• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS DATA

1. Profil Desa Jetis

Desa Jetis merupakan salah satu desa pada ketinggin 1.050 meter dari permukaan laut. Desa Jetis berada di wilayah Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung dengan luas wilayah 214,76 Ha serta batas wilayah sebelah utara Desa Ngaditirto, sebelah timur Desa Salamrejo dan Desa Bulan, sebelah selatan Desa Tanggulanom dan Desa Gunungsari (Kabupaten Magelang), sebelah barat perhutani.

Luas Wilayah Desa Jetis 214,76 Ha dengan rincian terlihat pada Tabel 4. 1 berikut: Tabel 4.1 Penggunaan Tanah NO PENGGUNAAN LUAS ( Ha ) 1 Pemukiman 29,0215 2 Sawah 2,2520 3 Tanah Kering/Tegalan 178,4059 4 Lain – lain 5,0806

Secara administrasi Desa Jetis terbagi menjadi 4 (empat) Dusun yang terbagi menjadi 4 (empat) Rukun Warga (RW) dan 11 (sebelas) Rukun Tangga (RT) sebagaimana Tabel 4. 2 berikut:

Tabel 4. 2

Pembagian Wilayah Administratif

NO NAMA DUSUN NAMA RW JUMLAH RT

1 Dusun Jetis I RW 01 3 RT

2 Dusun Jetis II RW 02 3 RT

3 Dusun Tompak RW 03 2 RT

4 Dusun Kemirikerep RW 04 3 RT

JUMLAH 04 RW T 11

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Jumlah penduduk Desa Jetis pada akhir tahun 2016 sebanyak 2.339 jiwa, yang terdiri dari:

a. Penduduk laki-laki sebanyak 1.174 jiwa b. Penduduk perempuan sebanyak 1.165 jiwa c. Kepala Keluarga sebanyak 639 KK.

Kondisi sosial masyarakat Desa Jetis ditunjukkan masih rendahnya kualitas dari sebagian besar SDM masyarakat serta cenderung masih kuatnya budaya paternalistik. Meskipun demikian pola budaya seperti ini dapat dikembangkan sebagai kekuatan dalam pembangunan yang bersifat mobilitas masa. Disamping itu masyarakat Desa Jetis yang cenderung memiliki sifat ekspresif, agamis dan terbuka dapat dimanfaatkan sebagai pendorong budaya transparansi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Munculnya masalah kemiskinan, ketenagakerjaan dan perburuhan menyangkut pendapatan, status pemanfaatan lahan pada fasilitas umum menunjukkan masih adanya kelemahan pemahaman masyarakat

terhadap hukum yang ada saat ini. Hal tersebut sebagai akibat dari tidak meratanya tingkat pendidikan yang diperoleh masyarakat.

Adapun tingkat pendidikan masyarakat Desa Jetis dapat dilihat pada Tabel 4. 3 berikut:

Tabel 4. 3

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

NO TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH ( JIWA )

1 Belum/tidak Tamat SD 525 2 Tamat SD 1.196 3 Tamat SLTP 489 4 Tamat SLTA 68 5 Tamat D1 – D2 8 6 Tamat S1 8 JUMLAH 2.294

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Sedangkan Sarana pendidikan formal cukup memadai dalam rangka meningkatkan kualitas peserta didik, Pemerintah Desa beserta warga masyarakat sedang melakukan peningkatan sarana pendidikan berupa rehabilitasi sarana pendidikan seperti terlihat dalam Tabel 4. 4 berikut:

Tabel 4. 4

Jumlah Sarana Pendidikan

NO SARANA PENDIDIKAN JUMLAH ( BUAH )

1 Taman Kanak – Kanak 1

2 PAUD 1

3 SD 2

JUMLAH 4

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Dilihat dari tingkat ketagwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sarana tempat ibadah, masyarakat Desa Jetis hanya memeluk satu agama yaitu Islam, seperti terlihat pada Tabel 4. 5 berikut:

Tabel 4. 5 Jumlah Penduduk

Menurut Agama/ Kepercayaan Dan Tempat Ibadah

NO AGAMA JUMLAH ( JIWA )

1 Islam 2.294

2 Masjid 4

3 Mushola 3

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Disamping itu Pemerintah Desa Jetis berupaya menyediakan sarana kesehatan agar kesejahteraan masyarakat terjamin. Adapun sarana kesehatan dan tingkat kesejahteraan dapat dilihat pada Table 4. 6 berikut:

Tabel 4. 6 Sarana Kesehatan

NO SARANA KESEHATAN JUMLAH (

BUAH )

