BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
1.1.1. Diskripsi Umum Ombudsman
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan merupakan institusi independen hak asasi manusia Timor Leste, didirikan berdasarkan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2004. Institusi ini, berada dibawah tanggungjawab Parlemen Nasional, dan diberi mandat oleh konstitusi dalam rangka perlindungan hak asasi manusia dan mempromosikan penegakkan Pemerintahan Yang Baik (good governance). Ombudsman berkedudukan di ibu kota negara Republik Demokratik Timor Leste, Dili, dengan wilayah kerja meliputi seluruh teritori nasional. Ombudsman dapat mendirikan perwakilan "Ombudsman" di propinsi dan/atau di daerah kota kabupaten.
Profil Institusi Ombudsman Timor Leste, sejak dibentuk 29 Mei 2005 hingga dewasa ini, dengan:
Slogam : Perlindungan Hak Asasi Manusia, dan Mempromosikan Good Governance.
Nama Asli Institusi : Provedoria Dos Direitos Humanos E Justiça.
Ketua Periode I dan II : Sr. Sebastião Dias Ximenes.
Status Institusi : Lembaga Pengawasan Negara Independen.
Landasan Hukum : Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004.
Fungsi Lembaga : Menerima dan Menyelesaian Pengaduan-
Pengaduan Masyarakat Tentang Perbuatan Badan- Badan Publik Yang Tidak Berkeadilan.
Tugas Dan Kewenangan : Investigasi, Monitoring, Mediasi dan Konsiliasi atas Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Mal-administrasi Publik.
Alamat Institusi : Berada di Ibu Kota Negara Republik Demokratik Timor Leste, Jl. CaiKoli, Dili, Timor Leste.
4.1.2. Sejarah Singkat Pembentukan
Setelah disahkannya Konstitusi Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 29 Maret 2002, Pasal 27, Konstitusi mengatur tentang pemberian pembentukan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan. Sebagai implementasinya, Majelis Konstituente Republik Demokratik Timor Leste terpilih yang berjumlah 89 (delapan puluh sembilan) orang, dibawah pimpinan Presiden Majelis Sr. Francisco Guterres “Lu Olo” dari Partai FRETILIN, dua orang Wakil Presiden masing-masing Sr. Francisco Xavier do Amaral dari partai ASDT (Almarhum) dan Sr. Arlindo Marçal, PDC, membentuk Komisi A Parlemen Nasional, yang terdiri 12 orang deputados (anggota parlemen), diserahi tugas untuk pembuatan undang-undang Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan.
Pada tanggal 26 Mei 2004, Parlemen Nasional, menerbitkan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Estatuto Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, dipublikasikannya melalui Lembaran Negara (Jornal da República) Serie I, No.o 19 2004.
Dengan telah diterbitkannya undang-undang tersebut, maka dibawah pimpinan Perdana Menteri Timor Leste pertama, Dr. Mari Bin Amude Alkatiri, mengambil kebijakan penting untuk mendirikan Institusi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan di Timor Leste pada tanggal 29 Mei 2005.
Pada tanggal 16 Juni 2005, Parlemen Nasional Timor Leste, memilih Sr.
Sebastião Dias Ximenes sebagai Ketua Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, berdasarkan calon yang diusulkan oleh FRETILIN, dan meraih pemilihan suara (voting) mutlak di Parlemen Nasional untuk memimpin Institusi
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste, yang dikenal sebagai Provedor.
Pada bulan Juli 2005, Ketua Ombudsman memilih dua orang Wakilnya (Provedor Adjunto), masing-masing Sr. Silverio Pinto Baptista Wakil Ombudsman untuk area Hak Asasi Manusia (HAM) dan Sr. Amandio de Sá Benevides Wakil Ombudsman untuk area Good Governance dan Anti Korupsi.
Anggota Ombudsman (1 Ketua dan 2 Wakil Ketua) dilantik secara resmi oleh Parlemen Nasional pada bulan Juli tahun 2005.
Setelah pelantikan, Ketua dan Wakil Ketua Ombudsman mulai aktif menjalankan fungsi jabatannya, namun pada awalnya hanya terbatas pada pembenahan institusi dan mensosialisasikan peran, fungsi, tugas dan kewenangan Ombudsman kepada publik di teritori nasional Timor Leste.
Pada tanggal 20 Maret 2006, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, baru mulai membuka pintu pertama kalinya ke publik untuk menerima keluhan-keluhan masyarakat tentang perbuatan penyelewengan pejabat negara dan birokrasi pemerintahan beserta lembaga-lembaga publik yang bersangkutan.
Pada bulan Juni tahun 2010, masa kepemimpinan periode pertama Anggota Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan berakhir, namun Parlemen Nasional menunjuk kembali Sr. Sebastião Dias Ximenes, untuk menduduki jabatan ketua Ombudsman pada periode kedua kalinya (2010-2014).
Penunjukan kembalinya Sr. Sebastião Dias Ximenes ini, dengan pertimbangan Parlemen Nasional bahwa masih adanya tunggakan kasus-kasus pada masa
periode pertama kepemimpinannya, sehingga dipilih kembalinya untuk menyelesaikannya.
Pada proses selanjutnya, Ketua Ombudsman memilih kembali Sr.
Silverio Pinto Baptista untuk menduduki posisi Wakil Ombudsman untuk area Hak Asasi Manusia sedangkan Wakil Ombudsman untuk area Good Governance dan Anti Korupsi Sr. Amandio de Sá Benevides, digantikan oleh Sr. Rui Pereira dos Santos, untuk masa jabatan periode 2010-2014. Pada periode tahun 2010, Divisi Anti Korupsi di hilangkan dari Ombudsman, karena negara mendirikan Komisi Anti Korupsi Timor Leste (KAK) tersendiri, terpisah dari Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan.
Dari latar belakang pembentukan di atas, menunjukan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste merupakan Parliementary Ombudsman, karena anggota Ombudsman dipilih dan diangkat serta diberhentikan secara resmi oleh Parlemen, dan setiap tahun, tepatnya tanggal 30 Juni, menyampaikan Laporan Hasil Kerja Tahunannya/Anual Report kepada Parlemen Nasional.
4.1.3. Visi Ombudsman
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste, memiliki visi
“perlindungan hak asasi manusia, memperkuat integritas serta promosi penegakkan kepemerintahan yang baik (good governance)”.
4.1.4. Misi Ombudsman
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, merupakan institusi nasional hak asasi manusia Timor Leste. Didirikan khusus untuk perlindungan
hak asasi manusia dan promosi penegakkan pemerintahan yang baik (good governance). Untuk pencapaian tujuan tersebut, dilakukan melalui:
a. Pendidikan: menciptakan pengertian umum, yaitu membangun budaya politik publik bagi penhormatan hak asasi manusia, negara hukum demokratik serta kepemerintahan yang baik dengan prinsip-prinsipnya.
b. Kerja sama: membantu para pekerja publik dan agen-agen pemerintahan untuk mengembangkan kebijakan, prosedur dan mekanisme kerja yang sesuai dengan lingkup kerjanya Ombudsman.
c. Resolusi: efektif menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia, penyalahgunaan wewenang dan mal-administrasi, melalui efektivitas kerja yang menyangkut pemprosesan terhadap laporan-laporan atau pengaduan- pengaduan masyarakat.
d. Investigasi, Penelitian Dan Monitoring: menyampaikan rekomendasi mengenai bentuk dan tindakan atas perlindungan hak asasi manusia dan penegakkan kepemerintahan yang baik (good governance), berdasarkan pada hasil yang didapatkan dari investigasi, penelitian dan monitoring untuk memperkuat bahwa legislasi (peraturan perundang-undangan) harus disesuaikan dengan ketentuan konstitusi.
