BAB III GAMBARAN UMUM
3.2 Indeks LQ45
3.2.5. Produk Perusahaan LQ45
Berikut adalah Produk yang diproduksi oleh masing-masing perusahaan yang tercantum dalam Indeks LQ 45 :
Tabel 3.4 Produk perusahaan
Nama Perusahaan Produk yang dihasilkan Perusahaan 1.Astra Agro Lestari, Tbk Minyak kelapa sawit dan bahan perkebunan.
2. Adaro Energy, Tbk Batu bara.
3.Aneka Tambang, Tbk Feronikel,emas,perak,bijih nikel,bauksit,pengolahan dan pemurnian logam.
4.Astra International, Tbk Tidak ada produk spesifik karena Astra Internastional merupakan holding company.
5.AKR Korporindo, Tbk Jasa logistik seperti persewaan crane, forklift, serta distribusi petrolium, high speed diesel, industrial diesel oil, fuel oil, caustic soda flake, caustic soda liquid, hydrochloric acid.
6. Alam Sutera Realty, Tbk silkwood residence apartement, perumahan alam sutera, cluster, kawasan ruko alam sutera, serta office tower Alam Sutera.
7. Bumi Resource, Tbk Batu bara jenis prima, pinang melawan, senakin, satul, mulia asam asam, dan batulicin.
8. Charoen Phokpand Indonesia, Tbk
Pakan ternak yang meliputi pakan ternak ayam pedaging, pakan ternak ayam petelur, dan pakan ternak lainnya, dan pembibitan ayam yang meliputi pembibitan ayam petelur, dan ayam pedaging, selain itu juga makanan olahan yang meliputi fiesta, golden fiesta, champ, dan okey.
9. Delta Dunia Makmur, Tbk Jasa kontraktor pertambangan batubara yang meliputi konstruksi infrastruktur pertambangan pembersihan lahan, pembungan lapisan tanah bagian atas, pengeboran dan penghancuran, penambangan serta rehabilitasi dan reklamasi tanah bekas pertambangan.
10.Bakrieland Development, Tbk
Jasa kontraktor pembangunan infrastruktur termasuk di dalamnya hotel, perumahan, perkantoran, gedung, resort, dan jalan tol.
11.Energy Mega Persada, Tbk Minyak bumi mentah,gas alam,petroleum,gas cair.
12.XL Axiata, Tbk Kartu pasca bayar, kartu prabayar, layanan pulsa elektronik, electronic content, ring back tone, serta layanan XL center.
13.Gudang Garam, Tbk Sigaret kretek tangan dan linting yang meliputi nusa, gudang garam merah, gudang garam djaja, sriwedari lurik, sriwedari biru lurik, klobot manis, selain itu juga sigaret kretek mesin gudang garam international, surya 12, surya 16, surya 12 premium, surya professional, surya professional mild, surya slim, surya slim menthol, surya slim premium.
14.Gajah Tunggal, Tbk Ban mobil penumpang seperti champiro 50, champiro 75, champiro bax 2, champiro bxt,champiro eco, champiro gtx 60, champiro gtx 65, champiro hpx, champiro hpy, champiro s, classiro, champiro 378;
ban mobil komersil seperti GT super, dan GT super 88 n; ban sepeda motor seperti: NF 2, NF 25, NF 3,
Bogasari, Indofood cbp, agribisnis, serta distribusi.
17.Indika Energy, Tbk Batu bara, pembangkit listrik.
18.Indocement Tunggal Prakasa, Tbk
Portland composite cement, Ordinary Portland cement, oil well cement, white cement, white mortar TR 30,ready mix concrete.
19.Indo Tambangraya Megah, Tbk
Kartu GSM seperti Star one, IM3, indosat gsm, indosat internet, indosat arena yang meliputi unduhan atas musik, video, ring back tone.
20.Jasa Marga, Tbk Jasa pengelolaan jalan tol, pembangunan jalan tol, pemeliharaan jalan tol, pembangunan pit stop.
21.Kawasan Industri Jababeka, Tbk
Kawasan industri Cikarang dan Cilegon, Perumahan, Taman Edukasi, Rumah Sakit, dan lainnya .