1 Polides 1

2 Bidan Desa 1

3 Posyandu 4

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016) Tabel 4. 7

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Kesejahteraan

NO TINGKAT SEJAHTERA JUMLAH ( KK )

1 Prasejahtera 233

2 Sejahtera 1 405

3 Sejahtera 2 10

4 Sejahtera 3 -

5 Sejahtera 3 Plus -

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Organisasi Pemuda, Olah Raga, dan Kesenian juga banyak terdapat di Desa Jetis. Adapun jenis dan jumlahnya dapat dilihat pada Tabel 4. 8 berikut:

Tabel 4. 8

Organisasi Pemuda, Olah Raga, dan Kesenian

NO NAMA ORGANISASI JUMLAH (Kel / Unit)

1 Karang Taruna 1

2 Remaja Masjid 4

3 Tenis Meja 2

4 Bola Voly 4

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Perekonomian Desa Jetis secara umum didominasi pada sektor pertanian yang sistem pengelolaannya masih sangat tradisional(pengolahan lahan, pola tanam maupun pemilihan komoditas produk pertaniannya). Lahan pertanian yang ada di Desa Jetis sebagian besar lahan kering dan hanya sebagian kecil lahan basah. Cara bertanam masih monoton pada unggulan tanaman tembakau dan sedikit tanaman jagung, hortikultura, palawija, serta tanaman tahunan (sengon, kopi dan cengkeh). Disamping itu warga masyarakat ada yang menekuni sektor peternakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4. 9 berikut:

Tabel 4. 9

Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan

NO JENIS PEKERJAAN JUMLAH ( JIWA )

1 elum/tidak bekerja 254

2 etani dan buruh tani 1.580

3 egawai Negeri Sipil 3

4 TNI / Polri -

5 ensiunan PNS/TNI/POLRI 4

6 Guru Swasta 9

7 Karyawan Swasta 12

8 edagang dan wiraswasta 16

9 uruh harian lepas 39

10 elajar dan Mahasiswa 367

11 Kepala Desa 1

12 erangkat Desa 9

JUMLAH 2.294

Lembaga Perekonomian yang terdapat di Desa Jetis dapat dilihat pada Table 4. 10 berikut: Tabel 4. 10 Lembaga Perekonomian NO JENIS JUMLAH (Kel/Unit) 1 Simpan Pinjam 6 2 Kelompok Tani 12 3 Gapoktan 1

4 Industri Makanan Ringan 2

(Sumber: Dokumen desa Jetis tahun 2016)

Sebagai daerah yang penduduknya sebagian besar petani, Desa Jetis memiliki berbagai potensi di sektor pertanian yaitu Padi, Jagung, Tembakau, Kopi, cengkeh dan petani hortikultura. Dari potensi tersebut masih dalam berbagai keterbatasan, maka perlu perhatian, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan para petani. Disamping itu peningkatan peran serta tanggung jawabnya perlu perhatian khusus agar para petani dapat menambah ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan serta kerja keras dalam memperjuangkan kepentingan sendiri dan secara mandiri.

2. Profil Orang tua Single Parent

Peneliti dalam penelitian ini mengambil subjek sebanyak tujuh orang tua single parent dikarenakan penelitian yang dilakukan difokuskan pada

orang tua single parent yang masih memiliki anak pada usia sekolah dimana

usia anak tersebut dibatasi hingga 21 tahun. Pembatasan usia 21 tahun didasarkan pada pembatasan pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dimana dijelaskan anak adalah seseorang yang

belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah. Lebih lanjut dikarenakan penentuan subjek dalam penelitian kualitatif, peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan dan selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari subjek. Sebelum itu peneliti dapat menetapkan informan lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Peneliti melakukan observasi dan wawancara pada tujuh orang tua single parent, tujuh anak dari

orang tua single parent tersebut, dan pihak lain yang dapat memberi

informasi yang peneliti butuhkan. Berikut gambaran umum mengenai objek penelitian:

a. Bapak Sunarno, berusia 45 tahun seorang ayah single parent

disebabkan oleh kematian istrinya yang menderita penyakit jantung. Ia mempunyai dua orang anak, yaitu Winda Widya Astuti berusia 17 tahun dan Dadang Juwantoro yang berusia 10 tahun. Pendidikan Bapak Sunarno sampai tingkat SLTP. Keluarga Bapak Sunarno termasuk keluarga golongan menengah ke bawah. Bapak Sunarno hanya tinggal bersama kedua anaknya pada sebuah bangunan rumah yang sederhana, dindingnya masih batu bata belum ditembok halus. Lantainya juga ala kadarnya, hanya dilapisi karpet supaya tampak rapih karena masih lantai kasar belum dikeramik. Bapak Sunarno yang kerap dipanggil Pak Narno bekerja sebagai seorang kuli bangunan. Ia biasanya berangkat bekerja pada pukul 08.00 setelah mengantar Dadang ke sekolah yang masih kelas 4 di SDN 02 Jetis, dan pulang bekerja pada pukul 16.30.

