IV. Mal-administrasi Publik
1. Keterbukaan Informasi
4.2.1.9. Wawasan ke Depan (Visionery)
4.2.1.9.Wawasan ke Depan (Visionery)
Dalam penerapan good governance perlu memiliki visi strategis. Tanpa adanya visi strategis maka sebuah organisasi besar bangsa dan negara akan mengalami kemunduruan dan ketertinggalan.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan memiliki visi dan misi yang jelas tentang “promosi penegakkan kepemerintahan yang baik”.
Pelaksanaan atas visi dan misi demikian, Ombudsman memaksimalkan perannya yang efektif melalui investigasi mal-administrasi publik, bagi terdorongnya good governance tersebut.
Mengenai startegi ini, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan berperan aktif dalam melakukan investigasi kasus-kasus dugaan adanya mal-administrasi publik yang ada di Timor Lestre, sebagai upaya yang dilakukan bagi pecapaian sasaran visi dan misinya “Promosi penegakkan Kepemerintahan Yang Baik” di Negara Republik Timor Leste.
Adapun rincian kegiatan investigasi mal-administrasi publik yang dilaksanakan Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dengan berdasarkan 9 (sembilan) prinsip good governance (kepemrintahan yang baik) pada Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste sejak bulan Januari sampai September tahun 2012, dapat ditunjukan dalam tabel 4.8. seperti dibawah ini:
Tabel: 4.9. Kegiatan Investigasi Mal-administrasi Publik
No Kegiatan Tanggal Pelaksanaan Instansi Terlapor Total
1 Dan Penetapan Wilayah RDTL 3
2
Investigasi kasus ketidakadilan 11-18 Maret 2012 Kementerian Keadilan 2
4
Investigasi kasus bertindak sewenang-wenang
03-07 Mei 2012 Kementerian Solidaritas Sosial 2
5
6 Investigasi kasus ketidak adilan
17-21 Juni 2012 Kementerian Solidaritas Sosial RDTL
2 8 Investigasi kasus penundaan
berlarut
01-05 Juli 2012 Kementerian Pendidikan RDTL 2 9 Investigasi kasus tidak
09-13 September 2012 Kementerian Solidaritas Sosial RDTL
3 Jumlah total kasus: 29
Sumber: Data Hasil Penelitian September 2012
Pada tabel 4.9 terlihat bahwa sebanyak 110 laporan tertulis yang masuk sampai akhir September 2012, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan telah berhasil menginvestigasinya sebanyak 29 kasus dari 41 kasus yang ada.
Sehingga prosentasi tindaklanjutnya investigasi mal-administrasi publik terhadap instansi publik Terlapornya masyarakat sebesar 1,41 %. Dengan kategori substansi kasus mal-administrasi publik sebagai berikut:
Dua (2) kasus perbuatan tidak menangani di Kementerian Administrasi Negara dan Penetapan Wilayah Republik Demokratik Timor Leste.
Tiga (3) kasus perbuatan penyimpangan prosedur dan korupsi, di
Kementerian Administrasi Negara dan Penetapan Wilayah dengan Kementerian Solidaritas Sosial Republik Demokratik Timor Leste.
Tiga (3) kasus pemalsuan dan permintaan uang imbalan jasa/korupsi di
Kementerian Solidaritas Sosial Republik Demokratik Timor Leste.
Lima (5) kasus penundaan berlarut-larut di Kementerian Kementerian
Pendidikan Republik Demokratik Timor Leste.
Lima (5) kasus perbuatan penyalahgunaan kewenangan di Kementerian
Solidaritas Sosial Timor Leste.
Tujuh (7) kasus perbuatan ketidakadilan di Kementerian Keadilan
dengan Kementerian Solidaritas Sosial Republik Demokratik Timor Leste.
Sisanya sebanyak 11 kasus yang merupakan perbuatan maladministrasi lainnya misalnya nyata-nyata berpihak, nepotisme, penggelapan, penguasaan tanpa hak dan lainnya.
Berdasarkan pada hasil penindaklanjutnya 29 kasus di atas dalam jangka 9 (sembilan) bulan Januari-September 2012 hingga tahun 2013, menunjukan bahwa peran tugas dan kewenangan investigasi mal-administrasi publik yang diamanatkan dalam pasal 23 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan sudah dilaksanakan dengan baik dan efektif.