22.Kalbe Farma, Tbk Obat yang dijual bebas seperti cerebrofort, cerebrofort gold, cerebrovit, entrostop, fatigon, handy clean, mixadin, procold, dan lainnya; obat sesuai resep seperti A D plex, aerrane, albiotin, allevyn, aminofusin paed; produk kesehatan hewan seperti agrivit poultry, alplucine premix, amphimix, dan lainnya.
23.Lippo Karawaci, Tbk Pembangunan infrastruktur, rumah sakit, pusat perbelanjaan, perhotelan, properti dan manajemen portfolio .
24.PP London Sumatera Indonesia, Tbk
Minyak kelapa sawit .
25.Perusahaan Gas Negara, Tbk
Distribusi dan transmisi gas melalui pipa jalur gas .
26.Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk
Batu bara, dan jasa procurement.
27.Semen Gresik, Tbk Ordinary portland cement type 1,ordinary portland cement type 2, ordinary portland cement type 3, ordinary portland cement type 5, portland composite cement, super masonary cement, oil well cement, special blended cement, portland pozzoland cement.
28.Timah, Tbk Produk berbahan dasar timah seperti banka tin, mentok tin, banka low head, tin alloy, tin solder, tin chemical, serta produk lain non timah seperti batubara, dan aspal.
29.Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Penyedia jasa internet seperti telkom speedy, jasa ring back tone, Telkom flexy, tv kabel telkom vision,
pemasangan telepon tetap, layanan telepon seluler, jasa infrastruktur.
30.Trada Maritime, Tbk Jasa pengapalan dan transportasi laut.
31.Bakrie Sumatera Plantation, Tbk
Minyak kelapa sawit, karet, oleochemical.
32.United Tractor, Tbk Distribusi dan penjualan alat berat, layanan purna jual alat berat, rekayasa dan fabrikasi alat berat, remanufaktur dan rekondisi, penyewaan dan penjualan alat berat bekas, distribusi traktor pertanian, dan kontraktor pertambangan serta pertambangan.
33.Unilever Indonesia, Tbk Produk makanan seperti kecap bango, blue band, buavita, royco, sariwangi, taro, dan es krim wallβs ; perawatan rumah seperti cif, domestos nomos, purelt, rinso, sunlight, viso, vixal, wipol; perawatan pribadi seperti deodorant axe, body lotion citra, dove, lifebuoy, lux, pepsodent, pondβs, rexona, sunsilk, vaseline.
Sumber : www.idx.co.id 3.2.6 Pimpinan Perusahaan
Berikut adalah daftar CEO per Ferbruari 2012 dari masing-masing perusahaan yang tergolong ke Indeks LQ 45 :
Tabel 3.5
Pimpinan Perusahaan per februari 2012
Nama Perusahaan CEO yang memimpin Perusahaan 1.Astra Agro Lestari, Tbk Widya Wiryawan.
2. Adaro Energy, Tbk Garibaldi Thohir.
3.Aneka Tambang, Tbk Alwin Syah Lubis.
4.Astra International, Tbk Prijono Sugiarto.
5.AKR Korporindo, Tbk Haryanto Adikoesoemo.
6.Alam Sutera Realty, Tbk Tri Ramadi.
7.Bumi Resource, Tbk Ari S. Hudaya.
8.Charoen Phokpand Indonesia, Tbk Tjiu Thomas Effendy.
9.Delta Dunia Makmur, Tbk Hagianto Kumala .
10.Bakrieland Development, Tbk Hiramsyah Sambudy Thaib . 11.Energy Mega Persada, Tbk Imam P Agustino.
12.XL Axiata, Tbk Hasnul Suhaimi.
13.Gudang Garam, Tbk Susilo Wonowidjojo.
14.Gajah Tunggal, Tbk Christoper Chan Siew Chong.
15.International Nickel Indonesia, Tbk Nico Kanter.
16.Indofood Sukses Makmur, Tbk Anthony Salim . 17.Indika Energy, Tbk M. Arsjad Rasjid PM. 18.Indocement Tunggal Prakasa, Tbk Daniel Lavalle.
19.Indo Tambangraya Megah, Tbk Somyot Ruchirawat
20.Jasa Marga, Tbk Adityawarman.
21.Kawasan Industri Jababeka, Tbk Setyono Djuandi Darmono.
22.Kalbe Farma, Tbk Johannes Setijono.