Setiap hari ia bekerja selama 8,5 jam, anak pertamanya, Winda sudah lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA karena masalah biaya. Meski waktu bekerja Pak Narno hampir sehari penuh, hal tersebut tidaklah mengurangi intensitasnya bersosialisasi dengan tetangga. Ia masih bisa bertemu, dan bercengkrama dengan tetangga maupun masyarakat sekitar ketika ke masjid saat maghrib dan isya‟, serta mengikuti pengajian rutin yasin tahlil setiap malam jum‟at di lingkungan RT 07

RW 03 Jetis (Observasi pada tanggal 17, 18 Mei 2017, di lingkungan rumah narasumber).

b. Bapak Juwari, berusia 42 tahun seorang ayah single parent disebabkan

oleh perceraian karena istrinya berselingkuh. Riwayat pendidikan Bapak Juwari yaitu tamatan SD. Siti Lailatul Munawaroh, anak keduanya yang berusia 13 tahun terbilang mempunyai pribadi yang cukup dewasa pasca kecelakaan yang menimpa kakaknya, Budi Susanto (20 tahun). Ela menggantikan posisi ibunya dalam merawat kakaknya yang patah tulang kakinya akibat kecelakaan. Hampir setahun lebih Budi hanya tinggal di rumah saja karena dalam masa pemulihan, sehingga Pak Juwari hanya bekerja seorang diri, jika sebelumnya Budi yang membantu Pak Juwari bekerja. Pak Juwari bekerja sebagai petani, ia menggarap lahannya sendiri yang tidak begitu luas namun cukup untuk ditanami sayuran guna kebutuhan sehari-hari, namun kerap juga ia menggarap lahan orang lain seperti mencangkul, bahkan menanami untuk kemudian hasilnya dibagi antara ia dan pemilik lahan. Terkadang

ia juga bekerja ikut seorang penebas kayu untuk mengangkuti kayu dari lokasi yang ditebangi untuk diangkut ke truk pengangkut. Pak Juwari adalah seorang yang tegar dan humoris, karena dalam kondisi hatinya yang remuk akibat perselingkuhan istrinya ia tetap terlihat ceria, sumeh, dan tak jarang membuat orang tertawa dalam menjalani hidup bermasyarakat (Observasi pada tanggal 19, 20 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

c. Ibu Dwi Hartini, berusia 52 tahun seorang ibu single parent disebabkan

oleh kematian suaminya yang menderita penyakit struk. riwayat pendidikan Ibu Dwi yaitu sarjana. Profesinya seorang guru SD. Ibu Dwi adalah seorang perempuan yang aktif di masyarakat, hampir semua warga desa Jetis mengenal ia. Selain ia merupakan seorang guru, ia juga pengurus dari Muslimat NU kecamatan Selopampang. Ibu Dwi mempunyai 3 orang anak yang masih sekolah. Anak pertamanya, Dessi Ria Pratiwi (19 tahun) masih kuliah semester 5 di UMM. Anak kedua dan ketiganya kembar, yaitu Yoga Tri Pratama (16 tahun) dan Yogi Catur Nugraheni (19 tahun) masing-masing masih duduk di bangku SMA kelas XI di SMA N 03 Temanggung. Kehidupan ekonomi Bu Dwi tergolong cukup, dengan bangunan rumah yang sederhana namun cukup luas. Lantainya sudah dikeramik, dindingnya sudah tembok halus dengan bebrapa foto anak-anaknya dan dirinya bersama almarhum suaminya. Dapurnya cukup rapi dan terdapat sebuah mesin cuci pada samping pintu kamar mandi. Ia termotivasi untuk menyekolahkan anak-

anaknya setinggi mungkin supaya kelak anak-anaknya menjadi orang yang lebih mapan, menjadi pelayan masyarakat dan berguna bagi masyarakat (Observasi pada tanggal 21, 22 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

