• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.7. Metode Penelitian

1.7.2. Populasi dan Sampel

1.7.2.2. Sampel Penelitian

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan ukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya sampel yang diambil dalam melaksanakan suatu penelitian.

Menurut Sugiyono (2010:116), menyebutkan bahwa : “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.”

Dalam penelitian ini, sampel yang terpilih adalah perusahaan yang masuk ke dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 secara berturut-turut dan memiliki kriteria tertentu yang mendukung penelitian. Adapun perusahaan-perusahaan LQ 45 yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1

Perusahaan-Perusahaan LQ 45 Yang Menjadi Sampel Penelitian No. Kode Emiten Nama Perusahaan Alamat Perusahaan

1. AALI Astra Agro Lestari Tbk. Jl. Pulo Ayang Raya Blok

5. INCO International Nickel Indonesia Tbk. 7. INTP PT. Indocement Tunggal

Perkasa, Tbk.

Wisma Indocement, 8th Fl.

Jln. Jend. Sudirman Kav. 70-71, Jakarta 12910

8. ISAT Indosat, Tbk Jl. Medan Merdeka Barat

No. 21 Jakarta

9. PTBA Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.

Jl. Perigi No. 1 Tanjung Enim Sumatera Selatan 10. TLKM Telekomunikasi

Indonesia Tbk

Jl. Japati No. 1 Bandung

11. UNTR United Tractors, Tbk Jl. Raya Bekasi Km 22 Cakung, Jakarta 12. UNVR PT. Unilever Indonesia

Tbk.

Graha Unilever

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 15 Jakarta 12930

Sumber: www.idx.co.id (data diolah) 1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.7.3.1 Penelitian Lapangan (Field Research)

Pada tahap ini, penulis melakukan pengambilan data-data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang masuk ke dalam indeks LQ45 periode 2008 sampai dengan 2012 secara langsung ke Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Bursa Efek Indonesia, kemudian penulis mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah data-data sekunder yang berhubungan dengan objek yang akan penulis teliti.

1.7.3.2 Riset Internet (Online Research)

Pada tahap ini, penulis berusaha untuk memperoleh berbagai data dan informasi dari situs-situs yang berhubungan dengan penelitian.

1.7.4 Metode Analisis Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis 1.7.4.1 Analisis Data

Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini berkaitan dengan hubungan antara variabel-variabel penelitian. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan dilanjutkan pengujian hipotesis yang meliputi penetapan hipotesis, uji statistik, yaitu dengan analisis regresi linear dan korelasi ganda.

Tujuannya adalah untuk menetapkan apakah variabel bebas mempunyai hubungan dengan variabel terikatnya. Penetapan tingkat signifikansi, dan diakhiri dengan penentuan dasar penarikan kesimpulan melalui penerimaan atau penolakan hipotesis.

Menurut Sugiyono (2010:206) yang dimaksud dengan analisis data adalah sebagai berikut :

“Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, menstabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.”

Untuk mengetahui pengaruh rasio keuangan terhadap return saham, maka digunakan teknik analisis data statistik parametrik. Statistik parametrik digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik atau menguji ukuran sampel melalui data sampel.

Skala yang digunakan untuk mengukur variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala rasio, yaitu skala yang mempunyai data yang jaraknya sama dan mempunyai nilai mutlak. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh rasio keuangan terhadap return saham, maka diperlukan beberapa langkah-langkah analisis sebagai berikut :

1.7.4.2 Analisis Deskriptif

Menurut Sugiono (2010:206) analisa deskriptif adalah : “Menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah

terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.”

Analisa deskriptif merupakan analisa yang digunakan untuk membahas data kuantitatif. Dalam analisis ini dilakukan pembahasan mengenai bagaimana pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas secara parsial dan simultan terhadap return saham.

Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keuangan yang berupa rasio-rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Sehingga analisis deskriptif dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan return saham, dengan rumusan masalah sebagai berikut:

Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas sebagai variabel independen, di ukur dengan menggunakan current ratio sebagai indikatornya. Current ratio yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Untuk menghitung nilai current ratio adalah sebagai berikut :

Current Ratio = !"##$%& ())$&)

!"##$%& *+,-+.+&+$)

Sumber:Agus Sartono (2008;116) Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas sebagai variabel independen di ukur dengan menggunakan debt to equty ratio sebagai indikatornya. Debt to equty ratio yaitu rasio untuk mengukur bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan

jaminan untuk keseluruhan kewajiban atau hutang. Untuk menghitung nilai debt to equty ratio adalah sebagai berikut :

Debt To Equity Ratio = /0&,. 1$-&

/0&,. 23"+&4

Sumber: Agus Sartono (2008;121) Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas sebagai variabel independen, di ukur dengan menggunakan Total assets turn over sebagai indikatornya. Total assets turn over yaitu rasio untuk menunjukan efektifitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan bersih yang dapat di hasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan. Untuk menghitung nilai total assets turn over adalah sebagai berikut :

Total Assets Turn Over = 5,.$)

/0&,. ())$&)

Sumber: Agus Sartono(2008;120) Return Saham

Return saham sebagai variabel dependen, merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Untuk menghitung nilai return adalah sebagai berikut :

Return Saham = Pt – Pt-1 Pt-1

Sumber: Jogiyanto (2007:197) 1.7.4.3 Analisis Verifikatif

Untuk mengetahui pengaruh rasio keuangan terhadap return saham, maka digunakan statistik parametris. Statistik parametris digunakan untuk

menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel (Sugiono, 2010:208).

Skala yang digunakan untuk mengukur rasio keuangan dan return saham adalah skala rasio. Rasio keuangan yang digunakan adalah yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas sedangkan return saham yang digunakan adalah return saham total. Dari penjelasan di atas maka didapatkan empat variabel, variabel independen terdiri dari rasio likuiditas (X1), rasio solvabilitas (X2), dan rasio aktivitas (X3) sedangkan yang menjadi variabel dependen adalah return saham (Y).

Analisis statistik digunakan untuk membahas data kuantitatif.

Analisis yang digunakan adalah statistik inferensial atau disebut statistik induktif atau statistik probabilitas yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel yang hasilnya diberlakukan untuk populasi.

Dalam melakukan analisis statistik ada beberapa langkah pengujian statistik yang harus dilakukan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Asumsi klasik

Untuk melakukan penelitian dengan menggunakan analisis regresi linear, maka penelitian tersebut harus memperhatikan asumsi-asumsi yang mendasari model regresi. Asumsi tersebut adalah apabila terjadi gejala autokorelasi, heterokedesitas, dan multikolinearitas diantara variabel bebas dalam regresi tersebut. Setelah model yang akan diuji memenuhi asumsi klasik, dan regresi, maka tahap selanjutnya dilakukan uji statistik. Uji statistik yang dilakukan adalah uji t dan uji F. Maksud dari uji t adalah pengujian untuk

membuktikan adanya pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen sedangkan uji F adalah pengujian untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh secara bersama-sama dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Terdapat empat asumsi penting yang mendasari model regressi linier klasik, yaitu variabel-variabel tersebut mempunyai distribusi normal, varians bersyarat adalah konstan atau homoskedastik, tidak ada autokorelasi, dan tidak ada multikolinieritas diantara variabel-variabel yang menjelaskan.

1) Uji Normalitas

Uji signifikan pengaruh variabel independen terhadap dependen melalui uji t hanya akan valid jika residual yang kita dapatkan mempunyai distibusi normal. Pengujian normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak.

2) Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini biasanya digunakan sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau regresi linear. Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Test for Linearity dengan pada taraf signifikansi 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila signifikansi (Linearity) kurang dari 0,05.

3) Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal.

Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada tidaknya hubungan multikolinieritas diantara variabel-variabel bebas dengan variabel terikat dapat dilihat pada tolerance value atau varience inflation factor variabel independen terhadap variabel dependen(VIF).

Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas dan mempunyai angka tolerance mendekati 1. Batas VIF adalah 10, jika nilai VIF di bawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinieritas (Gujarati, 2003 : 362).

4) Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Deteksi adanya heterokedastisitas, yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot (Singgih Santoso, 2000:210). Dasar pengambilan keputusan :

• Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik (point-point) yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.

• Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Apabila salah satu dari uji asumsi klasik tersebut diatas tidak memenuhi kriteria asumsi klasik maka tidak dapat melakukan analisis regresi berganda, akan tetapi diasumsikan menggunakan analisis path.

b. Analisis korelasi

Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel X dengan variabel Y, maka dalam penelitian ini penulis akan menggunakan analisis korelasi pearson. Penulis menggunakan analisis korelasi pearson karena dalam penelitian ini penulis menggunakan skala rasio dan skala pengukuran rasio tersebut dapat diukur dengan analisis korelasi pearson.

Analisis korelasi pearson ini digunakan untuk mengukur kuat atau lemahnya pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas secara parsial dan simultan terhadap return saham. Penentuan koefisien korelasi dengan menggunakan metode analisis korelasi pearson dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

rxy = 𝑛 ∑𝑥𝑦 − ∑𝑥∑𝑦

;{𝑛∑𝑥= – (∑𝑥)2 } − {𝑛∑𝑦= − (∑𝑦) =}

(Sumber: Sugiono, 2010 : 248)

Dimana : r = koefisien korelasi x = variabel independen y= variabel dependen n= banyak sampel

Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan besar atau kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan berikut ini :

Tabel 1.3

Interprestasi Koefisien Korelasi

Interval Korelasi Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199

0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000

Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat (Sumber: Sugiyono, 2010 : 250)

c. Analisis Regresi Linier Berganda (Multiple Linier Regression) Analisis regresi menjadi alat untuk mengukur bagaimana pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian. Tujuan dari analisis regresi adalah untuk memprediksi besarnya variabel dependen dengan menggunakan data variabel independen yang sudah diketahui besarnya. Melalui analisis regresi ini akan dilakukan pengujian terhadap pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas secara parsial dan simultan terhadap rerturn saham di masa yang akan datang.

Karena dalam penelitian ini terdapat lebih dari satu variabel bebas yang akan diuji untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel terikat, maka proses analisis regresi yang dilakukan adalah menggunakan analisis regresi linier berganda (Multiple Linier Regression).

Analisis regresi linier berganda merupakan suatu teknik statistika yang digunakan untuk mencari persamaan regresi yang bermanfaat untuk meramal nilai variabel dependen berdasarkan nilai-nilai variabel independen dan mencari kemungkinan kesalahan dan menganalisa hubungan antara satu variabel dependen dengan dua atau lebih variabel independen baik secara simultan maupun parsial. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen baik secara simultan maupun parsial.

Analisis regresi linier berganda dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = α + β1x1 + β2 + β3 + β4x4 + e

(Sumber: Sugiyono, 2010 : 277) Dimana: Y = Return saham

α = Konstanta

β1, β2, β3, β4= Koefisien regresi X1 = Rasio Likuiditas

X2 = Rasio Solvabilitas X3 = Rasio Aktivitas X4 = Rasio Profitabilitas e = Epsilon

d. Pengujian hipotesis secara parsial (uji t-statistik)

Pengujian yang dilakukan adalah uji parameter (uji korelasi) dengan menggunakan uji t-statistik. Hal ini membuktikan apakah terdapat pengaruh antara masing-masing variabel independen (X) secara

parsial (masing-masing variabel) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y) dengan menggunakan rumus:

t = r√𝑛 − 2 1-r2

(Sumber: Sugiyono, 2010 : 250) Dimana: t = nilai uji t

r = Koefisien korelasi r2 = abecdeden determdnaed

n-2 = Derajat kebebasan distribusi student Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : Ho diterima bila : thitung ≤ ttabel

Ho ditolak bila : thitung ≥ ttabel

Bila hasil pengujian statistik menunjukan Ho ditolak, berarti rasio keuangan perusahaan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Tetapi apabila Ho diterima, berarti rasio keuangan perusahaan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif antara variabel X terhadap variabel Y.

Hipotesis Nol (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel X dan variabel Y dan hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel X dengan variabel Y. Dalam pengujian hipotesis ini, penulis menggunakan

uji signifikan atau uji parameter r, maksudnya untuk menguji tingkat signifikan maka harus dilakukan pengujian parameter r. Adapun rancangan pengujian hipotesis secara parsial adalah sebagai berikut:

Ho1 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio likuiditas terhadap return saham.

