• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEPATAN MPR RI

D. SISTEM TANPA SISTEMATIKA

Keberadaan lembaga MPR dipertahankan pada UUD NRI Tahun 1945, menurut Tim Universitas 11 Maret185 karena MPR merupakan perwujudan dari sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Prinsip permusyawaratan tercermin dalam kelembagaan MPR, sedangkan prinsip perwakilan tercermin dalam kelembagaan DPR. Secara kelembagaan MPR berdiri sendiri, tidak sama dnegan posisi Kongres Amerika Serikat. Pada sisi yang lain karena anggotanya terdiri dari anggota DPR dan DPD, menimbulkan tafsir bahwa MPR sesungguhnya hanya ada pada saat dibutuhkan, yakni pada saat anggota DPR dan DPD bergabung, yang dalam teori ketatanegaraan disebut joint session, atau sidang bersama.

Dari sini posisi MPR sudah menimbulkan multitafsir, baik secara substansi maupun secara prosedur relasi antar lembaga negara. Pertanyaan sistem parlemen yang dianut

183Ibid, 82

184 Hafsah, Mohammad Jafar, 2017, “Relasi MPR-MK dalam Penegakan Konstitusi Menurut UUD NRI Tahun 1945 : Sebuah Tinjauan Awal”, Jurnal Ketatanegaraan Volume 004, September, 139

185Tim Universitas 11 Maret, 2017, Naskah Akademik Perubahan Kelima UUD NRI Tahun 1945, Materi Lomba Academic Constitutional Drafting MPR RI 2016, 90

134 Indonesia paska amandemen UUD 1945, monokameral, bikameral, atau trikameral. Kalau trikameral konsekuansinya MPR juga berwenang membuat produk legislasinya sendiri, selaain kewenangan untuk menetapankan dan mengubah undang-undang dasar, secara logis juga bisa membuat peraturan perundangan yang bersifat mengatur (regelling). Belum lagi mengenai hubungan dengan DPR dan DPD, kalau bersifat tetap, maka sistem parlemennya dua kamar, dan hubungannya menjadi joint session, yang bersifat adhoc. Setidaknya posisi MPR paska amandemen memerlukan penjelasan, bukan sekadar untuk keperluan politik, tetapi juga penjelasan teoretis, supaya pengaturannya melahirkan sistem yang logis.

Kecenderungan negara-negara besar dan modern di dunia saat ini menganut parlemen dengan dua kamar. Menurut Strong186, kamar pertama hampir sama di semua negara yakni lembaga yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat dengan berabagai sebutannya, baik dalam system negara monarkhi maupun republik, di negara yang berbentuk kesatuan maupun federal. Kamar kedua banyak terdapat variasi, ada yang anggotanya merupakan anggota yang turun temurun, ada juga yang sebagian dipilih, ada juga yang seluruh anggota kamar kedua dipilih. Dilihat dari fungsinya ada kamar kedua yang kewenangannya lebih kuat dari kamar pertama, ada yang seimbang, ada juga yang lebih lemah. Karena itu yang harus diperhatikan dalam mengatur hubungan antar dua kamar tersebut, pertama majelis kedua bisa mempunyai kekuatan keterwakilian yang riil, termasuk yang tidak dipilih langsung. Kedua, bagaimana kewenangan kamar kedua bis amengimbangi kamar pertama, termasuk ketiga bagaimana bis amenjaga jika terjadi deadlock karena kekuatan yang berimbang antar kedua kamar. Keempat, bisa juga kamar kedua mempunyai kewenangan yang berbeda yang tidak sama dengan kewenangan kamar pertama.

Dari penataan yang sistemik tersebut, pengaturan ketiga lembaga legislative di Indonesia masing-masing MPR, DPR, dan DPD tidak menunjukkan sistem yang bisa sinergis, saling mengisi, saling mengontrol, dan produktif. DPR terkesan memonopoli kewenangan legislasi, pengawasan, maupun penetapan anggaran negara. Sementara DPD tidak diberi kewenangan yang memadai sehingayang terjadi bukan kesimbangan, tetapi ketimpangan.

