• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk Domestik Regional Bruto

Dalam dokumen PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA DAN DUNIA (Halaman 31-37)

II. PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA

2.2 Produk Domestik Regional Bruto

Pertumbuhan ekonomi di sebagian besar wilayah Indonesia pada triwulan I tahun 2020 tumbuh lebih lambat dibandingkan triwulan IV tahun 2019, kecuali Maluku dan Papua. Pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi berada diatas pertumbuhan nasional, sementara wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Maluku dan Papua berada di bawah pertumbuhan nasional. Pertumbuhan ini juga lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I tahun 2019, kecuali Maluku dan Papua yang tumbuh lebih tinggi.

Gambar 24 Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Secara Spasial

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pertumbuhan wilayah Maluku dan Papua membaik.

Secara agregat, provinsi-provinsi yang ada di Maluku dan Papua tumbuh lebih cepat dibandingkan triwulan IV tahun 2019.

Papua dan Papua Barat masih berperan penting dalam perekonomian wilayah Maluku dan Papua. Provinsi Papua pada triwulan I tahun 2020 tumbuh sebesar 1,5 persen (YoY), lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 3,7 persen (YoY). Kinerja pertambangan dan penggalian Papua

masih mengalami penurunan sebagai dampak dari masa transisi PT. Freeport ke pertambangan bawah tanah.

Pertambangan mengalami kontraksi sebesar 2,3 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020, lebih baik dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi hingga 19,0 persen (YoY). Sejalan dengan sektor pertambangan yang mengalami kontraksi, industri pengolahan juga terkontraksi namun lebih baik dari triwulan sebelumnya. Di sisi lain, pertanian tumbuh 4,2 persen (YoY), lebih baik dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,2 persen (YoY). Sementara, Papua Barat pada triwulan I tahun 2020 tumbuh sebesar 5,1 persen (YoY), lebih lambat daripada triwulan sebelumnya. Perlambatan terjadi pada industri pengolahan yang tumbuh 1,1 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020, jauh lebih lambat dari triwulan IV tahun 2019 yang tumbuh 9,8 persen (YoY).

Tren perlambatan juga dialami oleh sektor jasa, kecuali sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,8 persen (YoY), sedikit lebih baik dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 9,7 persen (YoY).

Maluku dan Maluku Utara juga mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada triwulan I tahun 2020, provinsi Maluku tumbuh lebih rendah dari triwulan IV tahun 2019 yaitu sebesar 4,0 persen (YoY).

Perlambatan pertumbuhan Maluku terjadi di sektor pertanian yang tumbuh 3,8 persen (YoY). Pertumbuhan Maluku Utara juga mengalami perlambatan.

Pertumbuhan pada triwulan I tahun 2020 sebesar 3,1 persen (YoY). Perlambatan terjadi di sektor pertambangan dan ekspor akibat pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel berkadar rendah yang berlaku efektif pada tahun 2020 sementara smelter di Maluku Utara hanya

3,2 3,4 0,9 2,5 3,8 2,9

Sumatera Jawa Bali Nusra Kalimantan Sulawesi Maluku Papua

Kontribusi Pertumbuhan

30 menampung bijih nikel pada kadar tertentu sehingga perusahaan tambang perlu menyesuaikan kapasitas produksinya.

Perlambatan di Sulawesi terjadi merata.

Secara agregat, provinsi-provinsi yang ada di Sulawesi tumbuh lebih lambat dibandingkan triwulan IV tahun 2019 yaitu sebesar 3,8 persen (YoY). Di tengah perlambatan ini, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat sama-sama tumbuh lebih tinggi yaitu sebesar 4,9 persen (YoY).