23.Lippo Karawaci, Tbk Ketut Budi Wijaya . 24.PP London Sumatera Indonesia, Tbk Benny Tjoeng.
25.Perusahaan Gas Negara, Tbk Hendi Prio Santoso.
26.Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk Milawarma.
27.Semen Gresik, Tbk Dwi Soetjipto.
28.Timah, Tbk Wachid Usman.
29.Telekomunikasi Indonesia, Tbk Rinaldi Firmansyah. 30.Trada Maritime, Tbk Teguh Arya Putra.
31.Bakrie Sumatera Plantation, Tbk Ambono Janurianto.
32.United Tractor, Tbk Djoko Pranoto.
33.Unilever Indonesia, Tbk Maurits Daniel Rudolf Lalisang. Sumber : www.idx.co.id
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data
Penilaian rasio keuangan perusahaan akan membantu manajemen perusahaan untuk terus berusaha menciptakan kinerja yang lebih baik lagi dan sebagai dasar pengambilan keputusan-keputusan yang penting bagi pertumbuhan perusahaan. Bagi investor, rasio keuangan perusahaan merupakan pertimbangan yang penting dalam menginvestasikan modalnya. Dalam bab ini, akan dianalisis rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas terhadap return saham dari beberapa perusahaan yang terdaftar dalam indeks saham LQ45 di Bursa Efek Jakarta.
4.2 Hasil Penelitian Rasio Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan LQ 45
4.2.1 Hasil Penelitian Rasio Likuiditas Pada Perusahaan LQ 45
Rasio likuiditas yaitu menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya. Pengukuran rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan current ratio (CR). Current ratio merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan mendanai operasionalnya dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Adapun cara untuk menghitung current ratio adalah sebagai berikut :
Gambaran hasil penelitian mengenai tingkat rasio likuiditas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1
Tingkat Rasio Likuiditas Tahun 2008 - 2012
No. Perusahaan Tahun Current
Assets Current
2012
2011
2010 (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
4.2.2 Hasil Penelitian Rasio Solvabilitas Pada Perusahaan LQ 45
Rasio solvabilitas yaitu mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan hutang. Pengukuran rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Debt to Equty Ratio (DER). Debt to equty ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan kewajiban hutang. Adapun cara untuk menghitung debt to equty ratio adalah sebagai berikut :
Gambaran hasil penelitian mengenai tingkat rasio solvabilitas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2
Tingkat Rasio Solvabilitas Tahun 2008 - 2012
No. Perusahaan Tahun Total Debt Total
2012
2011 (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
4.2.3 Hasil Penelitian Rasio Aktivitas Pada Perusahaan LQ 45
Rasio Aktivitas yaitu rasio yang menunjukan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal. Salah satu indikator dari rasio aktivitas adalah total assets turn over (TATO). Total assets turn over menunjukan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan
aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Adapun cara untuk menghitung total assets turn over adalah sebagai berikut :
Gambaran hasil penelitian mengenai tingkat rasio aktivitas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Tingkat Rasio Aktivitas Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan Tahun Sales Total Assets TATO Rata2 TATO
2009 32,973,000 27,230,965 1.21
2011 67,677,518 97,814,160 0.69 (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
4.2.4 Hasil Penelitian Rasio Profitabilitas Pada Perusahaan LQ 45
Rasio Profitabilitas yaitu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset dan modal saham yang tertentu. Pengukuran rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan return on assets. Return on assets (ROA) menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Adapun cara untuk menghitung return on assets adalah sebagai berikut :
π ππ‘π’ππ ππ π΄π π ππ‘π = .,-, -$#)+β¦
V$%β ",.,% π₯ V$%β ",.,%
&0&,. ,β‘&+Λ,
Gambaran hasil penelitian mengenai tingkat rasio profitabilitas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.4
Tingkat Rasio Profitabilitas Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan Tahun Net Income Total Assets ROA Rata-rata ROA
2012 2,952,858 47,275,955 0.06 (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
4.2.5 Hasil Penelitian Return Saham Pada Perusahaan LQ 45
Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung resiko atas investasi yang dilakukannya. Semakin tinggi return yang di hasilkan suatu perusahaan maka semakin tinggi pula seorang investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.
Komponen pengukuran return terdiri dari selisih harga investasi sekarang relative dengan harga periode yang lalu (capital gain/loss) dan presentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi (yield).
Adapun cara untuk menghitung return adalah sebagai berikut : πππ‘π’ππ π πβππ = Pα΅Ό β Pα΅Ό β 1 + Dα΅Ό
Pα΅Ό β 1
Gambaran hasil penelitian mengenai tingkat return saham pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.5
Tingkat Rasio Return Saham Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan Tahun Closing
Price (Pα΅Ό) Closing Price
Sebelumnya (Pα΅Ό-1) Deviden Return Saham
2011
2010
2009
(Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
4.3 Pembahasan
4.3.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk memperoleh hasil analisi regresi yang valid. Secara teoritis, pengujian asumsi klasik meliputi pengujian yang terdiri atas uji normalitas data, uji multikolinearitas dan uji heterokedastisitas. Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows.
4.3.1.1 Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas data digunakan untuk menganalisis apakah syarat persamaan regresi sudah dipenuhi atau belum. Deteksi normalitas data dapat berupa gambar visual yang menunjukan jauh dekatnya titik-titik pada gambar tersebut dengan garis diagonal. Jika data mempunyai distribusi normal, maka nilai-nilai sebaran data yang tercermin dalam titik-titik pada output akan terletak di sekitar
garis diagonal. Sebaliknya, jika data tidak mempunyai distribusi normal maka titik-titik tersebut tersebar tidak di sekitar garis diagonal melainkan terpencar jauh dari garis diagonal.
Setelah dilaksanakan uji normalitas pada data yang akan digunakan, hasil yang diperoleh dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 4.1 Normalitas Data
Gambar di atas menunjukan bahwa titik-titik yang menggambarkan data penelitian yang akan digunakan bisa dikatakan tersebar di sekeliling garis diagonal dan tidak terpencar jauh dari garis diagonal. Hasil ini menunjukan bahwa data yang akan di regresi dalam penelitian ini berdistribusi normal atau dikatakan bahwa persyaratan normalitas data bisa dipenuhi.
4.3.1.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Cara mendeteksi
multikoliniearitas dengan pengujian statistik adalah dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF).
Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 dan angka tolerance mendekati 1.
Batas VIF adalah 10, jika nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinieritas atau sebaliknya.
Table 4.6
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF
1 Likuiditas .537 1.862
Solvabilitas .502 1.992
Aktivitas .658 1.521
Profitabilitas .613 1.631 a. Dependent Variable: return saham
Berdasarkan dari hasil tabel diatas, menunjukan tidak adanya korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas, yang disebabkan karena VIF lebih kecil dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinieritas diantara variabel bebas yang diteliti.
4.3.1.3 Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Adapun untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas, yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot.
Untuk selengkapnya hasil uji heterokedastisitas ditunjukkan pada grafik scatterplot berikut ini:
Gambar 4.2 Grafik Scatterplot
Dengan melihat tampilan grafik scatterplot diatas, terlihat bahwa titik-titik tersebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas.
Hal ini berarti tidak terjadi heterokedastisitas, sehingga model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi heterokedastisitas.
Hasil uji asumsi klasik di atas menunjukkan bahwa data yang akan diolah dalam penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa data yang digunakan sebagai variabel independen (variabel rasio keuangan) memenuhi syarat untuk memprediksi variabel dependen (return saham).
4.3.2 Analisis Tingkat Rasio Keuangan Perusahaan LQ 45 di BEI
4.3.2.1 Analisis Tingkat Rasio Likuiditas Perusahaan Indeks LQ 45 di BEI
Gambaran hasil penelitian mengenai perkembangan tingkat rasio likuiditas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.7
Tingkat Rasio Likuiditas Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan Tahun
Rata-rata CR (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
Berdasarkan tabel 4.7 di atas, rasio likuiditas pada perusahaan LQ 45 selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Rata-rata rasio likuiditas yang paling tinggi untuk 12 perusahaan, terlihat pada tahun 2011 yaitu sebesar 3.06.
Sedangkan rata-rata rasio likuiditas yang paling rendah untuk 12 perusahaan terlihat pada tahun 2008 yaitu sebesar 1.98.
Selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 rata-rata rasio likuiditas yang paling tinggi dicapai oleh PT. Aneka Tambang (ANTM)
yaitu dengan rata-rata sebesar 5.26. Sedangkan rata-rata rasio likuiditas yang paling rendah dicapai oleh PT. Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan rata-rata rasio likuiditas sebesar 0.70.