Sebagai komitmen yang tinggi untuk mencapai sasaran akan visi dan misinya, yaitu mewujudkan promosi penegakkan kepemerintahan yang baik (good governance) di Timor Leste.
Hal ini diungkapkan melalui hasil wawancara dengan informan1 yang menyatakan bahwa:
Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan aktif melaksanakan Investigasi terhadap kasus-kasus mal-administrasi publik. Karena investigasi merupakan tugas/pekerjaan rutin salah satu departemen kami yaitu Departemen Investigasi Mal-administrasi Publik. Pada departemen ini terdapat 6 (enam) orang investigator, yang dibekali pengetahuan, pemahaman dan pendalaman investigasi yang strategik untuk memeriksa dan mengali informasi/data mendalam mengenai suatu kasus yang ditangganinya. Sehingga ke enam orang investigator tersebut mengupayakan semaksimal mungkin untuk bisa menyelesaikan laporan pengaduan masyarakat dengan cepat dan tepat waktu.
Hasil informasi di atas sangat jelas bahwa apa yang dilakukan setiap kerja trimesternya Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan adalah mereka melaksanakan peran tugas utamanya yaitu menginvestigasi kasus-kasus mal-administrasi publik sebagai suatu tindakan pencegahan untuk memungkinkan pemerintah dapat melaksanakan pemerintahan yang baik pada setiap layanan publik terhaadap masyarakat.
Begitu pula dengan informan2 lain menjelaskan bahwa:
Sekalipun jumlah laporan masyarakat secara kuantitas tahun kerja 2012 ini menurun (110), namum investigasi terhadap kasus-kasus dugaan adanya mal-administrasi publik tetap mengalami peningkatan. Sejak tahun 2011 sampai 2012 ini para investigator di Divisi Good Governance sudah melaksanakan tugas/pekerjaan dalam menginvestigasi dan/atau menangani laporan-laporan pengaduan (kasus) oleh Warga masyarakat dengan baik, yaitu membuat Laporan hasil Investigasi Akhir, membuat rekomendasi berkaitan dengan laporan masyarakat dan juga bagi kepentingan umum, mengumunkan hasil temuan dan
1 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Direktur Good Governance di Kantor Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste pada tanggal 9 September 2013.
2 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Kepala Departemen Investigasi Mal-administrasi Publik di Kantor Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste pada tanggal 10 September 2013.
kesimpulan kepada publik dan juga mewakili masyarakat (Pelapor) untuk bertemu lansung dengan Terlapor.
Dari hasil wawancara dengan kedua informan sebagaimana di kemukakan di atas dan juga hasil observasi Peneliti, maka Peneliti menginterpretasikan bahwa Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan benar-benar melaksanakan tugas dan kewenangannya sebagai investigasi mal-administrasi publik sudah berjalan dengan baik dan efekti untuk mendorong terwujudnya good governance di Timor Leste. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut:
1. Menurunnya laporan-laporan pengaduan masyarakat kepada Ombudsman di tahun 2012, karena para pejabat publik sudah semakin takut untuk berbuat kesalahan-kesalahan administratif, karena adanya pengawasan masyarakat dan juga berperan aktifnya para Invistigator Departemen Investigasi Mal-administrasi Publik, Divisi Good Goveernance, untuk menindaklanjuti laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindakan mal-administrasi. Terutama, meminta keterangan, memeriksa putusan, meminta klarifikasi, membuat Laporan hasil Investigasi Akhir, membuat rekomendasi berkaitan dengan laporan masyarakat dan juga bagi kepentingan umum, mengumumkan hasil temuan dan kesimpulan kepada publik dan juga mewakili masyarakat (pelapor) untuk bertemu lansung dengan Terlapor.
2. Penurunan perbuatan korupsi para pejabat publik di Timor Leste pada tahun 2012, yang dipublikasikan oleh Lemabaga Transparansi Internasional dimana Indeks Perbuatan Korupsi (IPK) Timor Leste berada pada level rendah yaitu, 2,3 (dua koma tiga) dari urutan negara 123 di dunia.