4.1.5. Tujuan Dan Sasaran Ombudsman
Dari uraian visi dan misi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan di atas, maka terdapat beberapa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai yaitu:
1. Mewujudkan negara hukum demokratik, adil, dan sejahtera
2. Mendorong penyelenggaraa negara dan pemerintahan yang efektif dan efisien, jujur, terbuka, bersih serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme;
3. Meningkatkan mutu pelayanan administrasi negara di segala bidang agar setiap warga negara memperoleh kemudahan, bagi peningkatan kesejahteraan yang semakin membaik
4. Membantu menciptakan dan meningkatkan upaya untuk pemberantasan dan pencegahan praktik - praktik mal-administrasi, penyalahgunaan wewenang dan diskriminasi publik.
5. Meningkatkan budaya kesadaran hukum publik yang berintikan kebenaran serta keadilan, sebagai penhormatan hak asasi manusia dan demokrasi.
4.1.6. Mandat Hukum Ombudsman
Sesuai dengan Undang - Undang Nomor 7 Tahun 2004, Mandat hukum Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan adalah:
1. Perlindungan Hak Asasi Manusia
2. Promosi Penegakkan Kepemerintahan Yang Baik (good governance) 3. Pemantaun/Monitoring
4.1.7. Struktur Organisasi Dan Uraian Pembagian Tugas Ombudsman.
Struktur organisasi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste, secara institusional di dasarkan pada pengaturan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 dan Peraturan Perundang-Undangan Nomor 25 Tahun 2011, Tentang Organik Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan pada gambar organigram struktur di atas, Organisasi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste, secara institusional terdir dari :
1). Ketua Ombudsman (Provedor)
2). Wakil Ketua Ombudsman (Provedor Adjunto) 3). Direktur Umum (Directur Geral)
4). Divisi Hak Asasi Manusia (Diresão de Direitos Humanos) 5). Divisi Good Governance ( Diresão de Boa Governasão) 6). Divisi Asistensi Umum ( Diresão de Asistençia Publica)
7). Divisi Administrasi Dan Keuangan (Dir. de Administrasão e Finansas) 8). Kabinet Pemeriksaan/Inspeksi (Gabinete de Inspesão)
9). Kabinet Bantuan Hukum (Gabinete de Asistençia Juridica) 4.1.8. Pembagian Dan Uraian Tugas Umum Ombudsman 1. Direktur Umum (Directur Geral)
Misi dari direktur umum adalah memberikan orientasi terhadap seluruh pekerjaan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan. Dan yang menjadi tugas pokoknya adalah sebagai berikut:
a) Menjamin administrasi umum terhadap seluruh pekerjaan internal Ombudsman, mengambil tindakan yang tepat sesuai petunjuk dari program yang ada berdasarkan orientasi dari ketua Ombudsman (Provedor).
b) Memberi, mengatur, mengembangkan dan menkoordinasi secara teknikal mengenai manajemen profisional dan kefungsian efisiensi kerja di area administrasi umum, keuangan dan pengaturan keasetan.
c) Memberikan dukungan bagi Ketua Ombudsman untuk mengembangkan perencanaan strategik institusional.
d) Menkoordinasi terhadap elaborasi proyek anggaran tahunan Ombudsman, dll.
2. Divisi Hak Asasi Manusia (Diresão de Direitos Humanos)
Divisi Hak Asasi Manusia adalah spesiliasasi teknikal kerja Ombudsman di area perlindungan hak asasi manusia di teritori nasional Timor Leste. Divisi Hak Asasi Manusia dipimpin oleh seorang direktur setingkat dengan direktur
nasional, yang bekerja dilingkup hukum. Divisi Hak Asasi Manusia mempunyai tugas:
a) Melakukan investigasi menurut peraturan internal yang diaplikasikan dan juga sesuai pendelegasian kewenangan dari Ombudsman.
b) Mempertahankan dan mengaktualisasi data tentang hak asasi manusia yang didapatkan dari investigasi.
c) Membuat laporan mengenai nvestigasi di area hak asasi manusia.
d) Melakukan kerja sama untuk melaksanakan tindakan mediasi dan konsiliasi di area hak asasi manusia.
e) Mengembangkan dan mengimplementasikan aktifitas monitoring terhadap aksi para pejabat pemerintahan.
f) Menyampaikan rekomendasi untuk memberhentikan berbagai pelanggaran serta mengembangkan mekanisme bagi para pejabat pemerintahan untuk melaksanakan hak asasi manusia.
g) Memajukan pengetahuan umum masyarakat dan layanan publik yang relevan dengan hak asasi manusia.
3. Divisi Good Governance (Diresão de Boa Governasão)
Divisi Good Governance adalah spesiliasasi teknikal kerja Ombudsman di area pencegahan mal-administrasi (pemerintahan yang buruk) dan penegakkan pemerintahan yang baik (good governance) di teritori nasional Timor Leste. Divisi Good Governance dipimpin oleh seorang direktur setingkat dengan direktur nasional, yang bekerja di lingkup hukum.
Divisi Good Governance mempunyai tugas:
a) Melakukan investigasi menurut peraturan internal yang diaplikasikan dan juga sesuai pendelegasian kewenangan dari Ombudsman.
b) Mempertahankan dan mengaktualisasi pengumpulan data mengenai investigasi di area good governance.
c) Membuat laporan mengenai kasus-kasus yang dinvestigasikan di area good governance.
d) Melakukan kerja sama untuk melaksanakan mediasi dan konsiliasi terhadap pengaduan-pengaduan sesuai yang dinyatakan oleh undang- undang.
e) Memperkembangkan dan melaksanakan aktifitas monitoring terhadap aksi para penguasa negara, sesuai estrategik yang telah di teridentifikasi di area espesialisasinya.
f) Membuat penelitian dan menganalisis mengenai pengimplementasi prinsip-prinsip good governance oleh pemerintah.
g) Menyiapkan opini terhadap kesalahan perbuatan badan publik.
h) Menyampaikan rekomendasi untuk memberhentikan dan mempertanggungjawaban terhadap praktik-praktik mal-administrasi, mengembangkan dan memperkuat mekanisme bagi terwujudnya good governance bagi para penguasa negara.
i) Memajukan pengetahuan publik dan pelayanan publik yang sesuai dengan area kerja good governance.
j) Melakukan kerja sama dengan organ atau badan-badan negara/pemerintah dan institusi-institusi non-pemerintahan lainnya dengan tujuan untuk melaksanakan kewenangannya (penegakkan good governance).
4. Divisi Asistensi Publik (Diresão de Asistencia Publica)
Divisi Asistensi Publik adalah spesiliasasi teknikal kerja Ombudsman di area penerimaan dan pelayanan terhadap pengaduan/laporan-laporan masyarakat, juga melaksanakan mediasi dan konsiliasi dengan tujuan untuk dapat menyelesaikan pengaduan/laporan-laporan yang ada. Divisi Asistensi Publik dipimpin oleh seorang direktur setingkat dengan direktur nasional yang bekerja di lingkup hukum. Divisi Asistensi Publik mempunyai tugas sebagai berikut:
a) Menjamin resesi terhadap pengaduan/laporan-laporan masyarakat yang disampaikan kepada Ombudsman menurut undang-undang dan sesuai dengan petunjuk peraturan internal.
b) Menyiapkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pemprosesan pengaduan menurut petunjuk peraturan internal.
c) Melakukan pengawasan lansung terhadap aktivitas kerja delegasi teritori dan menjamin hubungan antara delegasi teritori dengan kerja Ombudsman yang lainnya.
5.Divisi Administrasi Dan Keuangan (Dir. de Administrasão e Finansas) Misi kerja dari Divisi Administrasi Dan Keuangan, yaitu memberikan bantuan teknikal dan administratif bagi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan di area administrasi umum, sumber daya manusia, dokumentasi, pengarsipan, pengaturan aset dan keuangan. Divisi Administrasi dan Keuangan
dipimpin oleh seorang direktur setingkat dengan direktur nasional, yang bekerja di lingkup hukum. Divisi Administrasi Dan Keuangan mempunyai tugas sebagai berikut:
a) Memberikan bantuan logistik dan administratif kepada Ombudsman dan juga pekerjaan Ombudsman serta organisme yang lainnya untuk melaksanakan tugas dan fungsinya.
b) Menkoordinasikan pekerjaan Ombudsman dengan organisme yang relefan, menyusun perencanaan aktivitas kerja tahunan dan laporan mengenai implementasinya.
c) Menkolaborasi dengan entitas yang berkompeten, untuk menyiapkan anggaran tahunan Ombudsman.
d) Melaksanakan anggaran yang dialokasikan kepada Ombudsman, atas otorisasi anggota Ombudsman.
e) Melakukan penyediaan anggaran bagi operasionalisasi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan.