Terjaganya pertumbuhan Sulawesi Tengah berasal dari tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan dan pertambangan yang pada triwulan I tahun 2020 masing-masing tumbuh sebesar 16,1 persen (YoY) dan 11,8 persen (YoY) didorong oleh optimalisasi kapasitas produksi smelter nickel pig iron baru di Morowali. Sementara perlambatan di Sulawesi Tengah terjadi karena sektor pertanian mengalami kontraksi akibat menurunnya harga kakao dan minyak kelapa sawit. Provinsi Sulawesi Barat mengalami perlambatan akibat melambatnya sektor-sektor utama yaitu pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Pada triwulan ini produksi tanaman pangan secara total mengalami peningkatan karena sudah banyak sawah yang panen, meskipun puncaknya diperkirakan jatuh pada triwulan II mendatang. Sementara, industri pengolahan tertahan pertumbuhannya akibat harga CPO yang turun.

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang tumbuh paling lambat di wilayah Sulawesi pada triwulan I tahun 2020, yaitu tumbuh sebesar 3,1 persen (YoY). Perlambatan ada pada sektor utama yaitu pertanian, perdagangan dan

industri pengolahan. Perlambatan pertanian terjadi akibat pergeseran musim panen yang berimbas pada turunnya produksi tanaman pangan.

Perdagangan dan Industri pengolahan terdampak oleh kinerja negara mitra dagang yang melambat akibat COVID-19 yang berimbas pada permintaan turun serta distribusi bahan baku dari luar negeri yang berkurang akibat aturan pembatasan.

Kalsel dan Kaltara tumbuh tinggi ditengah perlambatan Kalimantan.

Wilayah Kalimantan secara agregat tumbuh sebesar 2,5 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020, tumbuh lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 3,7 persen (YoY). Provinsi Kalimantan Timur menjadi provinsi yang mengalami peningkatan pertumbuhan paling lambat dari triwulan sebelumnya yaitu sebesar 1,3 persen (YoY), namun kontribusinya terhadap perekonomian Kalimantan masih mendominasi yakni sebesar 49,9 persen.

Pertambangan yang merupakan sektor utama di Kalimantan Timur terkontraksi pada triwulan I tahun 2020 sebesar 0,5 persen (YoY). Hal ini terjadi akibat kinerja produksi batu bara Kalimantan Timur yang turun.

Sementara itu, perekonomian Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara tumbuh tinggi pada triwulan I tahun 2020 masing-masing sebesar 5,7 persen (YoY) dan 5,0 persen (YoY). Provinsi Kalimantan Selatan dapat tumbuh tinggi didorong oleh sektor industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan. Industri pengolahan tumbuh tinggi yaitu sebesar 11,2 persen (YoY). Sementara itu, pertumbuhan Kalimantan Utara didorong oleh sektor

31 pertanian yang memasuki siklus masa panen sehingga produksi padi, sayur-sayuran, buah, dan kelapa sawit meningkat sementara konstruksi tumbuh lebih lambat dari triwulan IV tahun 2019 walaupun pertumbuhannya tetap tinggi yaitu 9,9 persen (YoY) seiring dengan turunnya realisasi pengadaan semen.

Pertumbuhan Bali Nusra melambat.

Secara agregat, wilayah Bali dan Nusa Tenggara tumbuh sebesar 0,9 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020.

Perlambatan ekonomi wilayah Bali Nusra dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2019 didorong oleh terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di Bali sebesar 1,1 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020.

Pandemi COVID-19 berdampak besar pada penurunan aktivitas pariwisata yang merupakan kontributor utama ekonomi Bali. Kategori lapangan usaha yang memiliki keterkaitan erat dengan pariwisata mengalami penurunan. Selain karena siklus industri pariwisata Bali pada triwulan I yang memasuki periode low season, penurunan juga disebabkan oleh turunnya jumlah wisman seiring ditutupnya penerbangan dari Tiongkok yang merupakan pangsa terbesar wisman ke Bali dan kebijakan pemerintah menutup obyek wisata di seluruh wilayah Bali mulai 20 Maret 2020.

Meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan, provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi yang pertumbuhannya paling tinggi dibandingkan provinsi lainnya di wilayah Bali dan Nusa Tenggara dengan pertumbuhan mencapai 3,2 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2020. Sektor yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi adalah sektor pertanian yang

terkontraksi hingga 5,5 persen (YoY).