Hα1: r ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio likuiditas terhadap return saham.

Ho2 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio solvabilitas terhadap return saham.

Hα2 : r ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio solvabilitas terhadap return saham.

Ho3 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio aktivitas terhadap return saham.

Hα3 : r ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio aktivitas terhadap return saham.

Ho4 : r = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari systematic rasio profitabilitas terhadap return saham.

Hα4 : r ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio profitabilitas terhadap return saham.

e. Pengujian hipotesis secara simultan (uji F-statistik)

Pengujian yang dilakukan ini adalah dengan uji parameter _(uji korelasi) dengan menggunakan uji F-statistik. Hal ini membuktikan ada atau tidaknya pengaruh negatif antara variabel X dengan variabel Y secara bersama-sama (simultan). Rumus uji F adalah sebagai berikut:

Fh = R2 / k (1- R2) / (n-k-1)

Sumber:Sugiyono (2010:257) Dimana: R = Koefisien korelasi berganda

k = Jumlah variable independen n = Jumlah anggota sampel

Distribusi F ini ditentukan oleh derajat kebebasan pembilang dan penyebut, yaitu k dan n-k-1. Untuk uji F, kriteria yang digunakan adalah :

Ho diterima bila Ftabel< Fhitung Ho ditolak bila Ftabel> Fhitung

Bila Ho diterima, maka hal ini diartikan bahwa pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen dinilai tidak signifikan. Sedangkan penolakan Ho menunjukan pengaruh yang signifikan dari variabel independen secara simultan terhadap suatu variabel dependen. Adapun rancangan pengujian hipotesis secara simultan adalah sebagai berikut:

H05 : β1, β2, β3, β4 = 0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan profitabilitas secara simultan terhadap return saham.

Hα5 : β1, β2, β3, β4 ≠ 0 : Terdapat pengaruh yang signifikan dari rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan profitabilitas secara simultan terhadap return saham.

f. Koefisien determinasi

Setelah diketahui besarnya koefisien korelasi, tahap selanjutnya adalah mencari nilai dari koefisien determinasi. Koefisien determinasi ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

Kd = r² x 100%

Dimana:Kd = Koefisien determinasi r² = Koefisien korelasi

Untuk membantu dalam pengolahan data maka penulis menggunakan program aplikasi komputer yaitu program SPSS versi 16.0 dan program Microsof Excel 2007 sebagai alat bantu dalam mengolah data tersebut.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Investasi

Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa datang (Tandelilin, 2007:3). Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan yang dalam konteks manajemen investasi tingkat keuntungan investasi disebut sebagai return.

Menurut Tandelilin (2007:4) mengemukakan bahwa selain untuk mendapatkan return, ada beberapa tujuan lain yang dapat mempengaruhi seorang investor melakukan investasi, yaitu:

a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang.

Seorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana menciptakan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.

b. Mengurangi tekanan inflasi.

Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari resiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.

c. Dorongan untuk menghemat pajak.

Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu”.

Menurut Jogiyanto Hartono (2008:5), investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang effisien selama periode waktu tertentu. Jadi dari kedua pengertian investasi tersebut, investasi dapat di artikan sebagai penggunaan dana atau sumberdaya secara effisien untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan di masa yang akan datang.

Dilihat dari bentuknya, investasi menurut Irham Fahmi dan Yovi Lavianti, (2009:7) pada umumnya dikenal dalam dua bentuk, yaitu :

a. Real Investment

Investasi nyata atau real investment secara umum adalah investasi yang melibatkan asset berwujud, seperti tanah, bangunan, lahan perkebunan, lahan pertanian, mesin-mesin atau pabrik.

b. Financial Investment

Investasi keuangan atau financial investment melibatkan kontrak tertulis, seperti pada saham biasa (common stock) dan obligasi (bond)”.

Dalam dunia investasi terdapat banyak pilihan investasi yang dapat dipilih.

