (Bolsa da mae) dan masalah anak dalam komplik politik.
Pelaksanaan promosi prinsip-prinsip good governance di Timor Leste bersifat maksimal. Dimana rencana aktivitas dan pelaksanaan program pelatihan bersifat kontinuitas (setiap trimester dalam setahun), dengan materi yang dipersiapkan matan (slide show 10 prinsip good governance, Projector/Infocus tools, sound system, dukungan teknis lapangan), beserta pembicara/instruktur handal, sehingga membangun kordinasi pada garis depan (interaksi lansung) dengan jajaran instansi-instansi publik di Timor Leste yang efektif. Dalam proses pengundangan para peserta dalam pelatihan, melalui kebijakan internal seperti penyebaran (pembagian) surat undangan dan materi pelatihan, dan pada proses eksternal seperti media cetak dan eletronik, sehingga peran Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan menjadi solusi bagi peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kemauan baik dari para pejabat publik untuk melaksanakan good governance.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan16, menyatakan bahwa:
Mengenai tugas promosi atau kampanye Ombudsman dalam rangka mengerakan atau mendorong good governance di Timor sejauh nee berjalan dengan baik. Saya sendiri di tahun 2011 merepresentasi Inspektur Umum Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah/MAEOT Bapak/Senhor Edgar, bersama-sama dengan tiga belas bupati se Timor Leste, untuk mengikuti pelatihan 10 prinsip good governance yang diselenggarakan Ombudsman di gedung Komisi Pemilihan umum, Dili, Timor Leste. Para pembawah materi pelatihan 10 prinsip good governance Ombudsman betul-bentul menguasai materi dimana setiap prinsip dijelaskan dengan contoh-contoh yang harus di ikuti, untuk mencegah terjadinya perbuatan mal-administrasi publik. Program Kerja Pelatihan 10 prinsip good governance Ombudsman merupakan hubungan garis koordinasi antara institusi publik di Timor Leste. Sejak tahun 2012, Kabinet Inspeksi Umum MAEOT, meningkatkan kualitas
16Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Bapak Tito Baros Jhon Wakil Sub Inspektur Kabinet Inspeksi Umum, Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah di kantor Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah pada tanggal 30 September 2013.
kerja inspeksinya, yaitu melakukan inspeksi rutin setiap enam bulan sekali terhadap departemen/dinas-dinas baik di pusat (nasional) dan di daerah (lokal) dibawah MAEOT. Untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan internal yang ada, misalnya tentang mentasi masalah etika moral pegawai, proyek PDD dan PDS, tidak terdisiplinnya pegawai masuk kerja dll. Sebagai upaya pencegahan dini terhadap mal-administrasi publik.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di Kantor Ombudsman Hak Asasi Manuisia Dan Keadilan tanggal 30 setember 2012, pukul 09.00 WT, diketahui bahwa Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan memiliki respons atas tugas fungsi, tugas dan kewenangan mereka dalam pencegahan mal-administrasi publik yang baik terhadap promosi/kampanye penegakkan kepemerintahan yang baik di Timor Leste.