Sementara, sektor pertambangan tumbuh tinggi hingga 18,8 persen (YoY). Akselerasi pertumbuhan di sektor pertambangan didorong oleh aktivitas pertambangan dan ekspor konsentrat tembaga dan emas yang dilakukan oleh PT. AMNT perusahaan pengganti PT. Newmont Nusa Tenggara yang masih belum terganggu di tengah pandemi COVID-19.

Industri pengolahan dan perdagangan wilayah Jawa melambat.

Secara agregat, pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa tumbuh sebesar 3,4 persen (YoY), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,3 persen (YoY).

Pada umumnya, provinsi-provinsi di wilayah Jawa pada triwulan I tahun 2020 mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Provinsi DI Yogyakarta menjadi provinsi yang mengalami penurunan palling signifikan hingga terkontraksi 0,2 persen (YoY).

Provinsi DKI Jakarta yang tumbuh sebesar 5,1 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,0 persen (YoY). Selain itu, pertumbuhan ini merupakan yang terendah selama 10 tahun terakhir. Salah satu penyebab melambatnya perekonomian DKI Jakarta adalah pandemi COVID-19 yang dampaknya sudah terasa sejak awal Februari 2020. Pada triwulan I tahun 2020 DKI Jakarta mengalami perlambatan karena pertumbuhan pada lapangan usaha utama mengalami penurunan, seperti perdagangan (2,0 persen YoY), konstruksi (2,4 persen, YoY), jasa perusahaan (3,8 persen YoY), dan industri pengolahan yang terkontraksi 1,2 persen (YoY).

32 Provinsi DI Yogyakarta yang mengalami kontraksi hingga 0,2 persen (YoY), melambat cukup signifikan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 6,2 persen (YoY). Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa sektor yang terkontraksi, seperti industri pengolahan yang mengalami kontraksi sebesar 1,5 persen (YoY). Industri pengolahan terkontraksi disebabkan oleh menurunnya industri kayu dan industri furnitur karena adanya penurunan ekspor luar negeri.

Sektor akomodasi dan penyediaan makan minum juga mengalami kontraksi 1,3 persen (YoY) akibat dari penutupan obyek wisata dan kampus seiring dengan adanya pandemi COVID-19. Selain itu beberapa sektor yang mengalami kontraksi cukup besar adalah sektor konstruksi mengalami kontraksi hingga 9,8 persen (YoY), pertanian terkontraksi hingga 8,9 persen (YoY), dan jasa perusahaan yang terkontraksi hingga 7,5 persen (YoY).

Pertumbuhan wilayah Sumatera melambat secara merata.

Perekonomian wilayah Sumatera pada triwulan I tahun 2020 tumbuh 3,2 persen (YoY), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 4,6 persen (YoY).

Perlambatan yang terjadi di wilayah Sumatera terjadi menyeluruh di semua provinsi. Kontribusi tertinggi pada perekonomian Sumatera masih berada di provinsi Sumatera Utara (24,0 persen) dan provinsi Riau (22,1 persen).

Pada triwulan I tahun 2020 provinsi Sumatera Utara tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 5,2 persen (YoY). Sektor pertanian, sektor dengan kontribusi terbesar yakni 21,2 persen tumbuh sebesar 6,0 persen (YoY)

mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya (4,4 persen, YoY).

Pertumbuhan sektor pertanian mampu menahan Sumatera Utara untuk tidak mengalami perlambatan ekonomi lebih jauh. Sementara itu, industri pengolahan tumbuh 0,3 persen (YoY), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,2 persen (YoY). Selain itu sektor utama Sumatera Utara yang mengalami perlambatan adalah sektor perdagangan yang tumbuh sebesar 6,1 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh hingga 6,7 persen (YoY).