Seorang investor yang mempunyai kelebihan dana, dapat memilih dan memutuskan

tipe investasi seperti apa yang akan dipilihnya. Dalam hal ini menurut Irham Fahmi dan Yovi Lavianti (2009:7) ada dua tipe investasi yang dapat dipilih oleh seorang investor, yaitu;

a. Direct investment

Direct investment (investasi langsung) adalah mereka yang memiliki dana dapat langsung berinvestasi dengan membeli secara langsung suatu aktiva keuangan dari suatu perusahaan yang dapat dilakukan baikmelalui para perantara atau berbagai cara lainnya. Investasi langsung ada beberapa macam yaitu diantaranya:

1) Investasi langsung yang tidak dapat diperjualbelikan - Tabungan

- Deposito

2) Investasi langsung dapat diperjual belikan a) Investasi langsung di pasar uang

- T-bill

- Deposito ang dapat dinegosiasikan b) Investasi langsung di pasar modal

Surat-surat berharga pendapatan tetap (fixed income securities) yang dapat berupa:

- T-bond

- Federal agendy securities - Municipal bond

- Corporate bond - Convertible bond

Saham-saham (equity securities) - Saham preferen (preffered stock) - Saham biasa (common stock) 3) Investasi langsung di pasar turunan

a) Opsi

- Waran (warrant) - Opsi put (put option) - Opsi cal (call option) b) Future contract

b. Indirect investment

Indirect investment (investasi tidak langsung) adalah mereka ang memiliki kelebihan dana dapat melakukan keputusan berinvestasi dengan tidak terlibat secara langsung atau pembelian aktiva keuangan cukup hanya dengan memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja. Mereka yang melakukan kebijakan indirect investment umumnya cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan penting pada suatu perusahaan. Contohnya membeli saham dan obligasi yang dijual di pasar modal dan itu juga biasanya dilakukan melalui perusahaan investasi atau adanya perantara (agent).

Dari penjelasan tersebut, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di dalam dunia investasi terdapat banyak jenis investasi yang tersedia baik investasi langsung atau investasi tidak langsung. Perusahaan yang menyediakan investasi adalah perusahaan yang menyediakan jasa keuangan dengan cara menjual

sahamnya ke publik dan menggunakan dana yang diperoleh untuk di investasikan ke dalam portofolionya.

2.2 Saham

Di dalam pasar modal terdapat banyak sekuritas yang diperdagangkan mulai dari saham, reksadana, obligasi dan sertifikat berharga lainnya. Saham merupakan salah satu sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal yang banyak diminati oleh para investor dalam berinvestasi. Menurut Suad Husnan (2005:279), saham menunjukan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Pemilik saham suatu perusahaan, disebut sebagai pemegang saham, merupakan pemilik perusahaan. Tanggung jawab pemilik perusahaan yang berbentuk PT terbatas pada modal yang disetorkan.

Menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2008:54), definisi saham adalah sebagai berikut: “Saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, investor dapat memperoleh keutungan seperti mendapatkan dividen, capital gain serta keuntungan nonfinansial lainnya, seperti kebanggaan dan kekuasaan memperoleh hak suara

dalam menentukan jalannya perusahaan.”

Ada dua jenis saham yang biasanya diperdagangkan di pasar modal yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). Adapun pengertian saham biasa dan saham preferen menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2008:54) adalah sebagai berikut yaitu:

a. Saham biasa

Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh dividen sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemeilik saham mempunyai hak suara RUPS (rapat Umum Pemegang Saham) sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya (one share one vote). Pada likuidasi perseroan, pemilik saham memilki hak memperoleh sebagian dari kekayaan setelah semua kewajiban dilunasi.

b. Saham Preferen

Saham preferen merupakan saham yang diterbitkan atas hak untuk mendapatkan dividen dan /atau bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi lebih dahulu dari saham biasa, di samping itu mempunyai preferensi untuk mengajukan usul pencalonan direksi/komisaris. Saham preferen

Saham preferen merupakan saham yang diterbitkan atas hak untuk mendapatkan dividen dan /atau bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi lebih dahulu dari saham biasa, di samping itu mempunyai preferensi untuk mengajukan usul pencalonan direksi/komisaris. Saham preferen