3. Para pejabat publik semakin sadar untuk tidak mengunakannya lagi aset negara (mobil atau sepeda motor kantor/dinas) untuk melakukan kampanye Pemilihan Umum legislatif pada periode bulan Mei tahun 2012.
4. Pemerintah memberikan gaji/esentif tambahan kepada para Medis dan Perawat yang bertugas di Rumah Sakit di seluruh Timor Leste serta para Pengajar (guru) di sekolah-sekolah terpencil di Timor Leste.
5. Unit-unit Inspeksi Umum di setiap instansi publik di Timor Leste mulai mengambil kebijakan tindakan pemeriksaan rutin setiap trimester terhadap kinerja setiap divisi dan departemen yang bertindak sebagai layanan publik, dll.
Pelaksanaan investigasi mal-administrasi publik Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dilakukan oleh ke 6 (enam) Investigator yang ada di Departemen Investigasi Umum Mal-administrasi Publik, Divisi Good Governance, sudah berjalan dengan baik, aktif, cepat dan tepat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan3 salah seorang investigator senior mal-administrasi publik di Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan menyatakan bahwa:
Saya sebagai seorang investigator, sudah mengetahui tentang tugas dan kewajiban saya yang perlu dilakukan di tempat kerja.Yang saya lakukan adalah mengatur jadwal kerja rutin investigasi terhadap laporan-laporan pengaduan masyarakat yang disampaikan ke Ombudsman, membuat transkrip hasil investigasi, menganalisa permasalahan, menentukan pelaku mal-administrasi, membuatkan laporan tentang hasil temuaan investiga, mengambil kesimpulan kemudian merekomendasikan kepada instansi Terlapornyaa masyarakat. Seperti pada tahun 2012 ini saya mengeluarkan
3 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Investigator Mal-administrasi Publik di Kantor Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan Timor Leste pada tanggal 11 September 2013.
10 rekomendasi kepada Kementerian Keuangan, Komisi Kepegawaian Negara, Kementerian Solidaritas Sosial dan Kementerian Pendidikan.
Dari keterangan informan di atas, Peneliti menginterpretasikan bahwa Anggota Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan beserta jajarannya Direktur Divisi Good Governance dan Kepala Departemen Investigasi menyatukan persepsi atau pemahaman yang sama antara pelaksana investigasi mal-administrasi publik (6 Investigator) baik di front office maupun back office menjalankan tugas investigasi mal-administrasi publik yang objektif dan akurat sesuai 14 (empat belas) Program Investigasi Strategik Ombudsman yaitu:
1. Membuat studi analisis avaliasi preliminar terhadap substansi kasus mal-administrasi yang sudah tercantun pada panduan Investigasi Mal-administrasi Ombudsman tahun 2010.
2. Mengidentifikasi serta menentukan pelaku/responden yang dilaporkan dengan jelas untuk diperiksa/diinvestigasi secara mendalan.
3. Menyusun perencanaan program kerja/invesstigasi yang tepat sesuai waktu yang ditentukan (45 hari).
4. Menyampaikan surat pemangilan terhadap Terlapor dari instansi yang bersangkutan.
5. Memeriksa, meminta keterangan dan menyerahkan dokumen-dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan suatu kasus.
6. Meminta klarifikasi ulang dengan pelapor untuk tambahan informasi yang lebih akurat untuk memudahkan penuntutan.
7. Menganalisa data hasil temuan (fact finding) akurat.
8. Mengungkan hasil temuan tentang tingkat pelanggaran yang diperbuatkan oleh Terlapor
9. Membuatkan rekomendasi dari laporan hasil temuan investigasi berdasarkan undang-undang yang ada.
10. Mempersiapkan press relise terhadap hasil temuan investigasi kepada publik melalui media masa.
11. Mengirimkan hasil temuan investigasi, hasil kesimpulan dan rekomendasi kepada instansi Terlapor
12. Menindaklanjuti hasil klarifikasi atau tanggapan dari instansi Terlapor dalam jangka 60 hari.
13. Jika dalam jangka waktu 60 hari instansi Terlapor belum juga memberikan klarifikasi atau tanggapan, Ombudsman menindaklanjutnya dengan melakukan upaya pendekatan persuatif dengan mengontak melalui jaringan telepon lansung maupun menyampaikan disposi legal untuk meminta klarifikasinya.