Provinsi Riau tumbuh sebesar 2,2 persen (YoY), melambat dari triwulan sebelumnya yang dapat tumbuh hingga 2,9 persen (YoY). Sektor yang mengalami peningkatan cukup signifikan diantaranya sektor pengadaan listrik dan gas yang tumbuh hingga 25,5 persen (YoY), meningkat siginfikan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 14,1 persen (YoY). Peningkatan tersebut didorong oleh penambahan pasokan gas ke Perusahaan Gas Negara (PGN) Pekanbaru dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang yang dimulai sejak triwulan II tahun 2019. Jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh sebesar 18,0 persen (YoY) didorong oleh peningkatan pendapatan rumah sakit dan klinik akibat pandemi COVID-19. Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh sebesar 17,26 persen (YoY), meningkat signifikan dari triwulan sebelumnya didorong oleh adanya pemberlakuan bekerja dan belajar dari rumah yang memicu peningkatan penggunaan paket data. Sektor pertanian tumbuh sebesar 7,8 persen (YoY), meningkat seiring dengan peningkatan permintaan CPO dari India yang mendorong naiknya permintaan Tandan

33 Buah Segar (TBS). Sementara itu, beberapa sektor mengalami kontraksi yang menyebabkan perekonomian Riau melambat, diantaranya sektor perdagangan yang terkontraksi hingga 7,1 persen (YoY) seiring dengan penurunan penjualan mobil dan sepeda motor, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang terkontraksi sebesar 6,2 persen (YoY), dan sektor pertambangan yang terus terkontraksi 5,2 persen (YoY) seiring dengan penurunan alami (natural declining) produksi minyak mentah selama beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, provinsi yang mengalami perlambatan cukup signifikan di wilayah Sumatera adalah provinsi Lampung yang tumbuh sebesar 1,7 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 5,1 persen (YoY). Hal ini disebabkan oleh melambatnya kinerja sektor-sektor utama di provinsi Lampung.

Sektor pertanian terkontraksi 2,8 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,1 persen (YoY) karena adanya gagal panen pada komoditi cabai merah di Lampung Barat pada bulan Januari 2020 dan Lampung Utara pada Februari 22020 akibat hama dan penyakit kuning. Industri pengolahan tumbuh 1,4 persen (YoY) melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,8 persen (YoY), dan perdagangan tumbuh sebesar 2,7 persen (YoY), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh hingga 8,2 persen (YoY). Kinerja sektor konstruksi melambat (4,2 persen, YoY) dari triwulan sebelumnya (4,9 persen YoY) yang tercermin dari penurunan realisasi pengadaan semen yang terkontraksi hingga 17,5 persen (YoY). Di sisi lain, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh positif (7,7 persen, YoY) didorong oleh

peningkatan aktivitas rumah sakit dan klinik kesehatan akibat meningkatnya jumlah kasus DBD dan pandemi COVID-19.

34

Tabel 13 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Tahun 2014 – Triwulan I tahun 2020

(persen, YoY)