6. Kabinet Pemeriksaan (Gabinete de inspesão)
Misi dari Kabinet Pemeriksaan Ombudsman Hak Asasi Manusia yaitu aksi disipliner, pengontrolan dan pengawasan terhadap pembelanjaan dan pembiayaan terhadap pekerjaan Ombudsman dan organismenya. Kabinet Pemeriksaan/Inspeksi, dipimpin oleh seorang inspektur setingkat dengan jabatan kepala departemen dibawah sebuah Divisi, yang bekerja di lingkup hukum.
Kabinet Pemeriksaan mempunyai tugas sebagai berikut:
a) Mengevaluasi terhadap aktivitas pengaturan administratif, pembelanjaan dan pembiayaan serta pengunaan aset bagi operasionalisasi Ombudsman dan organismenya, membuat rekomendasi bagi Ombudsman untuk mengambil tindakan-tindakan yang tepat bagi perbaikan keterbatasan yag ada, juga untuk kesalahan-kesalahan yang teridentifikasi.
b) Melakukan pemeriksaan, menyelesaikan kasus-kasus (averiguasaun), meminta keterangan (inkeretu) dan mengauditing (auditoria), berdasarkan pada undang-undang yang berlaku, mempersiapkan masukan-masukan yang akan di sampaikan kepada Ombudsman bila diperlukan.
c) Melakukan penginstruksian proses disipliner bagi Ombudsman dan juga para stafnya, menurut petunjuk dari Ketua Ombudsman.
d) Pemberian masukan-masukan yang relevan bagi Ketua Ombudsman untuk mengambil proses disipliner, apabila telah didapatkan kesalahan- kesalahan tertentu.
7. Kabinet Penasehat Hukum (Gabinete de Assesoria Juridica)
Kabinet Penasehat Hukum adalah unit yang memberikan bantuan bagi Ombudsman mengenai perihal atau masalah hukum. Kabinet Penasehat Hukum dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dengan jabatan kepala departemen dibawah sebuah Divisi, yang bekerja di semua lingkup hukum. Kabinet Penasehat Hukum mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Memberikan bantuan hukum bagi Ombudsman untuk mengimplementasi mandat Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan.
b. Memberikan bantuan hukum bagi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan untuk melaksanakan kewenangannya yang berhubungan dengan berbagai mekanisme untuk menjamin konstitusi.
c. Membuat analisis secara teknikal terhadap penelitian dan ferifikasi bagi kompatibilisasi dari berbagai undang-undang, peraturan-peraturan, disposisi administratif, kebijakan dan praktik-praktik yang ada.
d. Memberikan pendapat secara tehnik dan hukum kepada Ombudsman hak Asasi Manusia Dan Keadilan, mengenai permintaan/permohonan penerbitan undang-undang dan peraturan perundang-undangan, apabila organ atau badan-badan publik meminta masukannya.
4.1.9. Keterbatasan Kewenangan Ombudsman
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste tidaklah jauh berbeda dengan Ombudsman di banyak negara. Dimana dibatasi aksi/tindakan kekuasaannya oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, sebagai berikut:
a. Ombudsman tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan apapun terhadap aktifitas fungsional Parlemen Nasional dan Pengadilan, kecuali hanya terbatas pada fungsi aktivitas administratif dan tindakan pengaturan administrasinya.
b. Ombudsman tidak diperbolehkan untuk mengambil keputusan yang menentang hak asasi manusia dan/atau kebebasan hak-hak dasar kemanusiaan.
c. Ombudsman tidak diperbolehkan untuk menginvestigasi pelaksanaan fungsi organ-organ yudisial maupun putusan-putusan pengadilan.
d. Ombudsman tidak diperbolehkan untuk menginvestigasi pelaksanaan fungsi-fungsi legislatif.
e. Ombudsman tidak diperbolehkan untuk menginvestigasi kasus-kasus yang sedang berjalan dimuka umum sebuah pengadilan.
f. Ombudsman tidak diperbolehkan melakukan tindakan baik penanganan maupun penyelesaian atas kasus-kasus yang terjadi sebelum pembentukannya tahun 1975-2003.
g. Ombudsman diperbolehkan membuat rekomendasi dengan pemberian sanksi-sanksi secara hukum menurut tingkat pelanggaran yang diperbuatkan.
h. Dalam hal agensi pemerintahan yang tidak menuruti ataupun mengindahkan rekomendasi-rekomendasi Ombudsman, Ombudsman memiliki kewenangan untuk melaporkannya kepada Presiden, Perdana Menteri, Parlemen Nasional dan Media massa (publik).
4.1.10. Nilai-Nilai Inti/Core Values Ombudsman
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam menjalankan tugas dan kewenangannya berasaskan pada nilai-nilai inti, yaitu:
a). Keadilan
b). Tidak memihak c). Non-diskriminasi d). Efektivitas
e). Pertanggungjawan f). Ketepatan, dan g). Kerahasiaan
4.1.11. Manajemen Penerimaan Pengaduan
Menurut Undang-Undang Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Nomor 7 Tahun 2004, setiap warga negara maupun bukan warga negara Timor Leste berhak menyampaikan laporan pengaduan kepada Ombudsman.
Penyampaian laporan pengaduan kepada Ombudsman tidak dipungut biaya atau imbalan dalam bentuk apa pun (gratis).
Pengaduan setiap warga masyarakt, dilaporkan melalui Divisi Penanganan Pengaduan yang disiapsediakan oleh Ombudsman yang dinamai Asistencia Publica. Prosedur dan mekanisme penerimaan pengaduan oleh Institusi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan diatur melalui dua sistem, yaitu manajemen pengaduan internal dan eksternal, pada:
a. Manajemen Pengaduan Internal
Yaitu, seorang pengadu/pelapor, mendatangi secara lansung ke Instansi Ombudsman, khususnya di Divisi Penanganan Pengaduan Ombudsman, baik secara perorangan maupun kelompok, ataupun didampingi oleh kuasa hukumnya untuk melaporkan permasalahannya kepada Ombudsman.
b. Manajemen Pengaduan Eksternal
Yaitu, seorang pengadu atau pelapor, dapat menyampaikan laporan permasalahannya secara tidak lansung tertuju ke instansi Ombudsman, dengan melalui:
1. Hotline (Telephon, SMS, Email dan Fax ).
2. Kotak Pos dan Giro (Korespondensi dalam bentuk petisi, tanggapan atas media Massa, diseminasi draft undang-undang dll).
3. Tembusan Disposisi pejabat negara dan penyelenggara pemerintahan.
4. Kotak Pengaduan/Kaixa Keixa Ombudsman yang disediakan.
5. Lembaga Pendelegasian Ombudsman di daerah/lokal.
4.1.12. Profil Pegawai Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Keadaan ketenagakerjaan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan ditampilkan sebagaimana pada Tabel 4.1. sebagai berikut ini:
Tabel: 4.1. Profil Ketenagakerjaan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan 2012
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan
Pegawai Aktual
Status JS A
JS B
JF C
JF D
TA E
AS F
As G
Total
Pegawai 20011-2012
P T 0 4 13 23 7 10 3 60
PH 0 0 0 0 0 0 0 0
Pegawai Non Rekrutmen
PT 1 0 8 9 21 0 1 40
PH 0 0 0 0 0 0 0 0
Total Total 1 4 21 32 28 10 4 100
Sumber: Data Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan 2012
Tabel di atas menunjukan bahwa, pada tahun anggaran 2011 Ombudsman telah merekrut tambahan pegawai berjumlah 34 orang, dengan tujuan untuk memperkuat struktur baik tingkat nasional maupun regional. Dengan perekrutan tambahan pegawai ini, maka jumlah total pegawai Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan pada tahun 2012 berjumlah 100 orang, yang terdiri dari latar belakang pendidikan dan tingkat profesional yang berbeda.
