MEMPOSISIKAN PANCASILA
B. BERBAGAI DAMPAK DI MASYARAKAT
02. PROBLEMATIKA PANCASILA SEBAGAI SUMBER TATA HUKUM 55
A. PENDAHULUAN
Fungsi Pancasila sebagai sumber hukum, secara sosiologis-politis tak pernah disangkal. Namun secara yuridis belum tentu diwujudkan secara konsisten. Pijakan yuridisnya tinggal ada pada Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12/2011, sebagai revisi dari UU nomor 10 /2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang menegaskan
“Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara”. Bahkan dalam penjelasan Pasal 2 ditegaskan “Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis negara sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila”.
Pertanyaan yuridis normatif muncul, karena penegasan mengenai definisi Pancasila diletakkan dalam format undang-undang. Ironisnya dalam UU 12/2011 disebutkan bahwa hirarki dan tata urut perundangan, undang hanya merujuk pada undang-undang dasar dan tidak ada kewajiban untuk mematuhi undang-undang-undang-undang yang lain. Jika Pancasila benar-benar dikehendaki sebagai sumber tata hukum, maka tidak cukup posisi Pancasila hanya ditegaskan dalam bentuk undang-undang. Sementara tidak ada ketegasan posisinya dalam Undang-Undang Dasar 1945, sebelum maupun sesudah amandemen.
Walaupun secara substantif, lima sila dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut disepakati sebagai Pancasila, secara yuridis formal, harus disebutkan dalam rumusan UUD.
Apalagi kalau dikehendaki selanjutnya akan menjadi rujukan semua undang-undang sebagai pelaksananya. Kalau secara yuridis, setiap undang-undang harus menyebut merujuk pada pembukaan UUD, sesuatu yang kurang lazim dalam teknik perundang-undangan.
Secara historis, posisi Pancasila sebagai dasar negara, dan turunannya sebagai sumber hukum, sebenarnya sudah ditegaskan oleh para pendiri negara. Dalam pidato
55 Makalah pada seminar Menegaskan Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara yang diselenggarakan oleh MPR RI bekerjasama dengan Universitas Sultan Agung Semarang, 16 Februari 2015. Juga telah dimuat dalam Jurnal Majelis, Media aspirasi Konstitusi, Edisi 02/Tahun 2016
38 Lahirnya Pancasila, Soekarno56 mengawali pidatonya dengan “Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini”.
Selanjutnya Soekarno juga menyebut “Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda, philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.” Berikutnya Soekarno menyatakan “Paduka tuan Ketua minta dasar, minta philosophisce grondslag, atau jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung”, di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.”
Tentang istilah Pancasila Soekarno menjelaskan “ Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa- namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi”
Secara yuridis, fungsi pokok Pancasila sebagai dasar negara, menurut Kurnisar57 pernah dirumuskan pada Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966, yang dikuatkan dengan Ketetapan V/MPR/1973, dan kemudian dikuatkan lagi dengan Ketetapan MPR II/MPR/1978 dan Ketetapan IX/MPR/1978, yang menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia yang sekaligus merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia. Tentang Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum ini dijelaskan kembali dalam Ketetapan MPR III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan pada Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan bahwa sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila.
Ketetapan XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Perundang-undangan Republik Indonesia, mengatur dalam Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia, termasuk di dalamnya Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum. Dalam lampiran naskah mengenai Sumber Tertib Hukum disebutkan : “ Sumber dari tertib hukum sesuatu negara atau yang biasa sebagai
‘sumber dari segala sumber hukum’ adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan dan watak dari Rakyat negara yang bersangkutan. Sumber dari tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita mengenai kemerdekaan individu, kemerdekaan bangsa, peri-kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian nasional dan mondial,
56 Soekarno, 2002 (cetak ulang) Lahirnya Pantjasila, Bandung : Yayasan Kepada Bangsaku
57Kurnisar, 2012, Pancasila sebagai Sumber Hukum, Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, Vol 11, No 3
39 cita-cita politik mengenai sifat bentuk dan tujuan Negara, cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai pengejawantahan daripada budi nurani manusia.
Sementara Ketetapan MPR Nomor V/1973 tentang Peninjauan produk-produk yang berupa Ketetapan-ketetapan MPRS, dalam Pasal 3 disebutkan Tap MPRS yang masih dinyatakan tetap berlaku dan perlu disempurnakan termasuk TAP XX/MPRS/1966 tentang
"Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urusan Peraturan Perundangan Republik Indonesia”.