Adapun grafik yang menunjukan perubahan rasio likuiditas pada perusahaan LQ 45 selama tahun 2008 sampai dengan tahun 2012, sebagai berikut:
Gambar 4.3 Grafik Rasio Likuiditas
Dari grafik 4.3 di atas dapat dilhat bahwa perubahan rasio likuiditas terendah dilakukan oleh PT. Indosat (ISAT) pada tahun 2012 sebesar 0.52 sedangkan perubahan rasio likuiditas tertinggi dilakukan oleh PT. Aneka Tambang (ANTM) Pada tahun 2008 sebesar 8.1.
Untuk tahun 2008 PT. Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) memiliki rasio likuiditas yang paling tinggi yaitu sebesar 5.44. Sedangkan PT.
Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memiliki rasio likuiditas yang paling rendah yaitu sebesar 0.68. Untuk tahun 2009 PT. Aneka Tambang (ANTM) memiliki rasio
likuiditas yang paling tinggi yaitu sebesar 4.47. Sedangkan PT. Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memiliki rasio likuiditas yang paling rendah yaitu sebesar 0.77.
Untuk tahun 2010 PT. Aneka Tambang (ANTM) memiliki rasio likuiditas yang paling tinggi yaitu sebesar 8.1. Sedangkan PT. Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memiliki rasio likuiditas yang paling rendah yaitu sebesar 0.54.
Untuk tahun 2011 PT. International Nickel Indonesia (INCO) memiliki rasio likuiditas yang paling tinggi yaitu sebesar 7.24. Sedangkan PT.
Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memiliki rasio likuiditas yang paling rendah yaitu sebesar 0.77. Untuk tahun 2012 PT. Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) memiliki rasio likuiditas yang paling tinggi yaitu sebesar 5.79. Sedangkan PT.
Indosat (ISAT) memiliki rasio likuiditas yang paling rendah yaitu sebesar 0.52.
Dari data tabel 4.7 dapat di hitung nilai statistik deskriptif rasio likuiditas dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Hasilnya dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8
Hasil Analisis Statistik Deskriptif Rasio Likuiditas
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
likuiditas 60 .52 8.10 2.4620 1.96672
Valid N (listwise) 60
Dengan melihat hasil analisis deskriptif pada tabel 4.8, dapat disimpulkan bahwa rata-rata rasio likuiditas pada perusahaan LQ 45 periode 2008 sampai dengan 2012 adalah sebesar 2,4620. Hal ini mempunyai arti bahwa 2,4620 aktiva lancar menjamin 1 satuan hutang lancar perusahaan. Untuk rasio likuiditas maksimum terjadi pada perusahaan PT. Aneka Tambang (ANTM) pada tahun 2010
sebesar 8,10, yang artinya setiap 8,10 aktiva lancar menjamin 1 satuan hutang lancar perusahaan. Sedangkan rasio likuiditas minimum terjadi pada perusahaan Indosat (ISAT) pada tahun 2012 sebesar 0.52, yang artinya setiap 0,52 aktiva lancar menjamin 1 satuan hutang lancar perusahaan.
4.3.2.2 Analisis Tingkat Rasio Solvabilitas Perusahaan Indeks LQ 45 di BEI Gambaran hasil penelitian mengenai perkembangan tingkat rasio solvabilitas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.9
Tingkat Rasio Solvabilitas Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
Berdasarkan tabel 4.9 di atas, rasio solvabilitas pada perusahaan LQ 45 selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Rata-rata rasio solvabilitas yang paling tinggi untuk 12
perusahaan, terlihat pada tahun 2010 yaitu sebesar 0.97. Sedangkan rata-rata rasio solvabilitas yang paling rendah untuk 12 perusahaan terlihat pada tahun 2012 yaitu sebesar 0.78.
Selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 rata-rata rasio solvabilitas yang paling tinggi pada perusahaan LQ 45 dicapai oleh PT. Indofood Sukses Makmur (INDF) yaitu dengan rata-rata sebesar 2.32. Sedangkan rata-rata rasio solvabilitas yang paling rendah dicapai oleh PT. Astra Agro Lestari (AALI) dengan rata-rata rasio solvabilitas sebesar 0.22.