Diantara total angka penjumlahan pegawai Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan di atas, pegawai laki-laki (LL) berjumlah 36 orang.
Terdapat 1 orang yang menduduki posisi direktur umum, dengan pangkat/golongan 7 A (Teknik Superior), 3 orang menduduki posisi direktur nasional dengan pangkat/golongan 6 B (Teknik Superior), 14 orang kepala departemen dengan pangkat/golongan 5 C (Teknik Profesional), 5 orang dengan pangkat/golongan 4 D (Teknik profesional investigator, pemantau, instruktur anti mal-administrasi publik), 4 orang pegawai administratif dengan pangkat/golongan
3 E (Teknik Administratif) dan 1 orang asistensi dengan pangkat/golongan 2 F (Asisten) dan 1 orang menduduki posisi pangkat/golongan 2 G (Asisten).
Sedangkan pegawai perempuan (P), berjumlah 23 orang. Ada 2 orang yang menduduki posisi direktur nasional dan regional dengan pangkat/golongan 5 B, 2 orang menduduki kepala departemen dengan pangkat/golongan 4 D dan yang lain menduduki posisi investigator, mediasi dan konsiliasi, advokasi, monitor, istruktur, administrasi dan asisten.
4.1.13. Komposisi Pegawai Berdasarkan Penempatan Pada Divisi Good Gov- ernance, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa jumlah pegawai pada Instansi Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, secara alokatif telah ditempatkan pada beberapa departemen di Divisi Good Governance. Untuk mengetahui dengan jelas keadaan tersebut dapat ditampilkan dalam tabel berikut ini:
Tabel: 4.1. Profil Pegawai Divisi Good Governance
Sumber: Hasil Penelitian 31 September 2012 Divisi
(Departemen)
Direktur/
Kepala Deptartemen
Investigator Monitoring Edukator
Publik Total
LL P LL P LL P
Direktur Good Governance 1 1
Investigasi Mal-administrasi Publik 1 4 2 7
Monitoring Mal-administrasi Publik 1 1 1 3
Pendidikan Umum Anti Mal-adm Publik
1 2 3
Total 4 4 2 1 1 2 14
Dengan memperhatikan data pada tabel 4.2 di atas, profil pegawai di Divisi Good Governance, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan terdiri dari 3 Departemen, yaitu Departemen Investigasi Mal-administrasi Publik.
Departemen ini dikepalai oleh seorang kepala departemen yang disebut sebagai Kepala Departemen Good Governance, memimpin 7 orang investigator, yaitu lima orang laki-laki dan dua orang perempuan untuk melakukan investigasi terhadap kasus-kasus dugaan adanya mal-administrasi publik. Selanjutnya adalah Departemen Pencegahan Dan Monitoring Mal-administrasi Publik. Departemen ini di kepalai oleh seorang Kepala Departemen Pencegahan Dan Monitoring di perbantukan oleh satu orang asisten untuk melakukan monitoring terhadap kasus dan/atau isu-isu tentang mal-administrasi publik. Yang terakhir adalah Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi. Departemen ini di kepalai oleh seorang Kepala Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik, diperbantukan oleh seorang asisten untuk membantu memberikan pelatihan 10 prinsip good governance kepada publik di teritori nasional Timor Leste.
4.1.14. Perkembangan Internal Ombudsman
Sampai dengan akhir tahun 2010, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan telah membuka 4 instansi perwakilan Ombudsman di daerah, khususnya di Kota Distrik/regional Baucau, Oecusse, Maliana dan Manufahi.
Masing-masing instansi perwakilan Ombudsman di distrik/regional dipimpin oleh seorang direktur, dengan diperbantukan oleh satu 1 orang staff penghubung/koordinator yang bertugas melaksanakan monitoring reguler,
pendidikan umum untuk membagi dan/ atau mensosialisasikan tentang peran Ombudsman serta menerima pengaduan laporan dari warga masyarakat. Semenjak tahun 2010 sampai saat ini Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan baru membuka perwakilannya di 4 distrik/regional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004.
4.1.15. Good Governance di Timor Leste
Penerapan good Gevernance di beberapa negara sudah meluas mulai tahun 1990-an, dan di Negara Timor Leste good gevernance mulai dikenal secara lebih mendalam di tahun 2000-an. Karena pada periode ini, good governance sebagai wacana penting baru muncul dalam berbagai pembahasan, diskusi, penelitian, dan seminar, baik di lingkungan pemerintah, dunia usaha swasta, dan masyarakat sipil, termasuk di lingkungan para akademisi dan eksistensi lembaga- lembaga internasional yang ada di Timor Leste seperti: Asia Development Bank, World Bank, International Monetering Found dan United Nations Development Programme.
Dengan mengemukanya good governance di Timor Leste pada tahun 2000-an (masa persiapan restorasi kemerdekaan Timor Leste), maka Negara Timor Leste memulai berbagai inisiatif yang dirancang untuk mempromosikan Good Governance, untuk menjamin suatu penyelenggaraan pemerintahan negara yang transparan, akuntabilitas, partisipatif, demokratis, responsibilitas, berkeadilan dan penhormatan hak asasi manusia yang lebih baik dan efektif ke depannya.
Mengenai penerapan good governance di Timor Leste, dideskripsikan tahap perkembangannya sebagai berikut:
4.1.15.1. Periode I Pemerintahan Transisi Tahun 2000- 2002
Pada periode ini Timor Leste memasuki fase Pemerintahan Transisi dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan misinya UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor). Berawal dari fase pemerintahan transisi ini, mengantarkan Timor Leste mempersiapkan diri menuju pada restorasi kemerdekaannya yang ditetapkan 20 Mei 2002. Merespon pada momentum penting ini, maka pada bulan Januari tahun 2000 sampai Maret 2002, penyusunan naskah Konstitusi Negara Republik Demokratik Timor Leste mulai dilakukan oleh 89 (delapan puluh sembilan) Anggota Majelis Konstituente terpilih tahun 2000, dibawah Ketua Majelis Sr. Francisco Guterres “Lu Olo” dari Partai FRETILIN, dan dua orang Wakil Ketua Majelis masing-masing Sr. Francisco Xavier do Amaral dari partai ASDT (Almarhum) dan Sr. Arlindo Marçal, PDC, beserta 83 Anggota Parlemen (deputados), memunculkan ide dan mensatukan persepsi tentang perlunya penerapan tatanan kepemerintahan yang baik (good governance) di Timor Leste, untuk mengatur pelaksanaan kepemerintahan kedepannya, hasilnya mendapatkan konsensus bersama sehingga mereka membuat pengakuan dan menetapkan kebijakan bagi pemberian pembentukan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam Pasal 27, Konstitusi Republik Demokratik Timor Leste, pada tanggal 29 Maret 2002, yang berbunyi:
(1). Ombudsman merupakan lembaga independen yang berfungsi untuk memeriksa dan mencari penyelesaian atas pengaduan-pengaduan yang disampaikan oleh warga negara mengenai badan umum, memastikan
kesesuaian tindakan dengan hukum, mencegah dan memulai seluruh proses untuk membetulkan ketidakadilan.
(2). Semua warga negara berhak mengajukan pengaduan berkaitan dengan tindakan atau kelalaian badan umum kepada Ombudsman yang akan melakukan penyilidikan, tanpa wewenang untuk menjatuhkan putusan, dan akan mengajukan rekomendasi rekomendasi kepada pihak yang berwenang sesuai dengan keperluan.
