• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATAAN DPD RI

D. BUKAN BIKAMERAL SIMETRIS

04. RELEVANSI PENGUATAN DPD RI (SEBUAH STUDI PERBANDINGAN)

A. DASAR PEMIKIRAN

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia merupakan lembaga negara yang dilahirkan paska reformasi, melalui perubahan tahap ketiga UUD NRI Tahun 1945.

Eksistensi DPD dirumuskan pada rumusan Pasal 2 ayat (1) sebagai berikut :

“Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang”.

Dengan keberadaan DPD tersebut, diharapkan dalam pembentukan undang-undang dan kebijakan nasional lainnya termasuk dalam kebijakan penganggaran dan pengawasan bisa mewakili kepentingan daerah sebagai imbangan peran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipilih secara politis dengan realitas didominasi oleh provinsi padat penduduk, sehingga terbangun konsep saling melengkapi (checks and balances) dalam sistem ketatanegaraan.

Menurut John Pieris222 agar terwujud sistem bikameral yang efektif dan berimbang, kedua kamar tersebut baik DPR maupun DPD harus mempunyai kedudukan yang setara sebagai lembaga negara seperti yang diatur dalam UUD NRI 1945. Kedua kamar sama sama memiliki kekuasaan dna fungsi legislasi yang proporsional, tidak slaing mengkooptasi tetapi justru saling mendukung, terutama dalam proses pembuatan undang-undang.

Gagasan utama pembentukan DPD sebagai upaya konstitusional untuk memperkuat otonomi daerah dengan mengakomodasi aspirasi dan memberi peran yang lebih besar pada daerah, dalam pengambilan keputusan dan kebijakan nasional, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan dan pembangunan daerah, dirumuskan pada Pasal 22 D.

Pasal 22D

(1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

222Pieris, John, 2017, “Sistem Bikameral Efektif dan Berimbang (Solusi Penguatan Kewenangan DPD RI”, Jurnal Ketatanegaraan, Volume 003/Juni, 245.

166 (2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama.

(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

Namun dengan pengaturan yang kurang tegas dalam konstituasi ditambah penjabaran lebih lanjut dalam undang-undang, menyebabkan gerak dan otoritas DPD untuk menjalankan fungsinya sebagai representasi daerah menjadi terbatas. Sementara harapan yang digantungkan oleh masyarajat daerah yang belum bisa dipenuhi oleh pemerintah maupun DPR terus membesar. Muncullah banyak aspirasi masyarakat, termasuk kalangan akademisi untuk memperkuat peran dan kewenangan DPD.

Kesadaran untuk memperkuat kewenangan DPD tersebut tertuang dalam Keputusan MPR RI Nomor 4 Tahun 2014, tentang Rekomendasi MPR RI Masa Jabatan 2009-2014.

Dalam Keputusan tersebut ditegaskan bahwa MPR mempunyai kewenangan untuk melaksanakan penataan sistem ketatanegaraan Indonesia melalui perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tetap berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum negara dan Kesepakatan Dasar untuk tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tetap mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, mempertegas sistem pemerintahan presidensial serta melakukan perubahan dengan cara adendum.

Juga disebutkan beberapa hal penting dalam sistem ketatanegaraan yang perlu ditata kembali antara lain penataan kewenangan DPD dalam pelaksanaan fungsi legislasi untuk mengusulkan, membahas, menyetujui RUU tertentu, melaksanakan fungssi anggaran bersama DPR dan pemerintah, serta melaksanakan fungsi pengawasan atas undang-undang dimaksud.