Ketetapan MPR Nomor IX/1978 tentang Perlunya Penyempurnaan yang Termaktub dalam Pasal 3 Ketetapan MPR Nomor V/1973. Ketetapan yang hanya satu pasal terebut Pasal 1 Menyatakan perlunya penyempurnaan yang termaktub dalam pasal 3 Ketetapan MPR Nomor V/1973. Dalam Ketetapan MPR Nomor III/2000 tentang Sumber Hukum dan tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, pada Pasal 1 disebutkan:
(1) Sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan untuk penyusunan peraturan perundang-undangan.
(2) Sumber hukum terdiri atas sumber hukum tertulis dan tidak tertulis.
(3) Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.
B. PERMASALAHAN
Dengan landasan historis, Pancasila dipersiapkan sebagai Dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bangsa, maka secara yuridis dan sistem ketatanegaran juga diamankan secara serius. Dimulai dengan dengan dikeluarkannya Tap MPRS XX/1966, disusul dengan Tap MPR MPR No.V/MPR/1973, dan kemudian dikuatkan lagi dengan Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978, terakhir dengan MPR No.III/MPR/2000.
Permasalahan mulai muncul, paska amandemen UUD 1945, dan kemudian menjadi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai satu-satu instrumen hukum positif di atas undang-undang, karena ketetapan MPR maupun MPRS banyak yang dievaluasi bahkan dinyatakan tidak berlaku. Dengan Ketetapan MPR Nomor I/2003, tentang Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR RI Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002, seluruh Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR yang berjumlah 139 dikelompokkan ke dalam 6 pasal (kategori) sesuai dengan materi dan status hukumnya.
40 Kategori I: TAP MPRS/TAP MPR yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (8 Ketetapan);
Kategori II: TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan (3 Ketetapan); Kategori III: TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya Pemerintahan Hasil Pemilu 2004(8 Ketetapan); Kategori IV: TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya Undang-Undang (11 Ketetapan); Kategori V: TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan masih berlaku sampai dengan ditetapkannya Peraturan Tata Tertib Baru oleh MPR Hasil Pemilu 2004 (5 Ketetapan) Kategori VI: TAP MPRS/TAP MPR yang dinyatakan tidak perlu dilakukan tindakan hukum lebih lanjut, baik karena bersifat final (einmalig), telah dicabut, maupun telah selesai dilaksanakan (104 Ketetapan)
Ketetapan MPRS dan MPR yang mengatur posisi Pancasila secara yuridis yakni, Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia; Ketetapan MPR No. V/MPR/1973 tentang Peninjauan Produk-Produk yang Berupa Ketetapan-Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia; dan Ketetapan MPR No. IX/MPR/1978tentang Perlunya Penyempurnaan yang Termaktub dalam Pasal 3 Ketetapan MPR No. V/MPR/1973, masuk dalam katogeri VI, dan dinyatakan tidak berlaku. Tinggal Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, yang masuk dalam Katagori IV, yang dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya Undang-Undang. Undang-undang yang dimaksud adalah UU 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 2 UU 10/2004 menyatakan Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Penjelasan Pasal 2 tersebut, penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofi bangsa dan negara sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Akibatnya, saat ini posisi Pancasila secara yuridis tidak sebanding dengan harapan dan fungsi yang dibebankan, menimbulkan banyak persoalan dalam praktek. Pertama, secara normatif prosedural, kemungkinan untuk menterjemahkan semangat Pancasila sebagai norma dasar, dalam semua peraturan perundangan menjadi kesulitan dalam praktek legal drafting. Undang-undang secara teoretis juga tidak mungkin merujuk undang-undang lain, misalnya merujuk pada UU 12/2011. Karena jika UU yang bersangkutan mengalami perubahan atau bahkan dinyatakan tidak berlaku lagi, maka UU yang bergantung kepadanya, akan ikut berguguran.
41 Kedua secara substantif, kepastian tentang rumusan Pancasila yang disepakati menjadi norma dasar dan sumber tata hukum, tidak terjamin dalam konstitusi. Apalagi jika sebagai kebutuhan untuk menguji undang-undang terhadap undang-undang dasar. Undang-undang yang tidak mendasarkan pada Pancasila, sebagai sumber hukum baik secara substantif maupun secara normatif-yuridis, harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi.