KAJIAN PUSTAKA
E. Supervisi Aakademik, Motivasi Berprestasi dan Profesionalisme guru Dalam Persfektif islam
3. Profesionalisme guru dalam perspektif Islam
Didalam pandangan Islam, orang yang melakukan suatu pekerjaan sangatlah dituntut untuk benar-benar ahli dan memilki kemampuan yang sesuai pada profesinya masing-masing (profesional). Sebab jika suatu pekerjaan yang diserahkan kepada orang yang tidak ahli atau tidak memilki kemampuan atas pekerjaan itu, maka tidak mungkin pekerjaan itu akan memberikan hasil baik. atau bahkan bisa jadi pekerjaan itu akan menghasilkan keburukan bahkan kehancuran yang akhirnya akan banyak menimbulkan kerugian.
Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh Iman Buhari Sebagai berikut:
خَبيلَ خؼٛضارا . ىهعٔ ّٛهػ الله ٗهص الله لٕعس مل : مل ُّػ الله ٗضسحشٚشْ ٗثا ٍػ
بف ّهْاشٛغ ٗنإ شيٜ ظُعاارا مل ؟ الله لٕعسبٚ بُٓػ بضإ فٛك .مل خػبعاشطُف
خػبغناشظزَ
.
Artinya:”Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah SAW.bersabda : jika amanah telah hilang (sudah tidak lagi dipegang teguh ) maka tunggulah saat kehancurannya. Ya Rasulullah, bagaimana orang menghilangkan amanah itu
? Rasulullah Saw. Menjawab. Yaitu apabila suatu urusan (amanah) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.145
Hadits diatas menjelaskan bahwa sebuah keahlian merupakan kunci utama bagi seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Profesional menjadi keharusan bagi seseorang dalam bekerja. Bukan hanya bagi seseorang pemimpin, namun semua profesi harus memilki keahlian pada bidangnya masing-masing.
Pekerjaan guru adalah salah satu profesi yng sangat diharapkan memilki keahlian khusus (profesionalisme) dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik, sebab jika guru tidak memilki keprofesionalan tersebut maka hancurlah masa depan sebuah bangsa dan negara, karena akan menciptakan generasi bangsa yang tidak berkualitas dan tidak bermartabat. Ditangan gurulah terletak masa depan generasi bangsa yang berkualitas yang akan menjadikan bangsa dan negara lebih baik. Oleh sebab itu, jangan sampai seorang guru tidak profesional dalam menjalankan tugas pekerjaannya.
Allah Swt. mewajibkan kepada kita untuk berlaku profesional dalam bekerja, agar apa yang kita kerjakan tidak menjadi sia-sia dan hancur, agar kita tidak mengerjakan sesuatu yang bukan keahlian kita, sesuatu yang kita tidak miliki pengetahuan atas pekerjaan itu. Hal ini dijelaskan Allah Swt. dalam QS.Al-Isra‟ ayat 36 sebagai berikut:
ۡغَي َُُّۡػ ٌَبَك َكِئٰٓ َنُْٔأ ُّمُك َداَؤُفۡنٱَٔ َشَصَجۡنٱَٔ َغ ًَّۡغنٱ ٌَِّإ ٌٖۚىۡهِػ ۦِِّث َكَن َظَۡٛن بَي ُفۡمَر َلََٔ
ُ
ٗلَٕ
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
145
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.146
Guru dalam kesehariannya tidak sebatas hanya berdiri dihadapan peserta didik untuk mentrasper pengetahuan pada peserta didik, namun lebih dari itu, guru menyandang predikat sebagai sosok yang layak digugu dan ditiru oleh peserta didik dalam segala aspek kehidupan, hal inilah yang menuntut agar guru bersikap sabar, jujur, dan penuh pengabdian. Sebab dalam konteks pendidikan, sosok guru (pendidik) mengandung makna model atau sentral identifikasi diri, yakni pusat anutan dan teladan bahkan konsultan bagi peserta didiknya. Disinilah guru harus mampu menjadikan dirinya guru yang profesional dan memilki nilai-nilai Islami berupa kejujuran, amanah, tablihg, dan fathonah.