Kehadiran Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam Pasal 27, Konstitusi Timor Leste, sebagi institusi yang berperan penting dalam mereformasi visi, misi dan strategik pemerintahan menuju pada pemerintahan yang baik. Atau dengan kata lain bahwa semenjak kehadiran Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam Konstitusi RDTL 29 Maret 2002, penerapan good governance mulai tumbuh dalam kerangka sistem penyelenggaraan pemerintahan negara di Timor Leste, untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam konteks sistem pemerintahan Negara Timor Leste, dan sesuai dengan ketentuan Konstitusi Republik Demokratik Timor Leste, bahwa kewenangan/kekuasaan lembaga-lembaga negara bentukan konstitusi yang diperlukan menerapkan good governance adalah:
1. Lembaga Eksekutif, yang terdiri dari:
a. Presiden Republik Demokratik Timor Leste
a. Pemerintah Negara Republik Demokratik Timor Leste, yang terdiri dari:
Dewan Menteri
Dewan Menteri terdiri atas Perdana Menteri, Wakil-wakil Perdana Menteri, dan para Menteri.
Penyelenggaraan Pemerintahan Umum Negara.
Penyelenggara Pelayanan Administrasi publik pemerintahan negara.
2. Lembaga Legislatif, yang terdiri dari:
Parlemen Nasional Republik Demokratik Timor Leste
3. Lembaga Yudikatif, terdiri dari:
Pengadilan Republik Demokratik Timor Leste
4.1.15.2. Periode II Kabinet Pemerintahan Konstitusional I Tahun 2002- 2006.
Pada masa Kabinet Pemerintahan Konstitusional I (pertama), komitmen negara/pemerintah untuk melaksanakan good governance di Timor Leste memasuki fase serius. Dimana ke-12 Deputadus/Anggota Parlemen dari Komisi A Parlemen Nasional yang membidani Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan menerbitkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Statuto Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, yang dipublikasikan melalui Lembaran Negara Seri No. 9 Tahun 2004. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 inilah yang memunculkan visi dan misi Ombudsman tentang promosi penegakkan tatanan kepemerintahan yang baik (good governance) di Timor Leste sejak tanggal 26 Maret 2004.
Dengan diterbitkannya undang-undang ini di Timor Leste, maka pemerintah (eksekutif), khususnya 15 Dewan Kementerian, 14 Wakil Kementerian dan 10 Menteri Sekretaris Negara, Kabinet Timor Leste pertama, bentukan Perdana Menteri Mari Bin Amude Alkatiri, dituntut untuk berkewajiban menerapkan good governance ke dalam kerangka sistem penyelenggaraan
administrasi publik pemerintahan yang efektif, adil dan demokrasi dalam pemberian layanan terhadap kepentingan publik sehari-harinya.
Adapun Ke-15 Dewan Kementerian, 14 Wakil Kementerian dan 10 Menteri Sekretaris Negara, pada masa Kabinet Pemerintahan Konstitusional Pertama yang dituntut dan diwajibkan melaksanakan kepemerintahan yang baik (good governance) tersebut, adalah sebagai berikut:
Tabel: 4.3. Kementerian Negara Dengan Para Menteri-Menteri
No Jabatan Menteri Nama
1 Luar Negeri dan Kerja Sama Dr. José Manuel Ramos Horta 2 Administrasi Negara dan Penataan Wilayah Dra. Ana PessoaPinto 3 Perencanaan Keuangan Maria Madalena Brites Boavida 4 Pertahanan dan Keamanan Roque Félix de Jesus Rodrigues
5 Menteri Kehakiman Domingos Maria Sarmento, S.H.
6 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Ir. Estanislau Aleixo da Silva 7 Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Armindo Maia, M.Phil.
8 Menteri Kesehatan dr. Rui Maria de Araújo
9 Menteri Dalam Negeri Rogério Tiago Lobato
10 Menteri Pembangunan Abel da Costa Freitas Ximenes 11 Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat Arsénio Paixão Bano
12 Sumber Daya Alam, Mineral, dan Politik Energi Dr. Marí Bin Amude Alkatiri 13 Transportasi dan Komunikasi Ir. Ovídio de Jesus Amaral
14 Menteri Pekerjaan Umum Ira. Odéte Genoveva Vítor da Costa
15 Dewan Menteri Drs. Antoninho Bianco
Sumber: Data Pemerintah Tentang Lembaran Negara Republiki Demokratik Timor Leste 2006
Berdasarkan informasi/data pada tabel 4.3 dijelaskan bahwa pada pemerintah Konstitusional Pertama (Primeiro Governo Constitucional) adalah kabinet Timor-Leste pertama yang dibentuk setelah pengambilalihan kekuasaan dari Perseirikatan Bangsa-Bangsa melalui misinya di Timor Timur UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor) kepada Pemerintahan
Timor-Leste pada tanggal 20 Mei 2002 yang dikenal sebagai Hari Restorasi Kemerdekaan. Kabinet ini dikepalai oleh Dr. Marí Alkatiri sejak Mei 2002 sampai Juni 2006, yang terdiri dari 15 (lima Belas) Institusi Kementerian/Instititusões Ministerial, yang dipimpin oleh kualitas 15 orang menteri negara. Fungsi dan tugas Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan adalah mengalang pemberdayaan masyarakat untuk melakukan pengontrolan/pengawasan terhadap kinerja ke 15 (lima belas) orang menteri negara tersebut untuk mencegah perbuatan mereka dari praktik-praktik mal-administrasi publik dan diskriminasi terhadap masyarakat serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Dan memungkinkan mereka dapat melaksanakan kepemerintahan yang baik.
Rancangan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Statuto Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan sebagai landasan utama terdorongnya promosi penegakkan good governance di lembaga-lembaga negara bentukan konstitusi yaitu eksekutif (Presiden Republik dan dewan kementerian), proses penyelenggaran administratif lembaga legislatif dan yudikatif.
4.1.16. Pelaksanaan Good Governance di Timor Leste
Terdapat banyak rumusan tentang pelaksanaan good governance menurut para ahli diberbagai negara. Namun pengertian secara umum menurut Bank Dunia (1997:98), bahwa pelaksanaan good governance pada suatu negara, selebihnya hanya terlihat pada pelaksanaan pemerintahan negara yang menganut azas atau prinsip-prinsip good governance yaitu pemerintahan yang efektif dan
efisien, terbuka, akuntabel, demokrasi, berkeadilan, berorientasi pada kesepakatan, memiliki visi strategis, tanggungjawab dan kepastian hukum yang jelas.
Hal yang sama juga, dikemukakan UNDP (1997:89), bahwa, penyelenggaraan pemerintahan suatu negara yang good governance, terutama terlihat pada cara kerja negara, yang membuat pemerintahan akuntabel, birokratis, manajemen sektor publik yang efisien, legitimasi politik, kerjasama dengan institusi masyarakat sipil, kebebasan berasosiasi dan berpartisipasi, kebebasan informasi dan ekspresi, sistem yudisial yang adil dan dapat dipercaya.
Sedangkan World Bank, mengungkapkan sejumlah karakteristik good governance yang ada dalam pelaksanaan pemerintahan sebuah negara adalah masyarakat sispil yang kuat dan partisipatoris, terbuka, pembuatan kebijakan yang dapat diprediksi, eksekutif yang bertanggung jawab, birokrasi yang profesional dan aturan hukum yang demokratis.
Selanjutnya UNDP (1997), menegaskan bahwa good governance dilaksanakan oleh pemerintaah pada dasarnya dilandasi oleh 9 pilar utama.
Kesembilan pilar demikian, paling tidak ada sejumlah prinsip yang dianggap sebagai prinsip-prinsip utama yang melandasi penerapan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik. Kesembilan pilar good governance tersebut, yaitu:
(1) Partisipasi/participation, (2) Penegakkan Hukum/rule of law, (3) Transparansi/transparency, (4) Daya tanggap/responsivness, (5) Berorientasi Pada
Kesepakatan/consensus orientation, (6) Keadilan/equity, (7) Efektif dan Efisien/effectiveness and efficiency, (8) Akuntabilitas/accountability, (9) visi strategis/strategic vision.