d. Ibu Sunaryati, berusia 29 tahun seorang ibu single parent disebabkan

oleh perceraian karena suaminya berselingkuh. Tingkat pendidikan Ibu Sunaryati lulusan SLTA. Sudah lama ia menjadi orang tua tunggal bagi anaknya, Bunga Lailatus Shalihah (8 tahun) yang sekarang duduk di kelas 4 SDN 01 Jetis. Ibu Sunaryati tergolong keluarga dengan ekonomi menengah ke atas, selain karena rumah tingkat dua dengan dinding yang sudah ditembok halus dan lantai berkeramik yang sudah cukup bagus, keluarga besarnya termasuk keluarga petani terpandang yang lahannya sangat luas. Selain dikenal baik oleh tetangga sekitar, ia juga seorang yang ramah, terlihat ketika penulis berkunjung ke rumahnya untuk melakukan wawancara, ia langsung saja mempersilakan masuk dan bergegas ke dapur untuk membuatkan minum (Observasi pada tanggal 23, 24 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

e. Ibu Repiyah, berusia 43 tahun seorang ibu single parent disebabkan

oleh kematian suaminya karena struk. Tingkat pendidikan Ibu Repiyah yaitu lulusan SD. Ibu Repiyah bekerja sebagai pedagang. Sebagai tulang punggung keluarga ia bekerja keras guna mencukupi kebutuhan hidup serta membiayai anak bungsunya, Melissa (9 tahun) yang masih duduk di kelas 3 SD. Melissa dipindahkan sekolah karena ia tidak naik

kelas sehingga ia masih duduk di kelas 3 SD (Observasi pada tanggal 25, 26 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

f. Ibu Trimunasih, berusia 27 tahun seorang ibu sigle parent disebabkan

oleh perceraian karena suaminya mengabaikan kewajibannya dalam rumah tangga sehingga terjadi ketidakcocokan dan akhirnya sering melakukan kekerasan. Tingkat pendidikan Ibu Trimunasih yaitu lulusan SLTP. Ia seorang ibu single parent yang tergolong masih muda yang

merawat anaknya, Sintya Puspitasari (5 tahun) seorang diri sejak lahir. Setelah bercerai dengan suaminya dan anaknya menginjak usia 3 bulan, ia memilih tinggal bersama kedua orang tuanya supaya ada yang membantu mengasuh anaknya ketika ia bekerja. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota Semarang, kadangkala ia pulang setiap 3 bulan sekali untuk menjenguk anaknya, namun sekarang ia sudah tidak bekerja dan memilih untuk fokus merawat anaknya yang masih duduk di bangku TK. Untuk membiayai anaknya, Bu Tri hanya mengandalkan hasil panenan dari ladang bapak ibunya (Observasi pada tanggal 27, 28 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

g. Ibu Seti Yani, berusia 32 tahun seorang ibu single parent disebabkan

oleh perceraian karena suaminya selingkuh dan sering melakukan kekerasan fisik. Riwayat pendidikan Ibu Seti Yani yaitu lulusan SD. Ia harus ekstra sabar mengasuh anak laki-lakinya seorang diri, Andika Sajana (8 tahun) yang sangat hiperaktif. Setelah berpisah dengan suaminya, Bu Yani tinggal di rumah bapaknya yang sederhana, ia hanya

memfokuskan diri untuk merawat anak satu-satunya dan merawat ayahnya yang sudah lanjut usia sembari mengurus ladang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ladang yang digarap Bu Yani tidaklah luas, namun cukup untuk ditanami beberapa macam sayuran dan hasil perkebunan lainnya untuk kemudian dijual ke pasar dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membiayai anaknya. Biasanya jika musim menanam, Bu Yani memburuhkan seseorang untuk mencangkuli ladangnya karena ia tidak bisa mencangkul, lalu setelah ladang siap tanam, ia akan menanaminya sendiri (Observasi pada tanggal 29, 30 Mei 2017 di lingkungan rumah narasumber).

B. Analisis Data

Berdasarkan hasil penelitian di Desa Jetis Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung dapat dikemukakan analisis data sebagai berikut:

1. Faktor Penyebab Seseorang Menjadi Orang tua Single Parent

Hasil observasi dan wawancara di Desa Jetis Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung ditemukan dua faktor penyebab seseorang menjadi orang tua single parent, adalah sebagai berikut:

a. Perceraian

Perceraian merupakan perpisahan antara dua orang yang bersatu dalam ikatan pernikahan karena suatu hal. Faktor penyebab terjadinya perceraian antara lain, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga,

ketidakcocokan antara suami dengan isrti sehingga muncul suatu konflik yang tidak terpecahkan sehingga jalan satu-satunya adalah berpisah. Seperti halnya yang dialami oleh Pak Juwari, ia memilih untuk bercerai dengan istrinya setelah mengetahui istrinya berselingkuh dengan tetangga dekatnya selama Pak Juwari bekerja di luar kota. Perselingkuhan terjadi disebabkan oleh tetangganya yang ditinggal bekerja ke luar negeri sebagai TKW oleh istrinya dan istri Pak Juwari juga sedang ditinggal bekerja ke luar kota sehingga mereka menjalin hubungan karena sama-sama merasa kesepian.