Keberadaan MPR juga tidak jelas posisinya, antara menjembatani kedua kamar yang dipilih langsung tersebut, atau mengkoordinasi, atau berdiri sendiri. Kalau berdiri sendiri fungsi yang ditangani terlalu sedikit, sehinga terkesan mencari cari fungsi, dengan kegiatan Sosialiasi Empat Pilar.

Dari berbagai aspirasi untuk membangun sistem ketatanegeraan yang demokratis berbasis kedaulatan rakyat, sekaligus juga bis amenjawab tantangan, untuk mencapai tujuan bernegara, perlu dicari format bisa menampung semua kebutuhan tersebut. Karena

186 Strong, CF, terjemahan Derta Sri Widowatie, Konstitusi Konstitusi Politik Modern, Studi Perbandingan Sejarah dan Bentuk (Modern Political Constitutions. An Introduction to the Comparative Study of Their History dan Existing Form), Bandung : Nusamedia. 268

135 landasan dan basis ideologi konstitusi yang akan menata dan menagtur sistem ketatanegaraan, antara lain mengatur keberdaan dan saling hubungan antar lembaga-lembaga negara, adalah Pancasila, maka ada beberapa hal yang tidak boleh ditinggalkan.

Pertama, kehadiran MPR, sebagai lembaga legislatif yang memanifestasikan sial ke empat dari Pancasila. Sehingga MPR benar-benar bisa mengejawantahkan permusyawartan seluruh rakyat.

Kemudian yang perlu difikirkan adalah hubungan dengan lembaga DPR dan DPD, yang dibutuhkan sebagai organ legislasi yang mewakili kedaulatan rakyat baik dari pertimbangan aspirasi politik maupun daerah. Bahkan Universitas Katolik Parahyangan Bandung187 mengusulkan untuk menyempurnakan unsur kelengkapan rakyat yang bergabung dalam MPR, diperlukan lagi Dewan Utusan Golongan (DUG), yang merupakan representasi kelompok-kolompok minoritas yang perlu diwakili, agar MPR benar-benmar menjadi simbol keberadaan seluruh rakyat Indonesia. Sebagai bagian dari MPR, DUG mislanya bisa diberi tugas khusus untuk mengawasi kinerja presiden dan wakil presiden.

Cara perekrutan Dewan Utusan Golongan tidk perlu dipilih melalui Pemilu tetapi bisa diangkat, atas usul lembaga negara yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimly, 2009, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 119

Asshiddiqie, Jimly, 2015, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: Rajagrafindo Persada Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta, 2018, Kajian Akademik Penataan Kewenangan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta Badan Pengkajian MPR RI, 79-80.

Fatmawati, 2010, Struktur dan Fungsi Legislasi Parlemen dengan Sistem Multikameral : Studi Perbandingan antara Indonesia dan Berbagai Negara, Jakarta: UI Press.

Forum Rektor Indonesia, 2014, Mengembalikan Kedaulatan Rakyat, Melalui Penyusunan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) kepada Penyelenggara Negara, Surakarta: PT UNS Press, 20 Hafsah, Mohammad Jafar, 2017, “Relasi MPR-MK dalam Penegakan Konstitusi Menurut UUD NRI Tahun 1945 : Sebuah Tinjauan Awal”, Jurnal Ketatanegaraan Volume 004, September.

Idris, Fahmi, 2015, Konflik Interpretasi Konstitusi Konstitusi, di Balik Berbagai Peristiwa Politik di Era Awal Reformasi, Jakarta: MBPI.

Mahfud MD, Moh, 2010, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitus, Jakarta: Remaja Grafindo Persada, 31-32

187 Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, 2018, Kajian Akademik Penataan Kewenangan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta Badan Pengkajian MPR RI, 210.

136 Strong, CF, terjemahan Derta Sri Widowatie, Konstitusi Konstitusi Politik Modern, Studi Perbandingan Sejarah dan Bentuk (Modern Political Constitutions. An Introduction to the Comparative Study of Their History dan Existing Form), Bandung: Nusamedia.

137