Kesembilan prinsip atau pilar good governance itu, tidaklah dapat berjalan sendiri-sendiri, ada hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi, masing-masing adalah instrumen yang diperlukan untuk mencapai prinsip yang lainnya, dan kesembilan prinsip ini adalah instrumen yang diperlukan untuk mencapai pelaksanaan pemerintahan yang baik di suatu negara.
Dengan demikian, dalam praktik pelaksanaan good governance di suatu negara, dalam rangka reformasi nasional, komitmen untuk membangun penyelenggaraan kepemerintahan yang baik merupakan ujud konkrit dari pemerintah melaksanakan kesembilan prinsip-prinsip good governance, maka jika ada kemauan baik (good will) dari pemerintah untuk melaksanakan kesembilan prinsip good governance di atas dengan serius dan tepat sesuai pengaturan undang-undang yang berlaku, maka dapat terwujudnya:
a. Penyelenggaran pemerintahan yang baik dan bersih (suatu pemerintahan yang terbuka, akuntabel, demokratis, partisipatif, berkeadilan, check and balance serta menjungjun tinggi hak asasi manusia).
b. Pelaksanaan fungsi administrasi negara yang efektif, tidak memboroskan uang rakyat.
c. Pemerintah dapat menjalankan fungsinya berdasarkan norma dan etika moralitas yang berkeadilan tinggi.
d. Aparatur pemerintah mampu menghormati legitimasi konvensi konstitusional yang mencerminkan kedaulatan rakyat.
e. Pemerintah memiliki daya tanggap terhadap berbagai aspirasi dan tuntutan yang berkembang dalam masyarakat.
f. Pemerintahan dapat menhindari dari krisis moral dan etika profesionalnya.
g. Adanya pelayanan administrasi publik pemerintah yang berorientasi pada masyarakat, muda dijangkau berdasarkan pada azas pemerataan dan berkeadilan dalam setiap tindakan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, berfokus pada kepentingan masyarakat, bersikap profesional
dan tidak memihak (non partisan). (Nisjar 1997, dalam Pandji Santosa, 2009:132)
Berdasarkan beberap pengertian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, melaksanakan good governance adalah mengubah cara kerja negara/state, membuat pemerintah transparansi, akuntablitas dan partispatif, serta membangun stakeholder (pemangku kepentingan) di luar negara/pemerintah untuk ikut berperan dslsm membuat sistem baru negara/pemerintah yang bermanfaat secara umum.
Berkaitan dengan penjelasan konsep di atas, dimana dalam konteks Negara Timor Leste, terutama pelaksanaan 9 (sembilan) prinsip good governance masih jauh dari harapan masyarakat, karena sebagai negara baru maka pemahaman dan pengertian pejabat negra/pemerintah terhadap prinsip-prinsip good governance belum maksimal, sehingga muncul penyimpangan-penyimpangan pemerintahan seperti:
I. Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia telah menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Timor Leste. Perlindungan dan Penegakan hak asasi manusia di Timor Leste sejak tahun 2007 hingga 2009, telah ada 7 instrumen yang memberikan perlindungan dan jaminan hak asasi manusia di Timor Leste, setelah Presiden dan Parlemen Nasional Republik Demokratik Timor Leste meratifikasi 7 instrumen hak asasi manusia. Sejumlah Instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut diantaranya adalah:
a. International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination/CERD
b. Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women
c. International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights/ICESCR d. International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR
e. Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment orPunishment/CAT
f. Convention on the Rights of the Child/CRC
g. Convention on the Rights of Persons with Disabilities/CRPD
h. Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Membersof Their Families
Dengan negara meratifikasi konvensi-konvensi hak asasi manusia demikian, sejak tahun 2004, Parlemen Nasional menyampaikan permintaan kepada lembaga-lembaga negara dan seluruh pejabat publik untuk menhormati hak asasi manusia. Dan Parlemen Nasional juga telah menerbitkan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2004, untuk memastikan pemerintah membuatkan rencana pembangunan setiap 4 tahun sekali bagi pemenuhan hak baik hak-hak sipil dan politik, maupun hak ekonomi sosial dan budaya, yang memastikan perlindungan, penghormatan, pemenuhan dan penegakan hak asasi manusia.
Namun, dalam praktik lembaga-lembaga negara belum sepenuhnya melaksanakan fungsinya untuk penghormatan, pemenuhan dan penegakan Hak Asasi Manusia. Masih adaya masalah dengan penyalahgunaan wewenang, mal- administrasi dan korupsi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (misalnya korupsi di berbagai lembaga peradilan, berdampak pada pemenuhan hak-hak atas peradilan yang adil dan tidak memihak, hak atas tanah dan bangunan dll).
II. Korupsi Pejabat Publik
Sejak masa Kepemerintahan Konstitusional II 2007-2010, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri José Alexandre “Kairala Xanana” Gusmão, penyelenggaraan pemerintahan negara kurang berorientasi sepenuhnya terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance). Oleh karena itu tidak mengherankan bila Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Timor Leste berdasarkan survey Transparansi Internasional, memperoleh indeks pada kisaran angka dari tahun 2004 hingga tahun 2007, menduduki urutan negara ke 123 dengan tingkat korupsi sebesar 2,6 (dua koma enam) dan tahun 2008 sampai tahun 2010 terdaftar dalam urutan negara ke 113 dengan tingkat korupsi di rengking 33.
Berdasarkan dokumen analisa World Bank Country Timor Leste 2012, dinyatakan bahwa, Indeks Presepsi Korupsi Timor Leste disebabkan oleh adanya praktik korupsi dalam urusan layanan pada bidang bisnis, antara lain meliputi ijin- ijin usaha (ijin domisili, ijin usaha, IMB, ijin ekspor, angkut barang, ijin bongkar muatan barang), pajak (restitusi pajak, penghitungan pajak, dispensasi pajak), pengadaan barang dan jasa pemerintah (proses tender, penunjukkan langsung), proses pengeluaran dan pemasukan barang di pelabuhan (bea cukai), pungutan liar oleh polisi dan imigrasi.
Hasil monitoring yang dilakukan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan terhadap kinerja Kementerian Keuangan Timor Leste, ditemukan bahwa unit-unit layanan seperti Pajak, Bea cukai, Layanan Ketenagakerjaan, Ijin
Mendapatkan Usaha dan Keimigrasian menduduki rengking tertinggi dalam perbuatan korupsi di Timor Leste.
Dengan demikian, menyebabkan perilaku kejahatan korupsi, terutama pada pengadaan barang dan jasa secara nasional, tender penunjukan lansung, nepotisme dalam meloloskan pemenang tender, money politic, pungutan ilegal serta perlindungan pengusaha luar oleh aparatur negara atau pemerintahan dll.
Beberapa hal tersebut, merupakan kasus korupsi riil, meluas dan kompleksnya di Timor Leste yang dilaporkan warga masyarakat dan dibutuhkan strategi pemberantasan yang sistemik oleh Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan.
III. Penyalahgunaan Kewenangan
Pasca krisis politik militer dan keamanan di Timor Leste 2006, telah membawa pesan yang jelas seperti apa yang diidentifikasi Bank Dunia sebagai
„crisis of governance‟ atau „bad governance‟ (World Bank 1992). Maka pada masa Pemerintahan Konstitusional II (kedua), memunculkan cara pandang baru terhadap reformasi nasional, yaitu upaya negara terhadap pencegahan pejabat publik melakukan penyalahgunaan wewenang, mal-administrasi, nepotisme dan diskriminasi terhadap masyarakat. Dengan demikian Parlemen Nasional menerbitkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Pemberian Pembentukan Ombudsman Timor Leste, yang bersubstansi tentang anti mal- administrasi (penyalahgunaan wewenang) yang dilakukan oleh pejabat negara dan birokrasi penyelenggara administrasi pemerintahan. Dan juga negara telah
mengeluarkan Peraturan Perundang-Undangan (Decreto Lei) No. 10 Tahun 2009, tentang Procurement/Aprovizionamento/Usaha mendapatkan perbekalan.