14. Menyampaikan hasil investigasi kepada pelapor dan publik mengenai sikap, perilaku dan perbuatan mal-administrasi di suatu instansi pemerintahan.
Bukti konkrit menunjukan bahwa, dengan Ombudsman Hak Asaasi Manusia Dan Keadilan menyampaian hasil temuan-temuan investigasi mal-administrasi publiknya melalui press realise kepada publik dengan menyebutkan nama institusi yang bersangkutan. Berdampak pada pejabat dari institusi yang dipublikasikan menjadi minder (malu) terhadap publik. Solusinya mereka bangkit
untuk membenahi kekurangan atau kesalahan yang ada kedepannya atau melakukan reparasi dan kuratif. Misalnya, dari Kementerian Perdagangan Timor Leste sejak bulan April 2012, para pegawai dari institusi bersangkutan turun ke lapangan untuk melakukan pengontrolan terhadap para pedagan beras di pasar-pasar umum apabila ditemukan pedagan yang bandel menaikan harga jual kembali kepada para konsumen dengan harga USD$ 22.00 (dua puluh dua Dollar Americana) per sak, maka diberi teguran dan sanksi untuk tidak mendapatkan kembali kuota subsidi beras merek MTCI dari pemerintah berikutnya. Hal ini dilakukan kementerian tersebut untuk mencegah teriakan dan kritikan dari warga masyarakat yang berpendapatan rendah yang tidak mampu membeli harga beras subsidi dengan harga yang membumbung tinggi, sekaligus mencegah warga masyarakat berterus-terusan mendatangi Kantor Ombudsman untuk melaporkan tentang kenaikan harga beras subsidi pemerintah merek MTCI 25 kilogram yang ilegal.
Peran tugas dan kewenanagan investigasi mal-administrasi publik yang dilakukan Ombudsman Hak Asasi Manusia sejak tahun 2010 hingga 2012, telah memberikan dorongan yang signifikan terhadap institusi publik pemerintahan di Timor Leste dapat melaksanakan pemerintahan yang baik. Untuk pemberian penilaian terhadap keberhasilan peran Ombudsman dalam mendorong institusi publik di Timor dalam melaksanakan tatanan kepemerintahan yang baik (good governance, berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Komisi A,
Parlemen Nasional Timor Leste, Nyonya Carmelita Caetano Moniz 4, yang membidani Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan, sebagai berikut:
Para anggota Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan (ketua dan wakil ketua) yang terpilih dan para penyidik/investigator mal-administrasi Publik, sudah memahami betul tentang peran menginvestigasi mal-administrasi publik. Mereka telah berupaya maksimal dalam mereformasi pemerintahan dari kinerja layanan administrasi publik yang buruk, dapat menuju yang baik dan efektif. Salah satu indikasi yang dapat terlihat adalah selama ini mereka aktif bertugas dalam menginvstigasi mal-administrasi publik, buktinya Laporan Hasil Kerja Tahun 2011 mereka ada di Parlemen Nasional. Setelah di baca ada sekitar 20 kasus mal-administrasi lebih yang mampu diselesaikan Ombudsman ini menunjukan keberhasilannya. Dengan demikian, dapat saya menilai bahwa good governance telah berjalan. Kenyataannya sejak tahun 2012 sampai sekaran 2013 jaran ada warga masyarakat yang mendatangi Parlemen Nasional untuk menyampaikan keluhan-keluhan atu laporan-laporan tentang mal-administrasi publik. Ini berarti Ombudsman telah bekerja maksimal untuk mengatasi pemerintahan buruk tersebut.