B. PERMASALAHAN

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, kewenangan DPD RI ternyata sangat terbatas, sehingga kurang dapat berperan sebagai representasi daerah dalam mendorong pembangunan dan mengawal kepentingan daerah. Upaya memperluas kewenangan

167 tersebut perlu dilakukan penyempurnaan pasal-pasal yang mengatur DPD RI di dalam UUD NRI 1945. Misalnya penyempurnaan Pasal 22 D agar mencakup : pertama, pelaksanaan fungsi legislasi dari ketentuan yang “turut serta” menjadi bersama-sama dengan DPR dan pemerintah membahas, dan memutuskan khusus untuk undang-undang yang terkait kepentingan daerah; kedua dalam fungsi penganggaran bersama-sama dengan DPR dan pemerintah membahas dan memutuskan khusus untuk anggaran yang terkait kepentingan daerah; ketiga dalam fungsi pengawasan langsung tanpa melalui DPR terhadap pelaksaan undang-undang maupun APBN, khususnya yang terakit dengan kepentingan daerah:

keempat melaksanakan peran representasi daerah dalam berinteraksi dengan lembaga negara di tingkat nasional, maupun dalam berhubungan dengan kerjasama dengan negara lain.

Sebenarnya menurut Hajriyanto Y Thohari223, begitu penting dan sentralnya, maka desakan lahirnya lembaga perwakilan daerah yang benar benar kuat, baik di luar maupun di dalam sidang MPR waktu membahas amandemen UUD 1945. Bahkan desakan yang kuat mengharapkan DPD akan bisa mendukung lembaga DPR yang sudah ada , kalau perlu menjadi penyeimbang, sehingga menjadi dua kamar parlemen yang bekerja berdasarkan konsep check and balances. Karena resistensi dan penolakan yang juga a lot dalam pembahasan di MPR, akhirnya melahirkan kompromi pengaturan lembaga DPD seperti yang termuat dalam UUD NRI 1945, seperti yang ada saat ini. Keinginan untuk memperbaiki posisi konstitusioanal lembaga DPD RI juga kuat, dibutuhkan amandemen terhadap UUD yang berlaku saat ini. Namun sebelum amandemen bisa dilaksanakan, penguatan DPD bisa dilakukan ddengan intensifikasi peran yang bisa dilakukan melalui revisi undang-undang yang mengatur MPR, DPR, maupun DPD, dan melalui perubahan tata tertib masing-masing.

Karena itulah diperlukan untuk mengkaji kembali penataan sistem ketatanegaraan Indonesia melalui perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Penguatan Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diletakakan dalam kerangka Penataan Sistem Ketatanegaraan Indonesia.

Selain dengan menyerap aspirasi dan mempertimbangkan dukungan serta harapkan masyarakat untuk memperkuat DPD RI, berbagai perbandingan dna pengalaman negara lain juga bisa memperkuat argumentasi penguatan tersebut.

Menurut Fatmawati224 sebagai parlemen DPD RI hanya mempunyai kewenangan legislasi yang terbatas. Hal ini disebabkan karena para anggota MPR yang merumuskan saat amandemen UUD 1945 mengkhawatirkan jika DPD di desain menjadi kamar yang kuat, di

223Thohari, Hajriyanto Y, “Penguatan DPD RI : Ekstensifikasi Kewenangan atau Intensifikasi Kinerja”, Jurnal Ketatanegaraan, Volume 003/Juni, 96.

224Fatmawati, 2010, Struktur dan Fungsi Legislasi Parlemen dengan Sistem Multikameral : Studi Perbandingan antara Indonesia dan Berbagai Negara, Jakarta : UI Press, 7

168 masa depan Indonesia bisa mengarah ke bentuk negara federalisme, karena banyak pakar yang berpendapat sistem parlemen dua kamar hanya cocok untuk sistem negara federal.

Namun ternyata ada negara berbentuk republic kesatuan yang menerapkan sistem parlemen dua kamar, seperti Republik Prancis, Aljazair, Kongo, Mesir, Afrika Selatan, Taiwan, Afghanistan, Filipina, dan sebagainya. Sedangkan monarkhi kesataun yang menganut sistem parlemen dua kamar seperti Inggris, Belanda, Jepang, Spanyol, Thailand, dan lain lain.