Namun, dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan dewasa ini, penyalahgunaan wewenang para aparatur publik tak dapat dihindari, sering kali pejabat negara dan birokrasi penyelenggara administrasi publik pemerintahan mengunakan kewenangannya untuk memberikan tender penunjukan lansung (single source) kepada kroni sesama partai dan sanak keluarganya. Manipulasi terhadap harta dan aset negara, penyuapan, pemberian uang pelicin, pungutan liar, pemberian imbalan atas dasar kolusi dan nepotisme serta penggunaan uang negara untuk kepentingan pribadi, menhindari prosedur dan aturan undang-undang, tindakan indisipliner atau kejahatan lain yang menyangkut proses penerimaan sampai pemberhentian pegawai, tidak memberikan layanan administrasi publik pemerintahan yang berkeadilan, sebagai suatu perbuatan penyalahgunaan wewenang yang marak terjadi di Timor Leste. Kasus-kasus semacaam inilah yang sering dilaporkan warga masyarakat ke Ombudsman yang dunutuhkan tindakan penanganan dan penyelesaian segera.
IV. Mal-administrasi Publik
Mal-administrasi adalah suatu praktif yang menyimpang dari etika administrasi, atau suatu praktif administrasi yang menjauhkan dari pencapaian tujuan administrasi. Terminologi administrasi yang paling relevan untuk memaknai mal-administrasi publik adalah apa yang disebut oleh The Liang Gie dalam Budhi Masthuri (2002: 19) sebagai administrasi publik atau administrasi kenegaraan, yaitu usaha kerja sama dalam hal-hal mengenai kenegaraan pada
umumnya sebagai upaya pemberian pelayanan terhadap segenap kehidupan manusia yang terdapat di dalam suatu negara. Nigro dan Nigro dalam catatan Muhadjir Darwin mengemukakan delapan bentuk penyimpangan yang dapat dikategorikan sebagai mal-administrasi yaitu; ketidakjujuran (dishonesty), perilaku yang buruk (unethical behavour), mengabaikan hukum (disregard of the law), favoritisme dalam menafsirkan hukum, perlakuan yang tidak adil terhadap pegawai, inefisiensi-bruto (gross inefficiency), menutup-nutupi kesalahan, dan gagal menunjukkan inisiatif.
Selanjutnya menurut ketentuan Pasal 1 Huruf (h), Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan yang dimaksud dengan mal-administrasi adalah :
“Suatu tindakan dan kemauan jahat yang telah dilakukan atau penyalahgunaan wewenang, didasari atas pertimbangan tertentu yang tidak sesuai atau membuat kesalahan yang tidak dapat dibaikan, atau diluar hak-haknya, tanpa dasar proses yang adil dan kewajaran yang menhambat keefektifan dan berjalan normalnya Administrasi Publik”
Dengan demikian, mal-administrasi diartikan sebagai penyimpangan, pelanggaran atau mengabaikan kewajiban hukum dan kepatutan masyarakat sehingga tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan asas umum pemerintahan yang baik. Atau dengan kata lain membekukan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipatif dll.
Konsekuensi logis dalam menjalankan fungsi-fungsi layanan administrasi publik, bagi setiap pejabat publik adalah berkewajiban memberikan perlakuan yang sama bagi setiap warga masyarakat. Dengan demikian, tindakan pejabat publik yang tidak sesuai dengan asas asas umum good governance, seperti antara
lain tindakan pengambilan kebijakan publik yang tidak transparan/tidak partisipatif, tidak dapat dipertanggungjawabkan secara publik dan tindakan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan supermasi hukum (rull of law) dapat dikalegorikan menjadi perbuatan mal-administrasi.
Bentuk dan Jenis mal-administrasi publik yang ditemukan di Timor Leste, terkait dengan:
1. Ketepatan waktu dalam proses pemberian pelayanan umum. Mal-administrasi ini terdiri dari tindakan penundaan berlarut, tidak menangani dan melalaikan kewajiban.
2. Keberpihakan sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan dan diskriminasi.
Mal-administrasi ini terdiri dari persekongkolan, kolusi dan nepotisme, bertindak tidak adil, dan nyata-nyata berpihak.
3. Tindakan pelanggaran terhadap hukum dan peraturan perundangan. Mal- administrasi ini terdiri dari pemalsuan, pelanggaran undang-undang, dan perbuatan melawan hukum.
4. Kewenangan/kompetensi atau ketentuan yang berdampak pada kualitas pelayanan umum pejabat publik kepada masyarakat. Mal-administrasi ini terdiri dari tindakan diluar kompetensi, pejabat yang tidak kompeten menjalankan tugas, intervensi yang mempengaruhi proses pemberian pelayanan umum, dan tindakan yang menyimpangi prosudur tetap.
5. Sikap arogansi seorang pejabat publik dalam proses pemberian pelayanan umum kepada masyarakat. Mal-administrasi ini terdiri dari tindakan sewenang- wenang, penyalahgunaan wewenang, dan tindakan yang tidak layak/tidak patut.
6. Tindakan korupsi secara aktif. Mal-administrasi ini terdiri dari tindakan pemerasan atau permintaan imbalan uang (korupsi), tindakan penguasaan barang orang lain tanpa hak, dan penggelapan barang bukti.
4.1.17. Pelaku Mal-administrasi Publik
Mal-administrasi adalah suatu tindakan atau perilaku administrator penyelenggara administrasi negara (pejabat publik) dalam proses pemberian layanan administrasi publik yang menyimpang dan bertentangan dengan kaidah atau norma hukum yang berlaku atau melakukan penyalahgunaan wewenang dan kesalahan administratif (maladministration) yang atas tindakan tersebut menimbulkan kerugian baik material maupun immaterial dan ketidakadilan bagi masyarakat. Mal-administrasi secara lebih umum diartikan sebagai praktik- praktik pejabat negara dan birokrasi pemerintahan serta institusi-institusi publik yang menyimpang atau melanggar etika administrasi dimana tidak tercapainya tujuan administrasi, sehingga menimbulkan pemerintahan yang buruk seperti tersebutkan dalam bentuk dan jenis mal-administrasi di atas.
Pelaku mal-administrasi publik adalah Pejabat Pemerintah (Pusat maupun Daerah). Semenjak awal bulan Januari sampai 31 September 2012, ditemukan dalam informasi/data Departemen Investigasi Mal-administrasi publik,
Divisi Good Governance, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, ditemukan pengaduan laporan masyarakat mengenai pelaku mal-administrasi tersorot/terbanyak di Timor Leste adalah Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah sebanyak 14 Kasus, disusul dengan pelaku mal-administrasi tingkat/renking ke-dua adalah Kementerian Solidaritas Sosial Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), tersorot/terbanyak 12 kasus mal-administrasi.
4.1.18. Peran Ombudsman Dalam penanganan Mal-administrasi Publik.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan memandang pejabat publik maupun institusi-institusi publik, tidak hanya dari aspek hukum, etika, moral dan profesionalisme, melainkan segala bentuk perbuatan dan perilaku yang bersifat koruptif (penyalahgunaan wewenang dan mal-administrasi).
Dalam perkembangan proses penegakkan kepemerintahan yang baik di Timor Leste, semenjak tahun 2006 hingga dewasa ini (2012), Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan telah dilandasi dengan UU No 7 Tahun 2004, untuk menghadapi pelaku tindakan perbuatan penyalahgunaan kewenangan dan kesalahan administratif (maladministration) oleh pejabat negara dan birokrasi pemerintahan dan/atau membantu pejabat negara dan birokrasi pemerintahan melaksanakan penyelenggaraan kepemerintahan negara yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, berkeadilan dan penhormatan hak asasi manusia.