Informasi dari informan di atas, itu sebagai suatu pembuktian bahwa Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan telah berperan dengan baik dan aktif dalam menginvestigasi mal-administrasi publik, sebagai upaya untuk mendorong penegakkan good governence di Timor Leste. Kenyataannya dapat dilihat sejak dari tahun 2011 hingga 2013 tak ada lagi warga masyarakat yang mendatangi Kantor Parlemen Nasional untuk menyampaikan keluhan tentang tindakan pemerintahan yang buruk (mal-administrasi publik). Hal ini menunjukan pemerintahan semakin memahami arti pentingnya good governance beserta prinsip-prinsipnya, sehingga mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan administratifnya, terutama dengan meningkatkan pengontrolan terhadap prosedur layanan administrasi kepada kepentingan publik dengan menerapkan
4 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Anggota Komisi A Parlemen Nasional yang membidani Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan di Komisi A Parlemen Nasionaal TL’s pada tangga l9 September 2013.
prinsip transparansi, akuntabilitas dan berkeadilan yang tepat sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Selanjutnya, hasil wawancara Peneliti dengan informan5 Wakil Komandan Kepolisian Nasional Timor Leste, Bapak Afonso de Jesus, diperoleh informasi bahwa:
Good governance berjalan di Timor. Ini berkat di bangsa kita ada perhatian yang terbesar dari negara (Parlemen Nasional) di tahun 2006 berinisiatif mendirikan institusi negara yang bernama Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan. Dengan kehadiran lembaga tersebut, para pempin/governantes serta birokrasinya bekerja tidak transparan, tidak akuntabilitas, partisipatif dan melakukan praktik-praktik mal-administrasi publik Ombudsmanlah/Provedoria yang memberi petunjuk bagaiman prinsip-prinsip good governance harus diterapkan dan dilaksanakan. Saya melihat dan menilai bahwa penyelenggaraan kepemerintahan di Timor Leste berjalan transparan transpara walapun tidak 100 % akan tetapi good governance berjalan ini karena hasil pengawasan Ombudsman yang aktif.
Harus diakui bahwa, institusi Kepolisian Nasional, juga mendapatkan rekomendasi dari Ombudsman, mengenai tindakan Polisi Nasional dalam pemberian layanan terhadap para tahanan yang berada di sel-sel tahanan sementara/prefentif di setiap instansi Polisi Nasional baik di pusat maupun di daerah, yang dinilai Ombudsman ada kesalahan dalam hal pemberian penanganan yang tidak terstandar sesuai dengan porsi hak asasi manusia, yaitu dari segi pemberian makanan dan minuman dan memperoleh kesehatan yang layak. Ada sekitar 2 rekomendasi Ombudsman sampai ke tanggan institusi Kepolisian Nasional Timor Leste (PNTL) pada tahun 2011 yang lalu. Kami selaku superior/atasan Kepolisian Nasional mengadakan rapat dan mencarian solusi bagi perbaikan sistem kerja yang tidak transparan harus ditransparansikan, yaitu melakukan tindakan perbaikan terhadap sistem penanganan hukum terhadap masyarakat, yang disesuaikan dengan standar hak asasi manusia dan juga perbaikan kekurangan-kekurangan dalam layanan administrasi kepolisian yang ada. Alasan Kepolisian Nasional Timor Leste, menanggapi baiknya rekomendasi Ombudsman ini, karena apabila suatu institusi direkomendasi Ombudsman berarti institusi tersebut bekerja kurang transparan, akuntabel dan partisipatif. Dengan demikian, Kepolisian Nasional termasuk salah satu institusi penegak hukum di Timor Leste, telah melakukan perbaikan secara institusional sejak
5 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Wakil Komandan Kepolisian Nasional Timor Leste di Markas Besar Kepolisian Nasionaal TL’s pada tanggal 20 September 2013.
diterimanya rekomendasi-rekomendasi Ombudsman tahun 2011. Hal ini dilakukan Kepolisan Nasional karena menginginkan kinerja Kepolisian Nasional transparensi, dengan satu tekad dan harapan yang kuat bagi terwujudnya good governance di Timor Leste.