Kasus perceraian akibat perselingkuhan juga dialami oleh Ibu Sunaryati dan Ibu Seti Yani yang memilih untuk bercerai dan hidup sebagai orang tua tunggal dalam mengasuh anaknya. Selain berselingkuh, suami Ibu Seti Yani juga sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Hal serupa juga dialami oleh Ibu Trimunasih yang kerap ditampar oleh suaminya ketika marah-marah, bukan hanya bertempramen tinggi suaminya juga sering mengabaikan kewajibannya dalam rumah tangga sehingga terjadi ketidakcocokan dan akhirnya sering melakukan kekerasan.

Beberapa kasus di atas menjadi alasan bagi mereka untuk berpisah, karena bukan hanya sakit hati dikhianati oleh pasangan melainkan juga sakit di badan akibat kekerasan yang dilakukan oleh pasangaan. Yang menjadi alasan pokok terjadinya perceraian adalah harapan-harapan berlebihan yang diharapkan dari masing-masing pihak

sebelum memasuki jenjang perkawinan. Harapan-harapan tersebut dapat berupa status sosial di masa depan, hubungan yang bersifat seksual, popularitas, jaminan kesehatan, jaminan pekerjaan, peranan yang tepat sebagai suami istri.

Sementara itu, pada peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dijelaskan mengenai beberapa penyebab perceraian, diantaranya adalah: salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan, salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya, salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung, salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain, salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri, antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengakaran yang tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

George dalam Ihromi (1999:153) dengan mengambil sampel 600 pasangan suami istri yang mengajukan perceraian dimana mereka ini paling sedikit mampunyai satu orang anak di bawah usia 14 tahun menyusun 12 kategori keluhan penyebab pasangan suami istri bercerai,

diantaranya: karena pasangan sering mengabaikan kewajiban terhadap rumah tangga dan anak, masalah keuangan, adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan, pasangan sering berteriak dan mengeluarkan kata- kata kasar serta menyakitkan, tidak setia (berselingkuh), ketidakcocokan dalam masalah hubungan seksual, sering mabuk, adanya keterlibatan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangan, sering muncul kecurigaan, kecemburuan dan ketidakpercayaan dari pasangan serta adanya tuntutan yang dianggap terlalu berlebihan b. Kematian

Kematian dari salah satu pasangan akan mengakibatkan duka pada pasangan yang ditinggalkan, terlebih bagi pasangan yang sudah mempunyai anak, ia akan menyandang status single parent. Status

single parent karena kematian yang dialami oleh pasangan terjadi pada

Pak Sunarno, Ibu Dwi Hartini, dan Ibu Repiyah. Pengaruh rumah tangga yang pecah karena sebab kematian pada salah satu dari orang tua baik ibu maupun ayah dan anak menyadari bahwa orang tua mereka tidak akan pernah kembali lagi akan membuat anak bersedih hati dan mengalihkan kasih sayang mereka pada orang tua yang masih ada. Mereka akan tenggelam dalam kesedihan dan masalah praktis akan timbul pada rumah tangga yang tidak lengkap lagi.

Dua tahun sudah istri Pak Sunarno meninggal akibat penyakit jantung. Berbagai perawatan sudah dijalani, namun kehendak Allah lebih besar dari kehendak manusia. Kematian karena sakit juga dialami

oleh suami Ibu Dwi Hartini dan Ibu Repiyah. Suami Ibu Dwi Hartini meninggal sudah hampir tujuh tahun yang lalu, tepatnya sejak september 2010 akibat penyakit struk. Suami Ibu Repiyah juga meninggal akibat penyakit struk sekitar lima tahun yang lalu.

Hurlock (1978:216) menyatakan pada awal masa hidup anak kehilangan ibu jauh lebih merusak daripada kehilangan ayah. Alasannya ialah bahwa pengasuhan anak kecil dalam hal ini harus dialihkan ke sanak saudara atau pembatu rumah tangga yang menggunakan cara mendidik anak yang mungkin berbeda dari yang digunakan ibu mereka, jarang dapat memberi anak perhatian dan kasih sayang yang sebelumnya ia peroleh dari ibunya.

Perkembangan kepribadian anak dalam tahap kanak-kanak ketika ibunya meninggal merasa sangat terpukul, karena sesuai dengan pendapat Hurlock di atas bahwa anak masih sangat butuh sosok ibu dalam pengasuhannya.

Dokumen terkait