Sebagai upaya Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam menhadapi pelaku perbuatan mal-administrasi pejabat negara dan birokrasi pemerintahan di Timor Leste. Semenjak berdiri tahun 2005-2012, berperan melalui tiga spesialisai teknikal departemennya, yaitu, Departemen Investigasi
Mal-administrasi Publik, Departemen Monitoring Mal-administrasi Publik serta Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik, dengan persiapan penyusunan program/perencanaan kerja/road map trimestral yang strategik, akurat dan tepat sasaran sesuai mekanisme dan prosedur kerja Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, untuk memberantas dan mencegah kasus-kasus dugaan adanya mal- administrasi publik di berbagai institusi publik di Timor Leste.
Adapun penyusunan program road map trimester II (dua) bulan Juli- September 2012, Divisi Good Governance, yang dilakukan untuk tindakan pemberantasan dan pencegahan praktik-praktik dugaan adanya mal-administrasi pejabat publik) di Timor Leste, ditunjukan dalam tabel berikut ini:
Tabel: 4.4. Road Map Perencanaan Aktivistas Kerja Divisi Good Governance Juli- September 2012
Sumber: Hasil Penelitian 31 September 2013
Pada tabel 4.4 di atas, diketahui bahwa pada trimester III antara bulan Juli-September 2012, Direktur Nasional Good Governance, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan menyelenggarakan rapat bersama dengan para Kepala Departemen beserta staf untuk menyusun/membuat road map perencanaan aktivitas kerja investigasi, pencegahan dan monitoring serta pendidikan umum
Hari Tggl Bulan &
Tahun
Aktivitas Departemen Evaluasi Hasil Kerja
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Jumat 7
September 2012
Rapat Divisi Good Governace Trimeste III, Ombudsman HAM Dan Keadilan RDTL
Investigasi Mal-administrasi (Penyidik/Investigator)
12 kasus diselesaikan
14 Pencegahan Dan Monitoring Mal-
administrasi (Monitor)
2 kasus dimonitoring
21 Pendidikan Anti Mal-administrasi
(Instruktor/edukator)
Tahap Persiapan
28 Kegiatan Baru Bulan Oktober Membuat Road Map
Setiap Departemen
anti mal-administrasi publik sebanyak empat kali, untuk membahas dan menetapkan investigasi terhadap 12 kasus mal-administrasi publik, dua kasus mal- administrasi yang akan dimonitoring dan tahap persiapan Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi dalam melakasanakan program pelatihan 10 prinsip good governance terhadap 4 instansi publik di Timor Leste.
Selanjutnya, Road Map Perencanaan Aktivitas Kerja Departemen Investigasi Mal-administrasi Publik, pada trimester III Juli hingga September 2012, sebagai berikut:
Tabel: 4.5. Road Map Perencanaan Aktivitas Kerja Departemen Investigasi Mal-addministrasi Publik Juli- September 2012
Sumber: Hasil Penelitian 31 September 2013
Pada tabel 4.5 di atas menunjukan ada kerja tim investigasi yang terdiri dari dua orang investigator yang akan melaksanakan investigasi menyangkut kasus mal-administrasi dan korupsi di Kementerian Solidaritas Sosial pada bulan Juli hingga September 2013, disusul kerja tim 3 investigator yang akan
Trimester III 2012
Investigatorr Road Map
Tipe Kasus Nama Institusi Implement
asi
(1) (2) (3) (4) (5) (5)
Juli - Agustus - September
Pertama 2 Mal+Koru
psi
Kementerian Solidaritas Sosial RDTL Juli-Sept Kedua 3 Mal-adm Kementerian Administrasi Negara Dan
Penetapan Wilayah RDTL
Juli-Sept
Ketiga 3 PW Kementerian Pendidikan Juli-Sept
Keempat 2 Mal-adm Komisi Kepegawaian Negara Juli-Sep
Kelima 1 Mal-adm Kepolisian Nasional Ags-Sept
Keenam 1 PW Kementerian Pertanian dan Perikanan Juli-Ags
6 12 Mal+PW
melaksanakan investigasi 5 kasus mal-administrasi di Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah Republik Demokratik Timor Leste, dll.
Selanjutnya, Road Map Perencanaan Aktivitas Kerja Departemen Pencegahan Dan Monitoring Mal-administrasi Publik, yang direncanakan bersama untuk dilaksanakan pada trimester III Juli hingga September 2012, sebagai berikut:
Tabel: 4.6. Road Map Perencanaan Aktivistas Kerja Departemen Pencegahan Dan Monitoring Mal-administrasi Publik Juli- Setembru 2012
Sumber: Hasil Penelitian 31 September 2013
Pada tabel 4.6 di atas menunjukan ada kerja tim dua orang Monitor/pemantau yang akan melaksanakan kegiatan monitoring, dengan road map sebagai berikut, yaitu pada bulan Agustu 2012, kedua tim tersebut akan melakukan monitoring terhadap implementasi Perencanaan Pembangunan Distrik dan Sukus/Desa (PDD dan PDS) di Pemerintahan Administratif Distrik Dili, Pemerintahan Administratif Sub Distrik Jumalai, Pemerintahan Administratif Sub Distrik Pasabe dan Pemerintahan Administratif Sub Distrik Iliomar. Dan pada bulan september 2012, akan melaksanakan tentang kegiatan internal administratif
Trimester III 2012
Monitor Aktivitas Nama Instansi Implementasi
(1) (2) (5)
Juli - Agustus - September
2 Staff
Monitoring Mal- administrasi
Pemerintahan Administratif Distrik Dili Agustus Pemerintahan Administratif Sub Distrik
Jumalai
Agustus Pemerintahan Administratif Sub Distrik
Pasabe
Agustus Pemerintahan Administratif Sub Distrik
Iliomar
Agustus Pemerintahan Administratif Sub Distrik
Liquiça
September Pemerintahan Administratif Sub Distrik Aileu September
6 12 Septembe
dan pelaksanaan pembangunan fisik PDD dan PDS di Pemerintahan Administratif Sub Distrik Liquiça dan Distrik Aileu.
Selanjutnya, Road Map Perencanaan Aktivitas Kerja Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik, pada trimester III Juli hingga September 2012, yang direncanakan adalah sebagai berikut:
Tabel: 4.7. Road Map Perencanaan Aktivistas Kerja Departemen Pendidikan Umum Anti Mal-administrasi Publik Juli- Setembru 2012
Sumber: Hasil Penelitian 31 September 2013
Pada tabel 4.7 menunjukan ada kerja tim dua orang Monitor/pemantau diperbantuan tim tehnis yang lainnya, yang akan melaksanakan kegiatan pelatihan 10 prinsip good governance pada instansi publik di Timor Leste, dengan road map sebagai berikut, yaitu pada bulan Juli 2012, kerja tim akan menyelenggarakan 10 prinsip good governance pada Kementerian Kesehatan dan Kepolisian Nasional Timor Leste, bulan Agustus dengan Kementerian Administrasi Negara Dan Pengesahan Wilayah, Kementerian Solidaritas Sosial
Hari
Tggl Bulan &
Tahun
Aktivitas Tema Pelatihan Materi Pelatihan Instansi Pemerintah Yang Diberi Pelatihan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kamis 15 Juli-
Agustus
September
2012
Pemberian Pelatihan 10 Prinsip Good Governance
Bekerja Dengan Disiplin Dan Beranggungjawab Di Administrasi Publik, Sebagai Jalan Untuk Mempromosi Good Goernance
1.Kategori Pelanggaran Good Governance
2.Penyalahgunaan Wewenang
3. Mal-administrasi Pemerintahan
4. Landasan Yurisdiksi Ombudsman
Kementerian Kesehatan Kepolisian Nasional Timor Leste
Kejaksaan Agung Kementerian Administrasi Negara Dan P. Wilayah Kementerian Solidaritas Sosial
Kementerian Keadilan Kementerian Pertahanan Unit Kepolisian Militer
Road Map Road Map Road Map Road Map