Penjelasan informan di atas, di perkuat pula ole informan6 yang lainnya yaitu, Direktur Judicial System Monitoring Programme (JSMP) Timor Leste, Bapak Luis de Oliveira Sampaio, yang menyatakan bahwa:
Kinerja pemerintahan di Timor Leste, semenjak tahun 2006, berjalan kurang transparan, demokratis, partisipatif dan pelanggaran hak asasi manusia karena terkait suburnya perbuatan penyalahgunaan wewenang, mal-administrasi, korupsi, kolusi dan nepotisme. Kinerja Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan lebih berfokus pada konsep integratif good governance, maka fungsi tugas, kewenangan dan perang Ombudsman dalam memberantas dan mencegah mal-administrasi publik di Timor Leste selama ini sudah baik dan optimal. Ini terbukti dengan proaktifnya/bergeraknya Ombudsman dalam memberdayakan masyarakat untuk melakukan pengontrolan terhadap kinerja administrasi publik pemerintahan baik pusat dan daerah. Hal ini, terlihatnya Ombudsman aktif melakukan pemantaun terhadap hasil putusan pengadilan, mengontrol proses layanan administrasi pengadilan dan perilaku para hakim dan jaksa melakukan perbuatan tercela, dan atau tidak memenuhi syarat hakim dan jaksa yaitu korupsi, penyuapan, tindak pidana lainnya.
Selain dua informan di atas, untuk membuktikan berperannya Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam menginvestigasi mal-administrasi publik di Timor Leste, dinilai oleh warga masyarakat sebagai berikut: Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 7 warga masyarakat Desa Bemori, Kecamatan Dili Timur, Distrik Dili, dinyatakan bahwa:
6Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Direktur Judicial System Monitoring Programme (JSMP) di Kantor JSMP Kolmera, Dili, Timor Leste pada tanggal 25 September 2013.
7 Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan salah seorang warga masyarakat (Pelapor), di kediamannya di Desa Bemori, Kecamatan Dili Timur, Kabupaten Dili, pada tanggal 26 September 2013
Keberadaannya Ombudsman di Timor Leste kini telah berusia 7 tahun lebih.
Dinilai sudah memiliki pengalaman investigasi mal-administrasi publik yang mendalam. Salah satu contoh misalnya: saya sendiri, di tahun 2010, mendatangi kantor Ombudsman untuk melaporkan kasus pemecatan diri saya dari pegawai negeri negeri secara tidak adil oleh atasan saya (Menteri Keuanga). Ombudsman bertindak serius dalam memeriksa substansi laporan permasalahan saya. Yaitu melakukan pemangilan terhadap instansi Terlapor, melakukan investigasi. Saya sendiri dipangil investigator Ombudsman 2 kali untuk mengumpulkan dokumen sebagai bukti akurat, meminta klarifikasi permasalahan pemecatan saya Kementerian Keuangan.
Menjelan satu bulan kemudian kala saya tidak salah di bulan Juni 2011, laporanpermasalahn saya telah direkomendasikan ke Instansi Kementerian Keuangan Negara Republik Demokratik Timor Leste. Dan sekarang ini saya sedang menungguh hasil tanggapan/klarifikasi dari Menteri Keuangan Republik Demokratik Timot Leste. Dengan demikian, saya dapat memberikan penilaian bahwa kinerja Ombudsman dalam investigasi mal-administrasi sebagai tindakan pencegahan terhadap pemerintahan yang buruk sudah berjalan dengan baik.
Dari hasil informasi yang dikemukakan oleh ketiga informan pada wawancara di atas, maka Peneliti dapat menginterpretasikan bahwa, tentang peran Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam melaksanakan tugas investigasi mal-administrasi di Timor Leste dinilai sudah berjalan optimal, aktif dan posetif.
Hasil penilaian di atas, bukti konkritnya adalah keberhasilan peran Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan dalam mendorong pelaksanaan kepemerintahan yang baik di Kementerian Administrasi Negara Dan Penetapan Wilayah dan Kementerian Solidaritas Sosial pada tahun 2011-2012.
Berdasarkan hasil wawancara Peneliti dengan informan8 di dapatkan informasi/data bahwa:
8Wawancara yang dilakukan Peneliti dengan Bapak Mario Frederico Soriano Bareto Kepala Departemen Sumber Daya Manusia, Divisi Nasional Administrasi Dan Keuangan di kantor Kementerian Solidaritas Sosial RDTL pada tanggal 27 September 2013.