Kejujuran merupakan nilai yang penting bagi seseorang dalam bekerja. Sekeras apapun usaha seseorang dalam melakukan pekerjaannya tampa dibarengi dengan sebuah kejujuran maka akan sia-sia hasil dari pekerjaannya, tidak mendapatkan kebaikan dari Allah Swt. dan hasilnya tidak membawa berkah. Sebagaimana dijelaskan Allah Swt. dalam QS. Al-Maidah ayat 119 sebagai berikut:
َّصنٱ ُغَفَُٚ ُو َٕۡٚ اَز َْ ُ َّللَّٱ َلبَل
ٰٓبَِٓٛف ٍَِٚذِه َخ ُش َٓ ََۡ ۡلۡٱ بَِٓز ۡذَر ٍِي ِ٘ش ۡجَر ذ ََُّج ۡىَُٓن ٖۚۡىُُٓل ۡذِص ٍَِٛلِذ
ُىِٛظَؼۡنٱ ُص َٕۡفۡنٱ َكِن َر َُُّٖۚۡػ ْإُضَسَٔ ۡىَُُٓۡػ ُ َّللَّٱ َِٙضَّس ۖا ٗذَثَأ
Artinya: “Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar".147
Islam sungguh merupakan agama yang sempurna, didalam ajaran Islam sangat dianjurkan berlaku jujur dalam melakukan pekerjaan apapun. Dengan kejujuran maka akan memberikan hasil yang lebih baik dan akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kemudian sifat amanah, yakni dapat dipercaya dan juga bertanggung jawab, jika seseorang bekerja secara profesional berarti dia dapat dipercaya dan bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya, dalam artian pekerjaan yang diamanahkan kepadanya akan dapat dikerjakan dengan baik, tidak melempar tanggung jawab kepada orang lain serta memberikan hasil sesuai yang diharapkan dari apa yang telah diamanhkan kepadanya. Rasulullah Saw. Bisa berhasil menuai sukses dalam misi apapun, setelah beliau berhasil membangun kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Sebuah komitmen dan kesuksesan hanya akan datang jika kita memilki kredibilitas dan dipercaya oleh orang lain.
Setiap orang apapun profesinya akan dimintai pertanggungjawabnnya terhadap amanah yang telah dibebankan kepadanya, pertanggungjawaban tersebut tidak hanya dimintai di dunia saja, namun diakhirat kelak juga akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. atas apa yang yang telah dilakukannya. Hal ini sesuai yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. dengan sabdanya sebagai berikut:
عاس ىكهك : لبل ىهعٔ ّٛهػ الله ٗهص الله لٕعس ٌا بًُٓػ الله ٙضس شًػ ٍث اللهذجػ ثٚ ذد بُنا ٙهػ ٘زناشٛي لَبف ّزٛػس ٍػ لؤغًف ّزٛث مْا ٗهػ عاس مجشنأ .ىُٓػ لؤغئْٕ عاس ط
لبي ٗهػ عاس ذجؼنأ.ىُٓػ خنؤغي ْٙٔ ِذنٔٔ بٓهؼث ذٛث ٗهػ خٛػاس حأشًنأ .ىُٓػ لؤغئْٕ .ّزٛػس ٍػ لؤغي عاس ىكهكفلَا ,ُّػ لؤغئْٕ ِذٛع ٙف ٖسبخجنا ّجشخا [ 094 : كزؼنا ةبجك 11 ].ضمٛلشنا ٗهػ لٔبطناخْٛشك ةبث
Artinya: “hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin, ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarga di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggngjawaban tentang kepemimpinannya.148
Selanjutnya adalah sifat Tabligh; yakni “menyampaikan” secara harfiah, tabligh bermakna menyampaikan sesuatu apa adanya, tidak ada yang disembunyikannya. Keterbukaan sangat penting dimilki seseorang yang profesional, agar mekanisme amanah dan pertanggungjawaban dapat berlangsung dengan baik. Transparansi juga erat kaitannya dengan kejujuran dan sifat amanah, bahkan ia merupakan refleksi dari kedua sifat tersebut. Orang yang jujur dan amanah tak akan menyembunyikan sesuatu yang selayaknya untuk diungkap. Ia mampu menyampaikan suatu kebenaran sekalipun pahit, baik bagi dirinya maupun untuk karirnya.
Sifat cerdas dan bijaksana (fatanah) merupakan nilai yang tak boleh lepas bagi seorang yang profesional. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan dunia lebih mengedepankan aspek formalitas, seperti keadaan dalam kehidupan saat ini, intelektualitas dijadikan parameter utama untuk mengukur kemampuan seseorang. Padahal kecakapan intelektual bukan satu-satunya tolak ukur untuk menilai
148
profesionalisme seseorang. Apa gunanya seorang cerdas jika tidak bermoral dan tidak memilki karakter yang baik. Kecerdasannya akan disalah gunakan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan akan merugikan orang lain.
Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa sifat fatanah bukan hanya sekedar bermakna cerdas, tetapi juga visioner dan inovatif, tanggap menangkap peluang untuk maju serta menciptakan sesuatu yang tepat guna, efisien dan berdaya saing tinggi. Sehingga untuk menjadi profesional seorang Muslim hendaknya mempunyai empat karakter sebagaimana disebutkan diatas. Keempat sifat itu juga merupakan sifat utama pribadi Rasulullah Saw. Yang juga merupakan kunci keberhasilan dari misi Rasulullah Saw.
Dari penjelasan diatas, maka hendaknya kita selaku muslim agar selalu mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan keahlian kita, jangan sekali-kali menerima suatu pekerjaan apabila pekerjaan itu bukanlah bidang keahlian atau profesional kita. Sebab Dengan mengerjakan sesuatu dengan ilmu, keahlian dan profsional,termasuk profesi sebagai Guru, Maka bukan hanya mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kita melainkan kita akan lebih dicintai oleh Allah Swt.