Adapun grafik yang menunjukan perubahan rasio solvabilitas pada perusahaan LQ 45 selama tahun 2008 sampai dengan tahun 2012, sebagai berikut:
Gambar 4.4 Grafik Rasio solvabilitas
Dari grafik 4.4 di atas dapat dilhat bahwa perubahan rasio solvabilitas terendah dilakukan oleh PT. Astra Agro Lestari (AALI) pada tahun 2009 sebesar 0.18, sedangkan perubahan rasio solvabilitas tertinggi dilakukan oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. sebesar 3,08 pada tahun 2008.
Untuk tahun 2008 PT. Indofood Sukses Makmur (INDF) memiliki rasio solvabilitas yang paling tinggi yaitu sebesar 2.10. Sedangkan PT. Astra Agro Lestari (AALI) memiliki rasio solvabilitas yang paling rendah yaitu sebesar 0.24.
Untuk tahun 2009 PT. Indofood Sukses Makmur (INDF) memiliki rasio solvabilitas yang paling tinggi yaitu sebesar 2.62. Sedangkan PT. Indocement Tunggal Perkasa (INTP) memiliki rasio solvabilitas yang paling rendah yaitu sebesar 0.24. Untuk tahun 2010 PT. Indofood Sukses Makmur (INDF) memiliki rasio solvabilitas yang paling tinggi yaitu sebesar 3.08. Sedangkan PT. Indocement Tunggal Perkasa (INTP) memiliki rasio solvabilitas yang paling rendah yaitu sebesar 0.17. Untuk tahun 2011 PT. Indofood Sukses Makmur (INDF) memiliki rasio solvabilitas yang paling tinggi yaitu sebesar 2.45. Sedangkan PT. Indocement Tunggal Perkasa (INTP) memiliki rasio solvabilitas yang paling rendah yaitu sebesar 0.15. Untuk tahun 2012 PT. Indosat (ISAT) memiliki rasio solvabilitas yang paling tinggi yaitu sebesar 1.94. Sedangkan PT. Astra Agro Lestari (AALI) memiliki rasio solvabilitas yang paling rendah yaitu sebesar 0.19.
Dari data tabel 4.9 dapat di hitung nilai statistik deskriptif rasio solvabilitas dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Hasilnya dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10
Hasil Analisis Statistik Deskriptif Rasio solvabilitas
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
solvabilitas 60 .15 3.08 .8875 .68676
Valid N (listwise) 60
Sumber : hasil olah data penulis, 2013
Dengan melihat hasil analisis deskriptif pada tabel 4.10, dapat disimpulkan bahwa rata-rata rasio solvabilitas pada perusahaan LQ 45 periode 2008 sampai dengan 2012 adalah sebesar 0.8875. Hal ini mempunyai arti bahwa 0.8875 hutang perusahaan ditanggung oleh 1 ekuitas. Nilai maksimum solvabilitas terjadi pada PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk. sebesar 3.08 pada tahun 2010, yang artinya setiap 3.08 hutang perusahaan ditanggung oleh 1 ekuitas. Sedangkan rasio solvabilitas minimum dilakukan oleh PT. Indocement Tunggal Perkasa (INTP) pada tahun 2011 sebesar 0.15, yang artinya setiap 0.15 hutang perusahaan ditanggung oleh 1 ekuitas.
4.3.2.3 Analisis Tingkat Rasio Aktivitas Perusahaan Indeks LQ 45 di BEI Gambaran hasil penelitian mengenai perkembangan tingkat rasio aktivitas pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.11
Tingkat Rasio Aktivitas Tahun 2008 β 2012
No. Perusahaan Tahun Rata-rata
TATO (Sumber: Hasil olah data penulis, 2013)
Berdasarkan tabel 4.11 di atas, rasio aktivitas pada perusahaan LQ 45 selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Rata-rata rasio aktivitas yang paling tinggi untuk 12 perusahaan, terlihat pada tahun 2009 yaitu sebesar 1.04.
Berdasarkan tabel 4.11 di atas, rasio aktivitas pada perusahaan LQ 45 selama periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Rata-rata rasio aktivitas yang paling tinggi untuk 12 perusahaan, terlihat pada tahun 2009 yaitu sebesar 1.04.