Kami selaku pegawai di Kementerian Solidaritas Sosial, pada umumnya memahami tentang apa itu good governance. Akan tetapi berbicara soal prakti orang luar yang menilainya. Untuk memberi penilian tentang peran Ombudsman dalam mendorong good governance, selama ini dapat dilihat dari sisi investigasi berjalan aktif. Harus diakui, bahwa dalam rangka pengimplementasian kebijakan program pemerintah atas pemulangan pengungsi krisis politik militer dan keamanan tahun 2006, para pejabat di lingkungan kerja Kementerian Solidaritas Sosial tidak melakukan sistem pengontrolan/pengawasan yang ketat terhadap ruang gerak para pegawai/petugas Komisi Membangun Masa Depan/Komisaun Hari Futuru yang bertugas dalam mengumpulkan data dilapangan maupun yang bekerja dibalik meja kantor. Sebagai dampaknya/nia impaktu maka ada sebagian yang melakukan praktik penagihan ilegal terhadap uang pembayaran ganti kerugian para warga pengungsi krisis politik militer dan keamanan 2006, yang hendak dikembalikan pemerintah ke tempat tinggal semula. Berkaitan dengan kasus pengihan ilegal yang dilakukan pegawai/petugas Komisi Masa Depan, Kementerian Solidaritas Sosial, maka ketika 3 Laporan Hasil Investigasi Mal-administrasi Publi, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan masuk di Kementerian Solidaritas Sosial tahun 2011, para pemimpin di Kementerian Solidaritas Sosial mengadakan rapat konsultatif, untuk mendiskusikan mengenai kasus penagihan ilegal yang dilakukan oleh beberapa orang pegawai yang dikontrak Komisi Mmbangun Masa Depan, Kementerian Solidaritas Sosial. Dan hasil keputusan yang diambil oleh dewan konsultif mencapai suatu konsensus bersama untuk mengeluarkan 19 orang pegawai kontrakan dari Kementerian Solidaritas Sosial pada tahun 2011, dan ada dua kasus penagihan ilegal yang dirasakan bahkan dinilai oleh Dewan Konsultif sangat berat maka diajukan ke pengadilan untuk diproseskan
Kami selaku pegawai di Kementerian Solidaritas Sosial, pada umumnya memahami tentang apa itu good governance. Akan tetapi berbicara soal prakti orang luar yang menilainya. Untuk memberi penilian tentang peran Ombudsman dalam mendorong good governance, selama ini dapat dilihat dari sisi investigasi berjalan aktif. Harus diakui, bahwa dalam rangka pengimplementasian kebijakan program pemerintah atas pemulangan pengungsi krisis politik militer dan keamanan tahun 2006, para pejabat di lingkungan kerja Kementerian Solidaritas Sosial tidak melakukan sistem pengontrolan/pengawasan yang ketat terhadap ruang gerak para pegawai/petugas Komisi Membangun Masa Depan/Komisaun Hari Futuru yang bertugas dalam mengumpulkan data dilapangan maupun yang bekerja dibalik meja kantor. Sebagai dampaknya/nia impaktu maka ada sebagian yang melakukan praktik penagihan ilegal terhadap uang pembayaran ganti kerugian para warga pengungsi krisis politik militer dan keamanan 2006, yang hendak dikembalikan pemerintah ke tempat tinggal semula. Berkaitan dengan kasus pengihan ilegal yang dilakukan pegawai/petugas Komisi Masa Depan, Kementerian Solidaritas Sosial, maka ketika 3 Laporan Hasil Investigasi Mal-administrasi Publi, Ombudsman Hak Asasi Manusia Dan Keadilan masuk di Kementerian Solidaritas Sosial tahun 2011, para pemimpin di Kementerian Solidaritas Sosial mengadakan rapat konsultatif, untuk mendiskusikan mengenai kasus penagihan ilegal yang dilakukan oleh beberapa orang pegawai yang dikontrak Komisi Mmbangun Masa Depan, Kementerian Solidaritas Sosial. Dan hasil keputusan yang diambil oleh dewan konsultif mencapai suatu konsensus bersama untuk mengeluarkan 19 orang pegawai kontrakan dari Kementerian Solidaritas Sosial pada tahun 2011, dan ada dua kasus penagihan ilegal yang dirasakan bahkan dinilai oleh Dewan Konsultif sangat berat maka diajukan ke pengadilan untuk diproseskan