2014 2015 2016 2017 2018 2019:1 2019:2 2019:3 2019:4 2020:1

Sumatera 4,6 3,5 4,3 4,3 4,5 4,6 4,6 4,5 4,6 3,2

Aceh 1,6 -0,7 3,3 4,2 4,6 3,9 3,7 3,8 5,2 3,2

Sumut 5,2 5,1 5,2 5,1 5,2 5,3 5,3 5,1 5,2 4,7

Sumbar 5,9 5,5 5,3 5,3 5,1 4,9 5,0 5,2 5,1 3,9

Riau 2,7 0,2 2,2 2,7 2,3 2,9 2,8 2,7 2,9 2,2

Jambi 7,4 4,2 4,4 4,6 4,7 4,7 4,9 4,5 3,6 1,7

Sumsel 4,8 4,4 5,0 5,5 6,0 5,7 5,8 5,7 5,7 5,0

Bengkulu 5,5 5,1 5,3 5,0 5,0 5,1 5,0 5,0 4,8 3,8

Lampung 5,1 5,1 5,1 5,2 5,3 5,2 5,6 5,2 5,1 1,7

Kep. Babel 4,7 4,1 4,1 4,5 4,5 2,8 3,4 3,0 4,0 1,3

Kep. Riau 6,6 6,0 5,0 2,0 4,6 4,8 4,6 4,9 5,2 2,1

Jawa 5,6 5,5 5,6 5,6 5,7 5,7 5,6 5,5 5,3 3,4

DKI Jakarta 5,9 5,9 5,9 6,2 6,2 6,2 5,5 5,9 6,0 5,1

Jabar 5,1 5,0 5,7 5,3 5,6 5,4 5,7 5,1 4,1 2,7

Jateng 5,3 5,5 5,2 5,3 5,3 5,1 5,5 5,6 5,3 2,6

DI Yogyakarta 5,2 5,0 5,0 5,3 6,2 7,5 6,8 6,0 6,2 -0,2

Jatim 5,9 5,4 5,6 5,5 5,5 5,5 5,7 5,3 5,5 3,0

Banten 5,5 5,4 5,3 5,7 5,8 5,4 5,4 5,4 5,9 3,1

Bali Nusra 5,9 10,4 5,9 3,7 2,7 4,6 4,8 5,3 5,5 0,9

Bali 6,7 6,0 6,3 5,6 6,4 6,0 5,7 5,3 5,5 -1,1

NTB 5,2 21,8 5,8 0,1 -4,6 1,7 2,1 6,5 5,7 3,2

NTT 5,1 4,9 5,1 5,1 5,1 5,3 6,4 3,9 5,3 2,8

Kalimantan 3,4 1,4 2,0 4,3 3,9 5,2 5,4 5,7 3,7 2,5

Kalbar 5,0 4,9 5,2 5,2 5,1 5,2 5,1 5,1 4,7 2,5

Kalteng 6,2 7,0 6,3 6,7 5,6 6,0 7,5 5,2 6,0 2,9

Kalsel 4,8 3,8 4,4 5,3 5,1 4,3 4,2 4,0 3,9 5,7

Kaltim 1,7 -1,2 -0,4 3,1 2,7 5,1 5,1 6,3 2,7 1,3

Kaltara 8,2 3,4 3,6 6,8 6,0 7,2 7,9 6,6 6,0 5,0

Sulawesi 6,9 8,2 7,4 7,0 6,7 6,5 6,7 6,5 6,9 3,8

Sulut 6,3 6,1 6,2 6,3 6,0 6,6 5,5 5,2 5,5 4,3

Sulteng 5,1 15,5 9,9 7,1 6,3 6,5 6,3 6,2 9,6 4,9

Sulsel 7,5 7,2 7,4 7,2 7,1 6,6 7,4 7,2 6,5 3,1

Sultra 6,3 6,9 6,5 6,8 6,4 6,4 6,3 6,4 6,9 4,4

Gorontalo 7,3 6,2 6,5 6,7 6,5 6,8 6,7 5,7 6,5 4,1

Sulbar 8,9 7,3 6,0 6,6 6,2 6,0 5,1 5,2 6,4 4,9

Maluku Papua 4,5 6,3 7,4 4,9 7,0 -9,6 -13,1 -7,4 1,0 2,9

Maluku 6,6 5,5 5,7 5,8 5,9 6,3 6,1 5,3 4,7 4,0

Maluku Utara 5,5 6,1 5,8 7,7 7,9 7,7 7,5 4,1 5,4 3,1

Papua Barat 5,4 4,2 4,5 4,0 6,2 -0,2 -0,5 2,9 8,3 5,1

Papua 3,6 7,3 9,14 4,64 7,33 -18,7 -23,9 -15,1 -3,7 1,5

NASIONAL 5,01 4,88 5,03 5,07 5,17 5,07 5,05 5,02 4,97 2,97

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

35

Dalam dokumen PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA DAN DUNIA (Halaman 31-37)

Dokumen terkait